
Begitu sampai kantor aku segera naik keatas, sampai diatas ternyata baru ada Mutia saja mungkin saja Rio sama Arga telat hari ini.
"Hai Mut, Rio sama Arga belum datang ya?"tanyaku sambil mendudukan tubuh dikursi.
"Eh Ros. udah ko mereka masih pada kekantin Ros"jawab Mutia sambil tersenyum ceria.
"Lakok pagi-pagi udah kekantin aja, ngapain memang Mut?"tanyaku penasaran.
"Em beli nasi, Rio yang kusuruh beli nanti kita sarapan bareng ya,"jawab Mutia seraya mendudukan tubuhnya dikursi sebelahku.
Tumben banget nih anak-anak ada apa ya. "Memang ada apa sih Mut, ko tumben banget mau sarapan dikantor bareng-bareng?"tanyaku pada Mutia.
"Gini Ros, kan sebentar lagi kamu mau resign nih jadi kita puas-pasin dulu kebersamaannya,"jawab Mutia sambil tersenyum.
Dadaku terasa sesak mendengar jawaban Mutia, ada sesuatu yang menyentil perasaanku sehingga rasa haru tiba-tiba datang."makasih ya mut, aku sedih sekali pisah dengan kalian tapi mau bagaimana lagi,"jawabku dengan mata berkaca-kaca.
"Ros jangan nangis. pagi-pagi pamali tau nangis,"ucap Mutia sambil mendekat lalu memeluku hangat.
Mendengar ucapan Mutia hatiku sangat terharu, ditempat ini aku dulu memulainya dari nol hingga sampai diposisi ini."Mut nanti kalo kamu nikah, jangan lupa kabari aku ya,"ucapku disela-sela tangisku. kudengar Mutia sedikit mengeluarkan tangis.
"Pasti Ros. doakan aku bisa langgeng sampe nikah ya Ros, aku takut gagal Ros apalagi kamu jauh."jawab Mutia dengan suara bergetar menahan tangis.
"Selalu Mut. aku berharap kamu berjodoh sama Rio, jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku ya Mut."ucapku sambil melerai pelukan.
"Trimakasih ya Ros. kudoakan semoga nanti lahiranya lancar Ros,"ucap Mutia sambil tersenyum.
Tak lama kulihat Arga serta Rio sudah datang sambil menenteng satu plastik besar.
Segera Rio menghampiri kami dengan wajah panik, mungkin karna melihat kami menangis jadi Rio berpikiran negativ."Kalian ada apa pagi-pagi ko sudah nangis?"tanya Rio seraya mendudukan diri disebelah Mutia.
"Tidak papa Io, kami tadi cuma terharu aja karna sebentar lagi aku sudah mesti resign."jawabku sambil tersenyum, kulihat Mutia mulai membuka plastik yang dibawa oleh Rio.
"Eh iya, yampun Ros nanti kalo aku kangen bagaimana ya, atau aku ikut kamu pulang aja deh,"ucap Arga sambil menggeser duduknya.
"Nanti kalo kamu ikut malah mas Rendy cemburu gimana ga,"jawabku sambil tersenyum kujahili juga Arga ini.
"Yasudah kalo gitu Rendy saja yang ditinggal. aku kamu bawa ya Ros,"ucap Arga serius.
"Ya Ros bawa aja, masukin kedalam plastik besar."jawab Rio sambil terawa.
"Kamu kenapa si Io, iri bilang bos."jawab Arga keras didepan muka Rio. sontak saja tawa kami pecah.
Setelah melihat kami tertawa Arga segera berlalu turun kebawah entah akan kemana si Arga."Waduh Mut kayaknya ngambek lagi itu anak perawan,"jawabku sekenanya.
"Hahaha biar saja Ros, nanti juga bentar lagi dia kembali."jawab Rio santai.
"Aa' gaboleh gitu dong. masa kita makan gak ada Arga kan gak lengkap,"jawab Mutia.
"Tenang aja pasti anak itu balik lagi."jawab Rio lagi tetap dengan nada santai.
Ternyata benar ucapan Rio, tak lama Arga sudah kembali dengan membawa minuman dingin ditanganya."Ayo Ga sini kita sarapan bareng,"ajaku ketika Arga sudah sampai didepan meja.
Semua sudah tertata rapi ada tumis kangkung, sambal udang, ayam goreng, sambal trasi serta lalapan lengkap dan tak lupa nasi hangat.
"Wahh mantap sekali, ayo kita mulai saja sarapan pagi kita,"ucap Arga senang, sudah tidak ada lagi kemarahan ataupun kekesalan dimuka Arga.
"Ayo Ga hajar jangan kasih kendor."jawab Mutia sambil mendudukan dirinya disamping rio.
"Sudah-sudah ayo makan, aku udah gak sabar ini mau makan."ucapku melerai mereka agar tidak terlalu banyak bicara, lalu kami segera makan dalam keadaan tenang.
Selama makan tidak ada obrolan apapun karna mulut kami sudah sangat sibuk mengunyah makanan masing-masing.
...ΩΩΩ...
Sorenya aku pulang kerja dijemput mas Rendy seperti biasa, rencananya malam ini aku mau kerumah ibu mertua bawain barang-barang yang kira-kira bisa diangkut pake motor.
"Mas apa aja yang mau dibawa?"tanyaku.
"Apa aja yang,asal kira-kira kita bawanya."jawab mas Rendy yang tengah mengemas beberapa barang.
"Mas peralatan dapur aja yang enak, nanti dimasukin plastik besar."ucapku sambil memilih peralatan yang kira-kira bisa dibawa.
Setelah memilah dan mengemas kami segera berlalu menuju rumah mertuaku.
"Assalamualaikum."salamku ketika sampai dirumah ibu mertua.
"Walaikumsalam,"jawab ibu mertuaku.
Tak lama Nita keluar dari kamar, langsung melihat barang-barang yang kubawa." Mba apa itu, ko bawa barang banyak?"tanya Nita penasaran.
"Oh ini barang yang bisa diangkut pakai motor saja. biar nanti pas pindahan gak perlu balik dua kali,"jawabku sambi mendudukan tubuh disofa. sedangkan mas Rendy langsung kebelakang.
Tak lama ibu pun menyusul kebelakang mungkin hendak melihat mau ditaro mana barang-barang kami."Bu taro dimana ya?"tanya mas Rendy.
"Taro situ aja dulu sementara. besok ibu bikinkan tempat yang pas."jawab ibu seraya berlalu kedepan tv.
"Ayah kemana bu?"tanyaku sekedar basa basi, jujur saja semenjak kejadian tujuh bulanan itu aku jadi kurang suka dengan ibu. mengingat betapa irit serta pelitnya.
"Biasa nduk. sedang kumpul sama teman-temanya untung saja Nita drumah jadi ada temanya."jawab ibu sambil matanya tetap focus dilayar tv.
"Iya bu kesepian ya,"ucapku lagi. tak lama mas Rendy duduk disebelahku sambil membawa secangkir kopi.
"Iya. kalian sudah makan belum, jika belum makan saja dulu."titah ibu.
"Iya bu nanti saja belum lapar."jawabku sopan.
"Kapan kamu berenti kerja nduk?"tanya ibu mertua.
"Lima hari lagi. tepat setelah gajian,"jawabku.
"Setelah itu kalian langsung pulang kekampung?"tanya ibu mertua lagi.
"Tidak bu, disini dulu tiga atau empat hari mau usg dulu sambil mastiin jenis kelamin,"jawab mas Rendy.
"Oiya sekalian pijat perut, dulu kan belum jadi pijat,"ucap ibu mertua.
Coba kita lihat ibu nyuruh pijat ini mau bayarin apa enggk. soalnya selama aku hamil juga belum pernah beliin apa-apa, jangankan aku untuk cucunya yang masih dalam perut aja ga beliin apa-apa.
"Iya bu nanti sekalian pijat perut."jawabku singkat, kami terus mengobrol sampai jam sembilan malam.
Mas Rendy mengajakku pulang kebetulan aku juga sudah ngantuk ingin segera sampai rumah lalu rebahan diatas ranjang.