After Wedding

After Wedding
kesel



Sorenya sperti biasa aku pulang kerja dijemput mas Rendy, hari ini badanku sungguh capek rasanya.


Padahal cuman belanja itu juga gak lama, mungkin efek hamil jadi gampang capek, begitu sampai kontrakan aku segera mandi setelah selesei mandi aku tidurn didepan tv, kulihat mas Rendy sedang asyik tertwa sambil melihat kaus kaki adek bayi.


"Liat yang ini kecil banget, satu jariku saja tidak muat."ucap mas Rendy dsertai gelak tawa.


"Dan ini, ini untuk apa?"tanya mas Rendy heran, mas rendy benar-benar heran betuk gurita bayi.


"Nanti mas tau kalo adek bayi nya sudah keluar."jawabku singkat, kubiarkan mas Rendy mengeluarkan semua belanjaaan dari plastik, karna memang aku belum sempat keluarkn.


"Ini lucu banget ya yang?"ucap mas Rendy lagi sambil membentang setelan baju tidur wrna kuning sma toska.


"Iya mas lucu banget, aku jad pengen cepet-cepet makein ke adek bayi."jawabku seraya mengelus perut buncitku.


"Sebentar lagi yang, 4 bulan lagi yaa."jawab mas Rendy sambil tanganya mengelus perut serta bibirnya mengecup keningku.


"Iya mas, oiya mas Rendy taukan Mutia sama Rio temanku kantor mas?"tanyaku pada mas Rendy.


"Iya tau memang ada apa dengan mereka yang?"tanya mas Rendy, sambil tanganya pindah mengusap kepinggangku.


"Mereka pacaran dan katanya dalam waktu dekat ini mau langsung nikah mas."ucapku penuh semangat, entah kenapa aku suka sekali melihat Rio berjodoh sama Mutia.


"Wahh bagus itu yang, kobisa ya mereka tiba-tiba gitu, bukanya dulu Rio pacaran sama sekertaris itu yang?" tanya mas Rendy.


Mas Rendy sedikit tau tentang teman-temanku karna kita memang sering kumpul.


"Iya mas dulu, tapi pacarnya Rio itu aneh. gak mau hamil dulu kalo nikah, hamilnya nanti kalo udah 3 tahun nikah dan nanti kalo udah lahiran juga dia mau tetap kerja anaknya baby sitter yang urus."jawabku mengikuti apa yang Rio ceritakan.


"Yah, mungkin memang belum berjodoh ."ucap mas Rendy.


"Mas kamu sudah bilang sama ayah ibu, kalo aku mau lahiran drumah kampung ibu saja?"tanyaku pada mas Rendy.


"Sudah yang, kata ayah yaudah terserah dimana aja yang penting nyaman."jawab mas Rendy.


"Kamu juga sudah bilang kalo nanti abis 7 bulanan aku mau pulang kerumah ibu?"tanyaku lagi ke mas Rendy.


"Udah bos, semua udah ku obrolin. ayah kan kemaren abis ngambil duit dibank 70jta, nawarin aku kalo mau buka usaha."cerita mas Rendy.


"Sebaiknya tidak usah mas."jawabku pelan.


Aku merasa ragu saja menerima bantuan dari mertuaku, karna aku sudah banyak dengar gimana sikap mertuaku terutama ayah.


"Enggak yang, aku masih belum kepikiran mau buka usaha. pelan-pelan lah nanti nyari kerja lagi yang benar-benar pas."ucap mas Rendy, kali ini mas Rendy mulai memijat kakiku.


"Gimana nanti mas, kalo aku drumah ibu dikampung sedangkan kamu disini kerja seandainya udah dapat kerja baru?"tanyaku pada mas Rendy, membayangkan malam-malam tanpa mas Rendy benar-benar membuatku malas.


"Gampang yang itu, nanti bisa diatur yang penting kamu lahiran dulu aja yaa."jawab mas Rendy.


"Makan yuk mas, tadi aku beli pindang patin mantap kayaknya."ajaku pada mas Rendy.


"Ayokk, aku ambilkan ya yang,"pamit mas Rendy sambil mengelus rambutku.


Lalu kami makan berdua yaitu sepiring berdua, aku sama mas Rendy sering kaya gini kalo lagi makan dikontrakan, biar keliatan romantis.


...ΩΩΩ...


Malamnya selepas maghrib aku sama mas Rendy sedang tiduran didepan tv, pintu depan sengaja aku buka supaya ada angin yang masuk.


"Pijitin mas kakiku pegel banget"ucapku menyuruh mas Rendy.


"Yampun mas, perhitungan sekali sama istri. aku kan capek mas kemana-mana gendong anak kamu ini."ucapku sudah ketus, entah kenapa semenjak hamil aku jadi gampang emosian.


"Hehe gitu aja marah sayangku ini,"jawab mas rendy sambil memeluku dari samping, tak lama mas Rendy bangkit lalu mulai memijit kakiku.


"Nah gitu dong mas."ucapku sambil tertawa, aku bangun sebentar lalu kukecup bibir mas Rendy sekilas.


"Wah nakal kamu yaa, biar ku balas."ucap mas Rendy dan langsung ******* lembut bibirku, dan tanganya yang sudah masuk kedalam dress tidurku, meremas pelan buah dadaku.


"Mash nanti ada orang masuk gimna, pintunya gak ditutup,"ucapku disela-sela ciuman.


"Emangnya aku mau ngapain, orang aku cuman mau gini aja kok."jawab mas Rendy sambil tersenyum lalu tanganya dikeluarkan dari dalam dressku.


"Huh dasar, awas kau ya kapan-kapan ku balas!"jawabku sambil mengubah posisi jadi memunggungi mas Rendy.


"Jangan marah dong yang,"ucap mas Rendy sambil meremas buah dadaku dari belakang, aku menggelinjang nikmat.


"Mashh,"ucapanku terpotong ketika ada suara salam dari luar.


"Assalamualaikum."salamnya


"Walaikumsalam."jawabku, tak lama masuk Nita bersama ibu.


"Aku kukira siapa tadi sini bu,"panggilku pada ibu juga Nita.


Perlahan mas Rendy bergser keluar kedepan teras membiarkan kami para wanita mengobrol.


"Tadi udah jadi belanja perlengkapan bayi nduk?"tanya ibu mertua.


"Jadi bu, itu masih disana belum ku bereskan. bawa sini Nit bukain aja biar kita liat bareng-bareng."ucapku.


Segera Nita menarik beberapa plastik bsar berlogo babyshop. satu persatu belanjaan dikeluarkan, Nita sangat antusias tapi beda sekali dengan ibu. lagi-lagi hanya dtanggapi dengan wajah datar saja.


"Sebanyak ini nanti makenya cuma sebentar, aturanya jangan beli banyak-banyak sayangkan gak kepake lama nduk,"ucap ibu mertua.


"Enggk apa-apa bu nanti kan bisa disimpan buat adeknya."jawabku.


"Masih lama to nduk, 1 ini aja belum keluar,"jawab ibu sambil tertawa diikuti Nita dan aku juga.


"Ini aja masih ada beberapa lagi yang belum kebeli bu, niatnya nanti setelah gajian mau tak lengkapi semua."ucapku lagi.


"Kebanyakan gak nanti, eman-eman kalo gak kepake,"ucap ibu mertuaku lagi, benar-benar deh ini orang hematnya kebangetan, hemat apa pelit sebenrnya.


"Biarin si bu namanya juga anak pertama, wajar kan kalo beli-beli banyak."Nita ikut menimpali.


"Iyaa si, nanti disimpan saja kalo udah gak dipake lagi nduk."ucap ibu sambil melipat baju-baju yang sudah dikeluarkan dari dalam plastik lalu dipindah kedalam keranjang.


Lama kami mengobrol hingga tak terasa sudah jam 9 mlam, Nita juga ibu pamit karna sudah ngantuk. setelah ibu sama Nita pulang aku duduk diteras bersama mas Rendy.


"Belum ngantuk mas?"tanyaku pada mas Rendy, kulihat mas Rendy sedang duduk sambil menyesap rokoknya membentuk bola-bola dari asap rokok.


"Belum yang, sebentar lagi ya."jawab mas Rendy.


"Iya mas, sepi banget ya tumben malam ini?" tanyaku pada mas Rendy.


"Ya kan biasanya yang rame cuma disini yang, dsini sepi yaudah sepi semua."jawab mas Rendy.


Kami ngobrol hingga jam 10, kulihat mas Rendy juga sudah mulai menguap, kami segera masuk kedalam rumah untuk mengistirahatkan tubuh.