
Pagi ini kami bangun disambut dengan mendung gelap serta hembusan angin dingin, sengaja kami tidak membuat sarapan pagi karna memang hari ini acaranya, jadi kalopun masak tentu enggak kemakan.
Rencana pagi-pagi kami sudah kerumah ibu mertua, namun lagi-lagi rencana cuma tinggal rencana karna sudah keduluan tetesan hujan jatuh membasahi bumi.
Dengan ditemai minuman hangat kami duduk saling bercengkrama, untung tadi sebelum hujan turun ada mamang jualan getuk sama klepon lewat jadi bisa untuk teman minum kopi.
"Halah gimana ini malah mendung putih, biasanya kalo mendung putih susah redanya."ucap ibu sambil berdiri dteras.
"Yaudah bu sabar aja, nanti kalo reda kita langsung kesana."jawabku menenangkan, mungkin ibu merasa tidak enak sama besan.
"Kalo gak pake mantel saja bu, nanti kita boceng tiga sama bibi juga,"usul mas Rendy.
"Nah iya sudah sana antar ibu serta bibimu Rend."jawab ayah ikut menimpali.
"Yaudah mba ayo, pake jaket biar gak dingin dijalan,"ucap bi Salma sambil berlalu masuk kedalam untuk mengambil jaket.
Tak lama mereka sudah siap dengan mantel untuk bibi serta ibu, lalu mas Rendy memakai jaket serta helm.
Setelah mereka berangkat aku segera masuk kekamar mandi, sambil menunggu mas Rendy kembali menjemput, aku bersiap-siap terlebih dahulu, saat aku keluar dari kamar kudengar mas Rendy tengah ngobrol dengan ayah.
Memang ayah pernah menyarankan untuk coba budi daya udang saja, karna kebanyakan saudara dari ibuku bisnisnya itu dan banyak yang berhasil.
Tapi mas Rendy masih bingung belum memberi keputusan mau atau tidaknya. setelah kudengar obrolan nya sudah santai aku segera gabung duduk diteras.
"Mas minta mangga itu saja, untuk nanti rujakanya."ucapku sambil menunjuk pohon mangga didepan kontarkan, pohonya kecil tapi buahnya sangat lebat.
"La kan yang punya udah pergi yang masa ngambil gak izin dulu,"jawab mas Rendy.
"Aku udah minta mas kmaren, bilang mau buat tujuh bulanan suruh ambil aja, ntar sore dianter nasi yang punya mangga."ucapku menjelaskan.
"Yaudah ambil plastik!"titah mas Rendy, setelah memetik sekitar tujuh buah aku diantar terlebih dahulu kerumah ibu.
Namun sebelum kerumah ibu kami mampir dulu kepasar untuk membelikan ayah sendal, tadi ayah sudah berpesan jika sendalnya sudah jelek.
"Mb masak apa? aku laper."bgitu isi pesan Nita, ketika aku masih dpasar pesan masuk di ponselku.
Deg. yang benar saja nanya mkanan keaku sedangkan yang masak-masak kan disana, aneh. jangan-jangan ibu sama bibiku belum dikasih sarapan, batinku.
"Ayo mas segera kerumah ibu."pintaku.
"Lo kenapa sayang? kok kayaknya panik gtu?" tanya mas Rendy seolah mengerti kepanikanku.
"Masa Nita nanya aku masak apa katanya dia laper, bukanya kebalik kan disana yang mau masak-masak, bisa sakit ibu sama bibi jam segini belum sarapan."jawabku panik, kulirik sudah setengah sebelas yang benar saja jam segini belum sarapan.
"Yaudah ayo,"ajak mas Rendy.
Tepat seperti dugaanku, belum ada apa-apa, aneh sekali dengan ibu mertuaku ini, ada besan besok mau ksini masak disini ntah dimakan ntah enggk pantesnya disiapin dong sarapan, padahal ibuku kmaren jelas bawa ikan udang bahkan beras, pelitnya luar biasa mertuaku.
"Belum masak apa Nit?"tanyaku begitu kulihat Nita tengah duduk main ponsel.
"Belum sempet. tadi pagi-pagi ujan, mana ndadak kepasar dulu gak keburu mau bikin sarapan."jawabnya sambil tetap memainkan ponsel.
Begitukah cara menyambut besan, sedangkan dari beras, kelapa, ketan, ikan, udang, sudah dibawa ibuku.
Karna ibu tau acara tujuh bulanan itu sangat banyak modalnya, bahkan bibiku juga bawa kebutuhan yang lainya.
Aku segera kedapur kutemui ibu serta bibiku yang tengah mengupas bawang merah, kulihat juga bawang merah nya kecil-kecil banget, pasti cari yang murah dasar pelit.
"Lapar ya bu?"tanyaku.
"Enggk Ros tadikan udah sarapan getuk,"jawab ibu sambil senyum, tapi aku tau ibu lapar ini juga udah siang.
"Sudah-sudah, inikan juga udah minum teh."jawab bibi sambil menunjuk gelas teh.
Kulihat sekeliling tak banyak belanjaan yang dibeli, sayuran hanya ada bayam sama kacang, padahal menurut orang jawa kalo acara tujuh bulanana itu ya semua tujuh rupa.
Tapi ini apa sih, aku kecewa banget sama ibu mertuaku ini sangat irit sekaki. setelah puas melihat dapur aku kembali kedepan, duduk sama Nita dan mas Rendy.
Tepat jam setengah dua belas sarapan dikeluarkan, itu juga untung ayah mertuaku pulang dari sekolah kelaparan jadi langsung dibuatkan makan siang.
Lauknya, cukup hanya sambal kecap. dengan cabe lalu bawang merah iris dikasih penyedap rasa lalu disiram kecap, dan lauk lainya cukup dengan ati ampela ayam digoreng itu saja, luar biasa ibu mertuaku sungguh irit sekali.
"Sarapan seadanya dulu ya pak Ahmad."ucap bu Sita sambil tersenyum manis.
"Iya bu tidak apa-apa."jawab ayahku ramah.
"Gak masak ikan apa udang to bu?"tanya ayah mertuaku, kulihat ayah mertua juga agak malu sama besan dengan menu sarapan seperti ini.
"Alah yah gak sempat, tadi kepasar hujan juga kapan mau masaknya."jawab bu Sita enteng.
Kesalnya aku ayah dan ibuku diperlakukan seperti ini, padahal menjamu tamu itu kewajiban setiap tuan rumah.
"Sudah pak tidak apa-apa, ikan sama udang terus kami juga bosa. sekali-kali seperti ini kan enak."ucapku ibu sambil menyuapkan nasi kedalam mulut.
Entah kenapa rasanya sulit sekali menelan nasi, entah karena tidak ada kuah atau karna hati kami yang tidak iklas untk menelan.
"Iya bu Tika, ikan terus bosan. tapi kalo kaya saya atau bi Salma tentu tidak bosan karna jarang makan ikan."ucap ibu mertuaku sambil tersenyum.
"Bosan juga sibu kalo terlalu sering."jawab bi Salma dengan ramah, acara sarapan terasa begitu lama.
Lantaran susah menelan menurutku, aku serta mas Rendy cumam diam. namun didalam hatiku aku ini sangat kesal sekali dengan perlakuan ibu mertuaku, sangat pelit dengan segala hal.
Belanjaan saja dikit semua, jadi jika ada yang kurang beli lagi kewarung. padahal ayam saja sudah aku yang beli aku yang bayar.
"Nduk taro saja kamu gausah jalan-jalan!"cegah ibu mertua saat aku hendak mengangkat piring kotor.
"Taruh saja Ros. nanti biar bibi bawa masuk, bibi minum dulu yaa,"pamit bi salma, aku yakin mereka juga sama sepertiku susah menelan.
"Bu gak usah capek-capek, nanti malah sakit apalagi kan tadi sarapanya telat banget."ucapku menasehati ibu.
"Enggk Ros cuman ngupas-ngupas aja. yaudah ibu kedapur dulu ya, tidur saja kamu udah siang ini."jawab ibu sambil berlalu pergi menuju dapur.