After Wedding

After Wedding
sibuk



Lebaran telah usai, mas Rendy sudah kembali ke kegiatan semula. Dinda sudah kembali sibuk dengan kerjaanya, hanya aku ayah serta ibu yang santai dirumah.


Agak lama ayah dirumah, karna belum juga dapet proyek baru. lagian ayah sudah tua, matanya sudah tidak seperti dulu lagi. kami para anaknya sudah melarang ia bekerja, namun sebgai orang tua ayah masih punya keinginan membantu sang anak.


Tadi sebelum berangkat mas Rendy sempat bertanya bagaimana kalo lusa udangnya dipanen saja, akupun tidak keberatan terserah mas Rendy yang tau. aku juga sudah menyampaikan perihal ini ke ibu, mas Rendy juga bilang katanya mau kasih tau orang tuanya jika panen.


Terserah saja, tidak mungkin juga aku mau bilang jangan. itu kan orang tuanya, mereka berhak tau kehidupan mas Rendy disini.


Siang ini aku sedang tidur bersama Ryu, aku kaget karna ponselku berdering keras. setelah kulihat ternyata mas Rendy yang menghubungi, buru-buru aku segera mengangkat takut Ryu kebangun.


"Ya giman mas?"tanyaku saat panggilan sudah tersambung.


"Yang bilangin sama ayah ibu lusa jadi panen. aku juga udah kasih tau orang tuaku dan mereka besok kesini."jawab mas Rendy.


"Oh iya mas nanti aku sampaikan sama ibu. mas udah makan belum?"tanyaku.


"Udah yang, yaudah aku mau beres-beres dulu. Iyu gak rewel kan?"tanya mas Rendy.


"Enggak mas yaudah aku tutup dulu telponya."jawabku sembari memutus sambungan telpon.


Sambungan telpon terputus, aku segera keluar dari kamar mencari keberadaan ibuku. dan ternyata ibu sedang santai diteras samping sendirian."Ayah mana bu?"tanyaku.


"Kesawah. Ryu belum bangun?"tanya ibu.


"Belum bu. tadi mas Rendy nelpon, lusa mau dipanen udangnya bu."ucapku.


"Lusa. mau dimasakin apa Ros?"tanya ibu.


Sudah menjadi tradisi kalo panen udang itu dikasih makan, kue, kopi juga teh. apalagi kalo yang panenya banyak, kadang sampai motong kambing 1 ekor.


"Apa yah bu, menurut ibu apa?"tanyaku.


"Bikin sup ayam sama sambel telur saja gimana?"ibu balik bertanya.


"Iya deh itu saja bu."jawabku.


"Berati besok ibu kepasar, orang tua Rendy tay gak kalo mau panen?"tanya ibu.


"Tau bu. katanya besok mau pada kesini."jawabku.


"Yaudah gak apa-apa malah ibu ada yang bantuin masak,"ucap ibu sembari tersenyum


Setelah mengatakan itu aku kembali masuk kedalam kamar, kulihat Ryu sudah ganti posisi tapi belum bangun. mumpung Ryu masih tidur, aku membuka aplikasi membaca novel online. lumayan bisa ngilangin jenuh, tapi kadang juga emosi kalo benar-benar terbawa suasana.


...ΩΩΩ...


Mas Rendy sudah ngabarin jika dirinya tidak pulang, karna besok lusa sudah panen jadi banyak yang harus dilakukan.


Malam ini Dinda sama ibu tidur dikamarku bersama Ryu, sejak habis lebaran Ryu memang kurang enak badan. namanya lebaran saudara ramai, sedangkan Ryu digendong sana sini. mungkin saja dia kecapekan, kemarin sempat panas lalu batuk juga tapi sudah dibawa kedokter anak tempat biasa jika Ryu demam.


Demam nya sudah hilang hanya tinggal batuknya saja yang masih nyisa, beberapa hari ini kurang tidur kalo malam. pasalnya Ryu selalu bangun terus nangis, sampai lama banget tidurnya.


"Bu besok apa aku harus ikut kesana?"tanyaku.


"Iya bu. mungkin besok siang sudah sampai sini, nunggu ayah mau pulang sekolah."jawabku.


"Iya makanya besok bangun pagi bikin lauk, supaya mereka datang sudah ada lauk."ucap ibu.


"Katanya Nita mau ikut, apa ya gak rontok perutnya. dia lo masih hamil muda,"ucapku.


"Sebaiknya tidak usah ikut, kawatir perutnya kenapa-napa,"jawab ibu.


Tak lama ibu sudah tidur, ibu kalo sudah diatas bantal kepalanya pasti langsung tidur. enggak peduli keadaan pokoknya, makanya aku sering kesal kalo ngobrol sama ibu pasti ditinggal tidur.


Ryu sudah tidur, tapi Dinda masih mainan ponsel. segera kuambil ponsel untuk mengabari mas Rendy kalo aku tidak ikut kesana, kalo tidak di kasih tau bisa ngamuk nantinya.


Setelah mendapat persetujuan dari mas Rendy, kutaruh kembali ponsel dan mulai kupejamkan mata. mengingat besok pagi aku bangun subuh, bantu ibu masak. panennya memang belum besok, hanya saja tidak enak kalo nanti ibu mertua sampai tapi belum ada makanan.


...ΩΩΩ...


Pagi-pagi aku sama ibu sudah sibuk didapur, sebenarnya ibu sudah melarangku untuk membantu. kata ibu takut kalo sampai Ryu bangun aku gak ada, sudah bisa dipastikan mengamuk. hanya saja aku kasian sama ibu, dia sibuk memasak masa iya aku tidur.


Rencananya hari ini mau bikin santan nila, ikan nilanya pun sudah dibakar sama ibu. jadi tinggal bikin bumbu lalu dimasak, mau bikin santan nila sama tumis daun singkong. dirumah juga ada timun bisa buat lalapan, kalo keluarga mas Rendy semua hobi pedas. cuma ayah mertua gak mau pedas, tapi beda dengan keluargaku. semua tidak ada yang mau pedas, hanya aku yang mau.


"Ros kamu rebus dulu daun singkong ini ya, ibu mau masak santan nila."ucap ibu sembari menumis bumbu.


"Iya bu, nanti setelah selesei masak ini apa ibu jadi kepasar?"tanyaku.


"Iya to. mau belanja buat masak besok."jawab ibu.


Seperti itulah ibuku, jika ada sodara atau besan yang datang kesini selalu dimasakin yang istimewa. kasian kan jauh-jauh sampai kelaparan, jadi teringat tujuh bulanan ibu gak dikasih makan.


Jam 6 Ryu sudah bangun, Dinda menggendong lalu dibawq kedapur melihat kami sibuk. untung saja semua sudah kelar, tinggal cuci bekakas yang telah kami gunakan tadi.


"Iyu kok bangun pagi-pagi?"tanya ibu sembari mengambil Ryu dari gendongan Dinda.


"Iya tu reseh banget, tiba-tiba nangis tak kasih susu gak mau. taunya ngajakin bangun,"jawab Dinda.


"Dia tu mau bantuin ibu sama oma yang lagi sibuk masak didapur, makanya ngajak bangun pagi-pagi."tuturku sembari mencuci perlatan yang habis digunakan masak.


"Ibu nanti kepasar mau bareng Dinda berangkat kerja?"tanya Dinda.


"Iyaa, tapi ibu pulangnya gimana?"tanya ibu.


"Ibu pulangnya lama nggak, kalo cuman bentar nanti Dinda anter lagi,"jawab Dinda.


"Enggaklah Din orang cuman belanja dikit ko,"ucap ibu.


"Mending ibu sekarang mandi, terus berangkat kepasar sama Dinda. pulang dari pasar baru Dinda otw kerja,"ucapku memberi saran.


"Iyadeh ibu mandi dulu ya, nih kamu gendong Ryu."jawab ibu sembari memberikan Ryu kegendongan Dinda.


Ryu yang dioper sana sini justru tertawa keras kegirangan, biasanya jika sedang sibuk memasak seperti ini Ryu diajak main sama ayah. tapi karna ayah sedang kesawah, ahirnya Ryu diajak kedapur saja.