
Alunan lagu Diana Ross dan Lionel Richie masih terlantun sempurna dari wedding singer yang bertempat di sudut ruangan. Bunga krisan bertebaran menjadi penghias aula hotel yang didominasi warna putih dan menebarkan aroma harum yang lembut. Berbeda dengan melati, krisan tidak menimbulkan wangi yang berlebihan.
Pasangan pengantin sedang sibuk menyalami tamutamu yang datang. Tidak banyak. Hanya keluarga besar dan temanteman lapis pertama mempelai. Pesta pernikahan ini memang dirancang sederhana. Namun, terbatasnya tamu yang diundang, justru membuat pesta pernikahan tersebut terkesan eksklusif.
Pasangan pengantin terlihat serasi dengan dandanan kasual. Reya, sang mempelai perempuan, memakai gaun putih sebatas lutut dengan model vintage. Rambut panjangnya dikepang ke samping. Tidak ada tiara atau hiasan rambut yang berlebihan selain jepit rambut berbentuk ranting. Pengantin perempuan terlihat segar dan ceria. Rad, sang pengantin pria, juga tidak kalah kasual. Pria itu memakai setelan santai ber-
warna hitam dengan sepatu hitam. Wajahnya terlihat semringah dan terkesan seolah pernikahan ini juga merupakan kejutan untuk dirinya sendiri. Di kanan dan kiri mereka, keluarga kedua mempelai berdiri berjajar. Tak ada yang tidak bahagia. Pernikahan ini bukan hanya mengenai Rad dan Reya, melainkan sebuah jalinan kehidupan di masing-masing keluarga. Pernikahan ini layaknya prinsip gravitasi yang menjadi dasar untuk hukum-hukum turunannya.
“Cantiknya. ”
“Selamat ya, kalian! Serasi!”
Komentar-komentar tersebut berdatangan untuk keduanya, atau diam-diam hanya kepada salah satunya, sampai baik Reya maupun Rad pada akhirnya hanya menjawab dengan cengiran. Sesekali Rad meraih tangan sang istri, meremas-remasnya untuk merenggangkan otot. Sering dia mengeluhkan mengapa banyak sekali yang harus disalami padahal dia hanya mengundang sekitar lima puluh orang.
“Lima puluh dari kamu, lima puluh dari saya,” jawab Reya datar.
“Hidup itu aneh ya, Ge,” kata si perempuan. “Sebulan lalu mereka belum saling kenal.”
“Hmm.”
“Nice,” jawab perempuan itu tanpa berpikir panjang. “Reya si kutu buku itu memang nggak seharusnya dapat yang samasama kutu buku juga kayak Hario. Rad yang lugas dan hangat bisa mengimbangi sisi keras Reya. Rad itu nggak ketebak. Dan Reya, jiwa penelitinya bakal diuji habis-habisan oleh sifat Rad yang spontan.” Perempuan itu terdiam sebentar. “Perfect.” Perempuan itu terdiam lagi, seolah mempertimbangkan. “Mereka cocok banget,” komentarnya. “Saling melengkapi, kan?” Ia lalu menoleh, mencari dukungan.
Pria di belakang punggungnya ikut menoleh sedikit. “Apa pun itu gue berharap mereka bahagia.”
“Mereka pasti bahagia,” jawab perempuan itu tegas. “Mereka akan bahagia,” ulangnya sekali lagi. Tapi, kini ada yang goyah dari suaranya. Serangan panik kecil segera melanda pikirannya saat menyadari kegoyahan tersebut.
Perempuan itu buru-buru menegak wine.
* * *