After Wedding

After Wedding
melepas rindu



Aku rasanya ingin terbang supaya bisa cepat sampai dikontrakan, ya tadi mas Heru nelpon ngasih kabar kalo Rosa sudah pulang dan sekarang dikontrakan.


Diperjalanan aku terus mlamun, aku harus bersikap bagaimna melihat istriku sudah kembali, jantungku berdebar kencang kakiku juga gemeteran.


Begitu sampai dikontrakan suasana begitu sepi sama seperti terahir aku ksini, atau jangan-jangan mas Heru boong sama aku.


Aku segera turun untuk membuktikan ucapan dari mas Heru, ternyata benar Rosa sudah pulang pintunya tidak dikunci.


Kulangkahkan kaki perlahan mencari keberadaan Rosa, wangi masakan membuatku membawa langkah kakiku menuju dapur, dan benar perempuan yang sangat kurindui kini tengah memasak.


"Yang!"panggilku dengan hati-hati, tak lama ia segera berbalik dan melihat kearahku.


Ada kerinduan yang membuncah ketika tatapan kami saling beradu, ada sesuatu yang berdesir kencang ingin segera tersalurkan bersama orang terkasih.


"Mas!"jawab Rosa, suaranya tercekat dikerongkongan. ada rasa sungkan tiba-tiba melingkupi batiku.


"Sini sayang."jawabku sambil merentangkan kedua tanganku, perlahan Rosa mulai melangkah mendekatiku.


Setelah dekat segera kutarik kepalanya untuk cepat masuk kedalam pelukanku, kukecup lama puncak kepala Rosa ketika dia berada dipelukanku.


"Maafkan aku mas,"ucap Rosa parau, mungkin saja dia tengah menahan air mata supaya tidak tumpah.


"Tidak sayang, aku yang minta maaf aku yang salah. aku yang udah bikin kamu pergi."jawabku sambil kupeluk tubuhnya semakin erat, serta kukecup puncak kepalanya bertubi-tubi.


"Aku cuma ingin sendiri mas, aku benar-benar kesal dengan sikapmu mas. jika tidak berpikir panjang mungkin aku sudah pergi jauh dan tak kembali."jawab Rosa msih dengan posisi kupeluk erat.


"Enggk Ros enggk, kamu gak boleh pergi. cukup kmaren itu kamu nyiksa aku. jangan ulangi lagi yaa sayang."jawabku sambil menatapnya.


"Iya mas iya,"jawab Rosa sambil mengecup lembut bibirku.


"Makan yuk mas, aku udah selesei ini masaknya mas,"ucap Rosa lagi sambil berusaha melepaskam diri dari pelukanku.


"Ayo sayang!"jawabku pelan, sebelum kulepaskan pelukanya kukecup terlebih dahulu bibirnya agak lama, ah rasanya sudah rindu sekali suasana seperti ini.


...ΩΩΩ...


Setelah makan malam aku dan mas Rendy sedang duduk didepan tv, tak lupa mas Rendy sudah kubuatkan kopi seperti biasa.


"Apa kamu tadi udah kerja yang?"tanya mas Rendy, sambil memeluku dari belakang sedangkan aku sendri duduk diatas pangkuanya.


"Kerja tadi, pulangnya bareng sama Mutia mas."jawabku sambil beringsut turun dari pangkuanya, kini aku sudah tidruan diatas matras yang memang sengaja kutaruh didepan tv.


"Sebenarnya kamu kemana yang tiga hari ini?" tanya mas Rendy sambil mulai memijat kakiku.


"Mas ingat bi Sum? yang dulu jadi juru masak dikantor?"tanyaku.


"Iya ingat, ada apa dengan bi Sum?"tanya mas Rendy.


"Aku menginap dirumah bi Sum."jawabku santai.


"Hah? drumah bisum, hanya seberang kantor kamu kan rumahnya yang?"tanya mas Rendy kaget seolah gak percaya aku minap disitu beberapa hari.


"Memang iya, aku ini orang hamil dan juga perginya malam. mana mungkin aku sampai jauh banget minggat nya, yang benar saja,"jawabku mulai sewot, karna mengingat pertengkaran tempo hari.


"Untung aku hamil, coba kalo enggk aku sudah minggat jauh gak balik lagi."jawabku ketus.


"Enggk boleh, dan gak akan pernah terjadi, maafin mas ya sayang!"ucap mas Rendy sambil menyatukan kening kami, ada desiran aneh yang tiba-tiba merasuk kedalam jiwa. debaran kencang didada seolah-olah ini yang pertama bagi kami.


"Iya mas, asal ubah sikap mas yang bener itu,"jawabku lagi sedangkan mas Rendy hanya mengangguk saja.


Perlahan mas Rendy ******* lembut bibirku, tubuhku seperti dialiri listrik jutaan volt, darahku berdesir keras mendapat sentuhan dari mas Rendy.


"Selama kamu enggk ada aku gak pernah bisa tidur kalo malam yang."ucap mas Rendy disela-sela ciuman.


"Boong, gak mungkin gak tidur sama sekali,"jawabku sambil mencubit gemas pinggang mas Rendy.


"Benar. tidur si hanya tidur-tidur ayam saja, aku inget kamu biasanya kalo gak diusap-usap gabis tidur."ucap mas Rendy sambil mencium perut buncitku.


Untuk ukuran enam bulan perutku terhitung besar, karna pada dasarnya kulit perutku tebal jadi terlihat besar.


"Aku kalo mau tidur sering dipijat-pijat dulu kakinya sama bi Sum, lalu dibalur sama minyak supaya perutku gak kram. disana aku juga bisa tidur tanpa dielus-elus."jawabku lagi, kali ini kukecup sekilas bibir mas Rendy.


"Sebenarnya kamu itu gimana kok tiba-tiba pergi gtu aja? kamu tau aku kayak orang gila nyari kamu kemana-mana yang."tanya mas Rendy.


"Ya memang itu tujuanku biar kamu bingung, abisnya kamu tu egois lah mas cuman mentingin kesenanganmu saja, enggk mikirin perasaanku."jawabku keras, aku sudah kembali emosi jika mengingat kelakuan mas rendy tempo hari.


"Iya sayang iyaa maaf, udah jangan emosi terus nanti anak kita gampang marah trus gampang nangis juga."ucap mas Rendy sambil mengelus perutku sayang.


"Biar saja kan yang buat ibunya cengeng itu ayahnya, ayahnya lah yang tanggung jawab kalo anakmya juga cengeng,"jawabku masih dengan nada emosi.


"Iya deh. jangan marah-marah terus dong, aku kangen pengen jenguk dedek bagi."bisik mas Rendy parau dtelingaku.


"Iah mas ah, lagi marah kok mau jengukin sih malahan."jawabku ketus. padahal aku hanya menutupi saja, aslinya jantung berdebar keras seperti akan keluar dari tempatnya.


"Katanya kalo suami istri sedang bertengkar obatnya ya hanya bergumul yang!"ucap mas Rendy sambil mencium leherku dari belakang.


"Tapi aku masih belum mau mas."jawabku pura-pura menolak, padahal akupun rindu sentuhan mas Rendy.


"Dek ayah kangen pengen jenguk dedek bayi, tapi ibumu gak ngasih jalan ayah dek, bantu ayah dong dek."ucap mas Rendy tepat diatas perutku sambil mencium berkali-kali.


"Gausah merayu deh mas, adek bayi mah gabisa bantu. adek bayi belain ibunya,"jawabku sambil tersenyum.


Melihat aku sudah bisa senyum mas Rendy langsung menyerang bibirku. sentuhan lembut yang beberapa hari ini kirindukan. karna egoku aku sampai mengabaikan rasa rindu, yang apabila tersalurkan justru menjadi pahala bagi kami berdua.


"Mas gendong aku kekamar ya,"bisiku ketika mas Rendy tengah asik bergelut dengan dadaku hanya menatapku dengan tatapn sendu.


Mas Rendy segera mengangkat tubuhku, reflek tanganku langsung melingkar dilehernya takut terjatuh.


Perjalanan dari ruang tv menuju kamar terasa lama kali ini, sambil menggendong mas Rendy tak melepaskan pagutanya.


Begitu sampai kamar dengan pelan menurunkanku diatas ranjang, dengan segera mas Rendy menyusulku naik keatas ranjang.


Setelah terjadilah yang semestinya terjadi jika laki-laki dan perempuan dewasa berada didalam satu ruangan, serta terikat oleh pernikahan yang sah.