After Wedding

After Wedding
terus berbohong



Pagi-pagi sekali mas Rendy sudah berangkat pulang kerumah orang tuanya, aku pribadi sangat berat mas Rendy meminjam uang pada ayahnya.


Tapi mengingat mas Rendy sudah terlanjur bilang ke ayahku kalo pesangonya sudah keluar jadi terpaksa harus meminjam uang ayah mertuaku, mengingat pelitnya mereka waktu acara tujuh bulanan.


Belum lagi banyak omongan dari tetangga maupun saudara sendiri, kalo mertuaku aslinya pelit dan ketika tujuh bulanan kemaren aku benar-benar merasakan.


Hampir jam sepuluh pagi mas Rendy sudah ngasih kabar jika dirinya sudah sampai, tadi sama ibuku dibawain beras sebagai oleh-oleh untuk mertuaku."Ros Rendy sudah sampai belum?"tanya ibu yang tiba-tiba sudah didepan pintu kamarku.


"Eh ibu, ngagetin aja si."jawabku sambil memegang dada, jujur saja kaget kobisa ibu tiba-tiba sudah berdiri disitu sedangkan pas buka pintunya aku gak dengar.


"Makanya jangan kebanyakan melamun Ros masih pagi. gimana udah sampai belum rendy?"tanya ibu lagi.


"Sudah bu baru saja ngasih kabar ini."jawabku.


"Ros Rendy dikasih tau, kalo disini ya bantu-bantu apa aja. kalo ayahmu kesawah coba ikut biar tau,"ucap ibu sambil mendudukan tubuhnya dipinggir ranjang dan mulai memijat kakiku.


"Iya bu mungkin belum lama disini jadi belum terbiasa. nantikan lama-lama ya biasa bu,"jawabku.


"Laiya makanya itu, sebelum dia mulai budi daya bisa bantu ayahmu dikit-dikit."ucap ibu lagi. perlu kalian tau, mas rendy sudah sepakat untuk mencoba budi daya udang.


Awalnya mas Rendy ditawari pakai tambaknya om Rizal adik ibuku yang bungsu dan yang paling banyak lokasinya. tapi mas Rendy menolak coba rental saja dulu, nanti jika benar-benar mantap baru beli.


"Iya bu, memang kapan mas Rendy mulai budidaya nya?"tanyaku.


"Kata ayahmu mending habis kamu lahiran saja Ros sekalian, biar tenang juga pikiranya ninggalin kamu udah lahiran."jawab ibu sambil mengelus perutku


Rencananya aku tinggal dulu sama ibuku sedang mas Rendy disana dulu sendri. nanti kalo anak yang kukandung ini sudah besar barulah aku ikut.


"Iya bu nanti saja, kalo aku udah lahiran juga tenang kalo ditingggal. apa nanti mas Rendy mau minep sana bu?"tanyaku pada ibu, setauku memang gak jauh jaraknya. hanya saja jalanya jelek jadinya terasa lama dan capek dijalan.


"Terserah Rendy, kalo gak capek ya biar berangkat pagi pulang sore. tapi kalo capek bisa menginap dirumah om Budi."jawab ibu.


"Iya bu terserah mas Rendy saja mau gimana,"jawabku pelan. lama kami mengobrol ahirnya ibu keluar dari kamar. setelah ibu pergi aku segera memposisikan tubuh yang paling nyaman, tak lama aku sudah benar lelap.


...ΩΩΩ...


Malamnya selepas magrib ponselku berdering ada nama mas Rendy dilayarnya, saat ini aku tengah tiduran didepan tv sama ayah ibu serta Dinda.


Aku segera kekamar untuk menjawab panggilan dari mas Rendy, bisa saja aku menjawab panggilan telpon disana tapi aku sungkan.


"Halo mas."sapaku melalui panggilan telpon.


"Iya sayang. udah makan belum?"tanya mas Rendy.


"Udah mas. mas udah makan?"tanyaku kembali pada mas Rendy.


"Waduh terus gimana, memang semua dipake sama pak lurah mas bukanya ayah ngambil duit tujuh puluh juta dari bank?"tanyaku penasaran.


"Gak tau juga yang, pokoknya bilang kaya gitu. tadi udah tak suruh tanyain uangnya tapi gak tau dapat tidak soalnya mereka belum pulang."jawab mas Rendy.


"Yaudah yang namanya gk ada mau gimana lagi, nanti aku coba ngobrol dulu sama ibu," jawabku.


"Enggak yang. kamu jangan ngomong dulu sama ibu. aku masih minta usahain ini sama ayah, lagian kan dulu ayah nawarin ngapa sekaran malah dipinjamkan pak lurah aneh."jawab mas Rendy dengan nada kesal.


"Mas kalo memang gak ada yaudah kamu jangan maksa, masalah ayah sama ibu sini biar aku yang ngomong kamu tenang aja."nasehatku pada mas Rendy supaya tidak memaksa kedua orang tuanya


"Yang aku malu sama ayah kamu, aku sudah terlanjur bilang uang pesangon itu keluar. jadi bisa gak bisa ayah harus nyariin uangnya biar saja mereka nagih ke pak lurah,"jawab mas Rendy.


"Terserah kamu lah mas susah dibilangin, nanti kalo ada ribut gara-gara uang kamu yang tanggung jawab,"jawabku kesal.


"Enggak sayang tenang aja, asal kamu gak cerita kesiapapun pasti aman,"ucap mas Rendy yakin, padahal aku sangat takut kalo suatu saat nanti sampai ada salah paham gara-gara uang ini.


"Iya. terus kamu mau pulang kesini kapan mas?"tanyaku.


"Yampun yang baru juga sampe tadi siang kok udah tanya kapan pulang, aku saja belum ketemu anak-anak."jawab mas Rendy sambil tertawa.


"Mas ingat ya. kamu itu ninggalin istri yang hamil tua, jadi gausah deh sok-sokan mau temu kangen sama teman-temanmu,"ucapku ketus. tentu saja aku kesal dengan pikiran mas Rendy. istri hamil ditinggalin masih sempat-sempatnya mau seneng-seneng sama teman-temanya.


"Iya-iya aku ingat, tapi pengen lah yang refresing sebentar."jawab mas Rendy lagi.


"Memangnya mas Rendy tertekan selama ini, memang pernah orang tuaku membebani mas Rendy?"tanyaku dengan suara sedikit meninggi karna emosi.


"Ya enggk lo. maksutnya ketemu anak-anak untuk sekedar ngobrol kan udah lama gak ketemu yang,"jawab mas Rendy santai.


"Terserah kamu lah mas, ingat ya kalo dapet uang dari ayah jangan kamu pakai untuk foya-foya mas, kamu paham."ucapku masih dengan nada ketus.


"Iya-iya siap bos,"jawab mas Rendy sambil tertawa.


"Yasudah mas aku mau istrahat dulu. ingat jangan minum-minum malu sama anaknya,"pesanku, aku paham sekali dengan sipat mas Rendy. apalagi kalo lagi pegang uang pasti semua teman-temanya mendekat.


"Iya sayang iya, aku ini masih waras lo bukan gila bukan. kamu tenang aja kalo dapat uangnya semua tak kasih kekamu biar kamu simpan,"jawab mas rendy dengan suara sedikit keras, mungkin kesal dari tadi aku mengoceh terus.


"Ya aku ingat semua omongan mas Rendy, awas kalo sampai bohong yaudah aku tutup dulu mas," jawabku setelah mendapat jawaban dari mas Rendy segera kututup sambungan telpon.


Setelah mengobrol sama mas Rendy, aku kembali keruang tv kulihat hanya ada ibu yang tengah tertidur dimatras depan tv dengan keadaan tv yang masih menyala.


Sedangkan Dinda mungkin lagi dikamar dan ayah sepertinya kesawah. sudah menjadi kebiasaan ayah jika malam seperti ini pasti nengok kesawah.