
Tak tahan lagi, aku pun menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
Author POV
Pundak Nayla naik turun pertanda ia menangis dengan hebatnya. Kedua tangannya yang terkepal memukul-mukul dada Elang. " Kenapa kamu terus lakukan ini padaku ? Kenapa ?" Tanya Nayla dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar.
Elang diam tak bergeming saat Nayla memukul-mukul dadanya. Tubuhnya memang tak terasa sakit, tapi hatinya terasa ngilu karena mendengar pertanyaan Nayla yang bercampur dengan isakkan tangisnya.
" Kenapa kamu lakukan itu padaku ? Kamu hanya memberikan harapan lalu mematahkannya kemudian. Membuatku terjebak dalam perasaan yang tak pasti. Setiap hari aku selalu meyakinkan diri bahwa yang terjadi diantara kita tak nyata dan berusaha untuk membuka hati tapi kenapa kamu kembali ? Kenapa kamu kembali ?" Tanya Nayla berulangkali sembari kembali memukuli dada Elang.
Tapi kali ini Elang tak membiarkannya. Ia pegang kedua tangan Nayla agar tak lagi memukulinya " Aku kembali karena aku ingin bersamamu, Nay. Aku ingin bersama dengan cinta pertamaku yaitu kamu,"
"Bohong !!" Potong Nayla. Air bening yang membasahi pipinya semakin deras bercucuran.
" Aku katakan yang sesungguhnya," sahut Elang.
" Tidak ! Ku mohon jangan katakan apapun lagi atau lakukan apapun lagi yang bisa membuat aku semakin terjebak dalam perasaan tak pasti ini. Ku mohon... Berhentilah mempermainkan aku... Aku tak sanggup lagi untuk menanggung beban rasa ini sendirian," ucap Nayla di sela-sela isakkan tangisnya.
Elang yang mendengar itu menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Dengan tangan yang gemetar ia membawa tubuh ringkih Nayla dalam dekapannya dan membiarkan gadis itu menangis lirih di pelukannya tanpa mengatakan apa-apa.
Elang akan membiarkan Nayla menangis sampai puas. Setelah itu ia akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
Cukup lama Nayla menangis dalam dekapan Elang dan laki-laki jangkung itu hanya memeluknya sembari memberikan belaian lembut di punggung gadis yang dicintainya itu tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Makin lama, tangisan Nayla pun mulai mereda. Pundaknya yang bergerak naik turun kini sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Isakkan tangisnya pun sudah terdengar jarang-jarang. Sepertinya Nayla sudah mulai puas mengeluarkan segala keluh kesahnya.
" Ayo kita duduk dan bicara," ucap Elang pada akhirnya. Setelah ia mati-matian menahan diri untuk tidak memotong curahan hati Nayla.
" Sebaiknya kak Elang pulang saja," ucap Nayla sembari menguraikan kedekatan mereka.
Elang tatapi wajah cantik dan sembab gadis yang sangat dirindukannya itu. Elang pun menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda penolakan. Ia tak ingin pergi tanpa memberikan penjelasan dan kepastian.
" Ayo kita bicara, berikan aku kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya padamu, Nay," bujuk Elang.
" Untuk apa ?" Tanya Nayla sembari membalas tatapan mata Elang dengan sama dalamnya. " Apapun yang akan kak Elang katakan sudah tak penting lagi karena aku....,"
" Jangam katakan itu, Nay !! Jangan pernah sebut namanya di hadapan aku," potong Elang. Ia tahu Nayla akan mengatakan jika dirinya tak usah menjelaskan apapun lagi karena gadis itu sudah bersama pria lain.
" Kamu sebaiknya minum dulu, dan aku juga sudah sangat haus" ucap Elang.
Nayla pun menghela nafasnya, dirinya sadar jika akan sangat sulit untuk membuat Elang pergi. Yang ia lakukan saat ini hanya pasrah dan menuruti apa yang Elang katakan padanya.
Nayla berjalan ke kamarnya dan mengambil sebuah handuk bersih untuk Elang yang tadi kehujanan. Nayla masih saja tak bisa untuk tak mempedulikan Elang padahal ia baru saja mengatakan pada laki-laki itu untuk pergi.
" Aku tak punya kopi," ucap Nayla saat ia sampai di dapur sederhananya, sedangkan Elang kini mendudukkan tubuhnya di kursi yang letaknya tak jauh dari tempat Nayla berdiri.
" Teh hangat aja, tak apa," jawab Elang yang masih tak ingi pergi tanpa menjelaskan dulu alasannya.
Nayla mengisi teko dengan air yang cukup untuk dua gelas saja. Lalu ia meletakkannya di atas kompor dan menyalakannya. Sembari menunggu air itu masak, Nayla menyiapkan 2 gelas kosong yang kini terisi 2 kantong teh di masing-masing gelasnya.
Nayla masih belum siap untuk berhadapan dengan Elang. Ia pun lebih memilih untuk berdiri di depan kompor dan menunggu air dalam teko itu matang dan membiarkan Elang sendirian.
Elang terus perhatikan Nayla walaupun ia taju gadis itu tengah berusaha untuk menghindarinya.
Teko itu berbunyi menandakan jika air di dalamnya telah matang. Ia pun menuangkannya ke dalam dua gelas yang di dalamnya sudah terdapar 1 kantong teh. Setiap gerakan yang Nayla lakukan selalu dalan pengawasan Elang.
" Awas hati-hati ! Airnya masih sangat panas," ucap Nayla sembari meletakkan sebuah gekas mug di atas meja makannya.
" Terimakasih," sahut Elang.
Keduanya terdiam dalam hening untuk beberapa saat. Nayla tundukkan kepala, memperhatikan gelasnya padahal tak ada satupun yang menarik di dalamnya. Sedangkan Elang, ia terus memperhatikan Nayla tanpa jeda. Menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
" Maafkan aku, Nay," ucap Elang membuka ceritanya.
" Maafkan jika apa yang sudah aku lakukan selama ini padamu ternyata malah membuatmu tersiksa dan juga menderita," lanjut Elang tapi Nayla tidak menanggapinya.
Elang menghela nafasnya dan berusaha untuk bersabar. Iya Bun melanjutkan ceritanya walaupun Nayla berusaha untuk mengabaikannya.
" Aku menyukaimu dari dulu, mungkin dari pertama kali kita kenal. Saat Bimo mengajak aku dan Amel. Sedangkan mbak Nadia mengajak kamu dalam kencan mereka,"
" Setelah itu kamu jadi berteman dekat dengan Amelia. Aku melihat sisi dirimu yang lain. Kamu terlihat cerita dan sangat cantik jika sedang tertawa. Tapi kamu akan kembali malu-malu saat pandangan mata kita bertemu. Pipimu akan merona merah saat kamu melihatku dan sumpah demi apapun aku sangat menyukainya. Aku ingin pipimu merona merah hanya saat melihatku saja,"
Nayla yang mendengar itu menelan salivanya dengan susah payah. Tak tahu harus mengatakan apa karena Elang sangat serius dengan ceritanya.
" Dari kecil aku sudah bakatku menonjol. Nilai akademis ku selalu baik, bakat olahraga beladiri dan basket juga sangat baik. Oleh karena itulah Papi menyekolahkan aku di tempat yang berbeda dengan Amelia. Bukan berarti aku meremehkan adikku sendiri, tapi itulah nyatanya. Papi memilihkan sekolah favorit yang ternyata di dalamnya memiliki pergaulan tak sehat dan aku terbawa arusnya,"
" Kamu pasti tahu jika aku senang berkelahi. Bahkan ada musuhku yang sampaikan patah tulang karena berkelahi denganku. Aku juga ikut seringkali ikut tawuran antar pelajar dan yang terakhir aku berkelahi dengan laki-laki bernama Leo dan itu dikarenakan seorang perempuan yang menjadi pacarnya,"
" Pertengkaran terakhir berbuntut panjang karena Leo yang pendendam. Padahal aku tak ada kaitannya dengan perempuan itu karena aku sudah memiliki gadis yang aku sukai yaitu kamu, Nay,"
" Hah ?" Gumam Nayla hampir tak terdengar.
" Tapi ternyata tak hanya karena gadis itu, Leo juga tak ingin terkalahkan. Ia menganggap aku ini saingan padahal aku tak berkompetisi dengannya,"
" Saat aku terbaring di rumah sakit itu adalah ulah Leo. Rafa dianiaya pun karena ulah Leo karena ia kalah saat pertandingan basket. Kamu ingat kan Nay semua kejadian itu ?" Tanya Elang dan Nayla pun mengangguk pelan sebagai jawaban.
" Dan gilanya Leo tak hanya mengincar diriku saja, tapi juga orang-orang yang dekat denganku terutama gadis yang aku suka,"
" Vony...,"
Mata Nayla Langsung menatap tajam saat nama gadis itu disebutkan oleh Elang.
" Dengarkan dulu, Nay," bujuk Elang.
" Vony adalah sepupu Leo. Sejak pertama aku masuk sekolah yang sama denganmu ternyata gadis itu langsung menyukai aku. Vony tahu jika aku suka sama kamu, Nay. Dia manfaatin kebencian sepupunya buat dapatin aku. Vony bilang pada Leo satu-satunya cara untuk mengalahkan aku yaitu dengan membuat aku menderita. Caranya yaitu membuatku tak bisa bersama dengan gadis yang aku suka,"
" Setelah aku memenangkan pertandingan basket itu, Leo semakin meradang. Ia aniaya Rafa juga mengancam akan mencelakai kamu. Sampai-sampai ia mengirimkan banyak foto kamu Nay yang diambilnya secara diam-diam,"
Nayla yang mendengar itu membulatkan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
" Leo mengatakan jika ia tidak akan menyakitimu jika aku mau menjalin hubungan dengan voni sepupunya," lanjut Elang.
" Saat itu aku sangat panik. Aku tak ingin kamu celaka, tapi di sisi lain gerak aku juga dibatasi karena aku sedang dalam masa hukuman oleh kedua orang tuaku. Aku yang masih muda dan labil mengambil jalan pintas yaitu menyetujui apa yang Leo katakan padaku. Pada akhirnya aku bersedia menjadi pacar Vony,"
" Tapi aku juga tak ingin lepas darimu, Nay. Aku ingin memberikan "tanda" bahwa kamu milik aku dengan cara mencuri ciuman pertama darimu dan asal kamu tahu itu adalah ciuman pertama aku juga. Aku ingin kamu jadi bagian dari hidup aku dan aku jadi bagian dari hidup kamu walaupun esoknya aku harus berpacaran dengan Vony,"
" Tahukah kamu Nay ? Aku tersiksa saat kamu melihatku berbeda. Tak lagi merona merah dan malu-malu. Aku sadar pasti karena kamu marah sama aku,"
" Siapa yang tidak marah jika diperlakukan seperti itu ? Di angkat ke langit lalu dihempaskan ke dasar bumi dalam waktu yang singkat," sahut Nayla.
" Aku juga semakin tersisa saat banyak laki-laki yang mendekati kamu. Aku sangat menyukaimu tapi tak bisa memiliki kamu karena aku mempunyai musuh yang gila. Aku tidak ingin kamu celaka,"
" Kenapa tidak lapor polisi saja?" Tanya Nayla.
" Sudah, tapi Leo selalu bisa selamat karena ayahnya yang seorang pejabat,"
" Inilah yang membuatku bersembunyi selama 8 tahun ini. Pada akhirnya Leo bisa di tangkap bersamaan dengan ayahnya yang tertangkap karena melakukan korupsi. Tapi ternyata ayah Leo itu dijebak oleh Papiku. Beliau melakukan itu agar Leo bisa ditangkap,"
" Masalahnya tidak berhenti sampai di sana. Orang-orang kepercayaan ayah Leo mulai menyerang balik oleh karena itu Papi melarikan kami ke tempat yang aman. Aku dan Amelia tidak boleh mempunyai akun sosial media apapun agar keberadaan kami tidak bisa dilacak,"
" Aku telah berhubungan dengan orang yang salah hingga membuat orang-orang yang aku sayangi ikut terlibat di dalamnya. Termasuk kamu,"
" Apa benar kak Elang menyukai aku ? Mungkin kak Elang lakukan itu hanya untuk melindungiku seperti kakak melindungi Amelia," ucap Nayla masih tak percaya dengan apa yang Elang jelaskan padanya. Nayla tak percaya jika laki-laki dingin itu menyukainya sejak dulu.l
Elang yang mendengar itu langsung berdiri dari tempat duduknya ia berjalan ke arah Nayla dan berlutut di hadapannya. Matanya yang sendu menatap sayu.
" Jika aku hanya menganggapmu seorang adik saja kenapa aku selalu ingin melakukan ini kepadamu ?" Tanya Elang seraya menarik dagu Nayla dengan jempolnya, lalu ia membenamkan bibirnya di atas bibir Nayla dengan sempurna.
to be continued ♥️
jangan lupa vote yaaa..
kalau vote-nya banyak kreji up sampai kreji wkkwkwkw.
belum direvisi Jika ada salah kata atau kalimat yang rancu tolong dikomentari ya nanti aku perbaiki terima kasih.