
Kini Kayla berada di rumah sakit bersama dengan rania mereka ingin mengetahui bagaimana hasil tes DNA, apa yang berada di pikiran mereka sama dengan hasilnya atau sebaliknya.
"kenapa lama sekali" keluh rania karena bosan menunggu.
"tunggu sebentar lagi" ucap kayla merasa sangat gugup menunggu hasil itu dibacakan oleh dokter amir.
"Bagaimana hasilnya dok?" tanya kayla saat melihat dokter amir keluar dari ruang lab.
dokter amir tersenyum dan membacakan isi dari surat yang ia pegang dan hasilnya kayla lah yang lebih unggul dari rania, yang artinya Kayla adalah anak kandung dari tuan roman bukan Rania.
kayla terduduk lemas di lantai yang dingin itu setelah mengetahui kebenarannya sedangkan rania hanya bersikap biasa saja, karena dia sudah mengetahui semuanya dari mulut ibunya sendiri saat menguping berbicara nya dengan tuan gun.
"sudahlah lebih baik kita mencari tahu dimana keberadaan ibu dan paman gun kita harus mencari penjelasan mereka" ucap rania menenangkan Kayla.
bukannya tenang kayla malah jatuh pingsan di sana untung saja ada perawatan pria yang sedang kebetulan lewat hingga rania bisa cepat meminta pertolongan.
Dengan langkah cepat mereka membawa kayla ke sebuah ruangan lalu di periksa oleh dokter yang berjaga, "Dimana suami pasien" tanya dokter itu pada rania.
"Suami?, aku tidak tahu mungkin suaminya sedang berada di kantor saar ini'' jawab rania polos.
"Lalu apa anda keluarga pasien?"
"Iya saya kakaknya" ucap rania sedikit kikuk.
"Bayi, apa aku akan memiliki bayi" gumam kayla sambil memegang perutnya yang masih rata, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"tapi bagaimana caranya aku memberi tahu mas dalfa sedangkan dia sendiri memintaku untuk bercerai. dengannya" kayla pun menangis dalam diam ia mencoba untuk tegar dalam menghadapi semua kenyataan pahit yang ia jalani selama ini.
kayla langsung menghapus air matanya dan turun dari brankar pasien berjalan melewati rania, "hei kau mau kemana?" teriak rania sambil membawa kantong plastik berisikan vitamin yang ia beli di apotik rumah sakit itu.
rania mengejar kayla yang berjalan dengan tatapan kosong ke arah jalan raya yang sedang sangat ramai, "Kayla apa kau sudah gila" teriak rania sambil menampar Kayla.
namun kayla hanya diam saja tak bereaksi apapun walau rania menamparnya begitu keras, hanya air mata yang keluar dari sudut matanya.
"Kayla sadarlah, kau tidak bisa berbuat seenaknya bagaimana dengan suami dan bayi yang sedang kau kandung pikirkan tentang mereka kay" teriak rania di hadapan Kayla.
"Lalu aku harus bagaimana rania hidupku kini sudah hancur mereka semua sudah mempermainkan perasaan ku, suamiku bahkan ibu kandung ku sendiri tega memperlakukanku seperti ini, lalu aku harus apa?!" teriak kayla dengan wajah yang penuh dengan kesedihan.
keluh kesah kayla pun membuat hati rania pun ikut merasakan sakitnya rania memeluk kayla lalu membujuk nya untuk pulang.
"kau ikut aku ke apartemen kita akan membicarakan semuanya di sana dan memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan ibu okey, dan untuk suami mu dan keluarganya kita bicarakan nanti saja jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu pikirkan jaga janin yang sedang kau kandung, buktikan jika kau tidak bersalah pada mereka" rania memberi arahan pada kayla.
bersambung..