The Unexpected Love

The Unexpected Love
Kembalinya Rafa



"Ayo kita masuk ke kelas," ajak Vony sembari menggelayut manja di lengan Elang.


Langkah Elang terhenti saat sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya.


"El, lu ngapain?" Tanya pemuda itu sembari melihat pada lengan Elang yang tengah dibelit tangan Vony.


Pemuda itu pun mengangkat wajahnya dan melihat Elang penuh tanda tanya. "El, lu ngapain sama dia ?" Tanya Rafa terheran.


Heran bercampur geram karena ia tahu jika Vony bukanlah gadis yang baik. Rafa tahu jika Vony telah berbuat jahat dengan Leo. Rafa juga tahu jika yang mencelakai dia dua Minggu lalu adalah orang-orang suruhan Leo.


"Fa, lo udah masuk sekolah ?" Tanya Elang seraya menghempaskan belitan tangan Vony di lengannya. Lalu ia berjalan menuju tempat Rafa berdiri.


"Ya, Lu bisa lihat sendiri lah ! gue udah ada di sekolah," jawab Rafa dan itu membuat Elang merasa bodoh dengan pertanyaannya.


"Maksud gue, lu udah sembuh ?" Tanya Elang lagi.


Rafa hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. "Kok lu sama dia sih ?" Tanya Rafa tanpa bisa menyembunyikan rasa tak sukanya.


"Ceritanya panjang," jawab Elang.


"Lu duluan aja ke kelas, gue mau ngomong sama Rafa dulu," titah Elang tapi Vony tak bergeming. Ia tetap berdiri di tempatnya tanpa berniat untuk pergi.


Malah gadis itu merajuk sambil mencebikkan bibirnya karena kesal Elang terus-terusan menggunakan kata gue-lo tak seperti waktu di rumah sakit dulu.


"El.....," Rengek Vony terdengar manja.


"Kamu... Maksud aku, kamu...," Elang meralat ucapannya dengan menghela nafas dalam.


Elang kesal...


Kesal pada Vony yang terlalu banyak menuntut, dan kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa diajak kompromi untuk bermanis-manis ria pada gadis itu.


"Gak mau, El," ucap Vony lagi.


Walaupun enggan, pada akhirnya Elang memutuskan untuk menuruti keinginan gadis manja itu.


"Gue anterin dia dulu ke kelasnya," pamit Elang pada sahabatnya yang baru masuk sekolah lagi setelah 2 Minggu mendapatkan perawatan.


"Terserah lu," ucap Rafa dingin sembari melewati Elang begitu saja. Sungguh ia merasa tak habis pikir dengan sikap Elang. Bukannya Elang menyukai Nayla ? Dan Kenapa Elang lebih memilih gadis menyebalkan itu? Pikiran-pikiran seperti itu memenuhi benak Rafa. Hingga membuat muram wajah pemuda bernama Rafa itu.


Rafa terus berjalan, ia tak mempedulikan beberapa pasang mata yang terkejut melihatnya karena setelah sekian lama ia baru masuk sekolah lagi.


Kelas Rafa berada di gedung belakang, untuk sampai ke sana ia harus melewati jejeran jelas sepuluh dan salah satunya adalah kelas Amelia.


Nayla tengah memegang serok sampah di depan pintu kelas yang terbuka lebar sedangkan Amelia yang menyapukan sampahnya. Kedua gadis itu tengah melakukan piket bersama.


Nayla yang berada di luar ruang kelas bisa melihat kedatangan Rafa. Ia pun tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena melihat Rafa sudah sembuh dan kembali ke sekolah.


"Kak Rafa ? Alhamdulillaah kakak udah sembuh," ucap Nayla antusias. Padahal biasanya ia tak pernah berani untuk menyapa seniornya tapi kali ini dirinya tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Iya Nay, Alhamdulillah aku udah sembuh. Berkat do'a kalian juga," jawab Rafa sembari tersenyum ramah.


Sedangkan di dalam kelas yang hanya terpisahkan 5 ubin lantai saja Amelia berdiri dan menatap tak percaya pada pemuda yang berdiri tak jauh darinya itu.


Wajah Amelia yang putih pucat berubah merah menahan segala rasa yang bercampur aduk dalam hatinya. Bahagia, haru, lega, tak percaya. Itulah yang tengah Amelia rasakan saat ini.


"Amelia apa kabar ?" Tanya Rafa yang menyapa ramah gadis itu terlebih dahulu.


"Ba-baik...," Jawab Amelia terbata-bata.


"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Rafa.


"Kak Rafa gimana ?" Amelia bertanya dengan lembut tak se-galak biasanya.


"Hah kok capek ?" Tanya Nayla.


"Iya, kenapa capek ? Bukannya selama ini hanya istirahat dan perawatan saja ?" Amelia ikut bertanya dengan mimik wajah serius.


"Ngh ...," Ucap Rafa ragu.


"Capek nahan kangen terus sama Amel," jawab Rafa dengan gombalan andalannya.


Amelia memutar bola matanya malas. Padahal tadi dirinya sudah sangat serius. Rasa yang bercampur aduk dalam hatinya kini bertambah dengan rasa kesal karena jawaban pemuda itu.


"Nyesel nanya !!!" Sahut Amelia sembari memutar balik tubuhnya dengan penuh emosi.


"Mel, kamu gak tahu sih gimana Rafa inget kamu terus sampai-sampai pagi gak bisa makan karena kebayang wajahnya Amel. Siang juga begitu, gak bisa makan karena ingat judesnya Amel, dan malam juga gak bisa tidur,"


"Karena teringat Amelia juga ?" Tebak Nayla, memotong ucapan pemuda itu.


"Kalau malam gak bisa tidur karena kelaparan, Nay. Kan pagi sama siangnya aku gak makan," jawab Rafa dan itu membuat Nayla tertawa terbahak-bahak.


"Pantas aja jadi kurusan," ucap Nayla seraya menelisik penampilan Rafa.


"Eh tapi jangan salah, Nay.... Orang kurus itu setia banget," sahut Rafa.


"Oh ya ?" Nayla berkerut alis tak paham.


"Iya !! Makan aja gak nambah, apalagi pasangan," timpal Rafa sembari melihat pada Amelia dan menaik turunkan alisnya penuh maksud.


Amelia menghentak-hentakkan kakinya di atas lantai dengan kesal, melampiaskan kekesalannya.


"Nay, masuk !!!" Teriak gadis itu dengan mata melotot. Menyuruh Nayla masuk ke dalam kelas dan meninggalkan Rafa.


Tapi Nayla masih asik saja berbicara dengan Rafa. Pemuda itu memang sangat menyenangkan. Anehnya lagi, walaupun katanya Amelia merasa kesal. Tapi nyatanya gadis itu masih berdiri tak jauh dari Nayla juga Rafa.


"Kemarin lama ya kak dirawatnya ? Maaf aku gak sempat nengok, tapi percaya deh kalau Nayla selalu doain kesembuhan kak Rafa," ucap Nayla tulus.


"Sekitar 12 hari lah Nay, Rafa di rawat si rumah sakit terimakasih banyak do'anya ya. " jawab Rafa.


"Tapi walaupun di rumah sakit banyak tabung oksigen, Rafa susah nafas," lanjutnya lagi.


"Loh kenapa ? Apa kakak sakit di bagian pernafasan ?" Tanya Nayla serius.


"Iyalah gak bisa nafas, karena oksigen Rafa adanya di sekolah," jawab Rafa sembari melihat pada Amelia lagi.


"Tapi kok masih hidup? Katanya gak bisa nafas?" Tanya Amelia galak.


"Kan Rafa berjuang demi kamu, Mel. Demi masa depan kita. Lagian papa mertua juga merawat Rafa dengan baik,"


"Papa mertua ?" Tanya Nayla penuh tanda tanya.


"Iya, dokter Alan Wiguna," jawab Rafa yang menyebutkan nama ayah dari Amelia.


Apa yang Rafa ucapkan sontak membuat Nayla tertawa terbahak-bahak. Begitu juga Rafa yang nyengir kuda. Tapi tawa keduanya langsung berubah hening saat Elang dan Vony melintas di depan mereka sambil bergandengan tangan.


Walaupun berusaha untuk terlihat baik-baik saja, nyatanya hati Nayla berdarah-darah menahan ngilu dan sakit saat melihat itu semua.


to be continued lagi...


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya


maaciw yaaaa 😚