After Wedding

After Wedding
mengecewakan



Paginya aku bangun lebih awal membantu ibu memasak, sengaja tidak kubangunkan ibu mertua. biarkan saja kalo mikir biar bangun, malas mau bangunin nanti malah kena nyinyir.


Aku langsung kedapur menyusul ibu yang sudah lebih dulu mulai memasak, sampai disana ibu ternyata sudah sangat sibuk. nasi sudah matang, sayur santan nangka campur juga sudah matang. tinggal nunggu menu lainya, setelah didinginkan lalu dibungkus dan dibawa ke desa Agung.


"Bu aku bantuin apa?"


"Kipas aja nasinya Ros biar cepat dingin."


Aku segera mengambil kipas manual yaitu kardus tempat aqua gelas, dengan terkantuk-kantuk aku mulai mengipas yang sudah ditaruh kenampan besar.


"Ros jangan sambil tidur!"


"Ngantuk banget ibu."


"Yaudah kalo masih ngantuk sana masuk!"


Aku tak menjawab ucapan ibu, aku kembali mengipas nasi sembari membuka kelopak mataku meski susah payah.


"Bu ini nasinya udah dingin."


"Kamu bisa gak Ros bungkusin nasi?"


"Bisa kok bu, mau bungkus berapa biji?"


"15 bungkus aja Ros."


Aku beranjak mengambil kertas bungkus nasi yang ada di lemari, setalahnya aku kembali duduk dan mulai membungkus nasi. tak selihai orang-orang, hanya aku cukup bisa karna dulu aku pernah kerja di RM makan.


"Ros kalo udah selesei kamu liat dulu Ryu deh." ucap ibu sembari menggoreng kerupuk.


"Iya bu."


Aku beranjak lalu berjalan masuk kedalam kamar, kubuka pelan pintu kamar takut menggangu. Begitu pintu kamar terbuka sempurna, kulihat Ryu sudah tengkurap sambil bermain ludah. sedangkan ibu mertua masih tidur, mungkin saja ia kecapean.


Pelan kuangkat Ryu, lalu keluar kamar lagi. dengan gerakan pelan kututup kembali pintu kamar, takut banyak nyamuk masuk kedalam kamar.


"Oma Iyu udah bangun!"


"Loh. tapi gak nangis ya pinter cucu oma."


Ibu segera mengambil Ryu dari gendonganku, lalu menciumi perutnya Ryu. sampai ia tertawa keras, karna geli.


"Mertua mu belum bangun Ros?.


"Belum bu."


"Sudah biarkan saja."


Aku kembali memasukan sayur kedalam plastik yang nantinya bakal dibawa untuk panen, saat aku tengah asik membungkusi sayur kulihat ibu mertua bangun.


"Nduk ko ibu gak dibangunin sih?"tanya ibu mertua.


"Gak apa-apa sih bu. lagian ibu pasti capek kan."jawabku sembari terus memasukan sayur kedalam plastik.


Ibuku yang tengah menggendong Ryu bergsegas berjalan mendekat kearahku, sembari terus mencium perut gembul Ryu.


"Sudah gak apa-apa, ini juga udah beres tinggal bungkus terus kita berangkat."ucap ibu sembari tersenyum ramah ke ibu mertua


"Iya bu. yaudah sini Ryu sama nenek,"ibu mertua menggendong Ryu lalu membawa keteras depan. aku sama ibu kembali sibuk dengan kerjaan, aku membungkus sayur sedangkan ibu memasukan nasi bungkus kedalam kardus.


Setelah beres menyiapkan, aku menyusul Ryu karna hari sudah siang aku ingin memandikan Ryu. kumandikan Ryu sendiri, padahal sedari kemarin sore aku sudah menyuruh ibu mertua untuk memandikan Ryu. tapi ibu mertua takut, katanya karna Ryu masih sangat kecil.


Selesei menggantikan baju Ryu, kuberikan Ryu pada ayah. Aku segera mandi lalu sarapan, sebelum mereka semua pergi. jika mereka pergi dan aku belum mandi, sudah bisa dipastikan aku gak akan mandi seharian. karna gak ada yang jagain Ryu, bisa-bisa ngamuk kalo ditinggal sendirian.


Setelah mereka semua berangkat aku kembali masuk kedalam rumah, tak lupa menutup pintu lalu menunci. jujur saja kalo gak ada ayah serta ibu, aku sangat malas jika ada yang bertamu kerumah.


Ryu tidur akupun segera membuka ponsel, seperti biasa aku selalu membaca novel online. tak terasa aku juga tertidur, dan aku bangun saat Ryu nangis.


Aku segera bangkit dan seger membuat susu untuk Ryu, dan benar saja Ryu kehausan. tanpa menunggu lama 1 botol susu berhasil dihabiskan tanpa sisa, setelah minum Ryu mainan tanganya sendiri.


Tak lama terdengar suara motor yang berhenti didepan rumah, segera kugendong Ryu lalu kuajak keluar.


"Ibu sudah pulang?"sapaku saat tau ternyata ibu serta ayah yang datang


"Udah. lo Iyu udah bangun dari tadi ya?"tanya ibu sembari mengambil Ryu dari gendonganku.


Aku segera masuk kedapur membuat kopi juga teh untuk ibu serta ayah, kubawa kopi keteras dimana mereka sekarang sedang mengobrol.


"Ibu sama ayah udah pulang bu?"aku bertanya sembari mendudukan tubuhku disamping ibu.


"Sudah. sudah dari tadi."jawab ibu.


"Udangnya Ryu cuman dapet dikit, tapi tetep Alhmdulilah ya,"ucap ibu sembari mencium Ryu.


"Dapet sedikit?"tanyaku.


"Iya Ros, kata orang-orang dekat situ udangnya dimalingin orang!"jawab ibu.


"Loh kok dimaling bu, kan mas Rendy sering tidur sana."ucapku.


"Ya kan minepnya tempat bibimu sari, bukan ditambak mu."Jawab ayah.


Aku terdiam, benar apa yang diucapkan ayah. mas Rendy tidur dirumah bi Sari, sedangkan udang ditinggal dalam keadaan gelap tanpa penerangan. wajar saja kalo ada yang maling, banyak kesempatan kalo kaya gitu.


"Terus mas Rendy gak pulang?"tanyaku.


"Besok bilangnya. lagian disana masih ada Fero sama Dika,"jawab ibu.


"Yaudah ibu sama ayah makan dulu, sini Ryu sama ibu."ucapku sembari mengajak Ryu masuk kedalam.


Sampai didalam segera kubaringkan Ryu dimatras depan tv, tak lama Ryu sudah mulai merengek mungkin saja dia mulai haus lagi. hanya susu formula itu yang mengisi perut Ryu, karna belum Mpasi.


Setelah makan ibu menyusulku diruang tv, sedangkan ayah pergi kesawah."Ros mending Rendy suruh tidur ditambakmu."


"Sayangkan kalo sampai dimaling orang kaya gitu."lanjut ibu.


"Iya bu, nantikan mau beli alat juga. jadi bisa ditempati." jawabku.


"Lagian disanakan tetangganya banyak, jadi jangan kawatir kesepian."


"Kerja keras sedikit gak apa-apa demi anak istri."lanjut Ibu.


Aku masih diam, mas Rendy memang sedikit manja. karna kebutuhan Ryu dibantu ibu sama Dinda, bukan apa-apa mereka membantu karena rasa sayangnya ke Ryu.


bukan karna meremehkan kerja keras mas Rendy, hanya saja membantu meringankan beban mas Rendy.


"Bu aku siapin air mandi Ryu dulu."pamutku.


Aku segera kekamar mandi menyiapkan air mandi Ryu, setelah selesei segera kuambil Ryu dan segera kumandikan. entah kenapa semenjak tadi dengar pendapan panen udang, pikiranku justru semakin kacau.


Banyak yang kupikirkan, jangka waktu 3 bulan itu masih lama. dan kebutuhan juga banyak, sedangkan hasil panen hanya sedikit. aku memikirkan bagaimna aku bisa membantu ekonomi mas Rendy, sedangkan ruang geraku sekarang sangat terbatas.


Selesei memandika Ryu, segera kubawa masuk kedalam kamar lalu kubaringkan diranjang. kupakaikan baju, setelah beres segera kugendong Ryu lalu kuberikan pada Ayah yang tengah duduk diteras.


Aku kembali kekamar, kupikirkan keadaan sekarang ini. hati ingin meronta memberontak, aku ingin beli ini itu. tapi nyatanya boro-boro untuk beli ini itu, hasilnya saja hanya cukup untuk bayar utang.