
Rad berdiri sendirian dalam lift yang akan membawanya ke lantai 37. Ia sudah menyewa sebuah kamar VVIP untuknya dan istri barunya. Rencananya, besok mereka akan pindah ke rumah Rad di daerah Jakarta Selatan. Kakinya terasa pegal karena terlalu lama berdiri. Pun wajahnya yang terlalulama memasang senyum.
Dia hanya berencana mengundang sedikit orang. Hanya keluarga dan beberapa sahabat. Tapi, yang datang lebih dari yang dia perkirakan. Rekan kerja, produser, beberapa teman kuliahnya di Boston dulu, hingga teman-teman kuliah yang berdomisili di luar kota. Entah dari mana mereka mendengar kabar pernikahan ini. Yang jelas orang-orang itu bersuka cita atas hari ini. Dengan alasan mereka telah menantikan hari ini selama seribu tahun lamanya, dosa besar jika mereka tidak datang. Rad mengangguk-angguk saja.
Karena tertahan oleh beberapa teman yang sudah lama tidak dia temui itulah Rad membiarkan Reya mendahuluinya ke kamar. Meski tak ditunjukkan, dia bisa membaca dengan mudah keletihan di wajah perempuan yang kini menjadi istrinya itu.
Istri, gumamnya dalam hati. Rad tertawa kecil. Tawanya bernada ambigu. Antara geli, tidak percaya, senang, lega, dan sejuta rasa yang bahkan tak dia ketahui namanya. Sebagian dari diri Rad sedang mengagumi kenekatannya menikahi gadis yang baru ia kenal sebulan terakhir. Sebagian yang lain, ia merasa sudah sinting. Dia selalu tertawa setiap mengingat kegilaannya malam itu, melamar seorang perempuan pada pertemuan pertama setelah mengobrol selama dua puluh menit. Adakah yang lebih gila?
Semuanya berawal dari sebuah panggilan darurat dari Bogor, rumah keluarga besarnya. Rad tinggal sendirian di Jakarta. Ayah dan ibunya beserta Jessy, neneknya yang sudah berusia 93 tahun, tinggal di pinggiran Bogor, mencari udara segar dan mengasingkan diri dari kebisingan Jakarta.
Jessy kambuh. Pulang segera, begitu bunyi pesan dari ibunya yang membuat Rad langsung memacu Everest hitamnya gilagilaan, membelah kemacetan Jalan Raya Bogor. Sebenarnya dia tahu kondisi Jessy tidak seburuk yang dia pikirkan. Jika buruk, ibunya pasti menyuruhnya ke rumah sakit, bukan pulang. Tapi, Rad paham kalau neneknya terkadang manja jika sedang rindu padanya. Sudah sebulan Rad tidak pulang ke Bogor. Wajar jika neneknya mulai berulah.
Sesampainya di rumah besar, dugaan Rad benar. Jessy, neneknya yang campuran Jepang dan Inggris, menyambutnya dengan rajukan dan cengiran. Sejak dulu, Rad memang menjadi cucu favorit Jessy. Sedikit-sedikit, Jessy meminta dan merajuk padanya. Rad pun merasa lebih dekat dengan Jessy daripada dengan kedua orangtuanya karena waktu kecil dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Jessy.
Jessynya yang baik dan sabar kali itu memberinya permintaan yang teramat sulit diwujudkan.
“Rad, kamu segera nikah, ya? Jessy capek nunggu.”
Kala itu Rad hanya menatap neneknya dengan pandangan yang tidak dapat mengerti. Dari sekian banyak permintaan yang dia kira akan diajukan Jessy, dia tak menyangka yang satu ini.
“Nikah?”
“Iya, nikah.”
“Sama siapa?” tanyanya masih tidak mengerti. Dia memang dekat dengan beberapa perempuan. Tapi, jangankan untuk menikah, berpacaran pun dia tidak pernah memikirkannya.
Jessy memasang wajah cemberut. “Jessy nggak mau tahu, kamu harus segera nikah. Kamu mau Jessy datang ke nikahanmu, kan?”
Meski belum mengerti, Rad mengangguk.
“Nah! Kalau kamu mau Jessy datang, cepatlah menikah. Jessy kan nggak tahu sampai kapan Jessy hidup. Kalau kamu nggak buruan, nanti keduluan Tuhan yang mengundang Jessy.”
“Don’t—”
“Pokoknya Jessy nggak mau tahu. Kamu harus segera nikah!”
“Tapi—”
“Harus, Rad! Harus!”
Permintaan itu sangat membebani Rad dua bulan terakhir. Sungguh, dia tak pernah mengantisipasi akan menghadapi situasi semacam ini. Menjadi pria, dia pikir tidak akan membuatnya dicecar pertanyaan ‘kapan nikah?’ seperti kedua kakak perempuannya. Usia Rad yang sudah beranjak dari 33 memang sudah tidak muda lagi. Tapi, pernikahan bukan satu hal yang dia tulis di to-do-list-nya.
Lagi pula, bukan itu masalah terbesarnya. Dia bisa saja menikahi salah satu gadis-gadis yang dia kencani. Dia yakin tidak akan ada yang menolak. Tetapi gadis-gadis yang dikencaninya terlalu menuntut cinta suci yang tak pernah bisa Rad berikan. Itulah masalah terbesar. Cinta tidak boleh ada dalam kamus Rad. Cinta bagi Rad adalah simbiosis mutualisme. Hubungan yang saling menguntungkan. Dan pernikahan bagi Rad tidak lebih dari kontrak sosial, yang bisa diakhiri jika kontrak itu tidak bisa menguntungkan kedua pihak lagi.
Perempuan mana yang bersedia dinikahi oleh laki-laki yang tidak menjanjikan cinta seperti dirinya? Tapi, toh, ternyata ada.
Bibir pria itu seketika melengkungkan senyum ketika kembali mengingat pertemuan keduanya dengan perempuan yang kini menjadi istrinya.
***
[Sebulan sebelumnya]
Rad tengah mengangkat panci berisi puding saat pintu dapur pribadinya terbuka.
“Chef.” Salah seorang staf restoran yang bule melongokkan kepala. “A guest for you.”
Di belakangnya, seorang gadis ikut-ikutan melongokkan kepala. Gadis yang asing sekaligus tidak asing.
“Hei.” Senyum Rad merekah. Gadis itu masih terlihat penasaran. “Manks, Joe!”
Pelayan itu mengangguk sopan, lalu meninggalkan mereka berdua.
Rad meletakkan kembali panci yang dia pegang. Lalu, ia berjalan menuju sebuah pintu di dapurnya yang serba putih.
“Jika kamu nggak keberatan, silakan tunggu di sini and let me finish my job first. Nggak akan lebih dari lima belas menit.”
“Okay.” Gadis itu mengangguk, lalu berjalan cepat menyebrangi dapur menuju pintu yang sudah Rad buka untuknya.
Di balik pintu itu terdapat balkon kecil. Sudutnya dipenuhi pot-pot bunga yang menebarkan bau wangi. Ada sebuah meja dan kursi besi bergaya vintage di tengah-tengah. Angin semilir membuat balkon itu menjadi tempat sempurna untuk Rad setiap kali melepas lelah setelah menyelesaikan pekerjaannya. Tepat lima belas menit kemudian Rad keluar membawa nampan berisi dua cangkir kopi. Mata Reya langsung berbinar
melihat cairan hitam kental yang masih mengepul itu.
“Kamu benar-benar tahu apa yang saya butuhkan, Chef,”ujar Reya. Dicengkeramnya cangkir panas itu dan dihirupnya aroma kopi itu dalam-dalam.
“Kamu terlihat—”
Reya mengangkat tangannya. “Ya, nggak usah diperjelas. Tiga belas jam menyetir dari Yogya ke Jakarta, saya nggak bisa berpenampilan lebih oke dari ini.”
“Kamu terlihat oke kok.” Reya terkekeh kecil.
“Apa kamu mau makan sesuatu?” tawar Rad. “Saya bisa buatkan untukmu.”
“Nope. Saya nggak akan sanggup membayarnya. Yang di depan aja udah mahal banget. Ruangan yang di dalam ini eksklusif, kan?”
“Yap. Hanya menerima lima tamu setiap Senin dan Rabu. Dari jam lima sore sampai jam sembilan malam. Super eksklusif,” jawab Rad. “Tapi gratis untukmu.”
Reya tertawa kecil. “Saya baru tahu kamu chef. Apa yang membuatnya eksklusif?”
“Karena saya sendiri yang memasak.”
Reya menatap pria itu dengan bingung. “Tapi, kenapa ...
what makes you so special?”
Rad tidak segera menjawab. Pria itu malah menatapnya dengan intens dan sedikit memiringkan kepalanya, sebelum kemudian menyengir lebar. “Anggap saja kemampuan memasak saya di atas rata-rata,” jawabnya. “So ... how are you?”
Perempuan itu tidak segera menjawab, malah sibuk mengamatinya seolah-olah dia adalah objek penelitian. Kepalanya sedikit dimiringkan dan dahinya berkerut seolah berusaha mengingat sesuatu.
“Knock-knock.” Rad menjentikkan tangan di depan wajah, membuat Reya tergagap. “Sepertinya pikiranmu sedang tidak di sini.”
Reya mengedikkan bahu. “Rasanya saya nggak asing dengan kamu. Saya yakin kita pernah ketemu sebelumnya. Tapi di mana?”
“Nggak penting pertemuan kita sebelumnya. Yang sekarang lebih penting.”
Gadis itu tersenyum, lalu mengangguk-angguk.
“Jadi,” Rad lagi-lagi memotong, menghindari basa-basi yang terlalu panjang, “saya pikir kamu datang membawa jawaban atas pertanyaan saya kemarin.”
“Sebenarnya, saya datang dengan pertanyaan,” jawab gadis itu. “Tolong jelaskan, kenapa orang harus menikah.”
Rad mengangkat sebelah alis, meminta penjelasan lebih. Tapi, karena Reya tidak menjelaskan apa-apa, pria itu lalu mengedikkan bahu. “Saya nggak tahu, Reya. Bukankah kamu yang berencana menikah suatu saat nanti?”
“Ya … tapi bukankah kamu yang melamar saya?”
“Ya. Tapi, apa saya harus tahu alasan kenapa kamu harus menikah? Karena setahu saya, itu terserah kamu mau menikah atau nggak.”
Reya memajukan tubuhnya mendekati meja, memasang wajah pusing. Hal itu membuat Rad menggaruk kepalanya, menyerah. Dia tahu pasti apa yang diinginkan perempuan dengan ekspresi seperti itu.
“Well, sebagian orang menikah karena itu baik menurut agamanya,” kata Rad. “Beberapa yang lain menikah agar bisa melakukan hubungan seksual dengan aman. Dan mungkin untuk melanjutkan generasi. Beberapa yang lain lagi menikah karena semua orang melakukannya. Maksudnya, karena semua orang melakukannya, mereka berpikir pastilah hal itu benar dan harus dilakukan kalau nggak mau dianggap nggak normal. Kalau saya,” Rad menyisiri rambut ikalnya, “kalau saya sih ... menikah untuk berbakti pada nenek.”
“Maksudmu?”
Rad mengangguk. “Umur saya sudah banyak. Meski saya baik-baik saja dengan itu, tapi banyak yang nggak. Nenek saya ngambek karena saya nggak nikah-nikah. Bayangkan saja, saya hanya dikasih waktu dua bulan untuk mencari istri.” Rad tertawa. “Memangnya cari istri semudah cari lahan untuk bikin restoran baru?”
Perempuan itu ikut tertawa. “Kamu nggak terlihat tua,” komentarnya dengan sorot mata sedikit penasaran.
Rad mengerling geli. Sebuah pernyataan sopan dan halus untuk menanyakan usia. Cerdas.
“Umur saya sekarang 33. Mungkin belum terlalu tua. Tapi, nenek saya sudah 93 tahun.” Rad menyengir membayangkan wajah neneknya. “Lagi pula, kalau saya sudah menikah, orangorang akan berhenti mengusik hidup saya. Barangkali mereka berpikir bahwa hidup saya sudah sempurna. Karier oke, percintaan juga beres. Sempurna. Mereka akan membiarkan saya hidup tenang.”
Untuk beberapa saat, perempuan itu tidak menjawab. Seolah masih sibuk mencerna kalimat-kalimatnya, sebelum kemudian dia tersenyum lebar. “Lucu. Saya juga berpikir yang sama.”
“Wah, kebetulan sekali.” Rad tersenyum. “Jadi, apa kamu sudah punya jawaban?”
Rad mengerutkan dahi.
“Ya, Chef, ya! Saya mau.”
Rad tidak segera menjawab. Beberapa kali matanya mengerjap, berusaha mempercepat laju otaknya. Sulit mencerna apa yang terjadi jika dia sudah mempersiapkan yang sebaliknya.
“Saya punya alasan!” kata Reya buru-buru, sebelum Rad memberi tanggapan. Sorot mata panik terlihat jelas di wajahnya. “Saya punya alasan. Kamu jangan berpikir saya cewek gampangan. Karena—”
“Saya nggak menganggap kamu gampangan,” potong Rad tak kalah buru-buru. “Semua orang punya alasan yang kadang nggak harus dipahami orang lain.” Pria itu tersenyum tipis. “Tapi, apa kamu sudah memikirkannya baik-baik?”
Kedua orang itu saling bertatapan. Rad bisa melihat sorot kesal di wajah perempuan itu.
“Apa kamu selalu begini saat melamar perempuan? Seolah-olah kamu nggak yakin dengan apa yang kamu lakukan? Harusnya kamu pikirkan itu sebelum kamu mengambil satu tindakan, Chef.”
Bukannya tersinggung, Rad malah tertawa kecil. “Saya yakin dengan apa yang saya lakukan, Reya. Saya hanya nggak ingin kamu menyesal. Karena itu saya minta kamu memikirkannya baik-baik.” Rad mengernyitkan dahi. “Dan ini pertama kali saya melamar, ngomong-ngomong.”
Perempuan itu tidak segera menjawab.
“Silakan ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan untuk memikirkannya. Tapi, kalau kamu sudah setuju, kalau kamu sudah yakin, saya pikir nggak ada gunanya kita menunda-nunda.”
Reya menghela napas panjang. “Saya sudah cukup memikirkannya dua hari ini,” jawab Reya akhirnya.
Rad memajukan tubuhnya ke meja. “Kalau begitu, saya ingin bertanya sekali lagi. Will you marry me, Reya?”
“Yes.”
“Are you sure?” “Yes.”
“Well, then.”
Rad tersenyum lebar. Ternyata mencari istri tak sesulit yang dia pikirkan.
***
Denting bel membuyarkan lamunannya. Pintu lift terbuka. Rad melangkah keluar sambil tersenyum-senyum kecil. Saat dia tiba di kamarnya nanti, dia sudah menjadi seorang suami. Dalam kepalanya, Rad kembali memutar potret pengantinnya. Reya memiliki mata bulat, bentuk wajah yang tirus, dan kulit kecokelatan yang eksotis. Tidak hanya cantik, perempuan itu juga pintar. Setiap kata yang keluar dari bibirnya seolah telah mengalami penyaringan ketat sehingga membuatnya begitu minta diperhatikan sejak ucapan pertama. Terlebih lagi perempuan itu mapan dan mandiri. Bukannya Rad merasa tidak sanggup menafkahi istrinya, tapi itu berarti Reya bukan menerima lamarannya karena menginginkan harta. Dari satu hingga sepuluh, Rad berani memberi nilai delapan untuk penampilan Reya.
Dari satu sampai sepuluh, dia berani memberi nilai sembilan untuk inner beauty perempuan itu. Dan yang terpenting adalah, perempuan itu bisa menerima pandangannya mengenai pernikahan dan mau dinikahi meski dia tidak menjanjikan cinta sejati. Secara keseluruhan, Rad bisa mengatakan Reya seperti berkah di saat yang tepat.
Rad kini sudah berada di dalam kamarnya yang terlihat sepi. Barangkali Reya sudah tidur karena terlalu lama menunggu. Rad juga sudahmembayangkan mengguyur tubuhnya dengan air hangat lalu tidur dalam selimut tebal. Masih banyak waktu untuk malam pertama dengan istrinya. Lagi pula, seks bukanlah tujuannya atas pernikahan ini.
Namun, ternyata dia salah. Reya masih terjaga. Duduk di pinggir ranjang, masih dengan pakaian pengantinnya.
“Belum tidur?” tanya Rad. “Sorry, tadi saya ketemu temanteman lama.”
Reya mengangguk kikuk. Rad baru menyadari betapa pucatnya perempuan yang sudah menjadi istrinya itu. Otaknya bertanya-tanya kapan terakhir kali Reya makan. Lalu, dengan segera rencananya berubah. Barangkali dia bisa menggunakan malam pertamanya untuk mengajak Reya makan malam yang sudah sangat terlambat di luar.
“Nggak berminat mencoba mandi air hangat? Itu akan membuatmu lebih nyaman, ngomong-ngomong. And after that, what do you think about having some late dinner outside?” Rad bertanya lagi, sambil melepaskan kancing-kancing kemeja putihnya.
Reya menggeleng buru-buru. Dengan segera Rad menyadari ada yang tidak beres. Apalagi ketika Reya langsung bangkit dari kasur saat dia mendekat dan duduk di sebelahnya. “Hei hei, kenapa?” tanya Rad bingung. “Ada masalah?” Kemudian, laki-laki itu tersenyum jail. “Kamu gelisah karena ini malam pertama kita? It’s okay. Kita nggak perlu melakukannya malam ini, Reya. Saya tahu kamu lelah. Lagi pula, kamu pucat sekali. Kapan kamu terakhir makan? Nggak lucu kalau kamu pingsan di tengah-tengah.” Rad tertawa geli. “Jadi, lebih baik kita cari makan dulu buat—”
“Rad!” Reya mengangkat tangannya dengan gugup. “Boleh saya tanya sesuatu?”
Rad yang kini duduk di ranjang mengangguk. “Oke,” jawabnya, ikut bingung. “Silakan.”
“Apa ... apa ... mungkin ... ng.” Reya menggigit bibir. Wajahnya benar-benar pucat, seolah seluruh darahnya tersedot entah ke mana. Rad jadi berpikir untuk mengajak istrinya check up ke dokter. Pucat seperti ini tak mungkin hanya disebabkan oleh telat makan. “Mungkinkah jika ... kita batalkan ini semua?”
Rad masih berkutat dengan diagnosis-diagnosis dalam pikirannya. Seharusnya, dia menahan Jimmy, temannya yang seorang dokter, yang juga hadir di pernikahannya tadi.
“Tidakkah kita sudah melakukan hal gila?” Perempuan itu bertanya lagi. “Saya nggak mengenalmu. Begitu pula kamu. Yang kita lakukan ini apa? Kamu tahu, emosi saya nggak stabil belakangan. Dikhianati pacar, didesak menikah, disalahkan karena adik-adik saya nggak bisa nikah gara-gara saya belum menikah. Tapi, tentu itu semua bukan alasan untuk menikah secara sembarangan. Sebelum semakin buruk, ayo kita batalkan semua dan kita kembali ke kehidupan kita masingmasing.”
“Tunggu, apa maksudmu membatalkan semua? Apa yang harus dibatalkan?” Rad mengerutkan dahi.
“Kita batalkan pernikahan ini. Bisa, kan? Saya dengar pernikahan bisa dibatalkan asal belum. ”
Rad mengerjapkan mata. Ini tentu bukan saatnya memikirkan soal medical check up. Bahkan bukan saat yang tepat untuk memikirkan soal makan malam.
“Saya nggak mungkin nikah sama kamu, Rad!” jawab Reya sedikit keras karena Rad tak kunjung merespons. “Mana mungkin kita menikah padahal kita nggak saling kenal?”
“Tapi, kita sudah menikah. Sudah sah menurut agama dan negara.”
“Kalau begitu, ceraikan saya!” jerit Reya mulai histeris.
“Apa?!” Rad merasa seseorang baru saja menampar bolak-
balik pipinya. Dia tak menyangka kata pernikahan dan perceraian bisa hadir di hari yang sama. Dia tak pernah membayangkan akan disambut permintaan cerai di malam pertama pernikahannya. Dengan langkah besar, dia mendekati istrinya. Namun, Reya dengan sedikit terkejut refleks mundur menjauh dengan ekspresi ketakutan. Hal itu membuat Rad sontak terdiam. Dihelanya napas panjang-panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“Apa maksudmu minta cerai tiga jam setelah pernikahan, Reya?” tanyanya dengan suara bergetar karena ditahan. “Apa kamu sudah gila?”
“Kita memang gila, Rad! Kita ... kita memang sudah melakukan ... melakukan hal gila dengan segala pernikahan ini,” kata perempuan itu terbata-bata.
“Tapi, membatalkannya jauh lebih gila,” jawab Rad dingin. “Seharusnya kamu memikirkan hal ini sebelum menerima lamaran saya!”
Reya memasang wajah memelas. “Saya mohon, Rad, saya mohon. Tahukah kamu arti pernikahan bagi saya? Pernikahan bagi saya adalah momen sakral, yang akan mengikat saya seumur hidup, yang seharusnya saya lakukan dengan pria yang saya cintai. ”
“Kalau begitu, cobalah mencintai saya!”
Reya ternganga. Sebulir air mata mulai mengaliri pipinya. Rad meremas rambutnya frustrasi. “Reya,” katanya parau.
Dengan sangat perlahan, Rad mendekati gadis itu. Kali ini Reya tidak menghindarinya. Rad menyentuh pundak Reya dengan hati-hati. “Reya, jangan bercanda. Jika pernikahan adalah momen sakral bagimu, kamu tentu paham jika kamu tidak bisa melakukan ataupun membatalkan sesukamu? Pernikahan bukan bahan bercandaan.”
“Tapi, pernikahan ini lelucon, Rad!”
Rad meneliti wajah yang hanya berjarak sepuluh senti dari wajahnya itu. Reya yang ini sangat berbeda dengan Reya-Reya yang dia temui sebelumnya. Perempuan tegas dan sedikit dingin dengan mata besar yang menyala-nyala itu sudah tidak ada. Reya yang ini adalah perempuan muda yang sedang ketakutan, yang tidak tahu apa yang sedang dia lakukan.
“What’s wrong with you?” tanya Rad dengan lembut. Nadanya setengah berbisik, mencoba meyakinkan gadis itu bahwa dia tidak berbahaya. “Apa yang salah? Kamu baik-baik aja waktu saya tinggal.”
Reya tidak menjawab, hanya berulang kali menghapus air mata di pipinya yang pucat. Rad mulai iba. Melihat perempuan menangis itu seperti film horor. Lebih-lebih jika perempuan itu menangis karenanya. Pertama, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menghiburnya. Kedua, dia merasa menjadi seburuk-buruknya lelaki.
Should I kiss her? tanya Rad dalam hati. Bukankah ciuman manis akan membuat perempuan mana pun melupakan masalahnya?
“Yang sudah terjadi nggak bisa dibatalkan, Reya,” kata Rad lamat-lamat. Jari pianisnya menyusuri pipi gadis itu untuk menghapus sisa-sisa air mata Reya. “Tapi saya janji akan menjadi suami yang baik untuk kamu.”
I should kiss her.
Rad mengurangi jarak di antara mereka. Namun, belum sampai sedetik bibirnya menyentuh bibir Reya, perempuan itu tersentak ke belakang. Menyusul sebuah tamparan mengenai pipi Rad, meninggalkan perih di sudut bibirnya.
“Jangan sentuh saya!” Jeritan memenuhi gendang telinganya.
Sebelum dia mengerti apa yang terjadi, Reya berlari menjauh, memasuki kamar mandi, dan membanting pintu dari dalam. Sementara itu, Rad masih berdiri di tempat, merasakan nyeri di pipi juga gelegak emosi dalam dirinya. Bukan karena ternyata dia salah langkah, tapi karena kesadaran bahwa ini pertama kalinya dia menerima tamparan dari perempuan yang dia cium. Terlebih lagi perempuan itu adalah istri sahnya.
What the hell is wrong with kissing your own wife?
Rad menghela napas, mencoba menenangkan emosinya sendiri. Didekatinya pintu kamar mandi yang dia yakin terkunci rapat itu, lalu diketuknya perlahan.
“I am sorry,” kata Rad selembut mungkin. “So sorry. I didn’t mean to—”
“Saya nggak akan keluar sebelum kamu janji nggak akan nyentuh saya!”
Rad refleks mengangguk. “Saya janji nggak akan nyentuh kamu. Ayo, keluarlah. Let’s get some meal outside. Kamu perlu makan.”
“Dan kamu harus janji untuk ceraiin saya besok pagi!” Rad refleks menggeleng. “Itu nggak mungkin.”
“Kenapa nggak mungkin? Banyak orang yang menikah kemudian bercerai!”
“Tapi, nggak ada yang menikah hari ini dan digugat cerai esok hari.”
Ada jeda beberapa saat, sebelum lagi-lagi teriakan terdengar di kamar mandi. “Saya nggak peduli! Saya nggak mau tahu! Pokoknya besok pagi saya minta cerai!”
Emosi kembali menguasai Rad. “Jangan seenaknya! Saya bilang nggak, ya enggak! Pernikahan ini bukan hanya soal kamu!” bentaknya. “Kamu mau semalaman di sana? Silakan! Sekalian siram kepalamu dengan air dingin supaya kegilaanmu itu hilang!”
***