The Unexpected Love

The Unexpected Love
Hari Bahagia



Amelia berjalan dengan anggun dan digandeng oleh Nayla dan juga kakak perempuan pertamanya yang tinggal di luar negeri. Ia melihat pada Rafa yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya sama sekali. Lelaki itu menatap penuh puja, penuh damba pada dirinya yang katanya merupakan cinta pertama dari Rafa.


Amelia juga bisa melihat bagaimana Rafa menenangkan dirinya dengan cara mengatur nafasnya. Bahkan Elang yang duduk di belakangnya menepuk bahunya untuk memberikan dukungan pada lelaki itu.


"Cantik banget, Sayang," lirih Rafa saat Amelia duduk tepat di sebelahnya untuk mendengarnya mengucapkan ijab kabul.


Amelia yang mendengar itu hanya mengulum senyumnya malu-malu. Ia duduk di sebelah Rafa dengan dada berdebar kencang tak karuan. Kedua telapak tangannya yang terletak di atas kedua pahanya saling meremas satu sama lain. Ia pun pasrah saat seseorang mengenakan padanya juga Rafa sebuah selendang putih tipis. Kini keduanya telah siap untuk melakukan prosesi pernikahan.


"Sudah siap ?" Tanya salah satu petugas KUA, dan Rafa menganggukkan kepalanya dengan mantap sebagai jawaban.


"Sepertinya Nak Rafa ini sudah sangat siap lahir batin untuk menikah ya ?" Tanya nya menggoda Rafa yang terlihat sangat bersemangat itu.


Lagi-lagi Rafa menganggukkan kepalanya dengan tegas. Kali ini ia tak bisa berkata-kata karena rasa gugup mulai menghampiri dirinya.


"Baiklah... Kita mulai acara ini," lanjut petugas KUA itu. Ia pun membacakan biodata kedua calon pengantin dan memberikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab Rafa dan Amelia.


"Saya terima nikahnya Amelia Sarah Wiguna binti Alan Wiguna dengan mas kawin tersebut, dibayar TUNAI !!" Ucap Rafa dengan lantangnya dan dengan satu tarikan nafas. Membuat yang melihatnya tersenyum-senyum.


"Bagaimana, Sah ?"


"Sah !!" Jawab para saksi secara bersamaan.


Rafa tersenyum lega sedangkan Amelia menitikkan air mata. Keduanya merasa bahagia dan larut dalam rasa haru yang luar biasa.


Rafa dan Amelia pun mendengarkan dengan seksama penjelasan mengenai hak dan kewajiban mereka sebagai pasangan suami-isteri.


Setelah itu keduanya saling menyematkan cincin pernikahan di jari manis masing-masing. Amelia mencium punggung tangan Rafa sebagai tanda patuhnya sebagai istri. Sedangkan Rafa, ia mencium dahi Amelia sebagai tanda kasih sayangnya sebagai suami.


"I love you, istriku," lirih Rafa sebelum ia melepaskan ciumannya dari dahi Amelia. Membuat tubuh gadis itu gemetar karena itu adalah kata-kata cinta yang pertama kali di ucapkan Rafa saat dirinya telah sah menjadi suami.


Keduanya duduk di atas pelaminan dengan Rafa yang selalu mengumbar senyumnya. Lelaki itu tengah berada dalam puncak rasa bahagianya. Amelia pun merasakan hal yang sama, namun ia masih bisa mengendalikan dirinya.


Banyak tamu yang datang ke acara pernikahan Amelia dan Rafa termasuk teman-teman semasa SMA mereka.


Sebagian besar dari mereka merasa terkejut luar biasa saat melihat Amelia si gadis judes yang merupakan incaran para pemuda dulu di masa sekolah kini duduk bersanding dengan Rafa.


Teman-teman sekelas Rafa yang dulu, melihat takjub pada Rafa. "Apa gue bilang ? Amelia tuh dari dulu calon jodohnya Rafa. Kalian gak percaya sih !" Ucap Rafa pada teman-temannya itu.


"Iya, Fa.... Iya kita percaya !" Sahut teman-temannya itu.


"Udah gue bilang, Amelia bukan maki-maki tapi lagi nyatain rasa cintanya yang menggebu-gebu. Kalau bule kan emang beda," lanjut Rafa. Ia ingat bagaimana Amelia berkata ketus dalam bahasa asing di depan teman-temannya itu saat mereka masih SMA.


"Issh bukan begitu artinya !" Sangkal Amelia yang tak ingin dikira dirinya lah yang lebih dulu menyatakan cinta pada lelaki itu.


"Iyain aja,Mel. Biar cepet!" Ucap salah satu teman sekelas Rafa sambil tertawa.


Amelia pun ikut tertawa dan menyetujuinya. Ia tak mau memperpanjang bahasan tentang hal itu karena Rafa selalu mempunyai cara tersendiri untuk mencari alasan. Mereka pun berfoto bersama di atas pelaminan.


Tak hanya teman-teman semasa SMA mereka yang datang. Tapi juga rekan-rekan kerja Amelia juga Rafa.


Beberapa teman Amelia merasa terkejut dengan pernikahan gadis itu yang terkesan mendadak, karena setahu mereka Amelia adalah seseorang yang masih sendirian. Namun tiba-tiba saja mereka mendapatkan undangan pernikahan dari gadis itu. Tanpa Amelia sadari ada beberapa pemuda single yang satu profesi dengannya merasakan patah hati karena pernikahannya.


Hal itu tak terjadi pada Amelia saja. Begitu juga dengan teman-teman kerja Rafa yang sangat terkejut dengan berita pernikahannya. Setahu mereka, rafa adalah lelaki single yang gila kerja dan tak pernah terdengar satu rumor asmara pun tentangnya. Tapi kini mereka harus menghadiri acara pernikahan pemuda itu. Dan yang lebih membuat terkejut lagi adalah Rafa yang mendapatkan gadis cantik sebagai istrinya.


Ada seorang gadis yang saat ini melihat Amelia dengan tak suka. Ia menatap sinis dari kejauhan. Tapi, karena Amelia sedang sibuk dengan para tamunya membuat gadis itu tak sadar jika ada sepasang mata yang melihatnya dengan dingin.


"Selamat ya ,Fa," ucapnya sembari mengelus lengan Rafa dengan lembut dan itu membuat Amelia melihat padanya dengan sinis.


Sepertinya Rafa tidak menyadarinya karena lelaki itu biasa saja menanggapinya. "Thanks udah datang,Vi. Gue tau lo sibuk banget," sahut Rafa.


"Buat lo apa sih yang nggak ?" Tanya gadis bernama Vivian itu. Matanya terlihat sendu saat mengatakannya.


Gadis itu tak tak bisa berlama-lama berbicara dengan Rafa karena antrian tamu yang akan bersalaman cukup panjang. Dengan berat hati ia pun meninggalkan Rafa dan kini menyalami Amelia dengan bibir terkatup rapat tak ada senyuman sama sekali.


Amelia tak kalah judesnya. Ia menatap sinis is dan dingin pada gadis bernama Vivian itu. Amelia melihatnya dengan lekat agar ia tak lupa wajah gadis itu.


Vivian merasa jika Amelia pun membalas sikap dinginnya. Cepat-cepat Vivian pergi meninggalkan Amelia yang sudah mengibarkan bendera perang padanya.


Amelia merasakan panas dalam hatinya dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi yang mencoba untuk menahan diri karena ini adalah hari pernikahannya. Iya tak mau membuat keributan di hari pernikahannya. Amelia pun merasa sedikit tenang karena Rafa tak menanggapi gadis itu.


Semua berjalan lancar dan biasa saja hingga seluruh acara bisa dilampaui tanpa ada gangguan yang berarti. Karena sibuk melayani tamu yang lain membuat Amelia melupakan gadis bernama Vivian itu.


Waktu pun terus berlalu hingga tiba waktunya untuk pengantin meninggalkan acara resepsi itu. Kini keduanya sudah berada di sebuah kamar presiden suit di hotel mewah dan ternama di kota Jakarta.


Kamar pengantin itu bernuansa putih. Banyak kelopak mawar yang berserakan menghiasi kamar mereka. Tak hanya itu, wangi aromaterapi dan juga alunan musik romantis menambah syahdunya malam pertama bagi Amelia dan Rafa.


Rafa sudah berganti baju, saat ini dia hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada. Ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang menanti dan tunggu seorang gadis pujaannya yang kini sudah sudah sah menjadi istrinya.


Rafa menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Berusaha menenangkan dirinya yang mulai gugup dalam menghadapi malam pertamanya. Sudah terbayangkan bagaimana indahnya tubuh polos sang istri yang sangat dicintainya itu.


Sedangkan Amelia sedang berada di dalam toilet dan sudah menggunakan gaun malam berbahan satin dengan model yang begitu menggoda. Warna gaun malam itu adalah merah marun, sangat kontras dengan kulit yang putih terang.


Amelia membiarkan rambut panjangnya yang berwarna coklat tergerai indah. Saat ini ia merasakan gugup yang luar biasa. Beberapa kali ia menarik nafas untuk menenangkan diri.


Setelah dirasa siap Amelia pun memutuskan untuk keluar dari toilet dan menghadapi malam pertamanya bersama Rafa. Tapi sebenarnya ia mempunyai sesuatu yang ingin diungkapkan pada suaminya itu.


Pandangan mata mereka Langsung bertemu saat Amelia membuka pintu dan berjalan pelan mendekati suaminya itu.


Wajah Rafa menegang. Matanya membulat sempurna dengan bibir yang terbuka. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada Amelia. Tak sabar lagi, Rafa pun berdiri dan berjalan mendekati sang istri.


"Sayang... Kamu cantik banget," puji Rafa dengan tatapan matanya yang penuh damba.


Amelia tundukan wajahnya yang sudah berwarna merah.


"Jangan sembunyikan wajahmu, aku ingin melihatnya lagi," ucap Rafa sembari mengangkat dagu istrinya dengan jempol hingga pandangan mata mereka kembali bertemu.


"A-aku...," Ucap Amelia terbata-bata. Sungguh ia sedang merasakan gugup yang luar biasa.


"Kenapa sayang ? Apa kamu belum siap? Aku janji akan melakukannya dengan pelan-pelan," Sahut Rafa. Suaranya sudah terdengar serak karena sudah mulai tersulut hasrat.


Amelia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Ia pun memberanikan diri untuk mengucapkannya. "A-aku baru saja datang bulan...,"


to be continued ♥️


thanks for reading


jangan lupa tinggalkan jejak yaaa