After Wedding

After Wedding
benalu



Setelah semalam aqiqahan dan memberi nama Ryu, Oiya sampai lupa belum kasih tau nama kepanjangan Ryu, RYUICHI ZAFRAN MAULANA nah itu naman lengkapnya Ryu yaa.


Setelah menginap beberapa malam disini, ahirnya ibu serta ayah mertuaku pulang. kalo yang minep lama hanya ibu mertua ya guys.


Aku bukanya pengen dikasih ya, tapi kayaknya gak pantas gitu lo kalo ibuku pulang gak kasih aku uang pegangan.


Mengingat kemarin untuk aqiqah Ryu hanya ngasih uang lima ratus ribu doang, Tapi sayangnya ternyata benar-benar gak kasih uang, parah banget nih mertua.


Meski ayah serta ibu mertuaku sudah pulang, tapi dirumah masih ramai. masih ada om Budi sama bi Sari serta bi Salma juga datang kesini pingin ketemu Ryu.


Hubungan ayah sama mas Rendy memang sudah agak lama sedikit renggang, Namun bertambah renggang setelah acara aqiqah Ryu.


Aku pun belum sempat alasan apa yang membuat hubungan keduanya semakin renggang, masih menunggu waktu yang pas untuk bertanya.


Siang ini aku tengah ngobrol sama bi Salma, sedangkan yang lainya lagi istirahat."bibi kapan pulang?"tanyaku.


"Entah ini, mungkin besok kalo tidak lusa."jawab bi Salma.


"Sebentar banget bi?"tanyaku.


"Kasian Ros om kamu kalo bibi disini lama-lama."jawab bi Salma.


Pasalnya suami bi Salma itu hanya dirumah sendri, karna anak gadisnya sudah kerja semua.


saat tengah ngobrol bersama bibi, tiba-tiba Dinda masuk kedalam kamar."Ada apa Din?"tanyaku.


"Pinjam baju dong!"jawab Dinda.


"La memang baju kamu kenapa?"tanyaku.


"Pengen pinjem baju mba Rosa."jawab Dinda


"Ambil saja!"jawabku.


Dengan segera Dinda membuka lemari bajuku lalu membawa kekamarnya."Dinda masih kerja ditempat yang lama Ros?"tanya bi Salma.


"Masih bi betah Dinda."jawabku.


"Bibi kawatir Ros kalau dia ada main sama bosnya,"ujar bi Salma.


"Sudah Rosa bilangin bi, tapi ya gatau lah bi kita kan gak setiap hari ketemu,"ucapku.


"Semoga saja Dinda bisa menjaga hatinya Ros,"Jawab bi Salma.


Ternya gak cuma aku saja yang kawatir dengan Dinda, bi Salma pun sudah merasakan. Tapi semoga saja Dinda bisa menjaga hatinya.


...ΩΩΩ...


Hari ini dirumah sudah sepi semua saudara sudah kembali pulang, yang terahir bi Salma baru kemarin pagi pulangnya.


Ryu ini lumayan rewel dan kalo malam selalu begadang hinga jam dua atau jam tiga pagi, untungnya ada ayah sama ibu yang menemaniku mengasuh Ryu.


Dan mas Rendy juga kadang membantu, mas Rendy sering menjengjengkelkan jika Ryu sudah mulai begadang dia justru tidur.


Seperti malam ini, jam setengah dua belas Ryu menangis keras. sampai aku ayah serta ibu kebingungan karna Ryu tak kunjung diam.


Sedangkan mas Rendy justru tidur nyenyak dikamar."Ros! Rendy mana sih? anaknya nangis ko gak mau bangun."ucap ibu sembari menimang Ryu.


"Gatau bu mungkin gak denger."jawabku.


Aku sendiri aslinya kesal dengan mas Rendy, bisa-bisanya dia malah enak tidur sedangkan Ryu masih mengamuk.


Sekitar jam setengah dua malam Ryu baru terlelap, akupun segera membaringkan tubuh disamping Ryu.


Entah kenapa ahir-ahir ini mas Rendy bawaanya emosi saja, dikit-dikit marah dikit-dikit emosi. auranya juga jelek banget suram.


Aku sendri sampai jengah ngeliat muka mas Rendy kalo dirumah, tapi anehnya kalo diluar rumah mas Rendy sangat ceria.


...ΩΩΩ...


Hari-hari berlalu begitu cepat, sekarang usia Ryu sudah satu bulan. tapi tetap begadang dan pasti rewel.


Mas Rendy juga selama itu pulang pergi dari desa sini kedesa sebelah. dan sekarang juga kami sudah punya peliharaan udang, Alhmdulilah mudah-mudahan bisa berhasil.


Entah kenapa tiba-tiba mas Rendy mengajaku tinggal di rumah bi Sari. dengan alasan katanya mas Rendy capek harus pulang pergi setiap hari.


"Kita tinggal saja dirumah bi Sari yang,"ucap mas Rendy saat tengah bermain sama Ryu.


"Lo mas kenapa ko minep sana?"tanyaku heran.


"Aku capek Ros, berangkat pagi pulang sore terus."jawab mas Rendy.


"Kalo enggk mas Rendy saja yang menginap dirumah bi Sari,"jawabku.


"Apa gunanya punya anak istri kalo aku berjuang sendiri!"ucap mas Rendy.


"Lo mas kok bicaranya kaya gitu? kalo gak punya anak bayi pasti aku juga ikut sama kamu."jawabku ketus.


Bukan tanpa alasan aku gak ikut mas Rendy, yang pertama karna Ryu masih terlalu kecil, yang kedua karna rumah nya disana belum dibenerin.


Namanya rumah sudah lama kosong jadi ya begitulah, banyak yang harus dibenerin. sedangkan untuk ngebenerin itu butuh uang dan untuk saat ini kendalanya ya uang itu.


"Harusnya kalo sudah menikah itu, kemana pun suaminya pergi ya ikut,"jawab mas Rendy.


"Emang kamu gak kasian Ryu kalo diajak kesana, dan juga Ryu kalo malam masih sering ngamuk."ucapku.


"Kan ada aku, kenapa bingung kalo Ryu menangis malam,"jawab mas Rendy.


"Yakin kalo ngomong mas? biasanya juga kalo Ryu nangis malam apa pernah mas Rendy bangun?"tanyaku.


Bukan bermaksud menyindir, tapi memang itulah kenyataanya yang terjadi.


Yang benar saja mau mengajaku pindah kerumah bi Sari, oke untuk sehari dua hari mungkin oke tapi entah kalo sampai lama.


Sebaik-baiknya saudara tetap beda jika banding orang tua sendiri, aku hanya tidak mau nanti hubungan persaudaraan kita jadi renggang.


"Yakinlah, setidaknya jika tidak membantu mancari uang, bantulah dengan cara menemani menyemangatiku."jawab mas Rendy.


"Hei mas, aku ini baru sekarang inilah gabisa bantu kamu cari duit, dulu-dulu apa kamu lupa jika aku yang nyari duit."jawabku ketus.


"Ya beda sekarang beda lagi dulu,"jawab mas Rendy santai.


Yang benar saja omongan mas Rendy, dulu walau kita berdua sama-sama kerja tapi tetap aku nyukupi kebutuhan sehari-hari.


Sedangkan uang gaji mas Rendy, sepenuhnya masuk kekantong dia semua dan pasti dihabiskan semua untuk mas Rendy foya-foya.


"Baru ini mas aku bener-bener gak bisa bantu kamu nyari duit, aku numpang hidup mas sama kamu,"jawabku ketus.


Jika tidak ingat dosa, ingin rasanya aku mengungkit-ungkit semua yang kuberikan pada mas Rendy.


Perlu kalian tau ya, sedari masih pacaran mas Rendy itu sudah seperti benalu. dia memang kerja tapi gajinga dihabiskan dalam sekejap.


Dan nanti jika uang gajianya sudah habis, gantilah uang rokok bensin dan lainya selalu bergantung sama aku.


Kalo dipikir-pikir lucu sekali mas Rendy, kebalik lah ya. harusnya aku yang bergantung sama dia tapi justru dia yang bergantung padaku.