After Wedding

After Wedding
Episode 6



Saya di dpn kamar. Boleh masuk? Kita hrs bicara.



Reya membaca pesan di ponselnya berulang-ulang, sambil pikirannya memproses beberapa pertimbangan. Pikirannya mengatakan tidak ada salahnya sebab mereka harus segera bicara untuk proses perceraian. Lagi pula, laki-laki itu terbukti dapat dipercaya dengan benar-benar tidak masuk ke kamar semalaman.



Di depan pintu, Rad masih dengan pakaian kemarin yang kusut, tersenyum saat Reya membukakan pintu.



“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”



Reya tidak menjawab karena dia tidak tahu itu pertanyaan atau sindiran. Dengan isyarat dagu disuruhnya Rad masuk. Berdua mereka memasuki kamar hotel. Rad memilih balkon kamar sebagai ruang bicara.



“Oke, mari kita bicarakan ini baik-baik, dengan kepala dingin, dan jangan teriak-teriak lagi,” katanya sambil duduk di sofa yang ada di sana. Reya yang berdiri kikuk akhirnya menyeret kursi rias dan menempatkannya di antara kamar dan balkon. “Kamu tetap ingin bercerai?”



Reya menatap pria itu dalam-dalam, berusaha meraba nadanya, lalu mengangguk tanpa ragu-ragu.



“Well, pertama-tama saya ingin tanya.” Rad melipat kakinya dan menautkan kedua tangannya di atas lutut yang saling bertumpu. “Apakah kemarin kamu menerima lamaran saya dengan paksaan?”



Reya menimbang sebentar, kemudian menggeleng. “Apakah saya mengintimidasi kamu untuk menikahi saya?” Reya menggeleng lagi.



“Apa saya nggak ngasih kamu waktu untuk berpikir? Atau meminta kamu untuk memikirkan lagi keputusanmu?”



Reya tidak mengangguk dan tidak menggeleng. Tapi, Rad terlihat tidak terlalu menunggu jawaban. Karena mereka sudah sama-sama tahu apa jawabannya.



“Jika demikian, ini pertanyaan paling penting, Reya,” Rad menggoyang-goyangkan kakinya, “apa pun alasanmu dan apa pun pertimbanganmu waktu itu, kamu menerima saya dengan sukarela dan penuh kesadaran. Benar?”



Reya masih tidak menjawab. Tapi, dia tahu jika Rad benar. “Ayolah, Reya. Jawab saya. Ya atau tidak? Percakapan harus



berlangsung dua arah.”



“Ya, tapi kamu tahu saat itu saya sedang banyak tekanan. Bukannya saya nyalahin kamu, Rad. Tapi, bukankah semua orang berhak atas kesempatan kedua? Saya merasa keputusan saya waktu itu keputusan yang buruk. Dan saya ingin memperbaikinya sebelum menjadi semakin buruk.”



“Ya, tapi sebagai sesama orang dewasa, kamu tentunya tahu jika ini bukan salah saya. Ini salahmu sendiri. Atau salah kita berdua. Sebagai orang dewasa, kita harus siap menerima risiko atas setiap pilihan yang kita ambil.”



“Menerima setiap risiko dan melakukan tindakan atas itu. Dan inilah tindakan yang saya ambil untuk menghadapi risiko atas tindakan saya sendiri.”



“Oke, kamu benar. Tapi, kamu lupa satu hal. Tindakan yang kamu ambil nggak hanya berpengaruh untuk kamu sendiri. Pernikahan ini tentang kamu dan saya. Bukan hanya kamu. Kamu nggak bisa memutuskan segala-galanya sendirian.”



Reya mengusap-usap wajahnya frustrasi. Rasa gusarnya muncul ketika menyadari kata-kata Rad benar.



“Sekarang dengarkan saya dulu.” Rad menggaruk hidungnya, seperti memahami kegelisahannya. “Kamu tahu siapa saya. Ya, saya selebritis. Kebetulan saat ini saya sedang sering muncul di televisi. Saya juga pengusaha. Keluarga saya, keluarga pengusaha. Tanpa bermaksud menyombong, saya ini orang penting, Reya.” Rad mengalihkan pandangannya ke arah ruang langit bebas. “Jadi, menurutmu, apa yang akan terjadi jika media tahu saya digugat cerai dalam waktu 24 jam setelah pernikahan?”



Kali ini, Reya tidak menjawab. Dia ikut melayangkan pandangan ke arah langit bebas.



“Pikirkan bagaimana perasaan keluarga saya dan apa yang akan menimpa muka keluarga saya jika media mencium kegagalan pernikahan putranya yang kontroversial?” Rad berhenti sebentar. “Kontroversi barangkali bagus untuk popularitas saya. Tapi, saat ini bukan itu yang penting. Dunia bisnis adalah dunia networking. Dan menurutmu, bagaimana saya bisa meyakinkan klien-klien saya bahwa saya bisa mempertahankan kredibilitas saya jika saya bahkan nggak bisa mempertahankan pernikahan saya selama dua puluh empat jam?”



Reya menelan ludah. Secara otomatis, pikirannya langsung tertuju pada dirinya sendiri.



“Sebelum saya dianggap egois, dengan pertimbangan yang sama coba pikirkan dirimu. Keluargamu, nama baikmu, kariermu. Pikirkan.”



Reya sontak berdiri dan mulai mondar-mandir. Dia tak pernah menyangka jika dampak dari ketololannya bisa sedemikian besar. Ayahnya yang sudah tua bisa terkena serangan jantung jika tahu pernikahan anaknya gagal bahkan sebelum 24 jam. Belum lagi, seumur hidup keluarganya akan menanggung aib itu. Budhe-budhe-nya pasti akan semakin nyinyir dan menuduhnya sebagai perempuan tak jelas yang keblinger pada ilmu pengetahuan dan mempermainkan kehidupan spiritual. Selama ini mereka sudah menganggapnya begitu.



Lalu, rekan-rekan kerjanya juga akan bertanya-tanya mengapa pernikahannya bisa gagal. Di mana pun dia melangkah, orang-orang akan mengikutinya dengan tanya dan cemooh. Lagi pula, apa yang akan dia katakan jika ada yang bertanya? Bahwa dia telah melakukan ketololan dengan menikahi pria yang tak dikenalnya sehingga pernikahan ini harus dibatalkan? Bisakah orang-orang menerima alasan itu? Tentu tidak. Mereka pasti akan bertanya-tanya mengapa dirinya begitu ceroboh. Dan jika sudah begitu, dia harus menjelaskan frustrasinya akibat pengkhianatan Hario. Pada akhirnya semua orang, termasuk Hario, akan tahu bahwa dia perempuan lemah yang tidak bisa memanajemen patah hatinya.



Reya menggeleng-gelengkan kepala. Bukan itu yang kuinginkan.



“Kamu perempuan dewasa, Reya.” Rad bicara lagi. “Kamu bukan anak-anak lagi. Saya nggak menikahi seorang remaja yang pemikirannya masih labil sehingga saya bisa dengan mudah memanipulasi pikirannya. Saat kamu mengambil keputusan, seharusnya kamu sudah mempertimbangkan risikonya. Jadi, ayo. Lihatlah masalah secara dewasa. Jangan—”



“Oke! Oke!” Reya menghentikan aksi mondar-mandirnya dan menatap Rad. “Apa kamu punya solusi? Kira-kira apa yang akan kamu lakukan kalau kamu di posisi saya? Menikahi pria yang jelas-jelas menganggap pernikahan adalah kontrak sosial? Yang mungkin akan menikahi perempuan mana pun yang bersedia dinikahinya tanpa cinta? Saya tahu ini salah saya. Tapi, apa solusimu jika kamu ada di posisi saya?!” Reya menjelaskan dengan berapi-api. Matanya yang besar nyaris melotot menatap pria di hadapannya. Yang ditatap masih duduk santai di sofa dengan kaki saling bertumpu.



“Solusi saya ada dua. Pertama, tolong bersikap dewasa,” jawab Rad dengan nada santai. “Jangan emosi. Susah berpikir jernih jika kamu emosi. Dan solusi yang kedua,” pria itu diam sejenak, “seperti yang kamu bilang tadi, buat saya pernikahan memang kontrak sosial.”



“Maksudmu?”



“Saya tahu pentingnya pernikahan untukmu. Saya bisa mengerti jika kamu berharap menikah dan bersuamikan laki-laki yang kamu cintai dan mencintaimu. Tapi, saya harap kamu juga mengerti bahwa pernikahan kita penting untuk saya. Menjadi penting karena ini telah terjadi dan membatalkannya justru akan menimbulkan banyak permasalahan.”



“Ya, ya. Oke. Lalu?”



“So, let’s make the contract.”




“Kita jalani pernikahan ini selama setahun. Selama itu, kita bersikap sebagaimana keluarga bahagia. Kamu tinggal di tempat saya, taking care of my family, mendampingi saya untuk ini itu. Kamu mencintai saya, saya mencintai kamu.”



“Tapi. ”



“Mari kita buat poin-poin kesepakatan. Do and don’t. No sexual stufl? Okay. Rumah saya punya banyak kamar. Anggap saja kamu sewa rumah bersama temanmu. Kamu mau kebebasan? Yeah, kamu akan mendapatkannya. Yang harus kita lakukan hanyalah menjadi sepasang suami istri bahagia saat kita di luar. Setelahnya, kamu bebas melakukan apa pun. What do you think?”



Reya terdiam. Solusi Rad terdengar masuk akal sekaligus tidak masuk akal baginya. Masuk akal karena itu jelas bisa menjadi jalan keluar yang sama-sama menguntungkan untuk mereka berdua. Tidak masuk akal karena itu berarti dia tetap harus tinggal serumah dengan orang asing.



“Kita bisa bersahabat baik saat di rumah. Anggap saja saya sahabatmu. Atau kakak laki-lakimu. Terserah.”



Reya menatap pria itu tanpa kedip. Lagi-lagi kata-kata Rad terdengar masuk akal. Yang menjadi pikirannya adalah apakah laki-laki ini bisa dipercaya? Apakah aman tinggal seatap dengan pria asing meski pria itu secara sah adalah suaminya?



“Seperti yang kamu katakan, Reya, normal saja orang yang menikah bercerai.” Rad menyisiri rambutnya. “Asalkan dalam waktu yang biasa. Saya pikir satu tahun itu bisa dimaklumi. Orang-orang akan mengerti jika kita bilang kita nggak cocok lagi.”



“Tapi … kamu janji nggak akan memaksa untuk ... melakukan ... melakukan hubungan suami istri?”



Rad tertawa kecil. “Come on. Kamu tahu saya bukan tipe pria pemaksa.”



“Saya nggak tahu kamu, Rad! Itu yang membuat saya ketakutan setengah mati!”



Rad tidak tertawa. “Saya bukan pria pemaksa. Lagi pula, berkaitan dengan seks, saya nggak suka pemaksaan. Apa bedanya dengan pemerkosa?”



Reya menghela napas. Solusi Rad terdengar semakin masuk akal. Masuk akal karena dirinya sendiri tidak punya solusi yang lebih baik. Tidak ada pilihan lain yang bisa diambil.



“Kamu janji?” tanya Reya sekali lagi.



“I swear to GOD.”



“Baik.” Reya mengangguk-angguk. “Tapi boleh saya tanya sesuatu?”



“Feel free to do that.”



“Kenapa kamu memilih menikahi orang asing?”



Pria itu tidak segera menjawab. Posisi tubuhnya tidak berubah, ekspresi wajahnya datar tanpa emosi. Tapi, sekitar tiga detik kemudian pria itu tersenyum. Sebuah senyuman yang Reya yakin tidak dimaksudkan sebagai respons rasa senang ataupun karena sesuatu yang lucu.



“Nanti saya akan masukkan pertanyaan itu ke dalam daftar ‘DON’T’ di kontrak kita,” jawab Rad.



“Apakah menurutmu saya nggak berhak mengetahuinya?” tanya Reya merasa aneh.



Rad menggeleng. “Saya pernah bilang kan bahwa setiap orang memiliki alasan atas suatu tindakan dan alasan itu nggak harus dipahami orang lain.”



“Tapi, hal ini menyangkut hidup saya.”



“Saya pastikan alasan saya nggak akan menyakitimu atau merugikanmu. Asal,” Rad berhenti sejenak, “bolehkah saya minta satu hal dari kamu?” tanya Rad tiba-tiba.



“Apa?”



“Lupakan kata-kata saya yang kemarin.”



“Kata-kata yang mana?” Reya mengerutkan dahi.



“Soal saya menyuruhmu mencoba mencintai saya.” Rad menelengkan kepala sedikit. “Kalau bisa, jangan sampai jatuh cinta pada saya.”



“What?!” Reya membelalakkan mata, tidak percaya pada apa yang baru saja keluar dari mulut Rad. Tadinya dia mengira pria itu bercanda. Candaan pasaran ala laki-laki idola perempuan. Tapi, karena tidak ada tawa atau senyum di wajah Rad, Reya mulai curiga pria ini serius.



“Jangan jatuh cinta pada saya, Rey. Maka, kamu akan baik-baik saja.”



Reya semakin tidak mengerti ketika laki-laki itu tersenyum hangat, yang lebih terlihat misterius daripada senyum senang. Tapi, pria itu tidak berniat menjelaskan lebih lanjut. Rad malah berdiri dan berjalan ke kamar mandi.



“Mari kita buat suratnya,” katanya sebelum masuk ke kamar mandi. “Bisakah kamu telepon room service untuk pesan sarapan, sementara saya mandi? Setelah sarapan, kita mulai meeting-nya.”



Meeting. Reya berdecak dalam hati. Pernikahan, yang katanya peristiwa sakral dan istimewa, terdengar tak lebih dari sebuah rencana kerja. Reya menghela napas panjang. Ketololannya kali ini benar-benar mengacaukan seluruh hidupnya.