
"Apartemennya masih sangat standar. Nanti sayangnya Rafa yang atur semuanya karena itu adalah rumah kita dan kamulah ratunya,"
"Ki-kita akan mengaturnya bersama-sama. Kan harus sesuai selera kamu juga," sahut Amelia.
"Baiklah kita akan menatanya bersama. Turun yuk, kita lihat rumah baru kita," Rafa membuka pintu otomatis mobilnya. Keluarlah keduanya dari kuda besi itu. Tak lupa Rafa pun mengeluarkan beberapa koper dari bagasi mobilnya.
"Biar sama aku," ucap Rafa saat Amelia akan membawa kopernya sendiri.
"Selamat datang Pak Rafandra. Unit apartemennya akan ditempati hari ini ?" Tanya seorang pria muda yang Amelia yakini sebagai pegawai di gedung apartemen itu.
"Iya," jawab Rafa sembari menjabat tangan pria tadi. "Perkenalkan ini istri saya, Amelia," lanjutnya lagi sembari mengusap punggung Amelia pelan.
Amelia tersenyum pada pria itu, tapi usapan lembut di punggung yang diberikan Rafa lebih mencuri perhatiannya saat ini.
"Selamat atas pernikahan, Anda,"
"Terimakasih," sahut Rafa dan Amelia secara bersamaan.
"Biar koper-kopernya di bawakan oleh petugas kami," ucap pria itu lagi dan Rafa pun menyetujuinya. Setelah berbicara beberapa saat keduanya melanjutkan langkahnya menuju rumah mereka yang baru.
"Lantai 7. Inget ya Yang," ucap Rafa saat mereka memasuki benda berbentuk balok yang akan membawa keduanya ke lantai yang dituju.
Setelah keduanya masuk ke dalam benda itu, ada beberapa orang yang juga memasukinya. Cepat-cepat Rafa merengkuh pinggang Amelia dengan tangannya yang kekar tak berlebihan itu. Ia menarik tubuh istrinya agar lebih mendekat.
Amelia menurutinya, dalam hati dan pikirannya masih merasa tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia tak menyangka Rafa telah menyiapkan segalanya.
Amelia tak pernah mengenal Rafa dengan dekat sebelumnya. Yang ia tahu tentang lelaki itu hanya sedikit saja. Hanya sebatas sahabat sang kakak Elang. Dan Rafa juga satu-satunya lelaki yang memasuki hidup Amelia sejak remaja dan kini menjadi suaminya.
Ia tak menyangka di balik sikapnya yang konyol ternyata Rafa seorang yang sangat perhatian dan mengekspresikan kasih sayangnya dengan terang-terangan. Baru dua hari menikah tapi Amelia sudah merasa begitu candu dengan sikap lembut suaminya. Membuat perasaannya semakin kuat pada lelaki itu.
Lihatlah sekarang...
Amelia sangat suka dengan sentuhan-sentuhan lembut dari suaminya itu. Amelia suka bagaimana Rafa memijat pinggangnya saat ia merasakan tak nyaman karena datang bulan. Amelia juga suka saat Rafa mengusap punggungnya halus ketika ia mengenalkannya sebagai istri. Ia juga suka bagaimana Rafa merengkuh pinggangnya saat banyak orang datang diantara mereka. Apa yang Rafa lakukan seolah-olah ingin melindungi dirinya.
"Sayangnya Rafa lagi mikirin apa?" Bisik Rafa saat ia melihat sang istri tengah melamun.
"Hah ? Mmm nggak, aku gak mikirin apa-apa," jawab Amelia bohong. Padahal ia sedang memikirkan suaminya itu.
"Jangan khawatir... Kalau sekiranya belum siap tinggal disini, sayangnya Rafa boleh tinggal dulu di rumah Mami atau ke rumah bundanya Rafa karena sekarang itu rumah Amelia juga," jelas Rafa.
"Hu'um gampang," sahut Amelia singkat. Ingin rasanya ia mengatakan jika dirinya hanya ingin berada dimana suaminya itu berada. Tapi ia takut Rafa Kembali kesurupan seperti saat malam pertama mereka.
'ting'
"720," ucap Rafa meyebutkan nomor unit apartemen yang akan mereka tempati.
Dada Amelia berdebar kencang dan tak karuan saat ia berdiri di hadapan sebuah pintu bernomor 720 itu. Rafa membuka kunci pintu itu dan mempersilahkan istrinya untuk masuk. "Selamat datang di rumah kita," ucap Rafa sembari membuka pintu itu lebar-lebar untuk Amelia masuki.
Dengan kaki gemetar Amelia langkahkan kakinya memasuki rumah dan Juga dunia baru baginya. Ia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah dan edarkan pandangannya menelisik isi apartemen itu. Amelia langkahkan kakinya memasuki ruang demi ruang.
Itu bukanlah sebuah apartemen yang mewah tapi Amelia sangat menyukainya. Warna putih dan abu-abu mendominasi ruangan itu. Di dalamnya terdapat 2 kamar yang terlihat sangat nyaman walaupun tak begitu besar. Sebuah ruang keluarga dan dapur yang menyatu.
"Suka ?" Tanya Rafa.
Amelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Aku suka banget," jawabnya dengan jujur.
"Syukurlah kalau suka," Rafa berucap sembari menarik nafas lega.
"Aku mau nabung lagi, nanti kalau sayangnya Rafa hamil. Kita akan cari rumah yang mungil untuk ditempati. Ini untuk sementara saja," ucap Rafa dan itu membuat wajah Amelia merona merah. Amelia sungguh tak percaya jika Rafa sudah merencanakan ini semua untuknya dan Amelia merasa bangga karena Rafa mau bekerja keras tak mengandalkan orangtuanya.
Tak lama, koper mereka pun tiba diantakan oleh seorang pegawai di apartemen itu. Rafa pun berterima kasih dengan memberinya uang tips.
"Nanti kita beli keperluan di apartemen ini. Sayangnya Rafa bikin daftarnya apa saja yang diperlukan,"
"Oke," sahut Amelia.
"Sekarang kita benahi dan bersih-bersih dulu," ajak Amelia dan itu membuat Rafa tersenyum bahagia. Ia merasa senang karena ternyata Amelia mau menerima apartemen itu sebagai rumah mereka.
"Jangan khawatir, Yang. Rafa udah minta bantuan untuk membenahi apartemen ini," sahut Rafa dan bertepatan dengan bel pintu yang berbunyi.
"Tuh datang," ucapnya lagi seraya berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Ada hal emergency apaan Fa ? Sampai lo nyuruh gue untuk datang secepatnya ke sini ?" Tanya Elang yang sudah berdiri di ambang pintu dan tentunya bersama Nayla sang istri.
"Semoga ini beneran penting ya !" Lanjut Elang sembari menerobos masuk.
"Tentu penting, Kakak ipar," sahut Rafa.
"Penting apaan ?" Tanya Elang tak sabaran.
"Bantu kira beres-beres !!" Jawab Rafa sambil tersenyum lebar.
To be continued ♥️
Makasih udah baca.