
2 hari mas Rendy dirumah, semalam dapat telpob katanya uang panenan udang udah keluat. jadinya pagi ini mas Rendy pergi ke desa Agung, mau ngambi uang hasil panen. pagi ini sehabis sarapan aku menemani Ryu yang sengaja kutidurkan didepan tv, ayah sama ibu lagi ngobrol diteras samping sedangkan Dinda masih kerja seperti biasa.
Tak lama ibupun masuk kedalam, lalu tiduran disebelah Ryu."Ros apa kamu mau pulang kerumah mertuamu?"tanya ibu.
"Iya bu, mas Rendy ngajak main kesana kangen sama orang tuanya."
"Ros bukanya ibu mau ikut campur masalah kalian, tapi ibu rasa kalo maen sekarang waktunya belum pas."
"Iya bu aku juga mikirnya gitu, tapi kalo aku nolak pasti ribut sama mas Rendy."
"Makanya itu Ros, uang panen kamu cuman dapet sedikit. sedangkan kebutuhan kamu itu banyak, bagaimana nanti kalian kedepanya?"
Aku diam, apa yang diucapkan ibu itu benar adanya. uang hasil panen hanya sedikit sedangkan kebutuhanku banyak, belum lagi biaya hidup kami disana. uang mana lagi yang mau dipakai, tapi kalo aku membantah sudah pasti.
"Gak taulah bu, aku bingung."
"Ros udah jangan terlalu banyak fikiran, kalo memang Rendy ngajak kerumah orang tuanya yaudah ikut aja."
"Iya bu."
"Apa hari ini uang panen kamu sudah keluar Ros?"
"Tadi malam mas Rendy dapat kabar, katanya hari ini bu."
"Syukurlah, pergunakan uang itu sebaik mungkin ya Ros jangan dihambur-hamburkan."
"Iya bu, aku mau pumping dulu ya bu?"pamitku sembari berdiri menuju kamar.
Samapai dikamar aku segera duduk dikursi yang ada didepan meja Rias, lalu aku mulai memasang pumping dipayudaraku. sembari pumping mambaca novel melauli ponsel, seperti biasa kalo lagi senggang aku menghabiskan waktu dengan membaca novel.
Sambil memompa aku kembali memikirkan gimaba caranya ngomong sama mas Rendy, mengenai kepulangan kerumah orang tuanya. sudah bisa dipastikan mas Rendy tentu marah, karna dia sudah sangat menginginkan pulang kerumah orang tuanya.
Aku kadang sangat marah dengan keadaan ini, kenapa sih aku harus diposisi ini. kapan aku bisa ngerasain hidup enak, kuingat-ingat selama nikah sama mas Rendy aku belum pernah hidup enak serba berkecukupan. jika dulu kebutuhanku cukup, itu karna aku yang kerja. aku yang masih mempunyai penghasilan, kalo cuman ngandelin gaji mas Rendy bisa aku mati kelaparan.
Mas Rendy hasilnya banyak, tapi selalu ia habiskan bersama teman-temanya. dipakai untuk mabuk dan seneng-seneng, tanpa mikirin aku sebagai istrinya. dah sekarang hidupnya susah kekurangan segala-galanya, barulah ia ngerasain susahnya.
Dadaku begitu sesak memikirkan keadaan ini, kupukul dadaku berkali-kali guna menghilangkan rasa sesak ini. nyatanya justru semakin sakit, air mataku tumpah dihadapkan dengan berbagai masalah ini.
Sebelum keluar dari kamar aku mengelap jejak air mata yang masih membekas dipipi, aku gak mau kalo sampai ibu tahu aku habis nangis. pastu ibu bakal tanya-tanya apa penyebabnya aku nangis, jujur saja aku butuh pundak bersandar aku butuh meluapkan segala bongkahan batu yang bersarang didadaku ini.
...ΩΩΩ...
Sekiatar jam 2 siang mas Rendy pulang, aku segera menyusulnya kedapaur. sampai didapur segera kuambilkan mas Rendy makan, kebetulan hari ini ibu masak daging kambing. kuambilkan agak banyak, karna hari sudah saing aku yakin mas Rendy sudah kelaparan.
"Makan mas."tawarku saat melihat mas Rendy keluar dari kamar mandi. mas Rendy langsung mendudukan tubuhnya dikursi makan, lalu mengambil piring yang berisi nasi beserta lauk pauknya.
Aku tak berani bertanya saat mas Rendy makan, tak lama mas Rendy mengeluarkan uang beserta cek pembayaran udang.
"Dan aku mau pulang sekarang."lanjut mas Rendy, seketika aku menoleh padanya yang masih asik mengiunyah makanan.
Inilah yang gak aku sukai dari mas Rendy, uang segitu mau buat apa coab. dan sekarang udah hampir sore kok nekat amat mau pulang, kaya udah gak kuat lagi menunggu sampai hari esok. jujur saja aku sudah lelah sama keadaan ini, aku udah gak punya niatan lagi buat berdebat.
"Terserab kamu mas."jawabku singkat, dadaku sudah bergemuruh menahan sesak. ingin rasanya kupukul kepala mas Rendy menggunakan kampak, Kepala keluarga macam apa dia itu. segala hutang disini aja belum diurus kok malah enak-enak langsung pulang kampung, bawa uang segitu banyak mau buat senang-senang pasti.
Jika memang dulu belum siap memberi nafkah aku atapun masih pengen ngalem sama orang tuanya, ngapain juga ngajak nikah. giliran sekarang kelakuanya malah kayak anak bujang, sangat labil.
"Udah yang kenyang."ucap mas Rendy sembari meletakan piring diatas meja, kalo tidak ingat dosa ingin rasanya kulemparkan piring itu ke mukanya.
Astagfirullah aku mengelus dada.
"Siapin baju aku ya."pinta mas Rendy, sedangkan dirinya langsung masuk kedalam kamar mandi.
Segera kuambil piring bekas makan mas Rendy yang tak dihabiskan, kucuci setelah itu aku kembali kekamar.
"Rendy sudah pulang Ros?"tanya Ibu.
"Udah bu, mas Rendy mau pulang kerumah ibunya sekarang."jawabku pelan.
"La kenapa harus sekarang Ros?udah sore lo ini gak besok saja?"tanya ibu sembari menggendong Ryu.
"Gak tau bu, mungkin udah kangen banget sama kedua orang tuanya."Jawabku sembari masuk kedalam kamar.
Segera kukeluarkan ransel yang biasa dipakai mas Rendy, kuambil beberapa helai kaos yang sekiranya dipakai. celana pendek lalu ****** *****, packin sudah selesei kebetulan mas Rendy masuk kedalam kamar.
"Sudah selesei mas."ucapku.
"Iya, aku kesana dulu hari ini. nanti entah besok atapun lusa aku susul, nanti aku bawa mobil okey."ucap mas Rendy, ia begitu ceria wajahnya bahagia. ia tak mengerti gimana perasaanku, sebenarnya aku sangat muak setiap kali mendengar mas Rendy akan menjemput memakai mobil. padahal jelas orang tuanya gak punya mobil, ko lebay amat si pakai acara nyusul segala.
"Iya mas."hanya itu yang keluar dari mulutku.
Kuperhatikan setiap gerakan mas Rendy, dari mulai memakai minyak rambut menyisir bahkan sampai memakai baju. ia terlihat begitu bahagia, tak ada beban sama sekali. sangat berbeda jauh denganku yang begitu banyak beban, hidupnya terasa berat.
"Ayo kedepan, aku mau berangkat!"ajak mas Rendy.
Tanpq menjawab aku langsung bangkit dan mengikuti mas Rendy keluar, didepan ibu sedang menggendong Ryu. sedangkan ayah sedang tengok kesawah, aku segera keluar lalu duduk di teras.
"Ko buru-buru Rend memang ada apa?"tanya ibu.
"Gak apa-apa buk cuman main aja, yaudah aku pamit ya bu."pamit mas Rendy sembari mencium tangan ibu, lalu beralih kepadaku dan aku pun segera mencium tangan mas Rendy.
"Hati-hati Rend!"pesan ibu sesaat sebelum mas Rendy berangkat, aku tak mengeluarkan sepatah katapun. aku kesal bahkan sangat kesal, punya suami mas Rendy sungguh sangat memusingkan.