
" Nay, kamu ngapain di kamar? Kasihan Elang sendirian," Nadia mengetuk pintu kamar adiknya yang terkunci dari dalam itu.
" Nay... Masa Elang makannya sendirian ?" Ulang Nadia sembari mengetuk pintu itu lagi untuk kedua kalinya.
Susah payah Nayla menetralkan suaranya, ia tak ingin sang kakak tahu jika dirinya tengah menahan tangisnya. " Tu-tunggu, Kak," jawab Nayla sembari kembali mencoba melakukan panggilan pada sahabatnya itu. Namun berulang kali Nayla mencoba, Amelia tak juga menerima panggilannya.
" Mel, kamu sibuk ? Aku ingin bicara," tulis Nayla di pesan singkatnya. Setelah itu ia letakkan ponselnya di atas meja dengan sengaja. Nayla akan selalu memeriksa benda pipih berlayar 5 inchi itu jika ia membawanya ke dalam saku.
Cepat-cepat Nayla keringkan ujung matanya yang basah karena air mata dan tak lupa mengaplikasikan bedak tabur di wajahnya, juga merapikan rambutnya. Sungguh lamaran ini diluar dugaannya hingga ia tak sempat hanya untuk sekedar berdandan atau berganti baju.
Beruntung bagi Nayla yang selalu mengenakan pakaian serba panjang hingga ketika keluarga Elang datang, Nayla tak merasa malu.
Nayla menyunggingkan senyum, tak menyangka jika Elang masih mau memintanya menjadi istri padahal penampilannya saat ini sangat biasa saja. Nayla merasa senang karena Elang yang nyaris sempurna di matanya itu, mau menerima dirinya apa adanya.
Agar lebih rapi dan juga sebagai alasan menghilangnya Nayla ke dalam kamar. Gadis itu mengikat rambut panjangnya dengan model buntut kuda. Hingga terlihat anak-anak rambutnya menghiasi lehernya yang jenjang.
Nayla kembali bercermin, meyakinkan diri jika tak ada lagi sisa air mata di wajahnya. Setelah itu ia juga memeriksa ponselnya yang ternyata tak ada balasan pesan ataupun panggilan telepon dari seseorang yang ditunggunya. Ia menarik nafas dalam dan berjalan keluar untuk menemui tunangan dan keluarganya.
" Tunangan ?" Nayla bergumam pelan. Ia tersenyum sembari menatap cincin berlian yang melingkar indah di jari manisnya. Sungguh ia tak pernah menyangka jika hari ini akan tiba.
***
Elang menengadahkan kepalanya dan melihat takjub pada Nayla yang baru saja keluar dari kamarnya. Padahal Nayla hanya menguncir rambutnya saja, tapi Elang melihatnya dengan penuh puja.
Nayla pun dudukkan tubuhnya tepat di sebelah Elang sang tunangan dan bertanya " kenapa ?" Karena sedari Nayla datang menghampirinya sampai gadis itu duduk tepat di sebelahnya, Elang terus memperhatikannya.
" You look so beautiful," ( kamu terlihat sangat cantik ) jawab Elang sejujurnya. Laki-laki itu tak sekalipun alihkan pandangan matanya dari Nayla. Membuat pipi gadis itu merona merah dan dadanya berdebar lebih kencang dari sebelumnya.
" Tapi...," Elang menjeda ucapannya sembari menatap Nayla kian dalam.
" Tapi apa ?" Tanya Nayla penuh tanda tanya. Keningnya berkerut tanda tak paham.
" Tapi.. jangan lagi mengikat rambutmu seperti itu lagi, kecuali di depanku saja," jawab Elang. Terdengar nada posesif yang sangat kentara dalam setiap kata-kata yang diucapkannya.
" Hah ?" Nayla merasa tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
" Kamu mendengarnya dengan jelas, Nay. Jangan ikat rambutmu seperti itu. Aku tak ingin laki-laki lain melihat keindahan mu yang hanya milik aku," jawab Elang.
" Ta-tapi disini hanya ada ayahku, papi kamu, kakakku, kakak kamu dan Alex saja. Tak ada yang lainnya," jawab Nayla.
" Iya aku tahu, tapi kak Bimo dan Alex juga laki-laki asing bagimu," sahut Elang. Sungguh ia tak ingin kecantikan Nayla di lihat laki-laki lain walaupun itu saudaranya sendiri.
" Mungkin aku harus mengenakan hijab," ucap Nayla dengan nada bercanda tapi tidak untuk Elang. Mata laki-laki itu kian berbinar saat mendengarnya.
" Kamu tahu ?" Tanya Elang dan Nayla menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Elang.
" Aku sangat setuju, aku adalah orang pertama yang akan mendukungmu untuk melakukan itu," Elang menjawab pertanyaannya sendiri.
Nayla cukup terkejut dengan apa yang baru saja Elang katakan. Ia tak menyangka Elang akan berkata seperti itu, Nayla kira Elang menyukai perempuan modis dan high fashion. Walaupun Nayla tahu perempuan berhijab pun banyak yang sangat modis sekarang ini.
" Hu'um, tapi aku juga tak akan memaksamu. Senyaman kamu saja, tapi tetap seperti ini ya, Nay. Tetap tertutup, aku suka lihatnya," lanjut Elang dan Nayla pun mengangguk patuh.
" Terimakasih," Elang tersenyum bahagia mendengar Nayla mau menuruti permintaannya.
" Perempuan itu semakin tak banyak dilihat pria semakin baik dan menjadikannya semakin mulia. Percayalah...," Ucap Elang.
" Sepertinya hasil belajar di pesantren nih," sahut Nayla dan Elang pun tertawa mendengarnya.
" Amelia cerita ya ?" Tanya Elang dan Nayla mengangguk membenarkan.
" Duh ini yang lagi kasmaran senyum-senyum berdua aja," sindir Mami Elang pada anak dan calon menantunya itu membuat Elang dan Nayla menjadi salah tingkah.
" Apaan sih, Mi ? Ganggu aja," rajuk Elang.
" Si Elang ini gak pernah pacaran. Sekalinya bilang suka sama perempuan langsung minta dikawinin. Kagetnya bukan main, tapi pas tahu perempuannya adalah Nayla langsung gas lah," cerocos Mami Elang.
" Katanya gak akan nikah kalau bukan sama kamu, Nay. Calon-calon bucin nih Elang. Banyak sabar ya, Nay," lanjut Maminya.
" Mi... ih...," Elang mencebikkan bibirnya kesal saat rahasianya terbongkar.
" Badan doang yang gede Nay, si Elang. Pas bilang pengen nikah sama kamu sampai ngerajuk segala kaya anak-anak pengen beli mainan. Mengerahkan segala strategi untuk dapetin kamu," Mami Elang masih saja membuka rahasia sang anak.
Nayla yang mendengar itu pun menjadi tersadar. Ia ingat bagaimana Elang bisa kenal dengan Alex dan begitu dekat dengan Nadine padahal seingat Nayla mereka tak pernah bertemu sebelumnya. Nayla menatap curiga pada tunangannya itu.
" A-apa ? Putusnya kamu sama dia gak ada hubungannya sama aku," kata Elang membela diri sebelum Nayla menuduhnya yang tidak-tidak.
" Beneran gak ada hubungannya sama kamu?" Tanya Nayla penuh rasa curiga.
" Iya ! Sumpah.. aku gak ada hubungannya sama dia !" Elang sangat tak sudi menyebutkan nama mantan kekasih Nayla itu.
" Aku tak lagi mengancam para laki-laki yang suka kamu," lanjut Elang sambil tundukkan kepalanya. Ia ingat bagaimana marahnya Nayla saat tahu jika Elang lah dalang kandasnya cerita cinta Nayla dengan para pria.
Nayla memicingkan matanya, masih melihat Elang dengan rasa curiga. Nayla masih tak percaya Elang begitu saja.
" Jika kamu tak terlibat... Apakah Alex terlibat ?" Tanya Nayla dengan pelan namun jelas. sontak itu membuat Elang mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah Nayla sembari menelan ludahnya paksa. Jakunnya bergerak naik turun saat ia melakukan itu.
Bukannya menjawab, Elang malah tersenyum canggung dan melihat pada Alex yang saat ini tengah menikmati makan siangnya bersama sang istri.
" Kamu yang cerita atau aku yang tanya sendiri sama Alex ?" Ancam Nayla.
Diujung ruangan, laki-laki tinggi besar itu sepertinya sedang merajuk juga. Terlihat dari wajah Nadia yang sedang kebingungan. Entah apa yang mereka bicarakan tapi Nadia terlihat beberapa kali mengusap lengan suaminya itu untuk menenangkan.
To be continued ♥️
Thanks for reading ♥️