The Unexpected Love

The Unexpected Love
Belum Usai



Mendengar keributan di luar, Amelia pun segera membenahi pakaiannya yang sempat tersingkap karena ulah Rafa sang suami.


Tak hanya pakaiannya saja, tapi Amelia juga merapihkan rambutnya yang panjang dan berwarna coklat alami itu karena kusut etelah Rafa sempat menindihnya tadi.


Sembari berjalan keluar dari kamarnya, Amelia menggelung asal rambutnya itu. Matanya membola saat melihat siapa yang datang. Bibirnya spontan melengkungkan senyuman bahagia karena sahabat serta kakaknya lah yang datang.


"Nay !" Ucap Amelia sembari berjalan mendekati Nayla yang membawa dua paper bag itu. Amelia langsung memeluk erat dan mencium Nayla di pipi tanpa memberi kesempatan bagi Nayla untuk meletakkan apa yang dibawanya lebih dulu.


"Kangen !!" Pekik Amelia gemas.


"Sama ! Aku juga kangen ! Tapi maaf aku gak bisa balas pelukanmu," sahut Nayla. Ia hanya bisa merentangkan tangannya sembari menggenggam erat paper bag nya agar tak terjatuh.


Amelia pun tertawa seraya menguraikan pelukannya. "Maaf," ucapnya lagi. Ia pun meraih salah satu paper bag yang Nayla bawa. "Buat aku ?" Tanya Amelia dan Nayla pun anggukan kepala.


"Makasih !! Makin sayang sama kakak ipar pokoknya !" Amelia kembali mengecup pipi Nayla.


"Terus sama aku nggak gitu ?" Tanya Elang sembari mencebikkan bibirnya kesal.


Amelia tertawa geli melihatnya. Ia pun berjalan mendekati Elang. Amelia memeluk kakaknya itu dan jinjitkan kaki agar bisa mencium pipi Elang.


Padahal sebelumnya ia jarang sekali melakukan itu semua. Biasanya ia dan Elang akan selalu beradu mulut setiap bertemu.


"Kulkas 12 pintu, sekarang berubah manis setelah menikah. Heran deh," sindir Amelia.


"Itu semua karena udah ketemu pawangnya," celetuk Rafa, membuat Amelia dan Nayla tertawa.


"Kamu juga, Mel ! Gak nyangka si judes dan galak ini bisa friendly juga," balas Elang tak mau kalah.


"Kerena udah ketemu pawangnya juga," kali ini Nayla yang menimpali. Membuat bibir Amelia manyun karena kesal.


"Bukan pawang, tapi Ayang. Iya gak ?" Rafa lingkarkan tangannya di pundak Amelia dan menaik turunkan alisnya saat mengatakan itu. Menggoda sang istri, hingga wajah cemberut Amelia kini berubah sumringah.


"Geemeesshhhh," ucap Rafa sembari mencium gemas pipi istrinya itu.


"Woylah !! Tahan diri !! Ada kita nih !" Protes Elang yang tak mau melihat sang adik dan sahabatnya bermesraan.


Rafa melihat Elang dengan ujung mata. Ia baru sadar jika Elang telah menggangu waktunya untuk bernananinu dengan Amelia. "Lagian lu datang, gak ngabarin dulu sih El," sahut Rafa.


"Gue datang karena katanya adek gue sakit flu dan gak sembuh-sembuh !" Jawab Elang seraya memicingkan matanya penuh maksud. Menyindir Rafa jika lelaki itulah yang menyebabkan adiknya sakit.


Rafa tundukkan kepala karena merasa bersalah. Sedangkan di hadapannya, Nayla menyikut Elang dengan tangannya. "Halaahhh kamu juga sama ! Dulu, aku juga sakit gara-gara siapa ?" Tanya Nayla pada suaminya itu.


Elang tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. Merasa malu karena ia dan Rafa tak jauh beda.


"Udah-udah ! Aku pengen buka apa yang Nayla bawa," ucap Amelia menengahi.


"Ah iya ! Aku bawa banyak makanan untuk kita makan siang bersama. Aku bikinin sup ayam berempah, katanya sih khasiatnya bagus buat yang lagi sakit flu kaya kamu!" Sahut Nayla penuh semangat.


"Kalau begitu kita siapin yuk ?" Amelia pun mengajak sang sahabat yang juga merupakan kakak iparnya itu untuk pergi ke dapur dan menyiapkan itu semua.


Nayla perhatikan Amelia. Sahabatnya itu terlihat penuh semangat dan juga bahagia. Walaupun Amelia tengah diserang flu, tapi ia selalu sunggingkan senyumnya saat berbicara. Dan sungguh Nayla sangat merasa senang saat melihatnya.


"Ini mangkuk buat sup ! Ini mangkuk untuk buah-buahan dan piring ini untuk kue ! Dan ini... Apa??" Amelia hentikan ucapannya karena ia melihat Nayla yang senyum-senyum sendiri dan melihat ke arahnya.


"Nggak apa-apa," sahut Nayla sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Bohong... Pasti ada sesuatu...," Amelia memicingkan matanya melihat pada Nayla yang kini semakin menggelakkan tawa.


Amelia pun tersenyum saat mendengar perkataan sahabatnya itu. Ia meletakkan mangkuk besar di atas meja sebelum mulai berbicara. "Aku bahagia banget, Nay. Sumpah !" ucapnya tanpa ragu.


"Bisa bersama dengan orang yang kita cintai itu ternyata 'sesuatu banget' !" Lanjut Amelia dengan mata berbinar bahagia.


"Syukurlah... Aku ikut bahagia mendengarnya," Sahut Nayla tulus.


"Aku merasa menjadi gadis yang paling beruntung karena bisa bersama dengan lelaki yang aku cinta," Amelia mengatakan itu seraya menatap Rafa yang saat ini duduk bersama Elang di ruang tamu mereka.


"Kayanya bukan gadis lagi deh !" Ucap Nayla menggoda adik iparnya itu. Wajah Amelia yang putih kini merona merah saat Nayla menggodanya seperti itu.


***


"Gue lagi seneng, El !!" Ucap Rafa pada kakak iparnya itu, membuat Elang melihat padanya dengan tatapan mata penasaran.


"Kenapa lu ?" Tanya Elang.


Rafa tolehkan kepalanya, memastikan Amelia tak akan mendengar perkataannya. "Adek lu bilang,dia cinta gue !" Bisik Rafa. Matanya berbinar bahagia dan senyuman terukir di bibir tipisnya.


Elang yang melihat itu tersenyum dibuatnya. Ia sangat hapal sekali dengan mimik wajah Rafa saat lelaki itu benar-benar merasa bahagia. Sedari dulu Rafa tak berubah. Lelaki itu sangat ekspresif, tak seperti Elang yang berwajah datar dan cenderung dingin.


"Dia bilang itu, sebelum kamu datang," lanjut Rafa. "Gue gak nyangka kata-kata sakral itu bisa keluar dari mulutnya. Pengen rasanya gue goyang Pantura tapi takut Amelia meralatnya,"


"Gila lu !" Sahut Elang seraya meninju pelan bahu sahabatnya itu.


"Dan satu lagi, El,"


"Apaan ?" Tanya Elang tak sabaran.


"Gue gak bisa hidup tanpa adek lu itu,"


"Terus ?" Tanya Elang lagi.


"Gue akan bawa Amelia kemanapun gue pergi,"


"Sama !!!" Potong Elang antusias.


"Sama apanya ? Lo mau bawa amelgue pergi ?" Tanya Rafa tak suka.


"Dih ! Gini nih si bucin ! Gak mungkin lah gue bawa bini lo pergi !" Sahut Elang tak terima.


"Gue juga gak bisa jauhan sama Nayla. Rasanya kesiksa banget kaya orang gila," lanjut Elang seraya menatap Nayla dari kejauhan.


"Sama !!! Itu yang gue rasakan pada Amelia. Setiap gue lakuin apapun hanya Amelia yang ada dalam kepala,"


"Bener banget !! Itu juga yang gue rasakan, makanya gue akan bawa Nayla pergi kemanapun,"


"Tinggal kita minta izin sama orangtuanya," sahut Rafa sambil nyengir kuda. Rafa sadar itu tak kan mudah mengingat jika Amelia adalah seorang dokter dan Papinya lah yang menginginkan anak gadisnya itu untuk menjadi penerus dirinya.


Dan Elang pun lakukan hal yang sama, ia tersenyum serba salah seperti Rafa. Nayla pun memiliki karir gemilang dan merupakan orang kepercayaan sang kakak, Nadia. Akan tidak mudah bagi Elang untuk meminta Nayla pada keluarganya.


"Perjuangan kita belum usai, El," ucap Rafa sembari menelan ludahnya paksa.


"Hu'um bener," sahut Elang menyetujui.


To be continued