
"Lo apain Amelia sampai dia mengalami pendarahan ? Jangan kasarin adek gue, Fa. Tahan nafsu lo !" Wajah Elang terlihat tegang juga cemas.
"El, sabar... kita dengerin dulu apa kata Rafa," dengan tangan yang gemetar Nayla mencoba meredam emosi suaminya itu namun Nayla pun merasakan khawatir pada Amelia setelah mengetahui gadis itu mengalami pendarahan.
"Jawab Fa ! Kenapa gak bisa sabar dan nahan diri? Apa lo gak sayang sama adek gue ?" Tanya Elang lagi. Ia merasa sangat khawatir pada sang adik.
Bukan tanpa alasan Elang melakukan itu pada Rafa. Ia tahu jika Rafa begitu mencintai Amelia sejak lama. Tentu saja rasa ingin memiliki Amelia seutuhnya pasti terpatri dalam hati Rafa.
Seperti halnya Elang yang begitu menginginkan Nayla hingga beberapa kali ia memberikan ciuman panas yang hampir membuatnya lupa diri. Bahkan ia membuat Nayla kesulitan berjalan saat mereka melakukannya untuk yang pertama kali. Karena nyatanya satu kali bermain tak cukup bagi Elang. Lelaki itu menginginkan Nayla lagi dan lagi.
Tapi sekarang Amelia sampai mengalami pendarahan. Elang berpikir jika Rafa pasti memakan sang adik habis-habisan.
Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Rafa berpikir. "Jangan kasarin adek gue, Fa. Tahan nafsu lo !" Kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Susah payah Rafa berusaha mencerna maksud perkataan Elang hingga akhirnya ia pun mengerti maksud lelaki yang sedang mengancamnya dengan serius itu.
"Gak sabar dan pelan-pelan apaan ? Adek lo datang bulan dan tadi pagi sampai tembus ke sprei. Neh gue baru beli pembalut buat dia !!" Ucap Rafa sembari berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Elang dan ia pun menunjukkan kantung kertas yang berisikan pembalut pesanan istrinya itu.
Elang masih belum paham, ia masih memberikan tatapan membunuh pada sahabatnya itu. Sedangkan Nayla, ia meraih kantung kertas yang diberikan Rafa dan tertawa saat melihat isinya.
"Amelia datang bulan ?" Tanya Nayla sambil tertawa.
Rafa mencebikkan bibirnya kesal melihat Nayla tertawa. "iya ! Tepat sesudah acara resepsi," jawab Rafa terdengar kesal dan semakin pecahlah tawa Nayla.
"Yang, kamu kok malah ketawa sih ?" Protes Elang.
"Aku takut banget dia kenapa-napa,"
Nayla tersenyum penuh arti pada suaminya itu.
"Tenanglah, Amelia baik-baik saja. Ia hanya mendapatkan tamu nya,"
Elang berkerut alis tak paham. "Apaan sih jangan pakai istilah-istilah yang aku gak ngerti," sahut Elang.
"Jelasin sama dia, Nay ! Dasar gak pengalaman sama cewek !" Cibir Rafa.
Padahal keduanya sama-sama minim pengalaman mengenai perempuan. Baik Rafa maupun Elang hampir tak pernah berhubungan dengan gadis manapun selain istrinya.
Nayla pun mengisyaratkan pada Elang agar lelaki jangkung itu membungkukkan tubuhnya dengan begitu Nayla bisa berbisik padanya.
Elang turuti perintah sang istri. Ia bungkukkan tubuhnya dan Nayla pun berbisik padanya.
Mata Elang membola dan pecahlah tawanya seketika. Akhirnya ia mengerti apa yang terjadi. Rasa emosi sesaatnya membuat Elang tak bisa berpikir jernih tadi.
"Hahahahahahhahahaha," Elang tertawa terbahak-bahak sedangkan Rafa memicingkan matanya melihat sinis pada sahabat sekaligus iparnya itu.
"puas lo ?" Tanya Rafa terdengar kesal.
"Jadi lo masih perjaka ting-ting sampai hari ini ?" Tanya Elang penuh ledekan. Ia menirukan perkataan Rafa yang menyebutkan dirinya masih perjaka tulen saat melamar sang adik
"Diem lo !" Kesal Rafa.
"Inget moto gue, El. Sekarang sabar, nanti hajaaarrrrr !" Lanjut Rafa sembari mengangkat satu tangannya yang terkepal dengan penuh semangat berkobar.
"Inget Fa ! Tahan diri, jangan terlalu bernafsu. Kasihan adek gue !" Ucap Elang mengingatkan.
Mendengar itu membuat Nayla memicingkan matanya pada Elang. Ia ingat bagaimana Elang yang begitu berbafsu hingga ia kesulitan untuk berjalan dan mengharuskan keduanya mencari alasan karena pulang terlambat.
"Kamu ya... Bisa ngingetin orang tapi kamunya sendiri seperti itu," kesal Nayla.
"Emang aku kenapa ?" Tanya Elang dengan polosnya.
"Bilangnya tahan diri tapi nyatanya kamu bikin aku gak bisa..., "
Cepat-cepat Elang menutup mulut istrinya itu dengan kedua tangan. Ia tak ingin Nayla mengumbar cerita yang sebenarnya tentang malam pertama mereka
"Gak bisa apa, Nay ?" Tanya Rafa penasaran tapi Elang tak melepaskan tangannya dari mulut sang istri.
Rafa menanggapinya dengan wajah datar dan kesal "Ayo naik ! Amelia nunggu gue," ajak Rafa mengakhiri drama di antara mereka.
Rafa berjalan sendirian diikuti oleh Elang dan Nayla di belakangnya. Suara tawa dan canda mesra terdengar oleh Rafa dengan jelasnya. Pasangan yang baru menikah tiga bulan yang lalu itu masih terlihat sangat mesra. Bahkan Elang tak pernah melepaskan istrinya itu. Elang selalu mempunyai alasan dan juga jalan untuk melingkarkan tangannya di tubuh sang istri.
Rafa baru satu kali saja membunyikan bel pintu kamar hotelnya tapi Amelia langsung membukakan pintu. Rupanya gadis itu sudah menunggunya sedari tadi.
"Kok lama ?" Tanya Amelia saat pintu itu terbuka dan sangat terkejutnya Amelia saat ia melihat sang suami tak sendirian. Ia kembali bersama Elang sang kakak dan sahabatnya Nayla.
"Naaaay," pekik Amelia dan ia pun berhambur pada Nayla. Seolah sudah lama tak bertemu padahal kemarin pun mereka bersama-sama.
"Masuk-masuk !" Ajak Amelia antusias.
Kamar pengantin itu masih berhiaskan rangkaian bunga mawar di setiap sudutnya. Banyak kelopaknya yang masih berserakan di atas lantai. Wangi lembutnya menguar memanjakan indra penciuman. Hanya saja tempat tidur pengantin sudah terlihat acak-acakan.
Bagi orang yang melihatnya pasti berpikiran jika pengantin baru itu telah melalui malam pertama mereka dengan hebatnya padahal bukan hal itulah yang terjadi.
"Kita sarapan bareng yuk ?" Ajak Nayla.
"Ayo ! Sebentar aku bersiap dulu," jawab Amelia dan gadis itu pun segera melesat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sementara yang lainnya duduk-duduk di atas sofa yang ada di kamar itu sembari mengobrol ringan.
Sebenarnya mereka sebagai pengantin mendapatkan servis sarapan di dalam kamar, tapi karena kedatangan kedua orang temannya membuat Amelia dan Rafa memutuskan untuk menikmati sarapan di restoran yang ada di hotel itu.
Rafa berjalan di depan Elang dan Nayla. Lelaki itu menautkan jemarinya pada sang istri tanpa malu-malu. Nayla yang melihat itu merasa senang karena ia yakin Amelia berada di tangan yang tepat. Ia berada di tangan lelaki yang sangat mencintainya.
Setibanya di restoran hotel, mereka memilih tempat duduk yang letaknya terdapat di sudut ruangan hingga tak banyak orang yang berlalu lalang.
Ke empatnya duduk saling berhadapan dan menikmati sarapan pagi mereka. Bisa Elang lihat dengan mata kepalanya sendiri jika Rafa selalu memastikan Amelia mendapatkan apa yang ia mau. Bahkan Lelaki itu tanpa malu-malu memberikan pijitan di pinggang sang istri saat Amelia meringis menahan rasa sakit dari tamu bulanannya.
"Apa sakitnya berkurang?" Tanya Rafa dengan satu tangan memijat pelan pinggang Amelia dan tangan yang lainnya memegang sendok.
Amelia mengangguk pelan. Sebenarnya pijatan suaminya itu tak mengurangi rasa mules di perut nya tapi karena perhatiannya itu membuat perasaan Amelia jauh lebih baik. Ia merasa senang dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya.
Gadis itu tersenyum samar dan malu-malu.
"Sayangnya Rafa emang paling gemesin,nanti di kamar boleh cium-cium lagi ya ?" Tanya Rafa dengan gemasnya. Ia tak sadar jika Elang dan Nayla berada di sana. Amelia tak menjawab, ia hanya berpura-pura sibuk pada makanannya yang berada di atas piring
Elang menatap tajam pada Rafa. Merasa jengah dengan pertanyaan adik iparnya itu dan pada akhirnya Rafa pun sadar jika sang kakak ipar tengah memperhatikannya.
"Lah gue kan udah halal jadi suaminya, El ! Lagian elu ngapain pagi-pagi datang kesini ? Perasaan, dulu gue gak ganggu kalian pas udah nikah,"
Tanya Rafa.
"Suruh siapa milih hotel yang deketan ma apartemen gue," jawab Elang tanpa dosa.
Rafa mencebikkan bibirnya kesal. "Tar bulan madunya kita yang jauh aja ya ? Biar Rafa bisa berduaan saja sama sayangnya Rafa," ucap Rafa pada istrinya itu.
" Nah.. sebenarnya itu tujuan gue datang kemari. Oma tahu kalian belum menentukan tempat bulan madu karena masih terbentur jadwal pekerjaan. Oleh karena itu Oma menawarkan untuk memberikan paket bulan madu ke Eropa. Gratis !!! Sebagai hadiah pernikahan kalian," jelas Elang dan itu membuat mata Rafa berbinar bahagia.
"Seriusan ???" Tanya Rafa sambil tersenyum lebar.
"Hu'um," Elang mengangguk membenarkan.
"Dan tak hanya itu saja kejutanna !" Lanjut Elang lagi.
"Apa-apa ?" Tanya Rafa antusias.
"Kita pergi berempat !! Lo akan pergi sama gue, Adik Ipar," jawab Elang sambil tersenyum miring penuh arti.
bersambung...
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa