
Sorenya aku baru dapat kabar, kalo ternyata hari ini aku lembur. dengan terpaksa aku ngabari mb Rini jika aku tidak bisa ikut diner malam ini.
Setelah mengabari mb Rini aku segera menelpon mas Rendy, ngabari jika mlam ini aku lembur.
"Halo mas,"sapaku ketika panggilan telpon sudah tersambung.
"Iyaa sayang ada apa?"tanya mas Rendy dalam sambungan telpon.
"Mas malam ini aku lembur, mungkin pulangnya jam 9 gak apa-apakan mas?"tanyaku hati-hati pada mas Rendy.
"Gak apa-apa yang, nanti kalo sudah mau pulang segera kabari aku ya,"pesan mas Rendy.
Ketika sambungan telpon sudah terputus aku kembali focus kelayar monitor, segera kukerjakan agar cepat kelar lalu pulang.
Saat tengah mengerjakan pekerjaanku, ponselku berdering kulihat nomor baru yang memanggil.
Aku pribadi sangat malas jika ada nomor baru yang menghubungi, takut hanya iseng aja. kubiarkan hingga beberapa kali panggilan, ahirnya ku putuskan untuk meangkat telpon mungkin saja penting, sgera kugeser tombol hijau dilayar ponsel.
"Ya halo!"sapaku ketika panggilan sudah terhubung.
"Ros sudah pulang?"tanya suara diujung sana, suara yang sangat kukenali.
"Dav ada apa?"tanyaku, jujur saja aku kaget ketika Dava kembali menghubungiku, padahal kita sudah sepakat untuk saling melupakan.
"Aku rindu Ros!"ucap Dava
"Sav, kita sudah sepakat bukan untuk saling melupakan? tapi kenapa kamu malah ngubungi aku lagi Dav?"tanyaku masih dengan suara tenang.
"Aku kira melupakanmu itu mudah Ros, ternyata kali ini sungguh berlipat-lipat sulitnya. setiap malam aku susah tidur Ros, aku terbayang-byang kamu terus. bahkan tadi malam Sinta nginap dikontrakanku dan kami melakukan hubungan badan. demi tuhan Ros dalam mataku bukan Sinta yang kusetubuhi tapi kamu Ros. maafkan aku."ucap Dava panjang lebar.
Aku terdiam mendengar cerita Dava. jika dulu aku yang tersiksa sekarang gantian dava merasakan apa yang dulu aku rasakan.
"Kamu belum pulang Ros?"tanya Dava lagi, lama aku terdiam membuat Dava buka suara lagi. aku bingung harus bersikap bagaimana.
"Belum Dav aku lembur, sebaiknya jangan hubungi aku lagi Dav. apapun yang terjadi pada dirimu itu masalahmu.
Karna dulu juga aku merasakan hal yang sama, tapi aku tidak pernah mengganggu ketenanganmu.
Sebaiknya lakukan saja seperti yang kulakukan padamu, jujur Dav aku sangat terganggu dengan sikapmu yang seperti ini, bagaimana kita bisa saling melupakan jika kamu seperti ini.
Cobalah untuk menerima kenyataan kalo kita memang enggak bisa bersama, sekuat apapun kita berusaha tetap tidak bisa bersama!"ucapku panjang lebar.
Mencoba memberi pengertian untuk Dava, kalo yang dia lakukan sekarang ini salah. lama Dava terdiam mendengar ucapan panjangku, aku bingung bagaimana caranya memberi pengertian untuknya.
"Maafkan aku Ros, jika bisa aku ingin rasanya memutar waktu, aku tidak mau meninggalkanmu. aku sungguh menyesal tapi penyesalanku tidak akan berarti apa-apa."ucap Dava.
"Yassudah Dav, aku mau lanjut kerja dulu, dan tolong setelah ini kamu tidak perlu menelponku lagi. tolong ya Dav, yasudah aku tutup dulu telponya. selamat malam,"ucapku sambil menutup panggilan telpon.
Lagi-lagi hatiku pedih hatiku sakit, rasaanya sangat kesal dengan kelakuan dava sungguh memuakkan.
Tak terasa waktu pulang sudah tiba, jam sudah menunjukan pukul 20.48 setelah menghubungi mas Rendy aku segera turun kebawah, untuk divisiku hanya aku yang lembur tapi didivisi lain banyak yang lembur.
Sambil menunggu mas Rendy aku duduk dikursi parkiran, lagi-lagi pikiranku runyam pikiranku rusak gara-gara Dava. tak lama menunggu ahirnya mas Rendy sampai juga.
"Udah dari tadi yang?"tanya mas Rendy ketika sudah sampai dihadapanku.
"Belum mas, aku baru saja sampai ini."jawabku pelan.
"Makan bebek bakar yuk yang ditempat biasa,"ajak mas Rendy dengan semangat.
Jujur saja aku jadi tidak semangat semenjak dapat tlpon dari Dava, aku segera naik keatas motor. perlahan mas Rendy melajukan kendaraan menuju tmpat makan yang akan kami datangi.
...ΩΩΩ...
Begitu sampai ditempat aku langsung memesan menu yang kami inginkan, sedangkan mas Rendy mencari tempat duduk terlebih dahulu.
Selesei memesan menu aku tidak langsung menyusul mas Rendy, aku mampir dulu ketoilet untuk buang air kecil.
Setelah selesei baru aku menyusul mas Rendy, namun langkahku terhenti saat kulihat mas Rendy tengah mengobrol dengan seorang memakai kaos berwarna hitam.
Dari potongan rambut serta bentu tubuhnya saja aku sudah sangat tahu jika laki-laki itu adalah Dava, kebetulan macam apa ini yampun.
"Sayang sini!"panggil mas Rendy, ketika sudah melihatku berjalan mendekat kemeja.
"Hai Ros,"sapa Dava ramah sambil tersenyum.
"Hai Dav, sendrian aja kamu?"tanyaku pelan.
Sungguh aku sangat kesal dengan situasi seperti ini. belum sempat menjawab pertanyaanku sudah datang seorang wanita cantik memakai dress ketat sebawah lutut, menghampiri Dava lalu begelayut manja dilenganya.
"Sama Sinta, kenalkan Sin ini Rosa dan suaminya Rendy."jawab Dava mengenalkanku dan mas Rendy ke Sinta,lalu kami saling berjabat tangan.
"Duduk sayang nanti capek berdiri terus."ucap mas Rendy sambil membimbingku berjalan menuju kursi, saking asyiknya menatap Sinta aku sampai lupa untuk duduk.
"Makasih ya Ros udah mau numpangin Dava beberapa hari,"ucap Sinta ramah.
"Ehm iya, tidak masalah Sin."jawabku sedikit kikuk, kulihat tangan Sinta terus memeluk lengan Dava.
"Sayanga aku beli rokok dulu ya?"pamit mas Rendy tiba-tiba.
Kenapa tidak nanti saja pas pulangnya? memang sudah abis banget ya mas?"tanyaku.
"Abis yang tadi lupa mau beli dulu, hanya sebenyar sayang."ucap mas Rendy sambil mengelus rambutku.
"Kalo gak aku ikut saja mas."jawabku sambil berdiri, aku sangat malas berada diantara mereka.
"Ros mas Rendy cuman sebentar masa kamu mau ikut,"ucap Dava.
Ahirnya aku mengalah aku duduk kembali dan kubiarkan mas Rendy keluar membeli rokok, hening untuk beberapa saat hening baik aku Sinta ataupun Dava hanya diam.
"Sin kamu udah lama disini?"tanyaku sedikit beramah tamah.
"Belum Ros baru 2 malam, tapi Dava sudah menyuruhku pulang terus."jawab Sinta dengan wajah kesal.
"Oiya kamu sibuk apa Sin?"tanyaku sedikit mengalihkan pembicaraan.
"Aku bekrja dikantor papaku sendri Ros, apa kamu baru pulang lembur Ros?"tanya Sinta ramah, kulihat Sinta cukup menyenangkan kalo menurutku.
"Iya Sin. kebetulan hari ini aku lembur, pas pulang mas Rendy ngajak makan dulu."jawabku sambil tersenyum.
"Sudah berapa bulan Ros kandunganmu?"tanya Sinta lagi.
"Mau 7 bulan Sin."jawabku singkat.
Dava hanya diam mendengarkan obrolanku bersama Sinta. mas Rendy sudah kembali membeli rokok, tak lama pesanan kami juga sudah sampai.
Begitu makanan sampai aku tidak peduli dengan yang lainya, aku asyik menyantap bebek bakar sambil ngobrol sama mas Rendy.