
Alex meraih rambut panjang Nadia dan menyampirkannya ke samping. Ia lingkarkan kedua tangannya di atas perut datar sang istri dan menempelkan dagunya di atas bahu Nadia yang sudah tidak tertutup rambut panjangnya lagi.
Ia berikan kecupan mesra di leher istrinya itu tanpa malu-malu. Padahal di butik itu tak hanya ada dia berdua dengan Nadia saja. Tapi adik ipar dan calon suaminya juga berada di sana. Dan tak lupa juga Amelia beserta Bimo dan calon istrinya.
Tapi nempelnya seorang Alex pada Nadia memang sudah sangat dimaklumi oleh semua orang yang tahu bagaimana sifat "clingy" (bergantung) lelaki itu pada sang istri. Alex bisa dengan terang-terangan memperlihatkan bagaimana ia sangat membutuhkan istrinya itu dimana saja.
"Ada yang kamu suka ?" Bisik Alex lirih pada Nadia yang sedang melihat-lihat gaun pengantin putih yang dipajang di butik itu.
"Banyak, gaun-gaun ini sangat indah," jawab Nadia seraya menikmati pelukan erat suaminya.
"Pilihlah yang kamu suka. Akan aku belikan satu atau dua gaun yang kamu suka. Pasti akan sangat menyenangkan jika kita 'bermain-main' malam ini dengan kamu yang mengenakan gaun pengantin. Karena aku tak pernah merasakan malam pertama saat kita menikah dulu. Anggaplah ini malam pertama kita yang tertunda," bisik Alex penuh goda. Ia tempelkan bibirnya di leher sang istri saat berbicara hingga menimbulkan efek getaran-getaran yang menyengat di seluruh tubuh Nadia.
"Kenapa pikiran mu selalu nyambung ke arah 'itu' ?" Tanya Nadia tak habis pikir. Alex selalu mempunyai pikiran yang akhirnya bermuara di kegiatan ranjang.
Alex tertawa mendengarnya. Sungguh ia sangat suka menggoda istrinya itu. Menurut Alex semakin Nadia cemberut semakin istrinya itu menggemaskan dan semakin Nadia galak semakin ingin Alex menaklukkannya.
"Gak mau tahu !! Pokoknya kamu juga harus membelinya satu untuk malam ini," bisik Alex lagi.
Nadia tolehkan kepala dan menatap horor pada sang suami. "Harganya sangat mahal, Alex. Hanya buang-buang uang saja," protesnya.
"Aku tak peduli...," Sahut Alex sembari mencium gemas pipi istrinya itu. "Kamu harus membelinya satu dan kenakan malam ini di depanku," lanjutnya lagi tak ingin dibantah.
Apa yang Alex dan Nadia lakukan tentu bisa terlihat orang-orang disekitarnya. Hanya saja obrolan intim mereka tak terdengar karena keduanya berbicara dengan saling berbisik.
Dan yang paling intens melihat kemesraan keduanya adalah Amelia yang baru kali ini melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Nay, bukannya mbak Nadia dan suaminya dijodohkan ya?" Tanya Amelia setengah berbisik. Kini ia telah berganti baju. Tak lagi mengenakan gaun pengantin.
"Hu'um mereka dijodohkan," jawab Nayla membenarkan.
"Apa mereka langsung jatuh cinta dari pertemuan pertama ?" Tanya Amelia lagi.
"Tidak. Mbak Nadia bilang cintanya pada Kak Alex tidaklah mudah. Butuh waktu cukup lama hingga mereka bisa saling menerima dan jatuh cinta. Malah kalau tak salah Mbak Nadia yang jatuh cinta duluan," jelas Nayla.
"Kenapa Mel ?" Tanya Nayla penasaran.
"Nggak apa-apa, gemes aja liatnya. Padahal mereka udah menikah cukup lama ya ? Tapi masih terlihat mesra banget,"
"Hu,um mereka menikah ketika kita masih duduk di bangku SMA. Kalau gak salah sudah hampir 9 tahun mereka menikah," jawab Nayla.
"Anaknya baru satu ya ?" Tanya Amelia lagi.
"Iya. Mbak Nadia sangat ingin menambah momongan, Alex juga. Tapi keduanya tak terlalu memaksakan. Malah Alex menyuruh kakakku untuk meneruskan kuliah karena ia tahu Mbak Nadia memiliki potensi yang besar,"
"Ternyata perjodohan tak selamanya buruk ya, Nay ?"
Mendengar itu membuat Nayla tersenyum. "Kamu mau minta dijodohkan juga ?" Tanya Nayla.
"Tadinya aku ingin jadi crazy rich aunty tapi belum apa-apa aku udah 'crazy' duluan dengan pekerjaan ini," jawab Amelia dengan lesunya.
Nayla melengkungkan senyum prihatin. Tak sekali dua kali Amelia menghubunginya saat jaga malam. Gadis itu memang tak cocok untuk bekerja di rumah sakit. Selain tak suka darah, ia juga penakut.
"Kenapa gak coba untuk menerima panggilan telepon dari kak Rafa ?"
Amelia langsung memasang wajah horor saat nama Rafa disebut oleh sahabatnya itu. "Jangan sebut nama dia, Nay. Bikin mual !!" Jawab Amelia judes.
"Kalau dia benar-benar suka aku, seharusnya dia menepati janjinya untuk mencari aku. Dan seharusnya dia juga tak mencuri ciuman pertamaku, sehingga Jungkook kehilangan kesempatan untuk melakukannya padaku," lanjut Amelia.
" Kutukan es balok, kena padaku!!"
"Hah ?" Nayla berkerut alis tak paham
"Iya itu ! Si es balok curi ciuman pertama kamu hingga buat kamu gak bisa move on bertahun-tahun lamanya. Dan ternyata teman sialaannya melakukan hal yang sama padaku," jawab Amelia.
"Jadi kamu gak bisa move on juga ?" Tanya Nayla setengah menggoda.
"Tidak !! Aku bisa melanjutkan hidupku ! Buktinya aku terus menolak panggilan telepon darinya," jawab Amelia jumawa.
"Aku mau nyari suami kaya raya biar masih bisa jadi crazy rich aunty buat anak-anak kamu, Nay !" Ucap Amelia penuh semangat.
"Kalau gak nemu, aku mau minta dijodohkan sama anak kenalannya Papi saja. Kan banyak tuh yang kaya-kaya," lanjut Amelia seraya menaik turunkan kedua alisnya hingga wajah cantik gadis itu terlihat lucu.
" Kamu tahu, Mel ?" Tanya Nayla.
Amelia menggelengkan kepalanya pelan sebagai bentuk jawaban.
"Aku sangat-sangat mendukungmu ! Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu mau, dan jika dijodohkan semoga dapat yang baik dan bucin seperti kak Alex,"
Amelia tersenyum lebar mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia menarik tubuh Nayla dalam pelukannya. "Ah senang deh punya sahabat kamu !! You know me so well, Nay !" (Kamu sangat mengerti aku) ucap Amelia masih dengan senyuman di wajahnya.
Setelah urusan di butik itu selesai, mereka pun pulang dengan kendaraan masing-masing.
Semua terlihat bahagia ketika keluar dari butik itu karena urusan kebaya dan jas untuk pernikahan telah selesai di urus.
Tapi ternyata ada satu orang yang menekuk muka, yaitu Alex. Ia kesal karena sang istri yang tak mau membeli gaun pengantin untuk dipakainya malam ini.
"Kak Alex kenapa?" Tanya Nayla sebelum ia naik ke mobil Elang.
"Biasalah...," Jawab Nadia sambil berbisik dan juga mengedipkan sebelah matanya.
Nayla hanya tertawa kecil mendengarnya. Lalu ia pun naik ke dalam mobil Elang bersama Amelia.
Di dalam mobil Elang tertawa-tawa sendirian dengan matanya yang tengah fokus pada pada layar ponselnya. "Kenapa?" Tanya Nayla terheran pada calon suaminya itu.
"Ada yang lagi panik," jawab Elang seraya memasukan ponselnya ke dalam saku kemeja.
"Sudah semua? Mau langsung pulang atau makan dulu ?" Tanya Elang. Kini ia membawa satu paket gadis. Yaitu Nayla dan Amelia.
"Makan dulu !!!" Jawab keduanya kompak.
"Tahan diri, Es balok !!" Cegah Amelia hingga Elang pun urungkan niatnya.
" Suruh siapa macarin sahabat aku !!" Ucap Amelia dengan judesnya.
Nayla tertawa terbahak-bahak mendengarnya sedangkan Elang mencebikkan bibirnya karena kesal.
Semenjak Amelia memberikan restunya, gadis itu memberikan syarat dengan dirinya yang harus selalu ikut jika Nayla dan Elang jalan-jalan. Dan selama ada Amelia, Elang dan Nayla tak boleh berciuman karena itu akan membuatnya mual.
Oleh karena itulah, Elang sangat ingin pawang sang adik untuk segera pulang.
***
Waktu berlalu dengan cepatnya. Malam ini Amelia mendapatkan tugas menjadi dokter jaga malam hari di bagian unit gawat darurat.
Sedari tadi ia ditemani Nayla sang sahabat dan sebentar lagi akan menyandang gelar kakak ipar. Nayla menemaninya melalui sambungan telepon.
Mereka berbicara tentang banyak hal dan tak ada habisnya. Padahal tadi Nayla sudah berpamitan pada Elang untuk tidur, padahal yang sebenarnya ia lakukan adalah bergosip ria dengan sang adik.
Di tempat lain dua orang pemuda tengah beradu argumen. Keduanya berbicara dalam sebuah mobil dan merencanakan sesuatu yang tak masuk di akal.
"Lo yakin kan El kalau adikmu lagi jaga malam ?" Tanya seorang pemuda yang belum lama ini Elang jemput dari bandara.
Saat ini keduanya sedang berada di dalam sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari rumah sakit tempat Amelia bekerja.
"Iya yakin !! Kan tadi gue yang anterin dia ke rumah sakit sebelum jemput elu," jawab Elang dengan sangat yakinnya.
"Udah turun sana, samperin !" Titah Elang.
"Dia pasti gak mau ketemu gue, El. Makanya pukul gue dulu !" Pinta pemuda itu.
"Ogah ! Gila aja gue mukul lu tanpa alasan," tolak Elang. Ia berdecak kesal tak mau melakukannya.
" Pukul gue sampai babak belur, El. Biar dia terpaksa obatin gue," paksa pemuda itu lagi.
" Lama gak ketemu, otak lu masih geser aja. Gak mau gue!" Lagi-lagi Elang menolak keinginan pemuda itu.
"El, yang kita hadapi ini adalah adek lu yang judes nya luar biasa dan kata-kata ketusnya sakti mandraguna. Cara biasa gak akan mempan buat bikin dia mau ngomong sama gue,"
Elang mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui ucapan pemuda itu.
"Jadi ayo sekarang pukul gue," titahnya lagi.
'plak' Elang menampar pipi pemuda itu dengan sedikit ragu.
"Ya elah, El. Itu sih lu nangkap nyamuk," keluhnya kesal.
"Habis gimana ? Masa gue mukul elu tanpa sebab ?" Sahut Elang tak kalah kesalnya. Dirinya tak habis pikir, bagaimana mungkin hanya untuk menemui Amelia saja sangatlah sulit bagi pemuda itu.
Pemuda itu terdiam sesaat untuk berpikir. Ia menatap gedung rumah sakit itu dengan lekat karena ingin segera masuk ke dalamnya dan menemui seorang gadis yang selama ini selalu memenuhi pikirannya.
Hingga Ia pun nekat mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat sahabatnya kesal. " Ya udah, gue mau sama Nayla aja,"
"Hah, apa maksud lu ?" Tanya Elang sambil berkerut alis tak paham.
"Gue mau naksir Nayla. Kayanya dia juga enak buat dicium..."
'bugh' sebuah pukulan keras mendarat di wajah pemuda itu hingga ia menolehkan wajahnya ke samping dengan sudut bibir yang pecah dan mengeluarkan darah.
"Jaga mulut lu !!" Teriak Elang.
" Sebenarnya dari dulu gue udah suka sama Nayla karena dia sekssii..," ucap pemuda itu memancing emosi elang.
'bugh' Elang kembali mendaratkan pukulannya dengan sangat keras di pipi pemuda itu.
"Aaarghh !! Gila El !! Tunggu bentar mata gue jadi tuing-tuing," ucapnya saat dia merasakan pusing di kedua matanya. Pemuda itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir rasa pusing itu.
Setelah dirasa cukup mendapatkan beberapa luka di wajahnya, pemuda itu pun turun dari mobil Elang dengan sedikit sempoyongan karena rasa pusingnya yang belum juga hilang.
"Makasih El, gue masuk dulu ya mau ketemu adek lo. Do'a kan aku berhasil, kakak ipar," ucapnya seraya mengepalkan kedua tangan.
" Oh ya, soal Nayla tadi. Gue cuma bohongan," lanjutnya lagi sebelum pergi
"Dasar Rafa gila !!" Sahut Elang seraya menatap kepergian sang sahabat untuk bertemu adiknya yang galak. Elang pun tak habis pikir bagaimana Rafa bisa sangat menyukai adiknya yang judes itu.
***
"Dok, ada seorang korban pemukulan di ranjang nomor satu," ucap seorang perawat pada Amelia yang saat ini masih berbicara pada Nayla melalui telepon.
" A-apa banyak mengeluarkan darah?" Tanya Amelia takut-takut.
"Nggak dok, hanya sedikit luka di sudut bibirnya dan lebam di pipi. Tapi beliau ingin ditangani oleh seorang dokter," jawab suster itu.
"Oke baiklah, saya akan menanganinya," jawab Amelia.
"Nay, crazy rich aunty mau kerja dulu.. doakan aku biar gak mual lihat darahnya ya," ucap Amelia mengakhiri panggilannya bersama Nayla. Di ujung telepon sahabatnya itu memberikan kata-kata semangat untuk dirinya.
Amelia berjalan dan membawa alat-alat yang sekiranya diperlukan untuk menolong pasiennya itu.
" Di ranjang nomor 1 kan ya ?" Tanya Amelia seraya membuka tirai yang menutupinya.
Bersambung...
Vote yu vote... Mumpung Senin
Jangan lupa komentar yang banyak wkkwkw