
Begitu sampai rumah aku segera pergi kekamar mandi, kuguyur tubuh lelahku dengan air dingin. selsei mandi tubuhku terasa sedikit segar, aku langsung masuk kedalam kamar kulihat mas Rendy juga sudah berbaring diatas ranjang.
"Kenyang mas?"tanyaku sambil mengusap lembut perut mas Rendy.
"Perutnya kenyang matanya langsung ngantuk."jawab mas Rendy sambil tersenyum.
"Tidur mas, oiya besok malam rencananya mau bikin acara bakar-bakar drumah ibu, oke gk mas?"tanyaku sambil mencium ketiak mas Rendy, entah kenapa aku begitu menyukai aroma ketiak mas Rendy.
"Oke."jawab mas Rendy sambil mencium pucuk kepakaku sayang.
"Mas ngantuk ni aku, cepat usapin dong mas,"pintaku sambil mulai tdur membelakangi mas Rendy.
"Eh iyaa sayang,"jawab mas Rendy sambil menundukan kepala lalu mengecup sayang perutku.
"Anak ayah sekarang tidur ya, besok maen lagi kasian ibu. ibu mau bobok udah ngantuk."ucap mas Rendy sambil mengecup perutku.
Sedari dulu mas Rendy selalu mengajak putranya yang masih didalam kandungan mengobrol.
"Mas liat adek bayi geraknya kenceng banget."ucapku riang, kulihat bergerak cepat itu tandanya bayi kami sedang beraktifitas didalam rahim.
"Iya sayang, dia sudah hapal dengan ayahnya, sering diajak ngobrol sering dijenguk juga."jawab mas Rendy sambil tertawa.
"Mas ih apaan si? udah ah jangan ajak ngobrol lagi aku ngantuk."jawabku, sambil kembali memiringkan badan.
"Anak pintar lahir dengan lancar normal ya sayang, kasian ibu nanti kesakitan,,"ucap mas Rendy sambil mulai mengusap perut serta pinggangku kegiatan rutin ketika tidur malam.
...ΩΩΩ...
Hari ini aku sengaja enggk masak, nanti malam kan mau makan drumah ibu jadi aku gak masak, aku bangun jam 06 pagi.
Begitu nyawa terkumpul aku segera pergi kekamar mandi, setelah mandi gegas aku mengganti baju.
"Mas hari ini aku bawa motor ya, gausah antar."ucapku, mas Rendy masih memejamkan mata.
"Hm iya, hati-hati yang jangan ngebut."pesan mas Rendy sambil mata terpejam.
Setelah menjawab aku segera berlalu keluar dari kamar, pelan mulai melajukan kendaraan menuju kantor.
"Eh Ros tumben kamu jalan sendri gak diantar Rendy?"tanya Mutia, kebetulan pas aku sampe Mutia juga sampe.
"Iya Mut, lagi pengen jalan sendiri bosan ah diantar terus."jawabku
"Ayo kita keatas Ros, semalam kamu jadi lembur tidak?"tanya Mutia, kami ngobrol sambil jalan keatas.
"Jadi lah Mut, aku pulang udah hampir jam 9 malam. tapi rameloh banyak yang lembur dari divisi lain."ceritaku pada Mutia.
"Nungkin malam ini gantian aku lembur."ucap Mutia, sambil meletakan tas diatas meja kerjanya.
"Gak apa-apa Mut, bisa buat beli lipstik."jawabku sambil senyum, kulihat Rio juga datang bersama Arga.
"Pagi Ros, pagi Mutia,"sapa Rio ramah
"Pagi juga, hai Ga kenapa kusut gitu mukanya?"tanyaku pada Rio.
"Lagi kesel!"jawab Arga singkat sambil berlalu kemejanya.
"Mut nanti malam giliranmu lembur, gak apa-apa nanti kutemenin."ucap Rio sambil tersenyum.
Sedangkan Mutia hanya senyum malu-malu sambil mengangguk.
"Ehm yasudah aku kemeja dulu ya bye."ucapku sambil berjalan menjauhi Rio sama Mutia.
...ΩΩΩ...
Aku mulai bertanya-tanya ada apakah, segera kuhubungi kembali mas Rendy untuk menanyakan ada apa.
"Ada apa mas?"tanyaku ketika panggilan telpon sudah tersambung.
"Sayang aku kekantor ya mau ambil motor, kupakai sebentar,"jawab mas Rendy.
"Mau kemana mas?"tanyaku.
"Keluar bentar, ketemu sama anak-anak yang."jawab mas Rendy.
"Ya mas."ucapku sambil memutuskan sambungan telpon.
Aku segera turun kebawah untuk memberikan kunci motor kemas Rendy, sampai dibawah aku menunggu mas Rendy sambil duduk di kursi parkiran. tak lama mas Rendy datang dengan bayu, teman mas Rendy semasa kerja.
"Mau pada kemana mas?"tanyaku lagi penasaran.
"Maen aja yang, udah lama gk kumpul-kumpul,"jawab mas Rendy sambil tersenyum.
Segera kukasih kunci motor setelah mas Rendy keluar dari pagar. aku segera naik keatas untuk melanjutkan kembali pekerjaanku, entah kenapa pikiranku tidak enak aku merasa tidak beres dengan mas Rendy namun aku berusaha menepisnya.
hingga saat jam makan siang tiba, hanya aku sama Mutia yang turun kekantin sedangkan Arga dan Rio tetap diruangan.
"Gimna Mut, kamu sudah datang kekantor Iwan?"tanyaku ketika kami sudah sampai di kantin.
"Belum Ros, belum sempat. tapi aku ngerasa ada yng tidak beres deh sama Rara,"jawab Mutia sambil menyedot es teh yang sudah dipesanya.
"Ku rasa juga gitu Mut, cuman kita harus cari kebenaranya dulu."ucapku.
Tak lama pesanan kami datang, kami segera makan. saat makan berlangsung aku dan Mutia sama-sama diam larut dalam pikiran masing-masing.
...ΩΩΩ...
Sore jam 5 aku sudah turun kebawah menunggu mas Rendy, harini Mutia lembur dan Rio yang menemani.
Sedangkan Arga sudah pulang duluan, lama aku menunggu mas Rendy tapi tak kunjung sampe kulihat jam sudah hampir magrib.
Aku mulai kesal karna aku sedang hamil pamali magrib-magrib masih diluar, ahirnya mas Rendy sampai juga setelah aku lama menunggu, sambil tersenyum mengucapkan permintaan maaf.
"Maaf yang lama, aku mandi dulu tadi."jawab mas Rendy sambil tersenyum, kulihat ada yang aneh dari mas Rendy matanya merah mungkin baru bangun tidur.
"Baru bangun tidur apa?"tanyaku ketus, sambil memperhatikan mas Rendy.
"Enggk yang, kenapa memang?" tanya mas Rendy.
"Matanya merah."jawabku singkat.
"Aku abis minum sma anak-anak, nanti gausah jadi bakar-bakar ya yang. gaenak sama ayah ibu mulutku bau."jawab mas Rendy tanpa bersalah, padahl aku sudah sangat marah.
"Kobisa si mas, lagian mas ini udah dewasa udahlah mas gausah kaya gitu. teman kalo gak bawa dampak positif gausah di dekati!"ucapku dengan suara ketus.
Aku marah benar-benar marah, karna tadi begitu tau mas Rendy bersama teman-temanya yang bajingan itu, aku sudah punya firasar buruk ternyata benar.
"Sekali-kali gak papa kan,"jawab mas Rendy sambil tersenyum. amarahku tersulut melihat sikap mas Rendy.
"Yang benar saja mas, ingat mas kita sedang berhemat kamu tidak kerja, kedepanya kebutuhan kita banyak. uang daripada untuk beli minuman lebih baik buat yang lainya yang lebih bermanfaat!"ucapku dengan suara tinggi, senyum diwajah mas Rendy perlahan menghilang.
"Kamu mengungkit aku yang tidak kerja? oke baik akan ku ingat ucapan mu baik-baik!"jawab mas Rendy sambil teriak didepan mukaku, tak lama mas Rendy mengeluarakan kunci kontrakan lalu membanting didepanku.