After Wedding

After Wedding
sakit



Seminggu berlalu setelah mas Rendy pulang dari rumah orang tuanya, kegiatan mas Rendy kembali seperti biasa.


Berangkat pagi dan pulang waktu sore, saat ini aku sedang benar-benar bingung. pasalnya aku sudah tidak punya pegangan sama sekali, sedangkan kebutuhan banyak.


Aku sangat berharap jika Nita mau memulangkan uang itu, tapi janji tinggallah janji. sampai hari inipun tidak ada kabar berita akan meng tf uang.


Ahirnya setelah kupikirkan berulang kali, kuputuskan untuk menanyakan kembali perihal uang itu.


"Hai Nit apa kabar?"tanyaku melalui pesan singkat.


"Baik mba, mba sendiri gimana?"tanya Nita.


"Baik Nit, oiya Nit uang nya itu gimana udah jadi kamu tf belum?"tanyaku basa basi.


"Belum mba. mang mas Rendy gak cerita apa-pa gitu ke mba?"tanya Nita.


"Enggak tuh Nit, emang ada apa sih?"tanyaku penasaran.


"Em gini mba, kemaren aku udah sampaiin perihal mb yang minta uang itu, dan kata ayah kalo memang mau minta uang itu sebaiknya mba pulangin dulu uang ayah yang 10 juta,"ucap Nita.


Seketika darahku mendidih mendengar omongan ayah mertuaku, dan juga Nita ini bagaimana udah jelas dia yang pinjem ko malah lapor keorang tuanya.


"Lo Nit kamu juga aneh banget, kan kamu yang makai. kenapa pas ditagih ko lapor sama ayah ibu?"tanyaku.


"Kata ibu mba nolak pas mau dibayar makanya aku tanya ke ibu," jawab Nita.


"Kapan ibu mau bayar uang 1 juta itu?"tanyaku.


"Pas waktu ibu mau bayar utang ayah yang dulu itu mba, kata ibu mba yang gak mau,"jawab Nita.


"Lagian ayah kesal mba, mas Rendy sering minta kirimin uang. katanya buat beli pampers sama susu Ryu, kalo ayah tau pasti ayah marah. Ahirnya ibu diam-diam kirim uang,"sambung Nita lagi.


Aku kaget dong, sedangkan susu sama pampers saja aku sama mas Rendy gak pernah mikiran. dan kapan juga Ryu dapat kiriman uang dari neneknya.


"Gini Nit, waktu itu ibu memang kasi aku uang. tapi bilangnya cuman buat bayar utang gitu, dan seingatku ayah memang punya sangkutan sama aku.


"Entah yang dikasih ibu itu berapa, yang jelas aku hanya mengambil 500ribu saja, sisanya aku kemalikan lagi keibu.


"Dan ibu juga gak ada bilang uang kamu juga. kamu juga salah aturan bilang dong kalo itu sama uangmu, kan kamu yang minjem kamu yang bersangkutan ngapain nyuruh ibu!"jawabku kesal.


Setelahnya ada pesan masuk lagi dari Nita, tapi aku males banget mau sekedar membaca saja, aku hanya perlu menunggu mas Rendy pulang dan menanyakan kebenaranya.


Aku sangat heran dengan keluarga mas Rendy, terutama ayahnya. teganya orang tua sampai mengeluarkan omongan kasar terhadap anaknya.


Sakita hati, sakit sekaki. seandainya aku punya uang sudah pasti pertama kukembalikan uang 10 juta itu, supaya tidak diungkit-ungkit lagi.


Tak lama Ryu bangun dari tidurnya, segera kugendong Ryu dan kubawa keluar. aku tidak mungkin menceritakan masalah seperti ini pada kedua orang tuaku.


Tapi dadaku rasanya sungguh sesak, tidak ada satupun pesan dari Nita yang kuhapus. memang sengaja kusiampan biar nanti kuberi tahu mas Rendy.


...ΩΩΩ...


Seperti biasa jam setengah 5 mas Rendy sudah sampai rumah, saat ini aku tengah menyusui Ryu.


Setelah selsei mandi, mas Rendy langsung masuk kedalam kamar untuk ganti baju. selesei ganti baju mas Rendy segera menggendong Ryu, diajak main dihalaman rumah.


Sengaja tidak langsung ku kasih tau mas Rendy, kutunggu momen yang pas agar enak cara nyampeinya.


Aku menyusul serta mas Rendy yang tengah menggendong Ryu, Ayah dan ibu pun tengah santai diteras sembari minum kopi.


"Nanti saja lah yang, kayak biasanya abis magrib,"jawab mas Rendy.


"Nanti ada yang mau aku ceritain mas."ucapku.


"Apa itu yang? kenapa gak sekarang aja?"tanya mas Rendy penasaran.


"Gak dong, nanti aja lah,"jawabku.


Tak lama Dinda pun sudah ikut bergabung dengan Ryu, begitu sampai langsung meminta Ryu dari gendongan mas Rendy.


"Onty kalo pengen adik bikin sendiri dong!"seru mas Rendy sembari tertawa.


"Nah ini adik campur anaku."jawab Dinda sambil mencium pipi gembul Ryu.


"Yuk masuk sudah magrib!"ucap ibu.


Kami segera masuk kedalam rumah, ibu langsung bersiap untuk menunaikan shalat magrib.


Sedangkan aku Dinda serta mas Rendy masuk kedalam kamar, Ryu sendiri masih bermaian. biasanya jika jam segini Ryu sudah tidur, tapi tumben hari ini dia masih bermain.


Usai shalat magrib Dinda mengajak Ryu keluar untuk nonton tv, ada-ada saja si Dinda mana paham Ryu sama tv.


"Makan yuk mas,"ajaku.


"Ayuk!"jawab mas Rendy seraya berjalan menuju dapur.


Sampai didapur segera kuambilkan mas Rendy nasi beserta lauk pauknya, begitupun denganku. setelahnya kami makan dalam diam, aku maupun mas Rendy sama-sama diam.


Selesei makan kuajak mas Rendy duduk diteras samping, tak lupa sambil kubawa kopi seperti biasa.


Aku sudah membawa ponsel sebagai barang bukti jika ucapanku itu benar adanya."Mas aku tadi nanyain lagi uang Ke Nita,"ucapku.


"Terus gimana? Nita kapan bisa bayarnya?"tanya mas Rendy.


"Ehm, gini mas. tadi Nita bilang jika kita menagih uang 1 juta yang dipinjam Nita itu, makan ayah minta uang 10 juta yang mas pakai,"jawabku.


"Yang benar saja, bukanya Nita pribadi yang pinjam. lalu apa hubunganya dengan ayah?"tanya mas Rendy.


"Dan lagi pula yang diapakai Nita itu uang pribadi aku, jadi gak ada sangkut pautnya dong."jawabku kesal.


"Dan ya kata ibu, waktu itu pernah bayar uang yang Nita pinjam, tapi aku menolak. waktu itu memang ibu pernah bayar utang, aku sudah ceritakan sama mas Rendy?"tanyaku.


"Tapi demi allah ibu gak bilang masalah uang yang diapakai Nita, dan lagian itu Nita yang pakai kenapa jadi urusanya sama ibu?"sambungku.


"Aneh sekali adik kamu itu mas. dan satu lagi kata Nita mas Sering minta uang kesana untuk belikan Ryu susu sama pampes apa itu benar mas?"tanyaku.


"Ayahmu sering marah karna mas sering minta kiriman uang dari sana, mereka pusing memikirkan mas karna selalu minta uang,"lanjutku.


Mas Rendy hanya diam, aku tau kalo masalah uang kiriman itu gak pernah ada. anehnya Nita bisa ya bikin omongan buruk kaya gitu, seperti orang yang tidak berpendidikan saja.


"Aku gak pernah minta uang kiriman, kamu yang bawa ATM dan kamu tau keluar masuknya uang,"jawab mas Rendy.


"Aku kesal mas Nita, kenapa dia ngomong kaya gtu? seolah-olah kita ini beban keluarga. nyatanya disini kita saja gak pernah belikan susu untuk Ryu,"ucapku seraya menangis.


Aku sedih, sangat sedih dengan ucapan Nita. andai dekat disana sudah pasti aku langsung menanyakan kebenaranya, dan pula ibu mertua sudah tua tapi mulutnya tidak mencerminkan dirinya tua.