The Unexpected Love

The Unexpected Love
Yang Sebenarnya Terjadi



Entah apa yang mereka bicarakan tapi Nadia terlihat beberapa kali mengusap lengan suaminya untuk menenangkan.


" Ya Tuhan... Sudah ku katakan padamu berulang kali, Alex.... Aku tak menginginkan lamaran seperti itu," bisik Nadia setengah frustasi. Bayi besar dan berototnya tengah merajuk. Berpikir jika sang istri pastinya ingin dilamar oleh laki-laki yang disukainya seperti sang adik, Nayla. Bukannya dijodohkan dengan lelaki menyebalkan seperti dirinya dulu. Terbukti dari Nadia yang menitikkan air matanya saat Elang meminta Nayla untuk menikahinya.


" Tapi akuilah, pasti dalam lubuk hatimu yang paling dalam dirimu ingin seperti Nayla," ucap Alex yang saat ini dengan susah payah berusaha menikmati makanan yang terhidang. Overthingking membuat nafsu makannya hilang.


"dengarkan aku, Sayang. Aku hanya akan mengatakan ini sekali saja," bujuk Nadia.


"Kita memang menikah karena perjodohan tapi percayalah aku tak pernah menyesal karena menikah denganmu. Malah aku lah yang duluan mengajakmu untuk menikah ? Kamu ingat ?"


" Hmm ya..," malas-malas Alex menjawab.


" Dan itu hal ternekat yang pernah aku lakukan dan juga hal yang paling aku syukuri dalam hidupku," lanjut Nadia tapi Alex masih tak bergeming. Laki-laki bertubuh tinggi tegap itu hanya terdiam sembari mengaduk-aduk makanannya di piring tanpa selera.


" Jika waktu bisa diputar kembali, aku pasti akan melakukan hal yang sama. Aku hanya akan memilihmu. Tak ingin yang lainnya," ucap Nadia seraya mengusap lembut lengan Alex dan menyandarkan kepalanya di pundak kokoh laki-laki itu.


" Aku hanya memilihmu karena aku sangat mencintaimu kamu, Alex. Tak bisakah kamu lihat jika aku jugs sangat tergila-gila padamu ?" Bisik Nadia. Ia tak peduli jika saat ini dirinya tengah menjadi pusat perhatian. Bahkan Elang dan Nayla yang punya acara pun saat ini sedang melihat padanya.


" Benarkah kamu tergila-gila padaku ?" Tanya Alex yang kini mulai goyah karena serangan kata cinta Nadia yang ditujukan untuknya.


" Iya, aku sangat mencintaimu. Kamu suami yang dan seorang ayah yang baik. Satu-satunya lelaki yang aku cintai sepenuh hati," jawab Nadia dengan berbisik dan itu membuat Alex mengulum senyumnya karena terbawa perasaan.


" Aku ingin menciummu tapi tak mungkin karena di sini banyak orang," kata Alex. Mood-nya membaik s karena kata-kata cinta dari bibir Nadia.


" Nanti, saat kita berdua... Kamu boleh lebih dari sekedar menciumku saja," sahut Nadia penuh rayu. Matanya meredup sayu penuh maksud dan Alex sangat paham arti tatapan mata istrinya itu.


" Ya Tuhan...," Alex memejamkan matanya dan membayangkan apa saja yang akan ia lakukan pada istrinya itu saat nanti mereka berduaan.


"Dan terimakasih sudah ikut membantu untuk menyatukan Nayla dan lelaki impiannya," lanjut Nadia.


Ya...


Alex ikut andil dalam kisah cinta adik iparnya.


" Jadi.... Kamu yang akan menjelaskan atau aku tanyakan pada Kak Alex sendirian ?" Tanya Nayla yang saat ini sedang melihat pada Nadia dan juga suaminya.


" Baiklah, akan aku katakan yang sebenarnya," jawab Elang dengan lemas.


" Tapi sumpah demi apapun ! aku tak ada kaitannya dengan kandasnya hubungan kamu sama dia," Elang masib bersikeras.


" Kalau begitu kita cerita di luar aja," ajak Nayla. Keduanya pun cepat-cepat menghabiskan makanan mereka.


Disinilah keduanya saat ini berada. Di teras depan rumah Nayla, duduk saling berhadapan. Tak jauh dari tempat mereka duduk adalah trotoar tempat mereka melakukan ciuman pertama 8 tahun lalu.


Elang menarik nafasnya dalam sebelum nilai bercerita. " Saat aku pulang ke Indonesia, yang selalu aku pikirkan adalah kamu, Nay. Aku sangat bahagia saat kamu ternyata tak melupakan aku. Terbukti dari password apartemen kamu yang bisa aku tebak.," Elang mulai bercerita.


" Tapi ternyata kedatangan aku ini terlambat karena kamu sudah memiliki seorang kekasih. Aku tak menyerah... selama kamu sibuk dengan yang baru, aku sibuk meminta izin untuk menikahi kamu langsung pada ayah dan ibumu. Keduanya syok tentu saja. Untuk meyakinkan kedua orangtuamu, aku tak datang sendiri. Papi Mami menemani aku. Seperti janjinya dulu, ia akan menemaniku untuk meminangmu setelah aku sukses,"


Nayla sangat terkejut mendengarnya, "la-lalu ?" Tanya Nayla terbata-bata.


"Cukup lama kami saling berbicara, ke-dua orang tuamu setuju menerima pinanganku jika kamu juga mau menikah sama aku. Setelah mengantongi restu, aku bereskan masalah yang lain. Aku ingin meluruskan hubungan kak Bimo dan mbak Nadia yang memburuk karena ulahku. Aku meminta untuk bertemu dengan Alex juga agar laki-laki itu mengerti apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Elang


" Lalu?"


" Saat kamu marah padaku karena tahu aku adalah dalang gagalnya semua cerita cintamu. Aku, kak Bimo, mbak Nadia juga suaminya makan malam bersama. Aku minta maaf pada Alex secara langsung dan menjelaskan semuanya. Aku bercerita dari masa remaja kita hingga dewasa. Aku ceritakan semua secara detail dan sangat terkejut saat Alex mendukung aku," jelas Elang.


" Alex yang memberikan saran untuk memberimu buket bunga mawar setiap harinya sebagai tanda permintaan maaf. Bahkan ia juga yang menyediakan jasa seorang pegawai cleaning servis untuk meletakkan buket bunga segar setiap harinya di mejamu dan petugas itu akan melaporkannya padaku,"


"Ya Tuhan...,," Nayla bergumam pelan.


" Soal laki-laki yang menjadi kekasih Nayla, biar aku yang bereskan. Itulah kata-kata yang Alex ucapkan padaku. Alex juga mengatakan jika laki-laki itu ternyata tak se-baik yang dia kira. Setelah kalian resmi berpacaran, Alex segera mencari tahu lagi lebih dalam tentang sosok laki-laki yang menjadi kekasihmu itu dan menemukan fakta-fakta yang mengerikan tentangnya,"


" Kemudian Aku bercerita tentang rencanamu untuk bertemu dengan Amelia di sebuah hotel. Alex memberikan sebuah ide agar kamu bisa melihat sifat lelaki itu yang sebenarnya dengan mata kepalamu sendiri. Alex memberikan hadiah berupa voucher menginap di hotel itu pada kekasihmu. Tepat seperti dugaan Alex, kekasihmu itu membawa wanita lain ke sana. Di hotel itu Alex juga menempatkan beberapa orang untuk berjaga-jaga Jika ia nekat mengajakmu ke sana. Dan selama makan malam itu terjadi, Nadine duduk di pangkuan aku. Gadis itu mengira bahwa aku adalah seorang turis asing yang fasih berbahasa Indonesia. Sungguh ia sangat lucu sekali,"


" Itulah yang sebenarnya terjadi, aku tak ada kaitannya dengan kandasnya cerita cintamu. Yang aku lakukan hanya bergerilya di belakangmu untuk mendapatkan restu. Aku lakukan itu semua karena aku sangat mencintaimu,Nayla," ucap Elang dengan sangat jelasnya.


" Aku terlalu mencintaimu. Saat kamu menerima cintaku lagi, malamnya aku langsung berbicara kepada kedua orang tuaku dan juga saudara-saudaraku bahwa aku berniat untuk segera melamarmu, Nay. Dan di sinilah aku sekarang. Aku datang untuk menikah denganmu," Elang pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Nayla. Lagi-lagi ia bersimpuh di atas kedua lututnya.


" Kamu ingat tempat itu Nay?" Elang menunjukkan tempat di mana mereka melakukan ciuman pertamanya dulu.


Nayla pun menganggukan kepalanya pelan, tentu saja ia ingat akan tempat bersejarahnya itu.


" Aku menciummu di bawah rintikan hujan. Saat aku menciummu, Aku yakin bahwa kamu akan menjadi satu-satunya wanita untukku," Elang pun terbawa perasaan. Ia tegakkan tubuhnya, dan meraih kepala Nayla dengan kedua tangannya agar mendekat.


Dengan sangat perlahan Elang satukan kedua bibir mereka dengan sempurna. " Aku selalu mencintaimu Nayla," gumam Elang tanpa menjauhkan bibirnya dari bibir sang kekasih.


Dahi mereka saling bersentuhan, ujung hidung keduanya bergesekan pelan. Hembusan hangat dari nafas keduanya saling menerpa di wajah masing-masing. Baik Elang maupun Nayla sama-sama terbuai oleh perasaan cinta yang tengah mereka rasakan.


Hingga sebuah suara menyadarkan keduanya. " Mama !!! Onty Nayla dan Om Elang kiss-kiss an !!!" Teriak Nadine dengan sangat nyaring.


To be continued ♥️


Thanks for reading ♥️


Mumpung awal Minggu jangan lupa vote yaa