
Reya dan Rad duduk berdampingan di pinggir ranjang
queen size. AC kamar yang sudah menyala bahkan tak bisa mengurangi rasa gerah, yang tidak ada hubungannya dengan udara Bogor yang dingin.
“Beneran nggak ada kamar lain?” tanya Reya.
Rad menggeleng. “Semua kamar di rumah ini terpakai.” Reya mengedarkan pandangan ke seluruh kamar berukuran 4 x 5 meter itu. Termasuk kecil dengan luas rumah keseluruhan. Kamar itu terlihat penuh dengan benda-benda lama. Sebuah spring bed queen size terletak di tengah-tengah. Di kirinya ada meja kecil berisi kotak-kotak entah apa. Di seberang spring bed terdapat meja berisi seperangkat TV lengkap dengan video player dan play station. Dua lemari tua yang besar menghuni sisi sebelah kiri. Satu lemari berisi baju dan satu lemari berisi benda-benda yang tak punya tempat. Yang paling menarik adalah sebuah pintu kaca di sisi kanan kasur yang mengarah langsung ke balkon. Dari balkon, Reya bisa melihat kebun kesayangan Jessy. Angin malam yang semilir mempermainkan tirai jendela. Sejuknya menyebar ke seluruh ruangan.
Tapi, senyaman-nyamannya suasana, tidur sekamar dengan Rad jelas mengerikan bagi Reya. Kepalanya sudah mulai pening, satu tanda-tanda mendekati sekarat jika dia tidak segera tidur.
“Bagaimana kalau kita bergadang sepanjang malam? Main karambol?” usul Reya.
Rad menggeleng. “Saya nggak bisa main karambol. Dan kamu harus tidur,” jawabnya. “Saya akan tidur di perpustakaan Mama.”
“Oh, nggak bisa!” sergah Reya cepat sambil menahan tangan Rad saat pria itu hendak melangkah. Rad mengerutkan dahi, heran. “Gimana kalau ada yang nanya kenapa suami saya tidur di luar?” jawab Reya buru-buru.
“Terus saya tidur di mana?” tanya Rad. “Di lantai?”
“I think your bed is big enough for two of us. Tapi,” dengan jari telunjuknya, Reya menyentuh, setengah mendorong dada Rad, “kamu harus janji kamu nggak akan macam-macam. Kamu harus yakinkan saya kalau saya aman. Kalau kamu macam-macam, saya akan—”
“Lapor polisi?” potong Rad dengan mata menyipit. “Kamu mau melaporkan suamimu ke polisi atas tuduhan pelecehan seksual?” tambahnya dengan sedikit penekanan pada kata ‘suami’ dan ‘pelecehan seksual’.
Reya tidak menjawab, tapi matanya tegas menatap mata abu-abu Rad, seolah menantang.
“Yang benar saja?” Rad tertawa kecil. “Jangan buat dirimu sendiri terlihat konyol.” Tapi, pria itu segera menghentikan tawanya karena melihat Reya sama sekali tidak tertawa. “Tidurlah,” katanya. “Saya janji nggak akan macam-macam.”
Reya menatap pria di hadapannya dengan sorot mata tajam, seolah berusaha membaca pikiran pria itu melalui matanya. Otaknya dengan cepat mengalkulasi segala pertimbangan serta situasi dan kondisi, membuat satu kesimpulan yang melibatkan keuntungan atau kerugian.
“Kayaknya kamu pria baik-baik,” gumamnya.
“I am,” jawab Rad lugas, tanpa basa-basi.
“Saya percaya kamu.”
“Saya tersanjung.”
“Good night.”
Reya merangkak kembali ke kasur, meletakkan guling di tengah-tengah sebagai batas suci, menepuk-nepuknya sambil menatap Rad seolah menjelaskan tanpa kata-kata. Rad mengangguk. Reya menarik selimut, lalu membenamkan dirinya dalam selimut. Tak sampai lima menit, dia sudah hilang sepenuhnya.
***
Rad tertawa kecil. Baru lima menit naik berbaring, perempuan itu sudah pulas. Alunan napas teratur terdengar. Dia bisa menyimpulkan betapa gadis itu memaksa dirinya bersikap galak dalam kondisi setengah tertidur.
Rad mengambil remote TV, lalu naik ke kasur di sebelah Reya yang sudah pulas. Dinyalakannya TV dengan suara pelan. Kebiasaannya sebelum tidur adalah menonton National Geographic. Tanpa itu, Rad akan kesulitan tidur.
Setengah jam pertama, Rad masih asyik melihat dokumentasi mengenai lumba-lumba. Menit ke-39, Rad melirik gadis di sampingnya, yang bergerak berganti posisi. Hatinya senang Reya bisa tidur pulas, meski ada dirinya di kamar yang sama. Entah karena kini Reya benar-benar memercayainya atau gadis itu hanya terlalu lelah untuk memikirkan apa pun.
Rad kembali mengalihkan perhatiannya ke layar TV. Namun, tak sampai tiga menit, konsentrasinya sudah pecah. Lagilagi dia menatap perempuan yang tidur di sebelahnya. Kali ini, Rad benar-benar menghadapkan tubuhnya pada Reya. Tontonan di sampingnya jauh lebih menarik daripada tontonan yang disuguhkan oleh National Geographic.
Reya tampak pulas. Selimutnya menutupi seluruh tubuh sampai batas leher. Rambut panjangnya mengembang di sekeliling bantal. Poninya menutupi hampir setengah dari matanya. Derit gigi terdengar samar-samar, bersamaan dengan tarikan napas yang teratur. Dalam tidurnya, Reya terlihat begitu damai.
Diam-diam Rad tertawa, menertawai hidupnya yang terasa seperti dagelan. Bagaimana tidak dagelan, jika sudah lebih dari tiga bulan dia menikah, dia tidak sekalipun menyentuh istrinya? Jangankan yang lebih jauh, sekadar ciuman pun tidak ada. Jelas ini kemunduran jika dibandingkan dengan kencankencannya yang terdahulu.
Rad mengulurkan tangan untuk menyibak poni yang menutupi mata gadis itu.
Dia cantik bahkan saat tidur, pikir Rad. Bagaimana bisa orang itu menyakiti gadis secantik ini sih? Kalau saya jadi Hario, saya pasti rela—holy shit!
Rad sontak menghentikan monolog dalam otaknya saat Reya bergerak meraih tangan dan memeluknya nyaman seperti memeluk guling. Rad menahan napas, saat Reya menyusupkan kepalanya dekat ke leher Rad. Aroma bunga gardenia yang tercium dari rambutnya mulai mengusik hidung Rad.
Untuk beberapa saat otak Rad terasa blank. Tubuhnya kaku nyaris tak bisa bergerak. Aroma bunga gardenia itu terus menyerang hidung, merasuk ke dalam paru-parunya, lalu mengendap dalam pikirannya. Selang beberapa menit, Rad merasakan jantungnya berdetak lebih keras daripada biasanya. Satu sisi otaknya yang masih waras menyuruhnya untuk segera menjauhkan diri dari perempuan ini seperti janjinya tadi. Tapi, satu sisi otaknya yang lain, yang gila, menyuruhnya untuk mengulurkan tangan, memeluk perempuan yang sepertinya sedikit kedinginan ini. Dalam keheningan, hanya ada suara jangkrik dan televisi yang samar-samar.
Seolah menemukan kenyamanan, gadis itu memeluk tubuhnya kian erat. Embusan napas teratur yang terasa menyentuh kulit leher dan lengannya setiap kali Reya bernapas, membuat Rad semakin gemetaran ketika merasakan sesuatu dalam dirinya mulai menggeliat.
Sialan, makinya lagi dan lagi. Mungkin dia memang harus tidur di luar seperti rencananya tadi.
Sebelum monster kecilnya semakin kuat dan tak bisa dikendalikan, Rad mengambil keputusan. Dengan perlahan dan sangat lembut, Rad melepaskan pelukan Reya atas dirinya. Lalu, dibenahinya selimut Reya yang tersibak.
Rad bangkit dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah sepuluh menit duduk termangu di atas kloset, berusaha menenangkan monster kecilnya yang menuntut dibebaskan, Rad beranjak untuk menyiram tubuhnya dengan air dingin. Pada detik kedua dia sudah menggigil. Tapi, cara ini sangat ampuh. Monster kecilnya kembali tertidur.
Setelah memastikan magma dalam dirinya sudah tenang kembali, Rad keluar dari kamar mandi untuk mengganti baju.
Mengabaikan godaan selimut dan ranjang yang nyaman juga kemungkinan pelukan tak sadar istrinya yang mencari kehangatan, Rad menuju balkon kamarnya. Di sanalah Rad menghabiskan malam, ditemani berbatang-batang rokok hingga dadanya sesak. Malam ini dia salah perhitungan. Dipikirnya, Reya akan kesulitan tidur karena merasa tidak nyaman sekamar berdua dengannya. Namun, ternyata justru dialah yang tidak bisa tidur semalaman.
***
Setelah tidur nyaris selama delapan jam, Reya merasa tubuhnya segar bugar. Kepalanya yang sejak kemarin terasa berat kini sudah sepenuhnya normal. Matanya tidak lagi terasa bengkak. Bahkan langit terlihat tiga kali lipat lebih cerah dari dua hari sebelumnya. Reya benar-benar percaya pada pengaruh tidur cukup pada kondisi tubuh manusia.
Kumpul keluarga Pramoedya bulan itu diakhiri dengan acara rujakan. Sintya menyiapkan baskom besar yang segera penuh dengan irisan buah-buahan segar. Kedondong, jambu air, mangga setengah matang, nanas, bengkoang, semangka, dan belimbing membuat baskom itu menjadi semarak. Sambalnya terbuat dari kacang. Perpaduan antara gurih dan asam. Setelah siap, rujak buah dibagi-bagi ke piring-piring kecil dan diedarkan ke seluruh anggota keluarga. Temannya adalah es kelapa muda yang disajikan dengan kucuran air lemon. Sungguh aneh bahwa keluarga bertampang bule dan Jepang itu malah berpesta hidangan-hidangan pribumi.
Reya yang penggemar buah terlihat paling bersemangat menghabiskan rujak di piringnya. Dia bahkan menambah porsi, mengambil sendiri di baskom besar yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Rad yang tidak begitu suka kacang memilih menikmati es kelapa muda saja.
“Perut kamu nggak apa-apa makan rujak sebanyak itu?” tanya Rad heran, melihat Reya sampai menambah hingga tiga kali.
Reya mengedikkan bahu. “Enak,” jawabnya singkat. “Kalau hamil muda, emang biasanya suka buah-buahan. Terutama yang asam.”
Tiba-tiba Tante Dewi yang berada tak jauh dari mereka berkomentar. Reya dan Rad saling berpandangan. Seringai jail tiba-tiba muncul di wajah Rad, membuat perasaan Reya mulai tak enak.
“Darling, kamu telat bulan ini?” tanyanya dengan ekspresi terkejut yang super serius.
Reya yang tidak siap langsung membelalakkan mata. Apalagi, belum sempat menjawab, tiba-tiba Rad memeluknya dari belakang. Kedua tangan pria itu menyusup ke pinggangnya dan mengelus-elus perutnya dengan mesra.
“Apakah sudah ada Rad junior di sini?” tanyanya lagi. “Kamu sengaja nggak ngasih tahu saya karena mau bikin kejutan, ya?”
“Hah? Ng. ”
Reya blank. Pelukan Rad terlalu ketat dan hangat. Dia bahkan bisa merasakan detak jantung pria itu di punggungnya. Juga aroma parfum maskulin dari laki-laki yang menempel padanya itu.
“Sampai Jakarta kita langsung ke dokter, ya. Saya nggak mau Rad Junior lepas dari pengawasan bapaknya.”
Wajah Reya memerah. Kini semua orang memandangi mereka. Sintya terang-terangan menutup wajahnya dengan ekspresi terharu, sementara yang lain tertawa-tawa memaklumi.
“Hei, banyak anak-anak di sini!” teriak Soraya lantang. ”Bubar bubaaar!”
Rad tertawa kecil, lalu melepaskan pelukannya. Sementara Reya masih terpaku kebingungan, tidak menyangka Rad akan melakukan aksi seradikal itu.
“Apa?” Reya langsung mendongak. Pria itu tersenyum jail. “Nggak!”
“Yes, you are.”
Dan itu membuat semburat merah di wajah Reya semakin parah.
“Sampai Jakarta, saya akan bunuh kamu!” geram Reya. Rad tertawa lebar.
***
“Me? Nyetir?” tanya Reya melotot saat Rad menyerahkan kunci mobil padanya sambil menguap.
“Tolonglah, Rey. Untuk keselamatan kita berdua. Saya ngantuk banget. Nggak bisa tidur semalaman.
Perempuan itu menyipitkan mata. “Terus?” Diambilnya kunci dari tangan Rad dengan kesal. Lalu, dia berpindah ke pintu sopir. Rad ikut berputar menuju pintu penumpang.
Reya mulai melajukan mobil Rad perlahan. “Ngapain aja semalaman nggak tidur?”
“Staring at you, watching while you’re sleeping, and ... thinking so much things.”
Mobil yang baru berjalan lima meter langsung berhenti mendadak. Rad tersentak ke depan. Dahinya nyaris membentur dashboard mobil karena belum sempat memakai sabuk pengaman.
“Astaga, Rey, ini—”
“Kamu kan sudah janji nggak akan macam-macam?!” potong Reya sambil melotot.
“Saya nggak macam-macam kok.” Rad membela diri. “Ngeliatin orang tidur itu termasuk kategori macam-macam?”
“Minking so much things ... itu macam-macam!”
“Itu satu macam, Rey.”
“Kamu pasti mikir yang jorok-jorok, kan? Itu termasuk pelecehan seksual!”
Rad tertawa kecil. “Kamu nggak bisa menghukum seseorang atas apa yang dia pikirkan, Reya. In fact, kalaupun iya, toh saya cuma berpikir jorok, bukan melakukan sesuatu yang merugikan kamu secara seksual.”
“Jadi, benar kamu mikirin yang jorok-jorok, kan?”
“Astagaaa, nggak. Suer!” Rad mengangkat tangannya,
membentuk huruf V dengan jari tengah dan telunjuknya. “Kamu bisa jalan sekarang?”
Perempuan itu mendengus kesal, tapi mulai menjalankan mobilnya lagi.
“Laki-laki emang nggak bisa dipercaya!” decak Reya ketus. Rad tersenyum kecil. “Saya cuma berpikir bahwa,” ditahannya sejenak kata-kata yang sudah di ujung lidah, “perempuan yang saya nikahi adalah perempuan yang menakjubkan.”
“Apa maksudmu?”
“Kamu cantik, Reya. You’re so adorable. Saya nggak ngerti kok bisa-bisanya Hario berpaling ke perempuan lain.”
Perempuan di sebelahnya itu refleks menoleh dengan ekspresi terkejut. Barangkali, Rad menduga, Reya nyaris menghentikan mobilnya lagi. Tapi, Rad juga bisa melihat rahang perempuan itu mengeras.
“Kamu tahu soal Hario?” tanyanya lamat-lamat.
“Oh.” Rad menggaruk belakang kepalanya. “Yah, sempat ngobrol sedikit dengan Andini. And you need to care about the road,” tambahnya sambil menunjuk ke depan.
Reya kembali menatap jalanan yang sedang sepi. Ekspresinya tidak terbaca. Karena tidak mendapat jawaban, Rad mulai menguap. Dia hanya sempat tidur kurang dari tiga jam semalam. Jam empat pagi, setelah paru-parunya sesak dan tubuhnya mulai menggigil kedinginan, Rad merayap ke tempat tidur. Reya masih pulas seperti bayi. Rad tidur membelakangi Reya, meringkuk sejauh mungkin dari perempuan itu. Setelah setengah jam tubuhnya resah sendiri, selalu siaga setiap kali ada gerakan kecil dari belakang punggungnya, akhirnya Rad jatuh tertidur. Saat dia bangun, sebelahnya sudah kosong. Saat ini, sebenarnya dia juga tidak benar-benar mengantuk. Tapi, lebih baik dia yang tidur daripada Reya yang duduk di kursi penumpang dan ketiduran, dan membuat pikirannya tidak fokus.
Apalagi tadi, ketika dia bertindak konyol dengan memeluk Reya saat Tante Dewi mulai nyinyir. Aroma gardenia yang tercium samar-samar dari rambut Reya, juga kehangatan tubuh perempuan itu, cukup membuatnya salah tingkah. Rad merasa ada yang salah dari tingkahnya serta efek yang diakibatkannya. Tapi, di sisi lain, Rad sempat berpikir gila untuk memeluk perempuan itu selama mungkin.
Ck, aneh, Rad berdecak kecil, sambil mengusap rambutnya yang ikal, membuatnya terlihat semakin berantakan.
“Sama seperti kamu, kan?” Tiba-tiba perempuan di belakang kemudi itu bersuara, membuat Rad sontak menoleh, menggagalkan rencana tidurnya yang sudah matang.
“Saya kenapa?”
“Saya juga nggak ngerti, Rad, kenapa pria seperti kamu, yang punya segalanya, yang seharusnya bisa mendapatkan perempuan mana pun yang diinginkan, justru memilih sembarang perempuan untuk dinikahi.”
“Saya nggak punya segalanya, Reya. Kan sudah saya bilang, saya nggak punya cinta. Perempuan mana yang mau dinikahi tanpa cinta?”
Kecuali kamu, tambahnya dalam hati.
“Saya nggak percaya seseorang di usia kamu nggak pernah mencintai seseorang.”
Rad menoleh cepat. Perempuan di sampingnya ikut menoleh sebentar. Tersenyum sekilas, lalu kembali konsentrasi ke jalan raya.
“Mencintai itu fitrah. Saya percaya setiap orang dibekali kemampuan untuk mencintai orang lain. Dan pria seperti kamu, di atas kertas, saya yakin bisa menikahi perempuan mana pun yang kamu cintai. Kecuali bila,” Reya menoleh lagi sebentar, “yang kamu cintai bukan perempuan.”
Rad lagi-lagi menoleh cepat ke arah istrinya. Sedetik kemudian tawa lebar berderai dari bibirnya.
“Jadi, kamu pikir saya gay?” tanya Rad dengan nada geli.
Reya tidak menjawab. Tapi, memang itulah yang sempat singgah di pikirannya.
“Pasangan gay pun sekarang bisa menikah di luar negeri, lalu hidup bahagia bagaikan sahabat karib di Indonesia.”
“Hmm. Betul juga.” Reya mengerutkan dahi, namun tetap konsentrasi menatap jalanan.
“Tapi, saya bukan gay. Saya memuja perempuan. Mantan pacar saya banyak.”
Perempuan itu semakin mengerutkan dahi. “Saya jadi takut.”
“Lagi pula, kalaupun saya gay, pasti saya akan berubah
hetero kalau saya punya istri seperti kamu.”
“Kamu benar-benar membuat saya takut, Rad.”
“Makanya, biarkan saya tidur. Jangan ganggu saya.”
“Oke.”
Pembicaraan berakhir. Rad merendahkan punggung joknya. Lalu, dengan sangat damai, laki-laki itu mulai tidur, meninggalkan Reya dengan jalanan yang padat merayap dan pikiran yang bercabang ke mana-mana.