
Paginya aku bangun dengan keadaan badan yang remuk, entah selesei jam berapa acara bercinta semalam yang jelas aku benar-benar capak jadi begitu selsei aku langsung tertidur pulas.
Begitu bangun aku segera berlari kekamar mandi untuk segera membersihkan tubuhku, badanku terasa lebih segar setelah mandi, selesei mandi aku segera berlalu kedapur membuat kopi untuk mas Rendy.
"Mas aku mau diantar atau bawa motor sendiri?"tanyaku sambil mengelus pundak mas Rendy.
"Hm,"jawab mas Rendy hanya mengeliat saja lalu tertidur lagi.
"Mas ko tidur lagi si mas?"ucapku lagi mulai kesal.
"Iya sebentar lagi syang, lima menit lagi yah?"tawar mas Rendy dengan mata terpejam.
Kutinggal mas Rendy yang masih males-malesan bangun, aku segera membuka lemari lalu memilih baju yang pas untukku.
Setelah siap aku segera kedapur kuambil roti lalu susu untuk mengganjal perut dan tak lupa minum segas susu.
"Kopi mas."tawarku saat kulihat mas Rendy keluar dari kamar dan sudah terlihat rapi.
"Eh. tumben sarapan roti sebelum berangkat sayang?"tanya mas Rendy sambil mendudukan tubuhnya diatas kursi.
"Entah mas lapar, mungkin karna semalam tenagaku terkuras habis jadi pagi-pagi sudah lapar."jawabku sambil menyengir.
"Eleh apa iya deng."ledek mas Rendy sambil mencolek daguku, setelah selesei sarapan aku segera bersiap tak lupa tas kecil yang selalu kubawa kemana-mana, setelahnya perlahan mas Rendy melajukan kerndaraan menuju kantor.
"Hati-hati yang jangan capek yaa, ingat jangan kabur lagi."pesan mas Rendy sebelum aku masuk kdelam kantor.
Setelah mas Rendy kembali kerumah aku segera masuk lalu naik keatas, sampai diatas kulihat sudah ada Mutia, Rio sama Arga pula.
"Hai Ros sini dulu ngobrol-ngobrol,"panggil Mutia sambil melambaikan tangan, kulangkahkan kaki menuju meja mereka.
"Pagi semua."sapaku ramah.
"Yah yang sudah temu kangen, cerah banget cuacanya,"jawab Arga asal.
"Ish anak kecil tau apasih,"ucapku sambil tersenyum ringan.
"Kecil-kecil ini gini, bisa lo bikin anak kecil."jawab Arga sekenanya, sontak kami bertiga tertawa mendengar jawaban dari Arga.
"Gimana Ros lebih enak tidur sama suami kan ketimbang sama bi Sum?"goda Rio sambil terkekeh.
"Tentu saja enak sama bi Sum buktinya Rosa lebih milih bi Sum ketimbang Rendy."jawab Mutia sambil mencebik.
"Eh kalian sudah selesei belum ngejeknya? kalo belum ya diteruskan saja."jawabku santai sambil tersenyum.
"Haha marah niye, masa pagi-pagi udah marah si Ros santai dong."ucap Arga sambil memainkan alis naik turun.
"Ish siapa yang marah, aku lo selow,"jawabku.
"Sudah Ga, nanti kalo kamu ejek terus si Rosa bisa-bisa kabur lagi, kamu bisa kena amuk sama Rendy."ucap Rio menghentikan kongekan Arga.
"Eleh lemah, masa gitu aja minggat sih!"jawab Arga sambil berlalu kemejanya.
"Gausah didengar Ros omongan Arga, kamu paham kan sikap dia,"ucap Mutia sambil mengelus bahuku.
"Ya aku paham, yasudah aku mau kemeja dulu mau kerja, gaenak pagi-pagi belum kerja udah ngerumpi aja."jawabku sambil tertawa.
Setelah mendapat jawaban dari Rio juga Mutia aku segera melangkahkan kaki menuju mejaku, sampai dimeja segera kuhidupkan komputerku lalu mulai mengerjakan pekerjaanku seperti biasa.
...ΩΩΩ...
Jam sudah menunjukan pukul sebelas tiga puluh, kuputar badan kekiri serta kekanan guna melemasakan otot-otot yang kaku.
Ponselku berbunyi nyaring bertanda ada yang memanggil, pikirku mas Rendy setelah kulihat ternyata Nita adiknya mas Rendy.
"Iya halo Nit."sapa ku ramah ketika panggilan sudah tersambung.
"Hai mba, sibuk gak? kita makan siang bareng yuk,"ajak Nita, mungkin dia sudah dikasih tau mas Rendy jika aku sudah pulang.
"Dicafe sebrang kantor mb aja deh, biar gak jauh-jauh soalnya malas macet kalo jam makan siang,"jawab Nita panjang lebar.
"Yaudah okedeh, nanti kalo kamu sudah sampai cafe kabarin aja Nit."ucapku lagi sambil menutup panggilan telpon.
Setelah panggilan terputus segera kumatikan pula komputerku, setelahnya segera kuberesi barang-barang pribadiku. setelah beres aku berjalan menuju meja Mutia lalu duduk dikursi.
"Mut aku mau makan dluar sama adiknya mas Rendy,"pamitku sambil tersenyum.
"Silahlan ih Ros, gitu aja paka pamit segala."jawab Mutia sambil mencubit gemas pipiku.
"Aku gak enak kalo langsung pergi, nanti kalian nunggu-nunggu aku."ucapku pelan, sambil mengelus-elus perutku.
"Memang mau makan siang dimana kalean?"tanya Mutia.
"Cafe seberang kantor Mut."jawabku sambil tertawa.
"Haha sok atuh Ros, aku mah nunggu aak Io aja,"ucap Mutia sambil tersenyum bahagia.
Kuliat dari wajah mereka berdua sepertinya mereka sangat bagahagia, syukurlah aku sangat mendukung jiko Rio menikahi Mutia.
"Yasudah aku mau kesana dulu,"ucapku sambil menunjuk arah cafe.
"Silahkan, mau diantarkan tidak Ros?"tawarnya sambil tersenyum
"Kalo gendong aku mau,"jawabku.
"Wah kalo itu, bagian si Rendy aku tidak berani ambil alih hahaha."ucap Mutia sambil tertawa.
Kutinggalkan Mutia yang sedang tertawa, segera aku turun kebawah. bagitu sampai bawah kulihat diparkiran ada Nita, kukira dia langsung kecafe ternyata mampir dulu kesini.
"Hai Nit, maaf ya lama nunggu."sapaku ketika sampai didiekat dia.
"Enggk ko mba, ini juga barusan sampai,"jawabnya sambil tersenyum.
Nita usianya hanya beda satu tahun sama aku, namun badanya tinggi besar hingga klo jalan berdua sering dikira dia yang kakaknya.
"Ayo Nit kita capcus ntar keburu siang."ucapku sambil duduk diatas motor.
Katakanlah cafe itu seberang kantor tapi karna kami menggunakan motor jadi harus putar jalan dulu.
Begitu sampai dicafe suasana sudah ramai hampir semua meja penuh, ahirnya kami memilih meja yang ada dipojokan dekat jendela.
"Mb itu kemaren knapa si?sampai kaya gtu,"tanya Nita ketika kami sudah duduk
"Ya biasalah Nit, nanti kamu klo udah nikah pasti tau. makanya cepetan nikah,"candaku sambil tersenyum.
"Mau nikah sama siapa mb, orang pacar aja gapunya geh. kenalin si sama temen mba,"jawabnya sambil tersenyum jenaka.
"Mau sama siapa Nit? Arga mau, kalo Rio sudah mau nikah sama Mutia,"jawabku sambil menyedot jus melon yang sudah kupesan.
"Apa nikah!" jawab Nita seperti orang kaget mendengarnya.
"Iya, ada apa Nit? kok kamu kaya kaget gtu?"tanyaku penasaran.
"Kaget mba, soalnya waktu itu aku sempat dekat sama kak Rio. tapi aku kurang sreg jadi kuabaikan,"jawabnya pelan.
"Lalu sekarang kamu nyesel gtu?"tanyaku, dan langsung dijawab anggukan oleh Nita.
Nita itu temanya banyak dan banyak yang tidak seiman, dulu pernah dia hampir menikah namun beda keyakinan itu yang membuat keluarga besar menentang.
"Rio itu orang baik, jadi cepat lakunya. wajar kalo kamu abaikan dia langsung beralih ke Mutia, berarti bukan jodohmu oke."ucapku pada Nita.
"Ya mba,"jawabnya pelan sambil memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Yaudah lanjutin makanya. setelah itu kita pulang yaa,"ucapku dan langsung diangguki oleh Nita, setelah selsei makan aku segera diantarkan Nita kekantor, karna dia juga sedang ada kelas jadi tidak bisa lama-lam diluar.