
Dava tidak mendengar ucapan ku, dia justru melanjutkna perjalanan menuju kantor. aku sudah diam aku hanya menatap kearah jendela tanpa sesikitpun menatap Dava.
"Ros dengarkan aku bicara, aku cinta kamu Ros jujur tapi aku sangat belum siap mengutarakan perasaanku.
Kamu tau sendri Ros bagaimana buruknya aku bagaimana gilanya aku dengan perempuan, aku cuman ingin kamu bersabar Ros berikan aku waktu sebentar untuk mementaskan diriku ini supaya aku layak bersanding denganmu.
Tapi semua itu tidak mampu dan tidak berani mengutarakan semua keinginanku, hingga hari kelulusan tiba. apa kamu ingat Ros aku menangis dipelukanmu?
Sungguh Ros aku takut tidak bisa melihatmu mu lagi. ternyata ketakutanku terjadi aku tidak bisa melihatkmu lagi, disana aku berkuliah sambil bekerja Ros hingga ahirnya aku bertemu Sinta.
Dan dia membantuku memperbaiki perekonomianku, namun aku jusrtu terjebak oleh Sinta, aku tidak bisa lepas dari Sinta.
Berbagai cara kulakukan untuk bisa lepas dari Sinta namun Sinta semakin menggila, hingga ahirnya aku pasrah menerima keputusan Sinta untuk segera menikahinya."Dava menjeda ucapanya.
"Setiap aku pulang kampung, aku selalu datang kerumah orang tuamu Ros, namun jawabnya tetap sama.
Kamu kerja dan orang tuamu tidak pernah mau memberikan alamatmu. setiap malam ketika hendak tidur aku membayangakan smua kenangan bersama kita, sungguh aku mnyesal tidak mau mengaui perasaanku."ucap Dava.
"Dav lupakan aku, aku mohon dengan sangat Dav."jawabku pelan, aku sudah kehilangan kata-kata, apalagi yang mau aku ungkapkan aku hanya bisa menangis.
"Ros kamu tahu, aku tidak pernah mencintai Sinta, aku hanya memanfaatkan tubuhnya untuk memuaskan hasratku Ros. bahkan dia yang sudah memberikan badanya secara suka rela padaku, aku tidak pernah memintanya."ucap Dava dengan suara bergetar, aku semakin tergugu mendengar pengakuan Dava.
"Apapun alasanya aku tidak peduli Dav, itu masalahmu dengan Sinta, didepan itu kantorku berhenti didepan saja."jawabku pelan.
"Bolehkah aku memelukmu Ros, terahir kalinya aku mohon Ros aku mohon."ucap Dava sambil menatapku penuh harap, tidak tega ahirnya ku anggukan kepalaku.
"I miss you Ros, aku cintakamu Ros. sungguh aku rindu tubuhmu ynag dulu sering kupeluk, ijinkan aku menginap beberapa hari lagi Ros karna aku benar-benar belum sempat mencari kontarakan baru."ucap Dava.
Aku hanya mengangguk dalam pelukan Dava, pelukan hangat yang selama ini aku rindukan, maafkan aku mas Rendy.
"Cukup Dav, aku sudah terlambat trimakasih tumpanganya,"ucapku melerai pelukan.
"Semoga lahiranya lancar ya Ros."ucap Dava sambil mengelus perutku.
Aku hanya mengangguk setelahanya aku segera aku berlari ke toilet, disana aku menumpahkan kasedihanku aku menangis tersedu-sedu mengingat kembali kenangan manis semasa putih abu-abu.
Setelah merasa lebik baik aku mencuci muka dan membenarkan riasanku, segera aku melangakhkan kaki menuju meja kerjaku, begitu sampai meja segera kuhidupkan komputerku lalu mulai mengerjakan pekerjaanku.
...ΩΩΩ...
Sorenya masih sedikit gerimis dan mendung, aku masih duduk didepan komputerku kulihat Mutia datang menghampiriku.
"Ros kamu tadi ada apa kok nangis?"tanya Mutia.
"Gak apa-apa Mut, ada sedikit maslah cuman bukan dari mas Rendy."jawabku pelan.
"Ros, sebaiknya kamu jangan terlalu banyak pikiran kasian yang didalam perut."nasehat Mutia sambil mengelus perutku.
"Iya Mut, makasih ya kamu selalu nasehati aku,"jawabku sambil tersenyum.
"Pulang bareng yuk Ros, aku sama Arga numpang mobil Rio."ucap Mutia semringah.
"Oh iya boleh deh, nanti aku kabari mas Rendy ya."jawabku senang.
"Aku kembali kemeja dulu ya Ros, mau beres-beres."ucap Mutia.
Aku hanya mengagngguk, setelah Mutia pergi aku segera mengabari mas Rendy untuk tidak menjemput karna diantar oleh Rio. aku segera bersiap memasukan barang pribadiku kedalam tas.
"Ayuk!"jawabku, kami turun kebawah bersama segera masuk kedalam mobil dan Rio mulai menjalankan mobil menuju kontrakanku.
"Mampir dulu yuk ngeteh,"tawarku pada mereka setelah sampai dihalaman rumah.
"Lain kali saja Ros, ini udah mau magrib nanti Mutia dicari sama ibunya,"jawab Rio sambil tersenyum.
"Yasudah trimakasih ya dan hati-hati dahhh,"ucapku riang, setelah mobil Rio keluar dari halaman aku segera masuk kedalam rumah.
"Mas Rendy!"panggilku.
"Iya sayng aku dikamar mandi."jawab mas Rendy.
Aku segera membuka seluruh pakaianku dan menyusul mas Rendy. kubuka pintu kamar mandi perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikitpun segera kulingkarkan tanganku dipinggang mas Rendy, kuremas pelan adik kecil mas Rendy yang sedang tertidur pulas.
"Sayang."ucap mas Rendy kaget,segera berbalik lalu memluk tubuh telanjangku.
"Mas Rendy harum."ucapku sambil mencium dada bidang mas Rendy lalu menghisap pelan.
"Ini apa sayang gede banget?"tanya mas Rendy sambil meremas lembut buah dadaku.
Aku menggelinjang nikmat, mas Rendy memundurkan tubuhku hingga aku benar-benar bersender diinding kamar mandi. segera mas Rendy ******* bibirku lalu turung kebawah dan menghisap leherku.
"Mas udah bangun."ucapku sambil memgang adik kecil mas Rendy.
"Kekamar yuk sayang."ucap mas Rendy dengan suara serak.
Segera mas Rendy mengangakat tubuh telanjangku, sesampainya dikamar mas Rendy membaringkan tubuhku pelan-pelan, lalu mas Rendy segera merangkak naik menyusulku.
Dan ahirnya olahraga sore tidak bisa terhindarkan lagi, dikamar kami sudah ramai suara ******* kami yang bersahut-sahutan. hingga bunyi ponsel berkali-kali pun aku sampai tidak mendengarnya.
"Yang tadi kyaknya ponselmu bunyi, coba dilihat siapa tahu Dava."ucap mas Rendy sambil memeluku dari belakang masih dalam keadaan polos.
"Sebentar mas kulihat dulu,"ucapku, segera kubuka ponselku dan ternyata ada bnyak panggilan dari Dava, bahkan Dava mengirim pesan jika dia sudah didepan.
"Iya mas Dava."ucapku smbil meperlihatkan chat dari Dava.
"Pakai bajumu dan segera buka pintunya yang!"ucap mas Rendy, aku segera mengambil baju dres pendek lalu mencepol rambutku sekenanya.
"Masuk Dav, maaf aku ketiduran tidak dengar kamu telpon."ucapku setelah pintu terbuka, Dava menatapku tajam entah apa yang dilihatnya, yang jelas kulihat dari tatapnya Dava sedang menahan amarah.
"Makasih Ros, aku permisi."ucap dava singkat sambil berlalu kedalam kamar.
Aku segera kembali kekamar, kulihat mas Rendy sedang ganti baju, kudekati cermin untuk melihat apa ada yang aneh diwajahku.
"Yampun mash!"sontak aku teriak.
"Ada apa yang?"Tanya mas Rendy tak kalah kaget.
"Kenapa mas Rendy bikin kiss mark sebanyak ini dileherku mas, kalo dilihat bagaimana?"tanyaku kesal pada mas Rendy.
"Justru biar semua orang tahu, kalo kamu sudah punya suami jadi tidak ada yg berani menggoda."jawab mas Rendy sambil mencium bibirku sekilas.
Setelahnya mas Rendy segera keluar dari kamar. setelah kepergian mas Rendy segera ku olesi leherku dengan foundution untuk menyamarkan bekas kias mark mas Rendy.