
Mas Rendy pulang setelah 1 hari selesei panen, sekitar jam 3 sore dia sudah sampai rumah. waktu mas Rendy sampai Ryu lagi mainan sama aku, sedang ayah sama ibu lagi keluar pergi kerumah teman ibu.
Mas Rendy langsung kebelakang, cuci kaki seperti biasanya. Ryu sudah tau kalo ayahnya datang langsung minta nyususlin ayahnya yang lagi kebelakang, ahirnya kuajak Ryu nyusul mas Rendy.
"Ayah ini Iyu nyariin ayah."
"Oh anak ayah pinter kangen ya?"
Mas Rendy langsung mengambil Ryu dari gendonganku, Ryu langsu tertawa-tawa senang. kakinya menendang-nendang perut mas Rendy, ngajakin mainan. mas Rendy mengajak Ryu kedepan, mainan diteras.
"Mas mau kopi?"
"Boleh deh."
Aku kembali kedalam membuat kopi, aku kembali keluar sudah bawa kopi dan langsung kuletakan dimeja tepat depan mas Rendy.
"Mas kapan uang panenya keluar?"
"Entah, ada seminggu ada juga yang cuman 3 hari."
Aku duduk disebelah mas Rendy, Ryu duduk dipangkuan mas Rendy sembari mainan.
"Nanti kalo udah dapet uang panenan kita pulang kerumah ibuku ya,"
Aku tidak langsung menjawab, aku berpikir sejenak. namun jika aku menolak ajakan mas Rendy, sudah bisa dipastikan ia akan marah.
"Iya mas. memang resepsi nya Nita itu kapan?"
"Gatau kalo itu, aku gak paham."
"Nanti aku pulang duluan naik motor, trus kamu sama Ryu tak susul pakai mobil."lanjut mas Rendy.
"Ngapain sih mas kaya gitu? yaudah aku naik mobil kaya bisanya aja gak perlu disusul."
"Ryu itu masih kecil, kasian kalo harus empet-empetan dimobil orang."
"Terus selamanya bakal kaya gitu, jangan dibiasain deh mas Ryu manja!"
"Gak apa-apa lah masih kecil, nanti kalo udah besar ya enggk lah."
Aku sudah males ngomong sama mas Rendy, setiap kali ngomong sama mas Rendy selalu kaya gini. gak pernah mau dengerin omongan orang lain, mas Rendy egois selalu mentingin kemauanya sendiri.
Sudah hampir jam 4 sore, aku segera kebelakang merebus air untuk mandi Ryu. kubawa Ryu kekamar mandi dan segera kumandikan, sedangkan mas Rendy masuk kedalam kamar istirahat.
Selesai mandi Ryu kuberikan pada mas Rendy, sedangkan aku langsung berlalu kebelakang. aku segera memasak menyiapkan menu untuk makan malam, beres masak aku langsung masuk kekamar mandi. mengguyur tubuh lelahku, bukan hanya tubuh yang lelah. tapi pikiranku pun juga lelah, memikirkan keadaan ini.
...ΩΩΩ...
Sehabis magrib ibu baru sampai, sedangkan Dinda lagi mainan sama Ryu. tadi sehabis mandi Ryu dikasih susu sama mas Rendy, dan ternyata ia langsung tidur. jadi ini baru bangun dan langsung diajak mainan sama Dinda, katanya obatnya capek ya cuman Ryu.
"Mau makan gak Din?"tanyaku seraya duduk disebelah Dinda.
"Masak apa memang mba?"
"Sambal ati ampela sama Tumis kangkung."
"Wah mantap itu. mba kemarin bawa pulang udang panenan enggak?"
"Enggak Din, orang dapetnya lo cuman sedikit."
"Yaudah kamu mau makan sekarang apa nanti? kalo nanti mb sama mas Rendy makan dulu."lanjutku.
Aku kembali kekamar memanggil mas Rendy, aku lebih dulu kedapur sedangkan mas Rendy mampir ke Ryu yang tengah asik mainan. sampai didapur aku langsur mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk mas Rendy, setelah itu gantian untuku sendiri.
"Mas ayo makan."tawarku ketika mas Rendy masuk kedapur.
"Banyak banget yang nanti gak abis."jawab mas Rendy.
"Gak apa-apa mas, besok mas mau kedesa Agung nggak?"
"Iya, siapa tau besok uangnya sudah keluar."
Keliatan banget mas Rendy pengen uang panenan itu cepet keluar terus dia cepat pulang kerumah orang tuanya, kalo aku justru kebalikanya. aku benar-benar enggan untuk datang kerumah mertua, setelah begitu banyak kejadian yang aku alami.
Selesei makan mas Rendy langsung keteras, sudah jadi kebiasaan malam mas Rendy. kadang sampai malam duduk diteras sembari main game, begitu masuk pasti langsung kekamar dan tidur.
"Mas kopinya.
Aku langsung duduk disebelah mas Rendy, aku bawa cemilan dari dalam. tadi ibu pulang dari maen bawa keripik nangka, enak banget dari dulu aku suka keripik nangka.
"Kripik dari mana yang?"
"Tadi ibu yang bawa mas, bingung ya maa mau ngatur uangnya?"
Mas Rendy menoleh lalu tersenyum kearahku."Sudah jangan terlalu dipikirkan, dinikmati saja ya."
"Iya mas, tapi bingung kalo sampai nanti kita gak punya pegangan sama sekali."
"Mudah-mudahan nanti ada rejeki, udah tenang aja jangan terlalu pusing nanti sakit."
Mas Rendy mengelus rambutku yang kasar, rambut yang dulunya lembut halus wangi dan sangat terawat. kini sudah kasar kusut dan rontok, wajahku yang dulunya bersih licin bagai kaca. kini berubah kusam dan berjerawat, bahkan sudah tumbuh flek dibeberapa titik diwajahku.
Jujur saja ahir-ahir ini aku sangat jarang bercermin, kadang saat bercermin aku tersenyum sinis menatap wajah kusutku. aku insecure dengan diriku sendiri, bahkan aku sampai jarang keluar rumah karna gak percaya diri.
"Padahal aku pengen beli skincare mas,"ucapku sembari tersenyum.
Mas Rendy memegang tanganku lalu mengecupnya sekilas."Sabar ya sayang, aku janji nanti bakal nyari uang buat kita semua."
Dadaku bergemuruh kuat, entah kenapa aku merasa begitu sedih. jika dulu aku mau beli skincare apapun tidak perlu minta uang mas Rendy, karna aku mampu membeli sendiri. apapun yang kuinginkan bisa kubeli dengan mudah, tapi kini semua berbanding berbalik.
"Mas aku udah gak cantik lagi ya? udah banyak jerawat ini diwajahku."kuusap wajahku yang semakin tirus.
"Enggak yang, sudah ya apapun itu kita harus tetap beryukur."mas Rendy mengelus pundaku.
Bahkan pundak yang dulu berisi dan enak dipandang, kini hanya tinggal kulit dan tulang saja. hampir sepanjang hari aku memikirkan cara bagaimana caranya aku bisa menghasilkan uang? aku sangat buntu untuk saat ini aku pusing.
Kuambil ponsel dan mulai kubuka galery photo, kubuka folder yang berisi photoku beberapa waktu yang lalu.
"Coba liat ini mas."ucapku sembari menunjuk layar ponsel.
"Ini aku mas, pantas saja kamu dulu begitu menginginkan aku dulu aku cantik."lanjutku sembari menatap photoku, rambutku hitam panjang tergerai. wajahku bersih tanpa ada setitik noda pun, segalanya begitu terawat.
Aku tersenyum miris, menertawakan diriku sendiri. betapa drastis perubahanku hanya membutuhkan waktu beberapa bulan saja, bukan aku menyalahkan mas Rendy yang tidak pecus mencari nafkah. hanya saja aku sedikit mengungkapkan apa yang selama ini kupendam, aku ingin sedikit lega setelah mengeluarkan
uneg-uneg.
Mas Rendy diam enggan menjawab ucapanku, kami sama-sama Diam untuk beberapa waktu."Aku masuk dulu ya mas."pamitku.
"Iya sayang."jawab mas Rendy singkat.
Aku langsung melangkah masuk kedalam rumah, meninggalkan mas Rendy seorang diri. aku sedikit menyesal mengeluarkan kata-kata tadi, tapi demi allah aku gak bermaksud untuk tidak bersyukur. hanya aku ingin mengungkapkan isi hatiku yang sesak ini, agar sedikit terasa lega.