After Wedding

After Wedding
Episode 8



Rad memang sibuk. Tak jarang dia berpindah dari satu kota ke kota yang lain dan hanya menginjak rumahnya di hari Minggu. Tak jarang pula pulang pukul dua dini hari dan sudah harus pergi kembali pukul enam pagi. Tapi, jika sedang luang, Rad bisa berubah menjadi pengangguran ekstrem. Rumahnya akan mendapat perlakuan istimewa. Mulai dari kamar mandi hingga halaman akan dibersihkannya dengan teliti, dengan penuh rasa dedikasi, meski Bu Suti dan Pak Birowo bisa mengerjakan itu semua. Tak lupa, Everest hitam kesayangannya dimandikan hingga kinclong. Bagi Rad, mobil itu adalah kekasihnya. Dan dia tak suka jika kekasihnya disentuh orang lain.



Minggu sore, hanya memakai celana pendek dan kaos putih polos, Rad asyik bercengkerama dengan kekasihnya. Rumahnya sepi. Pak Birowo sedang menonton TV di pos satpam, sedang Bu Suti tidak ada jadwal datang. Istrinya tidak pulang sejak Jumat malam dan Rad tidak mau memikirkan kenapa. Perempuan itu boleh bertindak sesuka hatinya. Asal dia senang. Asal dia tidak berpikir macam-macam lagi. Minta cerai, misalnya.





Lagi pula, dia tahu Reya berada di tempat yang aman dan nyaman. Sabtu pagi, Andini meneleponnya. Dengan kalimatkalimat yang menderas seperti reporter sepak bola, perempuan itu mengatakan pendapatnya mengenai polemik rumah tangga Rad-Reya. Andini mengatakan turut simpati atas apa yang menimpa pernikahannya. Dia juga dengan sangat baik hati memintanya bersabar menghadapi sahabatnya, yang sebenarnya tidak egois, tapi hanya sedang hilang arah. Pembicaraan itu diakhiri dengan informasi bahwa Reya menginap di rumahnya.



Rad melakukan banyak hal selama Reya di rumah Andini. Menjelaskan situasi kepada Bu Suti, Pak Kuncoro, dan Pak Birowo adalah salah satunya. Sedikit sulit untuk membuat mereka paham mengapa dirinya dan istrinya tidur di kamar terpisah. Hal ini penting karena jika tidak diajak kerja sama, orang-orang itu bisa membocorkan rahasia rumah tangganya kepada orang lain, meski bukan berniat jahat. Mereka adalah orang-orang yang jujur dan bertanggung jawab. Yang Rad ceritakan nyaris benar. Bahwa mereka menikah terlalu cepat dan itu membuat mereka sedikit asing satu sama lain.



“Jadi, Mas Rad menunda untuk punya anak?” tanya Bu Suti.



“Kira-kira begitu, Bu.”



“Kenapa? Anak bisa merekatkan hubungan suami istri lho, Mas.”



“Hmm,” Rad menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, “saya dan Reya masih butuh banyak waktu berdua, Bu. Tapi, jangan sampai hal ini bocor ke luar rumah ya, Pak, Bu. Apalagi ke keluarga Bogor maupun keluarganya Reya.”



“Lho, kenapa, Mas?” tanya Bu Suti.



“Ya ... pasti mereka akan menganggap saya dan Reya aneh. Menikah tapi hidup sendiri-sendiri. Wartawan-wartawan itu apalagi. Ini bisa jadi aib dan gosip.”



“Lha terus nanti kalau tiba-tiba Ibu nginep di sini gimana, Mas? Kan pasti ketahuan tho?” tanya Pak Kuncoro yang menjabat sebagai sopir pribadinya.



Rad tersenyum. “Kalau itu nanti urusan saya sama Reya, Pak. Bisa diatur. Kalau misalnya Mama ingin tahu … ya … bilang aja kami seperti pengantin baru kebanyakan.”



Setidaknya kalau dia bisa menguasai orang-orang terdekat, kontraknya dengan Reya akan aman. Bisa panjang urusannya kalau sampai keluarga mereka tahu bagaimana rumah tangga baru itu dikelola.



Volvo tua Reya memasuki halaman ketika Rad mulai membilas sabun pada Everest tercintanya. Pandangan Rad mengikuti pergerakan mobil tua itu hingga pemiliknya turun dari sisi kemudi. Sedikit canggung dan salah tingkah. Rad tersenyum dan menyapa ‘hai’ sambil tetap menggosok badan Everestnya. Perempuan itu tidak menjawab. Dengan langkah pelan, Reya mendekati karena memang tidak ada jalan lain menuju rumah selain melewati Rad. Gadis itu menenteng tas kerja dan sebuah plastik putih berukuran sedang.



“Saya menginap di tempat Andini.”



Rad menoleh kepada Reya menatapnya canggung. “Oke,” jawab Rad singkat.



“Maaf, nggak ngasih kabar. Lupa.”



Rad tersenyum lagi. “Oke.”



Mungkin karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi, Reya bergegas melewatinya menuju rumah. Rad kembali asyik membilas sabun di badan mobilnya.



“Rad.”



Rad menoleh lagi. Ternyata Reya masih berdiri di depan pintu.



“Ya?”



“Kata James, kamu bisa bikin puding durian yang luar biasa.” Reya mengangkat plastik putih yang ditentengnya. “Kebetulan tadi saya beli durian.”



Rad tersenyum lebar. “Kebetulan yang menguntungkan,” jawabnya. “Nanti saya buatkan.”



Reya tersenyum lebar, lalu mengucapkan terima kasih sebelum masuk ke rumah.



Di luar, Rad sibuk bertanya-tanya dalam hati. Apa perempuan itu mengalami kecelakaan? Kenapa setelah kabur dua hari tanpa kabar dan sempat membuatnya tak tidur semalaman karena khawatir, kini Reya malah memintanya membuatkan puding?



***



Reya menyentuh gagang pintu kamar. Dihelanya napas panjang beberapa kali. Kepada dirinya sendiri, dia berusaha memberikan sugesti positif. Setelah pembicaraan dengan Andini, Reya bertekad untuk lebih ramah pada Rad sambil meyakinkan diri bahwa satu tahun itu tidak akan lama jika dia jalani dengan senang hati. Percuma juga dia membenci Rad. Bubur tidak bisa dikembalikan jadi nasi. Lebih baik dia memutar daya kreatifnya untuk membuat bubur itu lebih enak disantap. Setelah dirasa cukup, Reya keluar kamar. Dari arah dapur sudah menyebar aroma manis durian yang seketika membuat mood-nya membaik. Buah panas itu memang menjadi penawar khusus untuk bad mood Reya Gayatri.



“Can I help you?” Reya menyapa Rad yang sedang mencoba mengeluarkan puding dari cetakan.



Celebrity chef itu tersenyum. “Telat kamu,” jawabnya. “Lebih suka karamel atau vanila? Atau blueberry?”



“Karamel, mungkin?”



“As you wish,” kata pria itu yang kemudian mengambil cangkir kecil dari kulkas dan menuang saus karamel di atas puding durian yang warna kuningnya terlihat sempurna. “Voila!”



Reya berbinar-binar menatap puding cantik hasil kreasi Rad itu. “Terlihat lezat.”



Rad tertawa kecil. “Silakan dinikmati.”



Tanpa disuruh dua kali, Reya langsung mengambil dua piring kecil dan pisau kue. Dengan penuh semangat dia memotong puding menjadi beberapa slice. Setelah memindahkan satu slice ke piring kecil dan kembali menyiramkan saus karamel, Reya memulai suapan pertama. Seketika kelezatan-tak-terdefinisikan yang sering disebut-sebut James itu menjadi masuk akal. Lembut, manis, dan segar berpadu jadi satu, membuatnya mengerjap-ngerjapkan mata.



“Perfect!” decaknya. “James nggak lebay ternyata!”



Rad tertawa, lalu melepas celemek putih yang dikenakan. “Manks. Dan jika nggak ada keluhan,” Reya baru sadar kalau Rad memakai baju rapi kasual di balik celemeknya, “saya menunggu uang tips.”



“Kamu mau pergi?”



“Yap. Mau ketemu teman sebentar.”



“Wooow! Sempat-sempatnya bikinin request saya sebelum pergi.” Reya tertawa lebar. “Manks, Rad! Super thanks!”



“Don’t mention it.”



Rad meraih kunci mobil yang sudah siap di meja depan TV, sementara Reya mengikutinya sambil membawa piring berisi puding durian.



“Bye. Selamat bersenang-senang.” Reya melambaikan tangan pada Rad yang siap pergi. Kemudian, ia meraih remote TV. Mungkin dia akan menghabiskan malam Seninnya dengan menonton TV series sambil menikmati puding mahalezat di pangkuannya ini. Barang kali, Andini benar. Puding lezat ini bisa menjadi salah satu contoh keuntungan dari bersahabat dengan Rad.



Baru saja TV menyala, layar itu kembali padam. Bukan hanya TV yang padam, tapi juga seluruh penerangan di rumah tersebut.



“RAD!” Reya refleks berteriak.



Seluruh saraf tubuhnya dalam kondisi siaga. Kegelapan total yang tiba-tiba menyelubungi membuatnya cemas. Sangatsangat cemas. Saking cemasnya dia hanya duduk kaku di tempat, dengan kedua tangan memegang piring dan remote TV. Tidak ada jawaban atas panggilannya.



“Rad?” panggilnya sekali lagi. Apa Rad sudah pergi? Kecemasannya semakin berlipat-lipat.



“Saya di sini.”



Sebuah suara muncul dari arah depan. Disusul sebuah cahaya menyala dari lighter yang dinyalakan Rad. Seketika Reya merasa lega.



“Pemadaman,” terangnya. “Harusnya genset-nya nyala.



Bentar saya tanya Pak Birowo ”



“Rad!”



Panggilan Reya sontak membuat langkah Rad berhenti. Reya buru-buru menyusul ke depan, saking buru-burunya, kakinya sampai menabrak meja TV serta menimbulkan suara yang menyedihkan. Itu belum cukup, dia juga nyaris terjerembap ketika menuruni lantai dari ruang TV ke ruang tamu. Beruntung Rad buru-buru meraih tangannya sehingga dia tidak jatuh mencium lantai.



“Ikut!” kata Reya mengabaikan pertanyaan Rad tentang kakinya. Tangannya mencengkeram erat-erat lengan Rad. “Saya ikut!”



Sejak dulu, listrik padam membawa pengaruh yang sama untuknya.



“Kamu takut gelap?”




Reya tidak menjawab ledekan Rad. Tapi, dia benar-benar menempeli Rad ke mana pun pria itu pergi. Termasuk ke pos sekuriti untuk menanyakan genset.



“Kalau kamu begini terus, saya terpaksa bawa kamu ketemu teman saya, Rey,” komentar Rad dengan nada geli. Matanya menatap lengan Reya yang masih melingkari lengannya erat-erat.



Tapi, Reya tidak membalas komentar Rad. Tidak juga melepaskan cengkeramannya.



“Boleh saya ikut kamu?” tanya Reya ragu-ragu.



Rad mengerutkan dahi, seolah tidak percaya dengan pendengarannya.



“Saya takut sendirian di rumah!” terang Reya buru-buru.



“Kan ada Pak Birowo?”



“Saya ... ng. ”



“Oke. Kamu ikut saya aja.”



Tanpa menunggu Reya menyelesaikan argumennya, pria itu menyentuh tangan Reya, melepaskan cengekramannya dengan lembut, lalu menggandengnya.



***



Pertemuan malam ini sebenarnya adalah meeting tidak resmi dengan ftomas, sahabatnya sejak SMA, sekaligus barista profesional yang dua tahun berturut-turut membawa pulang gelar barista internasional. Tommy, begitu dia biasa dipanggil, baru saja pulang ke Indonesia setelah lima tahun merantau di Inggris, menjadi barista dari satu coflee shop ke coflee shop yang lain. Rad yang sejak lama berencana untuk membuka sebuah coflee shop langsung mengontak sahabatnya itu untuk bekerja sama.



Mereka bertemu di sebuah coflee shop yang terletak di sebuah mal di kawasan Kuningan. Ini pertemuan pertama mereka setelah lima tahun. Tommy bahkan tidak tahu-menahu soal pernikahannya sampai malam ini. Sampai Rad muncul bersama seorang perempuan yang hanya memakai kaus oblong, celana pendek, dan long coat berwarna krem.



Reya tidak ikut masuk ke kafe. Perempuan itu berubah pikiran di depan pintu kafe. Katanya dia melihat toko buku di lantai bawah tadi. Jadi, dia memutuskan untuk ke sana dulu. Nanti, jika dia bosan, dia akan kembali ke kafe ini. Rad mengiyakan saja, sambil menyelipkan kartu kredit ke saku coat Reya yang bisa dipakai dulu untuk membeli buku. Rad tahu Reya tidak membawa apa pun. Perempuan itu terlalu ketakutan untuk ganti baju dulu dan hanya menyambar coat yang tergantung di balik pintu kamarnya.



Sepanjang perjalanan tadi Reya menjelaskan mengapa dia begitu ketakutan ketika listrik padam. Ketakutan itu berasal dari trauma masa kecilnya dulu. Ada tragedi berdarah di desa tempat dia tinggal. Pada suatu malam yang tenang, listrik tibatiba padam. Itu bukan hal besar, sebab di desa, listrik memang sering padam dalam waktu yang lama tanpa alasan yang jelas. Tapi, malam itu listrik hanya padam sebentar. Tidak lebih dari lima belas menit. Biasanya, lampu yang menyala kembali diiringi sorakan gembira anak-anak yang bisa menonton TV lagi. Tapi, kali itu, nyala lampu diiringi jeritan yang menyayat dari rumah sebelah. Keluarga Reya berduyun-duyun keluar untuk mengetahui apa yang terjadi.



Dari situlah ketakutan Reya berasal. Yu Jum, tetangga sebelah rumahnya, jatuh pingsan di halaman. Tak jauh darinya, ada sesosok mayat bersimbah darah yang langsung dikenali sebagai Pak Sukri, suami Yu Jum. Lehernya digorok dan isi perutnya terburai. Tragedi itu begitu santer dibicarakan sampai berbulan-bulan setelahnya. Pembunuh Pak Sukri ternyata adalah warga desa yang sama. Sebuah persaingan dagang yang berujung pada pembunuhan.



Sejak saat itu, Reya selalu ketakutan ketika terjadi pemadaman listrik. Bayangan kubangan darah dan isi perut yang berceceran kembali menghantuinya ketika kegelapan total terjadi. Dia merasa sesuatu yang buruk bisa saja terjadi di tengah kegelapan total dan gelap membuatnya tidak bisa melihat apa pun selama beberapa detik. Dia juga sering paranoid bahwa lampu padam bukan karena keputusan PLN, tapi direkayasa oleh orang-orang jahat. Barulah Rad paham, benar perempuan itu tidak takut gelap. Melainkan takut pada pamadaman listrik.



Di salah satu meja, Tommy sudah menunggu. Pria berambut gondrong itu sudah mengawasinya sejak Rad terlibat pembicaraan dengan Reya di pintu kafe.



“Bro! What’s up?” Rad menyapa riang. Keduanya melakukan tos tinju, salam khas pria.



“Yah, seenak-enaknya negeri orang, tetap rindu kampung halaman, Bro. Gimana-gimana? Udah berapa restoran sekarang? Masih sok galak di Cooking Academy?”



Rad tertawa mendengar Tommy menyebut acara TV yang dia bawakan itu. “Tuntutan peran, biasa.”



“Tapi, lo galak-galak ngegemesin. Pas deh jadi idola ibuibu.” Tommy terkekeh geli. Rad menyengir kecut. Dia memang harus menuruti tuntutan dari produser untuk menjadi seorang juri yang galak di acara Cooking Academy itu. Chef yang dingin dan tidak segan-segan membuang masakan peserta jika jauh dari standar. Terkadang dia kasihan melihat ekspresi peserta-peserta yang langsung kecut saat giliran menghadap padanya. “Tadi lo sama siapa, Bro? Yang cewek pakai baju cokelat?”



“Oh, itu Reya.” “Pacar baru?” “Bukan.”



“Cakep, Bro. Kenalinlah kalau bukan pacar lo. Siapa tahu cocok sama gue.”



Rad terkekeh pelan, sambil melambaikan tangan—mengundang pelayan coflee shop untuk memesan. “Istri gue itu, Tom.”



Kopi yang baru ditenggak Tommy langsung tersembur keluar. Rad memaki kecil karena kopi itu memercik ke lengan kaus panjangnya.



“Istri?” Tommy menatapnya tidak percaya. “Bukan bini?” “Itu artinya sama, ftomas.”



“Beda!” Tommy mengambil tisu untuk mengelap meja yang terkena semburan mautnya. “Lo menyebut bini pada cewek-cewek yang lo kencani tapi nggak pernah lo pacari. Tapi ini lo menyebut dia istri! Seolah-olah itu—”



“Dia juga nggak gue pacari,” jawab Rad santai. “Gue nikahi.”



Tommy menghentikan aktivitas mengelapnya, lalu menatap Rad dengan mulut setengah terbuka. Rad, yang menyadari kebingungan Tommy, berdecak.



“Lo nggak dengar dari anak-anak? Gue nikah seminggu yang lalu.”



“Menikah ... semacam menikah di KUA terus dapat buku hijau kecil dan ada seperangkat maskawin dan ada saksisaksinya?”



“Iya.”



“Brengsek! Kenapa gue nggak dapat undangannya?!”



Setelah lima menit mendengarkan omelan Tommy tentang kenapa dia tidak diundang, akhirnya Rad berjanji akan memperkenalkan Reya nanti jika perempuan itu sudah bosan di toko buku.



Sahabatnya itu geleng-geleng kepala. “Man ... gue nggak nyangka.” Tommy masih terlihat belum percaya sepenuhnya. “Kok bisa sih? Gue pikir lo—”



“Panjang ceritanya.”



“Gue punya waktu sepanjang malam.”



Rad terdiam sebentar, mempertimbangkan risikonya. Tapi, kemudian dia memutuskan untuk bercerita. Toh jika ada orang yang paling mengenal Rad selain dirinya sendiri dan keluarga, ya Tommy orangnya.



“Sinting!” decak Tommy begitu dia selesai cerita, mulai dari tuntutan Jessy hingga kontrak gila yang mereka buat. “Gue lebih suka dengar kabar lo nggak akan menikah daripada kabar lo menikahi perempuan hanya untuk setahun!”



“Kontrak itu muncul belakangan. Tadinya gue berencana nikah untuk ... yah, selama mungkin. Tapi, daripada gue digugat cerai di hari yang sama dengan pernikahan gue?”



“Kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran?”



“I don’t know,” jawab Rad setengah melamun. “Sepertinya ada hubungan dengan masa lalu dia. Sahabatnya nyebut-nyebut nama mantannya dan semacam reaksi histeria. Dia masih mencintai mantannya, mungkin. Entahlah. Yang penting dia sudah tenang sekarang.”



Tommy terkekeh geli. “Lo ngomongin bini lo dan perasaannya ke pria lain, seolah-olah lagi ngomongin sejarah hidup Soekarno!”



Rad ikut tertawa. “Nggak masalah. Malah bagus. Dengan begitu, dia nggak akan jatuh cinta ke gue. Ruwet kalau sampai itu terjadi. Salah satu alasan gue memilih dia adalah karena itu.”



“Maksudnya?”



“Karena dia nggak cinta gue dan gue nggak cinta dia.



Done.”



“Ck! Man, mana bisa lo begini terus-terusan?”



Rad mengedikkan bahu. “Gue nggak ada pilihan, Tom.”



“Come on! Mana ada orang nggak punya pilihan? Mis is your life, Bro!”



Rad terkekeh. “Dan hidup gue hanya untuk menjamin kebahagiaan Kinanti. Dan Joshua.”



“Dua orang yang bahkan nggak ingat lo lagi?”



Rad tersenyum. Sebuah senyuman yang cenderung sedih daripada senang. “Apa lagi yang bisa gue lakukan, Tom?”



Tommy memandangnya dengan ekspresi prihatin.