
[Sebulan sebelumnya]
Hi, Babe.” Seorang pria menyambutnya saat Reya keluar rumah. Pria itu menyembulkan kepalanya sedikit dari jendela mobil. “Dengan gaunmu yang seksi itu, kamu bisa mendapatkan eksekutif muda malam ini, Rey.” “I take that as a compliment.”
“Siap melupakan patah hati?”
Reya tertawa kecil. Gaun merah sebatas lututnya melambai dengan seksi. “James bisa bunuh aku kalau aku nggak datang ke acara dia.”
“Lagi pula, kamu udah kelamaan berkutat dalam kesedihan.”
Gesank, sepupu yang menjemputnya itu, segera menjalankan mobil menuju sebuah restoran baru milik salah satu sahabatnya, tempat pesta malam ini digelar. Ini adalah malam pertama Reya kembali ke pergaulan setelah lebih dari dua minggu hanya berkutat dengan pekerjaan untuk melupakan patah hatinya.
“Nggak ada gunanya kamu depresi terus-terusan, Rey,” kata Gesank begitu mobilnya memasuki pelataran restoran. “Cara balas dendam ke Hario itu gampang kok. Tunjukin aja kalau kamu tetap baik-baik aja setelah disakitin. Itu tamparan keras untuk laki-laki.”
“Iye, iye. Berisik.”
“Reyaaa darling!” Seorang gadis berambut ikal sepinggang yang memakai gaun hitam seksi berhambur memeluknya. “Gue pikir lo masih betah di bawah shower sambil ngabisin jatah tisu gue.”
Reya tertawa lebar. Perempuan ini, Andini namanya, memang bukan tipe orang yang bisa bicara basa-basi. Beberapa malam sebelumnya, sahabatnya itu sudah mengirimkan chat panjang lebar yang berisi maki-makian dan sebutan pengecut yang tak terhitung jumlahnya hanya karena Reya terlalu larut dengan patah hati. Padahal mereka tinggal serumah. Reya paham bahwa persekongkolan sepupu dan sahabatnya untuk membawa dia keluar dari rumah adalah bukti bahwa masih banyak orang yang peduli.
“Siap berpesta?” tanya Andini.
Reya mengangguk. Andini berpaling pada Gesank. “Makasih ya udah bawa kakak lo ini keluar dari goa. Gue pikir dia udah mati.”
Gesank tersenyum super manis. “Aku siap melakukan apa pun untukmu, Darling. By the way, you’re beautiful.”
Andini mengibaskan rambutnya tak acuh. “I know,” jawabnya angkuh. “Nggak usah gombal sama gue. Gue nggak minat sama berondong.”
“Oh, come on. Usia kita cuma beda dua tahun!”
Andini tertawa anggun, lalu menyentuh dagu Gesank dengan jemari lentiknya. “Sorry, Baby, tapi lo tetap berondong buat gue.”
Gesank mengerang sedih. Andini tak peduli. Di antara mereka, mau tak mau Reya ikut tertawa. Kadang dia tak tega melihat Andini mempermainkan sepupunya sedemikian rupa. Dua orang terdekatnya itu sudah sering jalan berdua. Reya menduga, mereka juga telah melakukan yang lebih jauh dari sekadar jalan berdua. Tapi, tak ada label untuk hubungan itu. Gesank jelas tergila-gila pada Andini. Sepupunya itu sudah berhenti berkencan dengan cewek-cewek cantik sejak dia mengenalkannya pada Andini tiga tahun lalu. Sedang Andini juga jelas, seperti yang dikatakannya sendiri, tidak berminat menjalin hubungan dengan lelaki yang lebih muda darinya.
“Ayo. Gue dengar, James pesan anggur dari Swiss khusus buat acara malam ini. Yipyip! Malam ini kita bersenangsenang!” Andini yang selalu bersikap semaunya itu berlonjaklonjak seperti anak kecil.
“Senang-senang gue sama lo biasanya beda, Din,” protes Reya. “Ekstrim.”
Andini tertawa senang. “Ya, khusus hari ini, gue akan mengikuti senang-senang lo, Darling. Lo mau apa? Diskusi soal masa depan negara? Atau soal keberlangsungan hubungan diplomatik kita dengan Amerika? Atau tentang kebahagiaan dengan B besar? Apa pun yang kamu mau, Sayang.”
“Seks,” celetuk Gesank.
Reya mengangkat clutch-nya dan memukul punggung Gesank dengan gemas, membuat pria itu meringis kesakitan.
“Jangan merusak sepupumu yang suci ini, Ge,” komentar Andini sambil tertawa.
Andini adalah teman Reya sejak mereka sama-sama menjadi mahasiswa baru di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia. Mereka juga tinggal di tempat yang sama, yaitu sebuah rumah tua peninggalan Belanda milik keluarga Andini yang tidak terpakai. Keluarga besar Andini pindah ke Melbourne sejak sepuluh tahun yang lalu. Andini yang ditinggal sendiri, mengajak Reya untuk menempati rumah itu bersama-sama sejak masih kuliah dan berbagi uang operasional saja. Selesai kuliah, Andini berkarier di bidang jurnalistik menjadi presenter berita sekaligus wartawan. Sementara Reya mendapatkan beasiswa untuk S2 dan S3 dengan kewajiban mengajar di almamater setelah selesai.
Andini menggiring mereka bertiga sebuah meja di pojok, berdekatan dengan jendela besar. Malam ini adalah pesta launching restoran milik James. Sebuah restoran bergaya post modern dengan desain interior yang glamor. Pas dengan menu-menu western yang ditawarkan. Reya selalu mengkritik James karena terlalu fokus pada menu-menu western di restoranrestorannya. Padahal jika dikelola dengan baik, menu-menu timur dan makanan-makanan lokal bisa menjadi menu mewah juga.
“James kerja sama dengan chef terkenal,” kata Andini. “Itu, yang jadi juri lomba masak yang di TV.”
“Yang diadaptasi dari acara TV di Amerika,” tambah Gesank datar, sambil menggulir ponselnya.
“Tapi keren ini tempatnya,” komentar Reya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran. Dari kejauhan, James yang sedang mengobrol dengan seorang pria yang berdiri membelakangi mereka melambaikan tangan. Reya balas melambai dan kembali meneliti restoran baru temannya itu. Malang tak dapat ditolak, pasangan baru muncul dari pintu kaca. Si cewek memeluk erat lengan si cowok. Mereka terlihat serasi dan bahagia.
Reya terpaku. Bisa-bisanya dua orang itu muncul di hadapannya tanpa basa-basi. Bisa-bisanya Hario tetap berhubungan dengan Tiara setelah—
Dia merasakan remasan di tangannya.
“Hold on, Rey. Tunjukkan kalau kamu baik-baik aja,” bisik Gesank di telinganya.
“Hei, look! Itu dia chef yang gue maksud! Chef Rad!” Andini menunjuk-nunjuk heboh ke arah berlawanan. “Itu tuh, chef yang galak banget. Tapi seksi sih. Jomblo nggak ya dia?”
Reya hanya menoleh sebentar ke arah yang ditunjuk Andini. Ternyata pria yang tadi mengobrol dengan James. Tapi, kini pikirannya tidak fokus. Dia tahu Andini hanya sedang berusaha mengalihkan perhatian. Sayangnya, hanya dua detik, dia kembali menatap pasangan bahagia itu. Hario bahkan belum minta maaf padanya.
Hario menemukannya pada jarak tiga meter dari pintu restoran. Senyum bahagia lenyap dari wajahnya, digantikan ekspresi panik. Reya mempertahankan tatapannya. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya. Sesaat dia yakin Hario akan menghampirinya. Dari wajahnya yang sedikit memelas, Reya merasa pria itu ingin mengatakan sesuatu. Namun, lima detik kemudian dia merasa hanya berilusi. Hario dan Tiara, mantan kekasih dan mantan sahabatnya, berjalan ke arah yang berlawanan dengan posisinya saat ini. Keduanya tetap saling memeluk.
Reya tertawa kecil. “Semoga mereka bahagia,” katanya sarkatis. Lalu, dihirupnya napas dalam-dalam. Ada sedikit
rasa lega di hati setelah melihat kedua pasangan baru itu dan merasa dirinya baik-baik saja. Dia semakin yakin bahwa apa yang harus dia lakukan hanyalah keluar dan melanjutkan hidupnya.
“Setelah semua yang Hario lakuin ke elo, lo masih cinta dia?” tanya Andini. Gesank pamit ke toilet. “Lo masih mengharapkan dia mencampakkan Tiara dan kembali ke pelukan lo? Lo masih merindukan Hario?”
Reya mengedikkan bahu. “Kalaupun iya, bukan Hario yang gue rindukan,” jawabnya lirih. “Tapi kenangan Reya dan Hario.”
“Kenangan memang sering menjebak. Tapi, sebaiknya, kenangan tetap jadi kenangan. Jangan diubah jadi harapan. Jadikan pelajaran. Kalau lo mengubah kenangan jadi harapan, selamanya lo jalan di tempat. Nggak maju-maju.”
Reya menghela napas lagi. Lalu, mengambil karet di tasnya dan mengikat rambut panjangnya asal-asalan. “True.”
“Andini is always true.”
Reya tertawa kecil. Hatinya terasa lebih ringan. Tangannya meraih rokok Gesank di atas meja. Diambilnya sebatang dan dinyalakannya. Reya sudah lupa kapan terakhir kali dia menyentuh nikotin. Barangkali saat usianya masih dua puluh. Pada isapan pertama dia langsung terbatuk-batuk. Namun, lama kelamaan dia kembali menjadi Reya usia dua puluh.
“Tapi sekarang gue paham satu hal, Din.” Reya mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat. “Cinta nggak sekeren yang gue pikirkan.”
“Maksudnya apa, Sayangku?”
Reya tertawa. “Lo tahu kan betapa gue mengagungkan cinta? Menurut gue, manusia hanya butuh cinta dan dia akan bahagia. Cinta bisa menjaga sebuah hubungan dua orang. Cinta bisa membolak-balik keadaan. Hidup susah, asalkan dijalani bersama cinta, jadinya akan tetap bahagia. Well,” Reya mengedikkan bahu, “gue harus berhenti nonton drama. Cinta nggak sehebat itu.”
Andini menggenggam tanganku. “My dear, jangan mengambil kesimpulan saat lo sedang marah dan kecewa.”
“Tapi, benar kan, Din? Yang gue simpulkan barusan, kan lo juga sering mengatakan hal yang sama?”
Andini menyengir kecut. Tapi, Reya tampaknya tidak benar-benar membutuhkan jawaban.
***
Reya menaiki tangga untuk mencapai balkon restoran. Tempat ini dulunya adalah sebuah kafe biasa sebelum James yang gemar berinvestasi untuk mengakuisisinya dan menjadikannya resto ßne dining yang megah. Tempat itu terletak di menara sebuah gedung tinggi. Dari balkonnya, Reya bisa melihat lampu-lampu Jakarta dari ketinggian dan merasakan angin malam yang panas. Tempat itu sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang merokok dan pelayan kafe yang lalu-lalang. Mengabaikan sedikit pening di kepalanya, Reya merapatkan jaket milik Gesank yang dia pinjam. Ditariknya sebuah kursi terdekat ke pinggir dinding sebatas pinggang. Kemudian, Reya menopangkan tangannya di dinding kayu itu, memejamkan matanya, dan berusaha menikmati angin segar. Bibirnya tersenyum kecil. Seharusnya dia melakukan hal ini sejak dulu. Berinteraksi dengan orang-orang terdekatnya membuat perasaannya membaik. Atau sebenarnya alkohollah yang membuatnya merasa lebih santai. Entahlah.
“Teman saya pernah bilang bahwa cinta itu bahasa penghalus dari hasrat. On the other words, just like Santa Clause, love doesn’t exist.”
Reya membuka mata dan mendapati seorang pria berdiri di sebelahnya, menatap lampu-lampu Jakarta dengan gelas anggur di tangan kirinya. Sebelah tangannya yang lain tersembunyi di saku celana.
Pria asing itu menoleh dan tersenyum. “Maaf, saya diamdiam menyimak percakapan kalian tadi,” katanya, tanpa menghilangkan senyum. Lalu, pria itu mengulurkan tangan. “Rad.” Keterbatasan cahaya membuat Reya kesulitan mengidentifikasi penampilan pria itu. Namun, secara perhitungan cepat, dia tahu pria ini cukup menarik. Reya tersenyum. “Kalaupun ada, cinta bukan penentu segala sesuatu.” Reya membalas jabatan pria itu. “Reya.”
“Tapi orang bilang cinta adalah makanan bagi suatu hubungan. Like,” pria itu mengangkat sebelah alisnya, “ketika sebuah hubungan dilandasi oleh cinta, hubungan itu akan tahan banting. Cinta adalah senjata untuk menghadapi segala macam situasi. Susah senang, semua bukan masalah selama masih ada cinta.” Pria itu tersenyum lagi. “Nama yang indah.” Reya tertawa kecil. “Kamu terlalu banyak menonton drama Walt Disney,” jawabnya. “Dan kamu lupa bahwa masih ada kisah setelah tulisan ‘the end’.” Itulah yang kulakukan selama ini, tambah Reya dalam hati. Terjebak dalam ilusi tentang cinta abadi. “Manks,” tambahnya.
“Dongeng-dongeng itu bagus, bukan? Menyebarkan optimisme dan nilai-nilai moral. Setidaknya kita jadi tahu bahwa selalu ada reward atas apa yang kita lakukan.”
“Ya, tapi nggak realistis.”
“Kamu merasa cinta nggak realistis?”
“Nggak juga.”
“Lantas?”
Reya menggaruk ujung hidungnya. “Yang saya nggak percaya adalah, peran cinta sebagai dasar dari hubungan dua manusia.”
“Kenapa? Bukankah hubungan dua manusia sebaiknya memang didasari cinta? Misalnya, pernikahan.”
“Cinta bisa datang dan pergi. Cinta bisa menghilang dengan begitu tiba-tiba, sama seperti kedatangannya yang juga kadang tiba-tiba. Jadi, bagaimana kita menjadikan sesuatu yang serba nggak pasti itu sebagai tolok ukur?”
Reya merapatkan jaketnya, lalu menoleh mengedarkan pandangan ke penjuru balkon. Tenggorokannya terasa kering. Saat seorang pelayan melintas, Reya meminta air mineral. Pelayan itu mengangguk dan melirik sekilas pada pria di sampingnya. Lalu, mengangguk lagi. “Komitmen itu artinya janji, bukan? Sebuah janji untuk menepati atau melakukan apa yang telah disepakati. Rasanya aneh sekali jika sebuah komitmen didasari oleh hal setidak pasti cinta. Cinta bisa datang dan pergi, tapi komitmen mengharuskan kita mengabaikan itu.”
“I see.” Rad menyesap anggurnya. “Lalu, menurutmu, apa yang bisa mendasari komitmen?”
“Ya komitmen itu sendiri.” Reya tersenyum. “Komitmen seharusnya bisa mendasari dirinya sendiri.”
Rad balas tersenyum. “Jadi, kamu mau bilang bahwa pernikahan bisa hadir tanpa cinta?”
Reya berpikir sejenak. “Saya pikir, iya. Cinta bisa datang belakangan. Lagi pula, cinta bisa menghilang. Apa kamu yakin
orang-orang yang berhasil mempertahankan pernikahan mereka itu masih saling mencintai?”
“Memangnya nggak begitu?”
Reya tidak segera menjawab. Saat itu, pelayan kafe datang membawa botol mineral pesanannya.
“Budhe saya cerita. Rasa cintanya ke suami sudah menghilang sejak tahun kelima pernikahan mereka. Setelah itu yang tertinggal hanya pengabdian. Dan kasih sayang untuk keluarga mereka.”
“Jadi, menurut kamu pernikahan itu nggak perlu cinta?” ulang Rad.
“Mungkin nggak seperti itu. Tapi, saya pikir cinta bukan segala-galanya dalam pernikahan. Lebih penting rasa saling menghargai. Dan komitmen pada apa yang telah mereka sepakati bersama.Kelak, saya ingin hubungan yang berjalan dua arah. Nggak ada yang melayani atau dilayani. Saya ingin hubungan yang akrab. Saya ingin hubungan yang penuh penghargaan. Seperti persahabatan. Saya pikir dengan begitu hubungan akan awet.”
“Kelak?” Rad mengangkat alis. “Jika begitu, saya asumsikan kamu belum menikah. Benar?”
Reya tersenyum tipis. “Belum.”
“Tapi kamu berencana menikah. Benar?”
Kini Reya tertawa kecil. “Tentu saja,” jawabnya. “Jika ada pria yang menawarkan kebebasan untuk saya, saya akan menikahinya.”
“Hmm. Ini lebih menarik.” Pria itu menggaruk dagunya. “Perempuan lain menginginkan ikatan sebagai penawaran sebuah pernikahan, tapi kamu menginginkan kebebasan?”
Reya mengangguk mantap. “Saya nggak menuntut cinta sejati pada pasangan saya. Saya lebih menginginkan rasa saling menghargai. Rasa saling menghargai akan membuat kita melihat pasangan sebagai subjek, bukan objek yang kita miliki. Saya nggak mau disamakan dengan celana dalam. Barangkali kebebasan adalah salah satu bentuknya.” Reya terdiam sebentar, sebelum melanjutkan. “Saya punya pekerjaan. Saya punya minat dan ketertarikan pada suatu hal. Saya nggak ingin seorang pasangan yang berjanji memenuhi segala kebutuhan saya, tapi menyimpan saya di dapur dan di kamar.”
“Itu artinya kamu juga membebaskan pasanganmu, kan?”
“Yap. Justru itu esensinya komitmen.” Reya tersenyum kecil, menyadari pemahaman yang baru saja hadir di pikirannya.
“Dengan komitmen, seseorang bisa menghargai pernikahan. Dengan komitmen, orang mengerti batasan-batasan yang harus dia lakukan di luar. Hormati apa yang sudah kamu janjikan pada pasanganmu, hormati apa makna pernikahan yang kalian sepakati. Dan kalian nggak memerlukan cinta untuk menjaga pernikahan tersebut.” Reya terdiam sebentar. “Tapi, tentu saja, hubungan itu kan untuk dua orang. Komitmen harus berasal dari keduanya, nggak bisa hanya dari satu pihak.” “Wah.” Pria itu berdecak-decak. “Rumit sekali isi pikiran mu, Reya. Saya seperti sedang di ruang kuliah.”
Reya tersenyum salah tingkah. “Maaf. Saya nggak bermaksud. ”
“Oh, bukan, bukan. Nggak masalah. Menarik sekali menyimak pemikiranmu. Apakah kamu mengambil kuliah filsafat?”
Reya menggeleng. “Filsafat politik, ya.”
“Mahasiswa Ilmu Politik?”
“Yap.”
Mahasiswa S3, tambah Reya dalam hati. Jika pria ini tahu usianya, sudah pasti dia mengerti mengapa dia mengeluarkan komentar pedas mengenai pernikahan. Reya menghela napas berat.
“Jadi, jika seorang pria datang padamu, menawarkan sebuah kebebasan, memahami arti komitmen, berjanji akan mengizinkanmu meneruskan kariermu, melakukan apa pun yang kamu suka, dan menjanjikan sebuah hubungan yang dua arah, nggak menuntut apa pun selain kebebasan yang sama, tapi nggak punya cinta yang cukup untuk ditawarkan, kamu akan menerimanya?” tanya Rad lagi.
“Mungkin. Tapi adakah pria seperti itu?” “Kamu lucu, Reya.”
“Saya tahu. Hidup hanya terdiri dari dua hal. Tragedi dan komedi. Tapi, saya lebih suka menertawakan dua-duanya.”
Selama lima menit kemudian mereka hanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Reya menatap cahaya lampu di kejauhan dan dia melihat wajah Hario di sana. Selama ini dirinya dan pria itu telah bersepakat tentang banyak hal. Hario memiliki apa pun yang diinginkan Reya pada pasangannya. Sementara keluarganya bertanya untuk apa dia menempuh pendidikan sampai jenjang doktoral—toh nanti dia akan mendapat nafkah dari suami, Hario selalu mendukung citacitanya. Persamaan bidang pekerjaan membuat mereka bisa berdiskusi tanpa kendala. Hario selalu menanyakan pendapatnya mengenai segala hal. Hal itu membuatnya merasa dihargai.
Reya menghela napas panjang. Hidupnya terasa sempurna lima tahun terakhir. Tapi, ternyata kesempurnaan itu hanya seumur jagung. Hario melupakan prinsip komitmen yang mereka sepakati.
Selama lima detik Reya tidak memberikan respons apa pun. Matanya mengerjap-ngerjap, seperti tidak yakin dengan sekelilingnya. Detik keenam, tawanya meledak.
“Kamu lucu!” katanya di sela-sela tawa.
Pria itu ikut tertawa. “Tapi, saya serius.”
“Tapi kita bahkan nggak saling kenal!”
“Kita bisa kenalan sambil jalan.”
Reya lagi-lagi mengerjapkan mata tak percaya. “Saya bahkan belum lihat wajah kamu dengan jelas.”
Pria itu menghela napas. “Saya khawatir akan jadi masalah jika kamu melihat wajah saya,” jawab pria itu sambil memasang ekspresi menyesal. “Tapi saya yakinkan kamu bahwa saya nggak jelek-jelek amat. Setidaknya begitu kata Ibu saya. Dan pacar-pacar saya dulu.”
“Oh my God! Apa kamu sering melamar perempuan di pertemuan pertama?” Reya membelalakkan matanya.
Rad tersenyum tipis. “Hanya padamu.”
“Tapi kenapa?”
“Kamu membuat saya merasa qualißed.”
“Tahu apa kamu soal kualifikasi yang saya inginkan?”
“Saya laki-laki. Saya sudah cukup umur. Saya punya penghasilan yang cukup untuk rumah tangga. Saya sangat memahami komitmen seperti yang kamu bilang tadi. Saya menghargai kebebasanmu. Saya janji nggak akan melarangmu bekerja. Saya janji nggak akan melarangmu ini itu. Saya juga nggak
akan menyuruhmu ini itu. Saya juga nggak mengharuskan kamu ke dapur. Dan yang terpenting,” pria itu mengedikkan bahu, “saya setuju dengan semua argumenmu soal cinta.”
Reya ternganga. “Tapi ... tapi kamu tadi terlihat pro—”
“Oh ya, saya cuma ngetes kamu. Kamu terlihat yakin dengan argumenmu. Jadi, kamu memenuhi kualifikasi saya juga.”
“Kualifikasi apa?”
Pria itu lagi-lagi tersenyum. “Reya, saya nggak punya cinta. Saya hanya punya apa yang saya sebutkan tadi. Jadi, saya mencari perempuan yang bersedia saya nikahi,” Rad memberi jeda satu tarikan napas, “tanpa cinta.”
Reya menatap pria di hadapannya tanpa kedip. Ia mencari nuansa di wajah pria itu, untuk menjelaskan apa pria ini serius ataukah sedang menggodanya. Atau mungkin malah melecehkannya. Tapi, Reya tidak menemukan ekspresi apa pun. Pria itu juga menatapnya dengan senyum tipis yang tetap tersungging di bibir. Ekspresi yang sama dia dapatkan sejak pertama kali pria ini mendatanginya.
“Baby?” Terdengar suara Gesank. Reya mengalihkan matanya dari Rad. Gesank berdiri di belakang Rad, menatapnya sambil mengangkat alis. “Ayo, pulang. Jangan lupa besok kita ada perjalanan jauh.”
Reya mengangguk dan mengangkat dua jarinya, meminta waktu dua menit. Lalu, dia kembali pada Rad.
“Well, Rad,” Reya tersenyum lebar, “saya nggak tahu ini lagi di reality show apa. But nice to meet you. Saya harus pergi. Semoga bisa bertemu lagi di lain kesempatan.”
Tapi, saat Reya akan beranjak dari tempatnya berdiri, pria itu ikut bergerak untuk menghalangi jalannya.
“One second,” tahan Rad. “Reya, kamu pasti menganggap saya bercanda soal tawaran tadi. Mungkin kamu juga berpikir saya nggak waras. Tapi, saya benar-benar serius.” Pria itu terdiam sebentar, seperti sedang mempertimbangkan banyak hal. “Begini saja. Tolong kamu pikirkan. Besok bisa kita bertemu di sini? Jika kamu bersedia, kita bisa bicarakan langkah-langkah selanjutnya. Dan jika kamu nggak bersedia, kita bisa berteman dan diskusi tentang hal-hal lain. Menyenangkan sekali bisa ngobrol denganmu. What do you think?”
Reya mengerutkan dahinya. Matanya lagi-lagi mengerjap. “Oke,” jawabnya tak yakin. “Senin malam. Saya keluar kota akhir pekan ini.”
“Okay.” Pria itu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. “Ini kartu nama saya. Kalau kamu nggak menemukan saya di sini, tanya saja pada waiter.”
“Okay. I have to go.”
“Have a safe trip.”
Reya tersenyum dan mengangguk, lalu menghampiri Gesank yang menatapnya dengan alis terangkat.
“Itu si celebrity chef, kan?” tanya Gesank ketika Reya sudah berjalan bersamanya. “Ngapain dia?”
“Ngajakin nikah.”
“WHAT?!”
***
Suara musik jawa terdengar sayup-sayup. Di halaman rumah, bapak-bapak sedang mengobrol riuh ditemani bergelas-gelas kopi hitam dan jadah bakar. Sementara di dapur, para ibu sedang membungkusi penganan kecil untuk acara pernikahan besok pagi sambil merumpi ke sana kemari. Membicarakan tentang istri anu yang ketahuan anu atau anak ibu ini yang ternyata anu. Di tengah-tengah obrolan itu, Reya terjebak, sambil merangkai melati untuk hiasan kamar pengantin.
“Itu lho Mbak, Pak Dolah itu, mosok anak’e mulih wengi dijarke wae. Lha yen anakku wes tak ajar entek-entekan kuwi! Wong wadon kok senengane kluyuran wengi! ”.
“Kondhone Si Siwir bocah kuwi wis arep dirabekne. Lha yo wong pacare wes neng ngomah terus.”
“Padahal masih seumuran Rahma itu. Baru lulus SMA.” “Kalau kamu gimana, Nduk? Kapan rencana mau nikah?
Nak Hario kok ndak diajak ke sini?”
Reya yang sedang berusaha memasukkan benang dalam melati mendongak mendengar nama Hario disebut.
Budhe Sum, kakak tertua ibunya, yang tak pernah bosan menanyakan hal yang sama setiap kali bertemu, menatapnya penasaran. Begitu juga dengan budhe-budhe yang lain. Reya meringis.
“Belum ada rencana, Budhe.”
“Lho umurmu udah berapa tho, Nduk? Apa ndak ketuaan? Masa kalah sama anaknya Pak Dolah yang baru lulus SMA?” sergah Bulik Is, adik bungsu ibunya.
“Belum ketemu yang cocok, Bulik. Mau gimana lagi?” “Lho memangnya Nak Hario kenapa?”
Reya menelan ludah. Rasanya dia enggan menjawab. Dia tahu jawabannya akan memancing ceramah panjang lebar.
Tapi, dia juga tahu bahwa diamnya akan memancing ceramah yang jauh lebih panjang lagi.
“Apa lagi yang kamu tunggu tho, Nduk? Buat apa ditundatunda kalau memang sudah ketemu yang cocok. Umurmu udah ndak muda lagi. Seumurmu Budhe udah punya Ginan, Tyas, sama Bima. Kasihan adik-adikmu ndak bisa nikah sebelum kamu nikah.”
“Lia sama Ambar boleh nikah duluan kok, Budhe.”
“Lho lho! Ya ndak bisa gitu! Budaya kita punya aturan. Yang muda ndak boleh ngelangkahin yang tua. Kalau adikmu yang nikah duluan, bisa-bisa jodoh kamu makin seret.”
“Ya … kalau mereka udah dapat jodoh duluan, buat apa nungguin aku yang belum dapat jodoh, Budhe?”
“Memang apa kurangnya Nak Hario?” tanya Bulik Is.
Reya mencebik kesal. Satu hal yang membuatnya malas pulang ke rumah adalah kecerewetan budhe-budhe-nya ini. Padahal ayah dan ibunya sendiri tidak terlalu mencereweti statusnya. “Aku sama Hario udah putus, Budhe. Jadi, aku nggak ada rencana nikah dekat-dekat ini.”
“Masya Allah! Kenapa bisa putus? Susah lho cari lakilaki kayak Nak Hario itu. Baik, pintar, kebapakan, mapan. Kurangnya apa? Kalau Budhe jadi kamu wooo ... tak taleni tenanan lanangan koyo bocah kuwi4.”
“Apa gunanya semua itu kalau dia nggak ngerti artinya komitmen, Budhe?”
Ucapan Reya membuat seluruh anggota forum percakapan terdiam. Tanpa memedulikan keheningan mendadak itu, Reya memasukkan melati terakhir untuk rangkaian yang ia buat. Lalu, mengikat kedua ujung benang
“Wealaaah, Nduk, Nduk. Namanya juga lelaki. Yo wis kalau ndak cukup satu. Lha wong jumlah lelaki sama perempuan juga ndak imbang. Yang penting lelaki harus tetap bertanggung jawab sama kita. Ibaratnya gini lho, Nduk, ndak apa-apa isinya bertebaran di mana-mana, asalkan botolnya balik ke kita. Gitu aja.”
Mendengar kata-kata Budhe Sum, Reya membelalakkan mata.
“Kita sebagai perempuan dikaruniai hati yang lebih luas. Lebih legowo. Kita harus jadi sosok-sosok kuat di belakang lelaki kita, yang bisa mendukung dan menerima mereka baik dan buruknya.”
Kini Reya mulai manyun. Tangannya mulai tidak fokus. Bukannya merangkai melati, Reya malah meremas-remasnya gemas.
“Ndak usah muluk-muluk pengin pasangan yang sempurna, Nduk. Toh kita juga ndak sempurna. Ndak usah muluk-muluk mengharap cinta sejati, tapi kamu harus ciptakan keabadian itu. Kamu harus bisa mengabdi pada suamimu. Melebarkan hatimu untuk memaafkan kekhilafannya, menjaga kehormatan mereka dengan kesucianmu, dan menguatkan tubuhmu untuk mendorongnya saat dia terpuruk. Itulah istri yang baik.”
Dan bagaimana dengan aku? Suami seperti apa yang baik bagi seorang istri?
“Lagian umurmu udah ndak pantes buat pilih-pilih lagi. Kalau di sini, Budhe yakin kamu ndak akan laku. Kasihan adik-adikmu. Itu si Lia udah berapa tahun pacaran sama Rayhan, ndak bisa nikah gara-gara nungguin kakaknya.”
Reya menghela napas panjang. Lalu meletakkan rangkaian melati di tangannya dengan hati-hati dan bangkit tanpa banyak bicara.
***
Reya menepuk bahu adik perempuannya perlahan. “Li, Mbak mau ngomong. Sini sebentar.”
Lia yang sedang mencoba kebaya seragam keluarga menatapnya heran. “Kenapa, Mbak? Nanti dulu, aku lagi coba ini bajunya agak kekecilan.”
“Sebentar aja,” Reya memaksa.
Lalu, dia berjalan menuju salah satu kamar tidur yang berantakan penuh kotak-kotak makanan yang belum terisi. Di belakangnya, Lia mengikuti dengan kaki terseret karena kain kebayanya yang sempit.
Sesampainya di kamar, Reya mengamati adik perempuannya itu. Lia lebih muda lima tahun. Adiknya itu lulus kuliah tiga tahun yang lalu dan bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta. Setelah Lia, masih ada Ambar yang masih kuliah tingkat akhir di UGM. Mereka tiga bersaudara, perempuan semua.
“Kenapa, Mbak?” tanya Lia. Kedua alisnya bertaut, seperti menyelidiki sesuatu. “Hmm. Aku tahu nih kalau mukanya Mbak Reya udah begini, pasti habis kena petuah dari Budhe Sum tho?”
Reya tersenyum kecut. “Ya gitu deh,” jawabnya malasmalasan. “Li, kamu sama Rayhan gimana?”
Kerutan di dahi Lia semakin bertambah. “Baik-baik aja.
Emang kenapa, Mbak?”
“Kalian serius?”
Lia tersenyum malu-malu. “Dibilang nggak serius juga nggak cocok, Mbak. Umurku udah segini. Bukan waktunya cinta monyet-cinta monyetan lagi.”
“Dih, kamu nyindir Mbak, ya?” sembur Reya.
Adik perempuannya tertawa lebar. “Habis Mbak Reya sih!
Nunggu apaan sih sama Mas Hario? Kapan married?” “Aku sama Hario udah putus.”
Tawa di wajah Lia langsung lenyap. “Kenapa?”
Lalu, Reya mulai bercerita, tentang bagaimana laki-laki yang sudah bersamanya selama lima tahun itu menghancurkan segala yang mereka rencanakan. Tentang bagaimana dirinya mendapati Hario tengah bergumul dengan sahabatnya sendiri di atas ranjang di apartemennya. Juga tentang bagaimana pria itu tidak menghubunginya sama sekali sampai hari ini. Selesai bercerita, dua kakak-beradik itu sama-sama terdiam.
“Aku nggak nyangka Mas Hario begitu,” kata Lia setelah beberapa saat terdiam. “Selama ini, dia sempurna buat Mbak Reya.”
“Selama ini,” Reya mengulang kalimat adiknya. “Ya. Selama ini.”
“Sabar, Mbak. Aku yakin Mbak akan dapat yang lebih oke dari Mas Hario.”
Reya tersenyum mendengar kata-kata adiknya. “Li, Mbak dengar dari Ibu, Rayhan udah ngelamar kamu?”
Pertanyaan itu kembali membuat Lia tersipu. “Iya, Mbak. Dari tahun lalu sih sebenarnya. Tapi baru bilang ke Bapak sama Ibu dua bulan yang lalu.”
“Kamu udah siap nikah?”
Lia mengedikkan bahu. “Nggak tahu deh, Mbak. Kalau nunggu siapnya, mungkin masih lama. Tapi, aku yakin bisa belajar sambil jalan.”
Reya tertawa sambil mencubit hidung adiknya. “Pintar kamu ... terus? Apa kata Ibu sama Bapak ke Rayhan?”
Lia menyengir kecut. “Ya ... tahulah Mbak, Ibu sama Bapak selalu ikut apa kata Pakdhe dan Budhe. Dan Mbak tahu sendiri gimana beliau berdua.”
“Kamu belum boleh nikah?” Lia mengangguk.
“Karena Mbak belum nikah?”
Lia tidak menjawab. Perempuan itu menatap kakaknya dengan ekspresi khawatir.
Reya tertawa frustrasi. “Dari semua hal yang aku raih selama ini, cuma satu indikator yang mereka lihat.”
Lia masih tidak bersuara. Terkadang dia memang tidak mengerti pembicaraan kakaknya.
***