
Rania membawa kayla ke apartemen nya karena ia sangat khawatir jika Kayla berusaha untuk bunuh diri lagi, walau bagai manapun mereka hanyalah korban dari keserakahan orang tuanya.
hari-hari berlalu namun kayla hanya duduk melamun tak ada lagi keceriaan atau sekedar berdebat dengan rania, seperti biasanya mereka lakukan saat bertemu kini kayla menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup.
rania hanya memantau nya saja sambil mengerjakan pekerjaannya menjadi pedagang online, awalnya pekerjaan itu membuatnya malu itu sebabnya ia tidak ingin siapapun datang ke apartemen nya.
namun kini ia sudah terbiasa dengan pekerjaannya, ''kay aku harus mengirimkan paket ku, kau mau ikut atau tidak" tanya rania kepada adik satu ibu namun beda ayah itu.
"Aku di sini saja" ucap kayla dengan nada dingin nya.
"Baiklah tapi jangan pernah lakukan apapun yang akan membahayakan mu dan janin mu ingat itu kalau tidak aku akan membunuh suamimu juga" ancam Rania.
"Kau tenang saja, aku akan tetap hidup bersama dengan anakku" kayla mengelus perutnya dengan penuh kelembutan.
Saat rania pergi untuk mengirimkan paket pesanan para costumer nya, ponsel kayla pun berbunyi nyaring membuyarkan kayla dari lamunannya, "Hallo" kayla mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelepon nya.
"Datang ke kantor sekarang juga" lalu panggilan itu di tutup secara sepihak sebelum kayla menjawabnya.
dengan langkah gontai kayla pun mulai mengganti pakaiannya untuk datang ke kantor menemui suaminya yang sangat ia rindukan selama beberapa hari ini, ''Kau akan melihat papa mu nak walau dia tidak akan tahu keberadaan mu tapi kau masih bisa melihatnya nanti" kayla berbicara sambil mengelus perutnya.
kayla meminta ijin kepada rania agar ia tidak mengkhawatirkan dirinya saat ia pergi meninggalkan apartemen, Kayla pun kini berangkat ke kantor menggunakan taksi menuju perusahaan mendiang ayahnya yang ia ketahui beberapa hari yang lalu.
setelah sampai di sana Kayla pun langsung bergegas menuju ruangan suaminya saat sudah berada di depan ruangan dalfa kayla merasa sangat gugup, ia menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan lalu membuka pintu ruangan itu.
ternyata di dalam sana dalfa sedang bersama dengan seorang wanita yang kayla lihat saat terakhir ia datang ke perusahaan itu, "Hmm maaf mengganggu aktivitas anda tuan, ada perlu apa anda memanggil saya kemari"
kayla merasa sakit hati melihat kedekatan suaminya dengan wanita lain namun ia tidak menunjukkannya di hadapan dalfa.
"ambil dan tanda tangani surat ini aku akan membeli saham dua puluh persen mu dengan harga sepuluh kali lipat dari harga normal, aku harap kau bisa secepatnya pergi sebelum aku berubah pikiran untuk memasukkan mu ke dalam penjara karena mencelakai bagian dari keluarga Wijaya" ucap dalfa sambil menyodorkan berkas pada kayla.
kayla terseyum miris mendengar suaminya begitu tega mengusir dan menuduh hal yang tidak pernah ia lakukan di Depan wanita lain, rasanya ia sungguh tak sanggup bila terus seperti ini hidup depan penuh tekanan dan komplik yang tiada habisnya bagi kayla.
"jika anda ingin cerai aku akan mengabulkan nya, tapi aku tidak akan pernah menjual saham ku di perusahaan ini"