The Unexpected Love

The Unexpected Love
Tentang Vony



"Oh maaf, Bu Mey," bapak kepala sekolah meralat ucapannya.


"Beliau ini ibunya Vony," lanjut bapak kepala sekolah memperkenalkan tamunya itu pada Elang.


Elang tercengang untuk sesaat mendapatkan tamu yang ternyata ibu dari kekasihnya, Vony.


Wanita paruh baya dengan lipstik se-merah cabai lokal dan rambut tersasak tinggi khas ibu-ibu pejabat pada umumnya itu mengulurrkan tangannya pada Elang agar pemuda itu menciumnya.


Walaupun Elang tak menyukai Vony, tapi bukan berarti dirinya tak punya tata krama. Ia mencium punggung tangan wanita itu sebagai tanda hormatnya pada orang tua.


Bu Mey menelisik penampilan Elang dari ujung rambut hingga ujung kaki pemuda itu. Sampai-sampai ia harus mendongakkan kepalanya karena tinggi Elang yang sangat berbeda dari teman-teman seusianya.


Sedangkan Elang melihat heran pada ibunya Vony itu dan takjub melihat tatanan rambutnya yang menjulang tinggi karena disasak. Elang tersenyum geli membayangkan bu Mey tersengat listrik tegangan tinggi hingga membuat rambutnya berdiri seperti itu. Jangan lupa perhiasan emas yang menghiasi pergelangan tangan, leher, dan jari-jarinya itu. Sangatlah menyilaukan mata.


Mami Elang juga menyukai perhiasan seperti para wanita pada umumnya. Tapi beliau lebih suka yang modelnya sederhana asal mata berliannya memiliki kadar karat yang tinggi.


"Duduk El !" Perintah Pak kepala sekolah pada Elang yang masih terbengong-bengong ria seraya menunjuk kursi kosong di sebelahnya.


Di sana juga terdapat Ibu Riye selaku wali kelas Elang dan juga Pak Afandi yang merupakan guru BK ( bimbingan dan konseling )


Elang terheran mendapatkan panggilan ini. Seingat Elang, dirinya tak lagi melakukan kekacauan apapun.


"Saya to the point saja ya, waktu saya sangat berharga," ucap ibunya Vony dengan jumawa.


"Anak saya sudah satu Minggu ini menderita sakit dan mengharuskannya di rawat secara intensif di rumah sakit,"


"Oh iya, saya sudah mendapatkan kabar jika Ananda Vony sedang terbaring sakit. Dari pihak sekolah pun sudah melihat keadaannya, kemarin ibu Anisa selaku wali kelas Ananda Vony telah membuat laporannya," jelas pak Afandi.


"Iya betul, dari pihak sekolah memang sudah datang untuk melihat keadaan anak saya. Tapi sepertinya Vony mengharapkan Elang juga datang," ucap Bu Mey tanpa basa basi hingga membuat Elang mengangkat wajahnya dan menatap ibunya Vony dengan tak percaya.


"Kenapa saya ?" Tanya Elang yang lupa jika Vony masih berstatus sebagai kekasihnya.


"Bukannya kamu pacar Vony?" Tanya Bu Mey.


Elang ingin mengelak, tapi sialnya Vony selalu memamerkan hubungan mereka hingga para guru juga sudah tahu jika ia dan Vony memang menjalin hubungan.


"Kami berteman dekat," jawab Elang.


"Kamu tahu kenapa Vony dilarikan ke rumah sakit ?" Tanya bu Mey dan Elang pun menggelengkan kepalanya sebagai bentuk jawaban.


"Karena dia mogok makan. Badannya lemas karena makanan tak mau masuk ke dalam tubuhnya. Ia juga kesulitan tidur di malam hari. Sepertinya anak saya stress berat," lanjut Bu Mey.


"Dan nama kamulah yang selalu disebut-sebutnya setiap hari. Apa yang terjadi dengan kalian ?"


" Tak terjadi apa-apa diantara kami. Maaf, tapi saya tak melakukan hal jahat apapun pada anak Ibu," jawab Elang.


"Saya tidak menuduh apapun, saya hanya ingin minta tolong padamu untuk melihat keadaan Vony sebentar saja,"


"Maaf, tapi saya tidak bisa melakukannya karena saya diantar jemput oleh supir dan tak diizinkan keluar rumah," timpal Elang beralasan dan itu memang benar adanya.


Mendengar kata "diantar jemput" membuat Bu Mey terkejut, "pasti bukan anak sekolah biasa-biasa saja nih si Elang," batinnya dalam hati.


"Emang siapa orangtuamu ? Biar saya sendiri yang meminta izin pada mereka," Bu Mey berujar dengan penuh percaya diri. Secara ia adalah istri salah satu pejabat di kota itu, seperti juga ayah Leo yang merupakan pejabat publik.


"Sa-saya,"


" Elang merupakan putra dari Pak Alan Wiguna," potong bapak kepala sekolah menyebutkan nama papi Elang yang memang cukup terkenal juga.


"Dokter spesialis bedah Alan Wiguna?" Tanya Bu Mey seraya membulatkan mulutnya tak percaya.


Ayah Elang memang cukup terkenal sebagai dokter senior yang mempunyai banyak pasien. Tak hanya itu saja, ayah Elang juga sering menjadi narasumber dalam seminar kesehatan dan seringkali mengadakan kegiatan amal di rumah sakit yang dikepalainya.


Mata Bu Mey terlihat lebih berbinar dari sebelumnya. Sedikit banyak yang merasa bangga karena anak gadisnya, Vonny berhasil menggaet seseorang yang bukan dari kalangan biasa.


"Aduuh ini mah harus segera dilakukan !!"


"Apanya, Bu ?" Tanya bapak kepala sekolah.


"Ini Elang harus segera melihat keadaan anak saya. Saya tak mau anak gadis saya semakin sakit. Jika Elang masih gak mau biar saya ketemu dengan orangtuanya untuk bicara,"


Elang tundukkan kepala, sungguh ia tak mau bertemu dengan Vony. Saking tersiksanya Elang dalam hubungan itu, membuat Elang berdoa setiap malam agar dirinya segera dipindahkan.


Tapi sayangnya ada beberapa kendala termasuk urusan Papinya yang kesulitan untuk membekuk Leo karena sedikitnya bukti. Tak hanya itu, ayah Leo yang seorang pejabat juga menggunakan kekuasaannya untuk melindungi sang anak.


"Maaf saya tak bisa," ucap Elang bersikukuh. "Saya tak ada sangkut pautnya dengan sakit yang diderita oleh Vony," ucap Elang seraya menatap wali kelasnya Bu Riye, seolah memohon pertolongan. Bu Riye terkenal bijak dan melindungi anak didiknya.


"Saya percaya kamu, Elang," ucap Bu Riye menenangkan.


"Tapi, anak saya benar-benar dalam keadaan terpuruk ! Kalau kamu gak mau, saya akan mendatangi orang tua kamu !!" Ancam ibu Vony.


Elang menjadi takut saat orangtuanya diikutsertakan dalam masalah ini. Walau bagaimanapun juga, Elang hanya seorang laki-laki muda yang belum dewasa cara berpikirnya. Dia hanya pemuda yang baru mengenal rasa cinta.


Tak terbayangkan bagaimana reaksi sang Papi saat tahu Elang malah berpacaran di saat masalahnya belum selesai.


Elang tetap tak mau, sedangkan ibunya Vony bersikeras dan memaksa. Sepertinya negosiasi ini akan berjalan dengan alot.


"Bagaimana jika Elang datang dengan alasan mewakili nama sekolah ? Ibu akan menemani Elang juga untuk datang kesana, jadi biar ibu yang berbicara dengan orang tua Elang dan mengabarkan pada mereka jika Elang akan pulang sedikit terlambat," tawar bu Riye mencari jalan tengah.


"Bu...,"


"Tenanglah Elang, ibu tak akan mengatakan jika kita akan menengok Vony pada orangtuamu," bisik bu Riye sang wali kelas membuat Elang sedikit merasa lega. Pada akhirnya Elang pun menyetujui anjuran wali kelasnya itu


***


Tepat pulang sekolah, Elang dan Amelia juga ditemani ibu Riye sang wali kelas datang untuk melihat keadaan Vony yang terbaring lemah di rumah sakit.


Beruntung bagi Elang karena Vony dirawat di rumah sakit yang bukan tempat Papinya bertugas. Hingga Elang merasa lega dan tak takut bertemu Papinya dengan tak sengaja.


Ruang rawat itu terlihat sangat mewah karena Vony menempati ruang VVIP. Selain agar anak gadisnya itu merasa nyaman, juga untuk memperlihatkan gengsinya yang tinggi pada teman-teman sosialita ibunya.


Benar apa yang dikatakan ibunya Vony. Anak gadisnya itu terbaring lemah di atas ranjang dengan jarum infus tertancap di tangannya.


Wajah Vony yang biasanya terlihat cetar dan penuh semangat julid kini sangat berbeda. Pipinya lebih tirus hingga tulang pipinya terlihat menonjol. Bila biasanya mata Vony terlihat indah karena bulu mata palsunya, kini yang terlihat hanya mata panda yang menjadi penghiasnya. Gadis itu terbaring lemah, meringkuk bagaikan janin. Ia terlihat rapuh dan menyedihkan.


"Vony, bagaimana keadaan kamu sekarang ?" Tanya ibu Riye sembari mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada tak jauh dari tempat gadis itu terbaring.


Vony membuka matanya pelan dan tersenyum sambil meluruhkan air mata saat ia tahu yang datang adalah wali kelas Elang.


"E-Elang ?" Tanya Vony tak sabaran.


"Ada, Elang datang buat lihat keadaan kamu," ucap Bu Riye seraya menunjuk pada Elang yang masih berdiri di depan pintu seolah ragu-ragu untuk menjenguk kekasihnya itu.


Sedangkan Amelia yang bisanya begitu lantang memusuhi Vony, kini terlihat lebih diam. Ia tak menyangka jika keadaan Vony memang se-menyedihkan itu.


Pada awalnya Amelia tak mau ikut dengan Elang tapi kakaknya itu memohon-mohon agar sang adik untuk ikut.


Vony alihkan pandangan matanya menuju pintu. Ia merasa sangat senang melihat Elang berdiri di sana. Sikap dingin Elang benar-benar membuatnya frustasi dan menderita. Vony hanya ingin Elang membalas cintanya, maka ia pun akan lepas dari rasa tersiksa.


Amelia mendorong pinggang Elang dari arah belakang agar lelaki itu mau mendekati Vony.


Karena dorongan dari Amelia, mau tak mau Elang pun berjalan mendekati gadis yang masih berstatus pacarnya itu.


"El, kamu datang ?" Tanya Vony dengan mata berkaca-kaca.


" Lo... Eh kamu.. keadaan kamu gimana sekarang?" Tanya Elang. Sebelumnya Ia menggunakan bahasa yang kasar pada Vony namun Elang sadar jika ada wali kelasnya di sana membuat Elang merubah gaya bahasanya.


"Aku begini, El" ucap Vony, agar Elang bisa melihat keadaannya dengan mata Elang sendiri.


Elang, ibu guru wali kelasnya dan Vony berbicara bersama-sama. Vony menceritakan sakit yang dideritanya sedangkan Elang dan Bu Riye hanya mendengarkan.


Amelia hanya melihat keadaan Vony dari kejauhan. Ia memang tak ada niat untuk mendekati gadis itu dan melihat keadaannya.


Cukup lama Vony menceritakan perihal sakitnya. Dia pun meminta izin pada Bu Riye agar bisa bicara dengan Elang berdua saja.


Elang sebenarnya tak mau melakukan itu, tapi ia juga tak bisa menolaknya saat ibu Riye pergi meninggalkan ia berdua saja dengan Vony.


Vony berusaha untuk bangkit walaupun ia kesulitan. Akhirnya Elang pun menolong Gadis itu untuk mendapatkan posisi yang nyaman di atas ranjangnya.


"Terima kasih,' ucap Vony lirih.


Elang tak menjawab, yang ia lakukan hanya kembali ke tempat duduknya.


"El, terima kasih sudah mau datang. Ini sangat berarti untukku," ucap Vony.


"Aku datang karena Ibu Riye yang menyuruhku,"jawab Elang. Dirinya tak mau Vony berpikiran lain tentangnya.


Vonny pun tersenyum kecut, menyadari Elang datang bukan karena keinginannya sendiri.


" Apa yang harus aku lakukan agar kamu menyukai aku?" Tanya Vony frustasi.


"Padahal kita ini sedang berpacaran, Elang" lanjut Vony.


"Tapi jangan lupa, kita berpacaran tidak seperti pasangan pada umumnya. Kamu pasti tahu kenapa aku mau jadi pacar kamu," sahut Elang mengingatkan Vony alasan kenapa mereka bisa bersatu.


" Tapi aku benar-benar suka kamu, Elang. Percayalah...," Air mata poni berhamburan saat ia mengatakan kalimat itu.


" Bagaimana aku bisa percaya pada gadis seperti kamu, Vony ? Kamu adalah sepupu Leo. Laki-laki yang sangat membenci aku,"


" Aku menyukaimu tak ada sangkut pautnya dengan Leo. Aku menyukaimu sedari dulu Elang," lanjut Vony sambil terisak-isak.


" Entahlah, sangat sulit untuk mempercayai kamu apalagi balas menyukaimu,"


" Apa yang harus aku lakukan Elang ? Agar kamu percaya bahwa aku kini sudah tak ada hubungan apapun dengan Leo,"


Elang terdiam dan menatapi gadis rapuh itu dengan seksama. " Bagaimana jika kamu menceritakan hal yang sebenarnya tentang Leo ?" Tanya Elang.


" Hah ?"


" Ceritakanlah yang sebenarnya tentang kejadian pada sahabatku Rafa dan juga kejadian yang sebenarnya saat aku tak sadarkan diri di rumah kosong beberapa minggu lalu. Aku yakin itu ada sangkut pautnya dengan Leo,"


Mata Vony membulat saat ia mendengar permintaan Elang, iya tak mampu berkata-kata karena lidahnya tiba-tiba saja menjadi kelu.


Elang terdiam dan menatap tajam pada gadis yang tengah duduk di atas ranjangnya. Menunggu jawaban yang akan Vony berikan, tapi gadis itu hanya diam seribu bahasa dengan kepala tertunduk lesu.


" See... Bagaimana aku bisa percaya padamu? " Tanya Elang sembari berdiri dan bersiap untuk pergi.


Mendengar Elang bersiap untuk pergi membuat Vony langsung mengangkat wajahnya dan melihat ke arah kekasihnya itu. " Tu- tunggu Elang !!" Ucap Vony lirih tapi Elang tak menggubrisnya.


"Ba-baiklah akan aku ceritakan semuanya padamu,"


To be continue.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


Terima kasih banyak atas vote, hadiah, like dan juga komennya.


Love you all so much ♥️♥️♥️