
Happy reading ♥️
Melihat hal itu Nayla segera menyembunyikan paper bag yang ia bawa di balik tubuhnya. Nayla merasa malu karena bingkisan miliknya kalah jauh dari apa yang di bawa si gadis itu.
Tak hanya buah tangannya saja yang mempesona tapi penampilannya juga sangat jauh dari Nayla. Gadis bernama Vony itu mengenakan atasan crop top, hingga kulit perutnya yang putih mulus bisa terlihat dengan jelas dan pinggang rampingnya terekspos dengan sempurna.
Rok jeans dengan aksen banyak lipatan terlihat menggemaskan, apalagi panjangnya hanya setengah paha hingga kaki jenjangnya yang mulus terlihat menggoda. Sepatu sneaker putih dari brand ternama menyempurnakan penampilan Vony saat ini
Rambut panjangnya dibiarkan tergerai indah dengan gelombang-gelombang kecil diujungnya, bulu matanya terlihat tebal dan lentik karena ia baru saja menanam bulu mata di salah salon ternama sebelum pergi untuk menengok Elang.
Wajahnya diberi riasan natural, yang sedikit mencolok hanya bibirnya sedikit mengkilap karena polesan lip gloss berwarna merah ceri.
Nayla yang sama-sama seorang perempuan saja sudah terkesima melihatnya apalagi para kaum Adam. Nayla tundukkan kepala, melihat penampilannya yang biasa saja membuatnya menjadi insyekur luar biasa.
"Selamat siang," sapanya pada Elang dan Amelia. Gadis cantik itu mengabaikan kehadiran Nayla dengan sengaja. Ia hanya melirik pada Nayla dengan ujung mata dengan ketusnya.
"Si-siang...," sahut Amelia yang terlihat sangat terkejut sedangkan Elang hanya menatapnya datar.
"Aku letakkan ini di sini boleh yaa?" ucap Vony sambil berjalan mendekati sebuah nakas yang letaknya berada tepat di sebelah ranjang Elang.
Satu paper bag berisikan aneka kue kekinian dan satu paperbag lagi berisikan banyak macam roti. Tak lupa, Vony juga menyimpan balon itu di sana.
Setelah itu, dengan berani dan tanpa basa-basi Vony duduk di tepi ranjang ranjang Elang yang kosong. "Gimana keadaan kamu sekarang, El ? Maafib Vony baru bisa nengok ya... Tapi percaya deh, aku selalu mikirin dan do'ain kamu," ucapnya.
Elang terkejut mendengarnya, tapi Nayla lebih terkejut lagi hingga dengan tak sadar ia memundurkan tubuhnya seolah menjauh dari ranjang Elang.
"Apaan sih ?" wajah Elang terlihat sedikit kesal.
"Mami, Papi kamu kemana? kok cuma sama Amelia aja ?" tanya Vony dan kali ini ia menyangkal kehadiran Nayla dengan jelasnya.
Nayla semakin tundukkan kepalanya, ia sadar kehadirannya sama sekali tak dianggap.
"Ada Nayla juga, mungkin kak Vony perlu pakai kacamata biar matanya gak rabun," ucap Amelia yang tak bisa menahan lagi rasa kesalnya.
"Mel !" hardik Elang.
Elang menghardik sang adik bukan karena ia membela Vony tapi karena Elang tak mau Amelia celaka. Elang tahu jika Vony cukup berbahaya.
"Ah iya," gumam Vony sambil tersenyum sok ramah.
"Aku yang salah, El bukan adik kamu. Maaf ya," lanjutnya lagi dengan wajah memelas dan manja membuat Elang merasa mual namun ia tahan.
Sudah kesal pada Vony kini ditambah pada Elang membuat Amelia menekuk muka, "Sini Nay, mending kita lihat pemandangan dari kaca, jangan dengerin kata-kata si kuda poni itu" bisik Amel seraya menarik tangan Nayla untuk mengikutinya berjalan menuju kaca besar yang di bawahnya menyajikan pemandangan taman rumah sakit.
Nayla menuruti kemauan Amel, tapi sebelumnya ia menyimpan paper bag miliknya di atas meja.
"Kamu kenapa bisa begini, El ?" tanya Vony pura-pura tak tahu. Tapi yang ditanya malah tak menanggapinya, Elang sibuk menatapi Nayla yang tengah tersenyum di bawah sinar matahari. Kecantikannya begitu menyilaukan mata Elang.
"El... aku yang nanya kamu loh, tapi mata kamu kemana-mana," rengek Vony sambil mencebikkan bibirnya kesal.
Elang segera tersadar, seharusnya ia bisa menahan diri untuk tidak peduli pada Nayla di hadapan Vony karena itu akan sangat berbahaya bagi gadis itu.
"hah? ah itu... aku takut adikku marah," elak Elang beralasan.
"Kamu kenapa bisa seperti ini ?"
"Kecelakaan di jalan menuju rumah, aku gak ingat apa-apa semua terjadi begitu cepat," jawab Elang.
"Terus kata dokter gimana keadaan kamu sekarang ? kapan bisa masuk sekolah lagi ?"
"aku gak tahu," jawab Elang singkat. Sungguh ia tak bernafsu untuk melayani Vony saat ini.
Beruntung bagi Elang karena Mami, Papi dan kakaknya Bimo datang memasuki ruang rawat inap Elang. Ketiganya baru saja menikmati kopi dan cemilan di coffee shop yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.
Vony langsung turun dari ranjang Elang dan mendatangi kedua orang tua Elang untuk berkenalan.
"Kok tahu Elang di rawat disini ?" tanya Mami Elang sedikit curiga karena tak banyak yang tahu tentang Elang yang sedang sakit.
"Oh... itu... aku ini keponakan dokter Anwar (Vony menyebutkan nama salah satu dokter yang cukup ternama di rumah sakit itu ) beliau mengatakan jika ada salah satu murid sekolah aku yang dirawat disini dan ternyata Elang," jawab Vony.
Nayla memperhatikan bagaimana Vony bisa dengan cepat berinteraksi dengan orang tua Elang. Saat ini Vony tengah bercakap-cakap dengan Papi Elang "Kak Vony begitu cantik dan pintar, tentu saja semua orang menyukainya," batin Nayla dalam hati. Lagi-lagi Nayla membandingkan dirinya dengan gadis itu.
Nayla mulai merasa tak kerasan berada di sana.
"Eh ada Nayla, udah lama ?" tanya Mami Elang sembari menghampiri gadis yang tengah merasakan resah di hatinya itu.
"Lah ada kamu, Nay. Apa kabar ? gimana mbak Nadia ? udah sembuh ?" tanya Bimo yang merupakan mantan kekasih kakaknya itu.
"Baik kak, mbak Nadia juga udah sehat," jawab Nayla.
"Wah kamu bawa apa ini? Mami buka ya," Mami Elang meraih paper bag yang dibawa Nayla dan membukanya. Kedua matanya berbinar melihat kue talam kesukaannya.
"Ibu kamu emang pembuat kue terbaik," ucap Mami Elang seraya memasukan kue itu ke dalam mulutnya.
Kini semua mata tertuju pada Nayla, termasuk Elang. Dan Vony merasakan kesal mendapati kenyataan bahwa hubungan Nayla dan keluarga Elang ternyata sangat dekat.
"El, Nayla bawa puding coklat kesukaan kamu loh. Mau ?"
"Eh aku juga bawa kok, aku suapi ya El ?" potong Vony sembari berjalan menuju nakas dimana ia menyimpan semua buah tangannya.
Ia membuka salah satu paper bag dan mengeluarkan sebuah cup makanan berisi puding coklat dan di dalamnya telah disediakan sendok plastik untuk menikmati puding itu.
Dengan perlahan Vony membuka tutupnya dan menyendok kan sedikit puding coklat untuk Elang.
"A... ayo El, aku suapi," ucap Vony.
Sontak semua mata kini tertuju pada Vony dan Elang. Termasuk Nayla yang merasakan nyeri di hatinya karena melihat kemesraan Elang, lelaki yang disukainya.
"Sini, aku bisa sendiri," ucap Elang ketus seraya menyambar sendok kecil itu dari tangan Vony. padahal Elang tidak bernafsu untuk memakan bingkisan yang Vony bawa tapi dengan terpaksa ia melakukannya karena tidak mau membuat gadis itu tersinggung. Akan sangat berbahaya jika Elang melakukan kesalahan sedikitpun, Ia sudah tahu bagaimana nekad dan jahatnya Vony.
"nah gitu dong, aku senang kalau kamu makan kue yang aku bawa," ucap Vony sambil tersenyum manis pada Elang.
Hati Nayla semakin ngilu saja, ia sudah tak sanggup lagi untuk tetap berada di sana. " aku pamit pulang saja ya, "ucap Nayla.
Elang langsung tolehkan kepalanya melihat Nayla, sedangkan Vony menyunggingkan senyum puas di wajahnya.
"Kenapa buru-buru Nay?" tanya Amelia.
"mmm... mbak Nadia menyuruhku pulang karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan, "jawab Nayla bohong karena sesungguhnya Nadia telah pulang ke rumah Alex suaminya sejak minggu lalu.
" kalau kamu pulang, terus aku gimana ?" rengek Amelia terdengar manja. Ia tak ingin Nayla pulang meninggalkan dirinya. Amelia khawatir ia akan merasa bosan jika ditinggalkan Nayla.
"sorry Mel, tapi aku benar-benar harus pulang," kukuh Nayla. Bukannya ia tak merasa kasihan pada Amelia tapi hatinya sudah tak sanggup lagi berada di sana.
"udahlah Mel, kan ada Kak Bimo ini yang nemenin kamu. Kasihan Nayla harus pulang," ucap Maminya.
"Ayo Nay, kak Bimo antarkan kamu pulang," ucap Bimo seraya menyambar kunci mobilnya yang berada di atas meja.
"nggak usah, Kak. aku nggak mau ngerepotin kakak,"
" ngerepotin apa sih Nay? kamu aneh-aneh aja, " sahut Bimo seraya mengacak puncak kepala Nayla dengan telapak tangannya. Bimo memang menyayangi Nayla seperti adiknya sendiri.
Elang melihatnya dengan tatapan mata tak suka, Ia langsung meletakkan puding coklat yang sedang dimakannya di atas nakas. nafsu makannya hilang seketika. Elang sedang merasa cemburu pada kakaknya sendiri.
Nayla berpamitan kepada semuanya termasuk Elang. "cepat sembuh ya, Kak El," ucap Nayla sebelum ia pergi meninggalkan ruang rawat Elang.
Elang menatap dingin gadis itu sebelum ia menjawab kalimat Nayla. "terimakasih," sahutnya terdengar ketus.
Nayla tersenyum simpul dan kemudian berlalu pergi. "Tunggu Nay," ucap Bimo seraya merangkul pundak Nayla agar berjalan berdampingan dengannya.
Elang semakin dibuat cemburu, tanpa sadar ia bergerak turun dari ranjangnya dan hendak melepaskan rangkulan tangan Bimo dari gadis yang disukainya itu.
selang infusan yang masih menancap pada tangan Elang menahan gerakan tubuh lelaki itu hingga Ia pun mengaduh kesakitan. "Ah siaaalll," maki Elang tanpa sadar.
"Eelllll bad word !!!" hardik sang Mami dengan memolototkan matanya.
"maaf, Mih, "cicit Elang
kini selang infusan Elang dihiasi warna merah dari darah Elang yang mengalir di dalamnya karena pergerakan tiba-tiba Elang tadi.
Papi Elang langsung datang menghampirinya dan membenarkan selang infusan anaknya itu sambil tersenyum penuh arti.
"makanya kamu harus hati-hati, El. coba kalau kamu tetap diam sama aku mungkin kamu tak akan merasa sakit seperti ini," ucap Vony yang terdengar ambigu di telinga Elang.
To be continued ♥️
thanks for reading ♥️