
Hari sudah siang namun Amanda belum melihat diandra keluar dari kamar, karena penasaran Amanda pun berjalan menuju kamar putranya.
ceklek
Amanda membuka masuk kedalam kamar putrinya yang masih terlihat gelap, kemudian Amanda berjalan membuka tirai.
Tidak seperti biasanya Amanda melihat putrinya, yang masih tertidur menutupi seluruh tubuhnya.
"tumben jam segini rara belum bangun" Amanda bertanya kepada dirinya, dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Ra, bangun ini udah siang lho nak? " Amanda membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh putrinya.
Mendengar suara mamanya, diandra pun mulai membuka matanya, " Bentar lagi ya ma, rara pusing banget" ucap Diandra dengan suara yang sedikit serak.
"Rara kamu sakit nak?" Amanda pun memeriksa suhu badan putrinya dengan tangannya sendiri.
"Kamu demam ra, ayo kita ke rumah sakit sekarang" Amanda langsung merasa cemas setelah tahu keadaan putrinya.
"Nggak perlu ma, rara istirahat sebentar saja nanti juga sembuh" Diandra kembali menutupi seluruh tubuhnya.
"dasar anak ini, kalau di ajak berobat pasti ada saja alasan nya" Amanda pun berjalan keluar meninggalkan kamar putrinya.
lalu kembali lagi ke kamar putrinya membawa nampan berisi bubur dan juga obar untuk putri nya.
"Ra ayo makan dulu, mama sudah buatin bubur buat kamu, habis itu minum obatnya agar demamnya cepat turun."
"Nanti saja ma" ucap Diandra di balik selimutnya.
Amanda menggelengkan kepalanya,
Kemudian ia mengambil ponsel miliknya, dan mulai menghubungi dalfi, karena hanya dalfi-lah yang bisa membujuk dianda makan dan meminum obat nya, saat dia sedang tidak sehat.
"hallo fi, kamu dimana?" tanpa basa-basi Amanda langsung bertanya kepada calon menantunya.
"aku di kantor tan!" jawab dalfi di sebrang sana.
"Sibuk nggak fi, nanti Tolong datang ke rumah ya, rara demam tapi dia nggak mau makan ataupun minum obatnya, cuma kamu yang bisa membujuk nya."
"iya tan, nanti aku usahakan untuk datang kesana"
setelah melakukan percakapan melalui sambungan telepon, Amanda pun kembali ke kamar putrinya, namun ia melihat putrinya yang tertidur pulas dengan wajah pucat nya, Amanda pun kembali menutup pintu kamar diandra membiarkan nya beristirahat.
setelah beberapa puluh menit dalfi pun tiba di kediaman calon istrinya, setelah meminta ijin kepada Amanda untuk masuk ke dalam kamar diandra.
ceklek
Dalfi pun langsung masuk ke kamar diandra, ia merasa sangat prihatin melihat diandra kini sedang terbaring lemah dengan wajah pucat nya.
"Ra bangun ra" dalfi nepuk pipi diandra perlahan.
"Nanti saja ma, rara masih pusing" diandra masih memejamkan matanya
Saat menyentuh pipi dianda tangan dalfi merasa sangat panas, dengan sigap dalfi pun keluar dari kamar diandra, untuk bmengambil air hangat untuk mengompres Diandra, agar demamnya cepat turun.
dengan telaten dalfi merawat diandra sampai demamnya sedikit berkurang, karena lelah dalfi pun ikut tertidur di sisi ranjang diandra.
Diandra Pun kini terbangun dari tidurnya, setelah merasakan tubuhnya sudah merasa baikkan, saat terbangun ia melihat sosok pria yang sangat ia cintai tidur dengan posisi duduk di sampingnya.
karena merasa kasihan, Diandra pun membangunkan dalfi, "Bangun kak, kalau kau lelah tidur di atas saja"
mendengar perkataan diandra dalfi pun langsung terbangun dan langsung mengecek suhu tubuh diandra.