
Hari ini dirumah sudah ramai untuk mempersiapkan acara aqiqah Ryu yang akan diadakan esok hari. sedari pagi ibu sudah sangat sibuk sekali, mulai dari kepasar serta mencari keperluan ini dan itu.
Begitu pula mas Rendy, pagi-pagi sekali sudah bangun langsung mencuci baju. mengingat jika siang hari sudah bisa dipastikan ramai.
Aku sudah mandi dan sarapan sekarang sedang pumping, aku juga rajin minum suplemen untuk memperlancar asi. serta memakan makanan yang bisa mendongkrak asiku.
Sampai hari inipun Ryu masih belum mau asi langsung dariku, jika sedang belajar menyusu Ryu langsung menangis kejer.
Aku dikamar ditemani ibu mertua yang sedang memangku Ryu, tak lama Ryu eek. karna semalam Ryu kencing terus jadi pagi ini celananya hanya sisa beberapa saja.
"Nduk celananya Ryu tinggal ini saja?"tanya ibu seraya menunjuk tumpukan celana Ryu.
"Iya bu. semalam kan Ryu kencing terus jadi banyak yang basah."jawabku sambil menutup botol yang sudah penuh dengan asi.
"Besok kalo ayahmu kesini ibu beliin, kasian Ryu celananya cuman dikit."jawab ibu mertua seenaknya saja bilang celanan Ryu cuma sedikit.
Perlu kalian tau ya, semua yang dipakai Ryu aku beli di babyshop dan sudah berstandar SNI. dan pula tidak hanya satu dua lusin saja karna aku sudah memperkirakan semuanya.
"Coba telponin Nita."titah ibu setelah mengganti celana Ryu.
Tanpa menjawab ucapan ibu, aku langsung memanggil Nita. dan tanpa menunggu lama Nita pun langsung menjawab panggilanku.
"Halo mba."sapa Nita.
"Nit ini ibu. besok kalo ayahmu kesini tolong belikan celan panjang untuk Ryu."titah ibu langsung pada intinya.
"Belinya berati sekarang dong bu?"tanya Nita.
"Iya sekarang. belinya yang biasa aja nit."ucap ibu santai
"Beli berapa bu?"Tanya Nita lagi.
"Tiga biji saja Nit. kasian Ryu celananya cuman sedikit."jawab ibu.
Astagfiruloh
Aku beristigfar seraya mengelus dada mendengar ucapan ibu mertuaku. sudah minta dicariin bahan yang biasa aja tiga biji pula belinya.
Kupandang wajah Ryu yang tengah terlelap damai. ada rasa pilu yang menghampiri hatiku, kasian anaku Ryu diperlakukan neneknya seperti itu.
Hatiku ngilu sangat ngilu saat mendengar ucapan ibu mertua.
"Tiga biji saja bu? masa iya cuman segitu?"ucap Nita protes.
"Iya segitu saja, ini makenya cuman sebentar sayangkan kalo gak dipakai lagi. sudah sekarang beli saja besok jangan lupa titip ayahmu."ucap ibu sembari menutup telpon lalu memberikan ponsel padaku.
"Ibu sebaiknya sarapan saja, ini sudah siang bu."ucapku sambil pindah duduk diranjang.
"Iya. yasudah ibu sarapan dulu,"jawab ibu sambil berlalu keluar dari kamarku.
Sepeninggal ibu aku kembali memandang wajah tampan Ryu, badanya putih bersih sedari lahir. serta hidung bangir yang sangat mirip dengan mas Rendy.
Tapi sangat sedih begitu mengingat semua yang terjadi dari mulai tujuh bulanan hingga sekarang, Ryu seperti cucu yang gak diharapkan orang tua mas Rendy.
Padahal katanya sangat menunggu Ryu. sangat ingin aku segera hamil, tapi setelah hamil dan melahirkan kok sambutanya seperti ini.
Mengecewakan.
...ΩΩΩ...
Sedari habis mandi sore Ryu sudah mulai rewel, entah kenapa tidak seperti kemarin-kemarin hari ini Ryu rewel.
"Itu uang untuk apa bu?"tanyaku penasaran
"Katanya buat tambahan belanja."jawab ibu pelan sambil mencubit pipi Ryu.
Yallah ibu. yang benar saja acara aqiqah hanya memberi uang lima ratus ribu. hari gini semuanya serba mahal.
Entahlah sungguh aku bingung dengan semua ini, apa sih maksutnya ibu mertuaku ini. dia itu dari pihak laki-laki harusnya mencukupi bukan malah seperti ini.
"Yaudah bu terima saja,"ucapku pelan.
"Iya Ros."jawab ibu singkat.
Tak lama Ryu sudah kembali berteriak menangis, tapi setelah berada digendongan ibu Ryu langsung diam dan kembali tertidur.
"Ros kamu jangan banyak pikiran, nanti Ryu rewel loh."pesan ibu sambil meletakan Ryu kembali keranjang. setelah Ryu anteng ibu pamit hendak kedapur.
Selepas magrib Ryu sudah menangis, digendong nangis ditidurkan apalagi. digendong mas Rendy nangis digendong ibu mertua pun menangis.
Sampai bingung Ryu nangis terus menerus, suaranya pun sampai serak. semuanya panik semuanya sudah takut.
Akupun sedari tadi sudah menangis, aku takut Ryu kenapa-napa takut kehilangan Ryu."Jangan nangis mba nanti Ryu tambah nangis,"ucap Dinda sambil memeluku.
Ayah ibu sudah sangat panik, pasalnya Ryu nangis dari sebelum magrib sampai sekarang jam sepuluh malam, dan Ryu tidak mau asi.
Aku semakin takut saja. tak lama om Budi masuk kekamar sudah membawa perawat Dewi. dengan sigap perawat Dewi segera mengecek denyut nadi Ryu.
"Ryu gak apa-apa hanya saja dia haus tapi lupa caranya minum. besok kalo siang Ryu jangan dibiarkan tidur terus, bangunin kasih asi setiap dua jam sekali."ucap perawat Dewi, sedangkan Ryu sudah tenang.
"Mba Rosa jangan ikut stres ya, kasihan Ryu nanti semakin gelisah."ucap perawat Dewi.
Setelah selsei perawat Dewi kembali diantar om Budi keklinik. hanya sebentar Ryu tenang setelahnya kembali menangis.
Kami semua kembali bingung, sampai dibawa keruang tamu keruang tengah tapi masih saja Ryu menangis.
Sampai ganti-ganti yang gendong tapi tetap saja tidak memberi efek untuk Ryu.
Hingga ahirnya sekitar jam satu malam Ryu baru benar-benar tertidur pulas. tapi tetap tidak mau ditidurkan diranjang, Ryu tidur digendongan dengan bergantian menggendong Ryu.
"Sayang bobo sini, nanti kalo Ryu udah pulas ditidurkan sebelah kamu,"ucap mas Rendy seraya mengelus rambutku.
Kami semua baru bisa istirahat setelah Ryu benar-benar tenang."Tapi mas aku takut kalo Ryu nanti nangis lagi."jawabku pelan.
"Enggak. Ryu udah capek nangisnya sekarang dia pasti tertidur pulas,"jawab mas Rendy.
"Mas tapi aku gak mau ninggalin Ryu tidur."ucapku masih kekeh enggan istirahat.
"Ros kamu ibunya Ryu. kalo kamu tenang Ryu juga tenang makanya sebisa mungkin tenangkan pikiranmu ya,"ucapku mas Rendy sambil membenarkan kakiku.
Aku sudah berbaring diranjang, tapi mataku tak lepas menatap Ryu yang ada digendongan ibu mertua.
Sewaktu Ryu menangis terus tadi, aku sudah bepikiran jelek tentang Ryu. banyak yang aku takutkan tentang Ryu.
Sambil tiduran aku googling tentang kejadin ini, kalo aku perhatikan gejalanya seperti syndrome baby blues. apa iya aku mengalami baby blues?
Kusimpan kembali ponsel dinakas, kucoba memejamkan mata seraya melepaskan segala beban pikiranku saat ini.
Bukan melupakan hanya sedikit menekan, aku menyesal sudah membiarkan pikiranku terbebani dengan segala hal. karna ternyata semua ini berpengaruh pada ketenangan Ryu.