After Wedding

After Wedding
hilang



Sungguh aku kaget setengah mati dengan sikap mas Rendy, ini harusnya aku yang marah kenapa jadi mas Rendy yang ngamuk.


Mungkin saja mas Rendy tersinggung, aku menyinggung dia yang sedang tidak bekerja, namun kalo dipikir kembali ucapanku itu benar.


Untuk apa beli minuman tidak ada manfaatnya sama sekali. aku duduk beberapa saat untuk meredakan tangisku, dadaku pun terasa sesak.


Semarah itu padaku hingga tak kepikiran aku yang sedang hamil, aku sedirian dluar sedangkan ini maghrib, aku sangat sakit hati dengan sikap mas Rendy.


Perlahan kuusap air mataku lalu kuambil kunci kontrakan yang dibuang mas Rendy segera kumasukan dalam tas.


Perlahan kulangkahkan kaki keluar dari pagar aku jalan pelan menuju rumah kontrakanku, namun tiba-tiba langkahku terhenti aku berubah pikikran.


Enak saja aku pulang kerumh setelah mas Rendy menyakitiku, ahirnya kupustan kan maen kerumah bi Sumi, bi Sumi dulunya juru masak dikantin, namun karna sudah sepuh ahirnya bi Sumi berhenti.


Jarak antara rumah bi Sumi dari kantor hanya 100 meter saja aku tidak akan capek hanya berjalan menuju rumah bi Sumi.


"Bi Sumi bi tok tok tok,"kuketuk pelan pintu rumah bi Sumi, karna sedang maghrib aku takut mengganggu.


"Iya. Ros ada apa? tumben maghrib-maghrib kesini, ayo masuk!"ucap bi Sumi begitu melihatku langsung memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Tidak papa bi, boleh tidak aku istrahat dulu dsini?"tanyaku, kuyakin bi Sumi bertanya-tanya dengan kedatanganku.


"Boleh Ros, tapi bi Sumi minta kamu kasih tau suamimu dulu supaya tidak bingung."jawab bi Sumi, sepertinya bi Sumi paham.


"Iya bi nanti, untuk sekrang aku pengen tenang dulu bi."jawabku pelan.


"Ayo istrahat dikamar, nanti bibi buatkan teh,"ucap bi Sum sambil menuntunku kekamar.


Bi Sumi janda dengan 3 anak namun sudah menikah semua jadi bisumi tinggal sendri. tak lama bi Sumi masuk sudah membawa teh serta roti, setelahnya aku ngobrol dengan bi Sumi.


...ΩΩΩ...


Sementara ditempat lain, seorang pria dengan tergesa-gesa kembali pulang kerumah.


"Ros Ros tok tok tok."kuketuk pelan pintu kontrakan, tapi tak ada jawaban.


"Ros buka pintunya Ros!"teriaku agak kencang, mungkin saja Rosa ketiduran setelah pulang kerja, namun nihil tetap saja tidak ada jawabanì.


"Ada apa Rend?"tanya mas Heru, mungkin dia dengar suara teriakanku.


"Mas tadi lihat Rosa tidak? kupanggil-panggil ko gak nyahut."jawabku.


"Tidak Rend, entah kalo Rini. coba kutanyakan padanya,"ucap mas Rendy sambil berlalu masuk kedalam rumah, tak lama mb Rini juga ikut keluar bersama mas Heru.


"Memang Rosa sudah pulang Rend? dari tadi aku duduk dsini tapi gak liat Rosa lewat, kamu yakin Rosa sudah pulang?"tanya mb Rini.


Pikiranku justru semakin kacau, kemana rosa malam-malam begini.


"Iya mbak, coba tanyakan mb Dewi siapa tau Rosa disana."ucapku sudah dengan pikiran kacau.


"Sebentar Rend,"jawab mb Rini.


Kulihat dia masuk kedalam lalu keluar lagi sudah membawa ponsel ditanganya, tak lama kudengar mb Rini ngobrol sama mb Dewi melalui telpon.


"Tidak ada Rend. Rosa gk ada dirumah Dewi!"ucap mb Rini, tak lama mb Dewi sama mas Erik sudah kemari.


"Bagaimana bisa Rend, kmana perginya Rosa? ini malam Rosa sedang hamil gimna kalo dculik,"ucap mb Dewi.


mendengar omongan mb Dewi aku semakin panik, aku takit Rosa terluka takut anakku kenapa-napa.


"Mas kita congkel saja jendela samping, siapa tau Rosa didalam ketiduran."ucapku mencoba beripikr positip.


Dengan diikuti mas Erik, kami bertiga segera mencongkel jendela samping, begitu terbuka aku segera loncat masuk kedalam rumah.


Jantungku berdebar kencang saat tidak kutemui Rosa didalam rumah, aku segera keluar kembali lalu jendela kututup lagi.


"Bagaimana Rend?"tanya mas Heru.


"Tidak ada mas."ucapku pelan, aku sudah ingin menangis.


"Yampun Rosa, Rend coba kamu kembali kekantor tanyakan pada teman-teman Rosa,"ucap mba Dewi saking bingungya aku sampai tidak terpikirkan.


"Iya mba, mas kabari aku jika sewaktu-waktu Rosa pulang,"pesanku pada mas Heru.


Aku segera melajukan kendaraan menuju kantor Rosa, aku segera memasuki kantor dan tanya pada Rio serta Mutia yang sedang lembur.


Namun sayangnya mereka tidak tahu menahu perihal Rosa. aku segera berlari lagi menuju parkiran kantor, kuarahakn kendaraan menuju rumah ayahku.


Siapa tau Rosa pulang kesana dijemput Nita, sampai disana rumah sepi aku segera masuk kedalam. hanya ada ayah ibu serta Nita yang sedang nonton tv.


"Dari mana Rend? mana Rosa?"tanya ibu, sambil menelisik mukaku.


"Apa Rosa tidak dsini bu?"tanyaku balik pada ibu.


"Tidak Rend, ada apa Rend?kemana Rosa?"tanya ibuku sudah panik.


"Rosa hilang bu, tadi kami sempat cekcok sedikit sebelum Rosa hilang."jelasku pada ayah dan ibu


"Apa Rend hilang, bagaimana bisa?"tanya ayah langsung emosi.


"Apa mb Rosa pergi kerumah temanya coba mas Rendy cari?"tanya Nita dengan wajah panik.


"Sudah tapi tidak ada, aku bahkan sudah kembali kekantornya. tapi teman kantornya juga bilang Rosa sudah pulang,"jawabku dengan suara bergetar, menahan rasa takut sekaligus kwatir.


"Apa yang terjadi Rend, tidak mungkin Rosa pergi tanpa alasan."tanya ibuku, saat kami tengah panik bulek Rahma datang bersama Saci.


"Ada apa ini? kenapa semua panik?"tanya bulek Rahma sambil menggendong Saci.


"Rosa hilang Ma, ini kami sedang bingung mau cari kamana."jawab ibu


"Yampun kobisa Rend, kamu itu harus pengertian wanita hamil itu sangat sensitif kamu harus maklum."ucap bulek Rahma.


Seketika dadaku seperti tertimpa batu besar rasanya sangat berat.


"Rend sebaiknya kamu segera cari Rosa, kalo sampai malam ini tidak ketemu kita lapor polisi saja, dan sampai orang tua Rosa dengar Rend, malu ayah sama besan!"ucap ayahku pelan sambil memijat pelipisnya.


Aku segera berlalu dari rumah ibuku, sepanjang jalan aku terus berpikir. sefatal itukah salahku sampai Rosa begitu sakit hatinya.


Aku salah aku memang salah, harusnya aku tidak meninggalkan dia apalagi dalam keadaan magrib, tapi semua sudah terjadi Rosa sudah pergi, bukan saatnya untuk meratapi nasib


Sekarang saatnya mencari Rosa sampai ketemu malam ini juga. sampai dikontrakan mb Dewi sama mas Erik pun masih disana menunggu kabar Rosa.


"Bagaimana Rend, sudah ada kabar?"tanya mas Heru begitu aku sampai diteras.


"Belum mas!"jawabku pelan smbil mendudukan tubuhku dikursi.


"Sebenarnya ada apa si Rend sampai Rosa kaya gtu? kalo ada maslah sebaiknya bicara baik-baik, apalagi sekarang Rosa sedang hamil wanita hamil sangat sensitiv Rend,,,"nasehat mb Dewi sama seperti bulek Rahma.


Sungguh aku menyesal meninggalkan Rosa, aku tidak pernah berpikir Rosa sampai melangkah jauh seperti ini.