
" Mmm...itu... Akhir pekan ini kamu kosongkan jadwalmu, Nay. Kita akan pulang ke Bogor. Tadi malam ayah telepon dan menyuruh kita pulang," jawab Nadia.
" Ayah juga menelepon kamu tadi malam tapi katanya kamu tak terima panggilannya," lanjut kakaknya itu.
" Ah ya..," gumam Nadia pelan tak terdengar.
Seharian kemarin, setelah pulang dari hotel dan memergoki Rio berselingkuh, Nayla pergi ke salah satu pusat perbelanjaan untuk merayakan kebebasannya. Beban berat perasaan tak kasat mata itu terlepas sudah. Nayla mengganti profil ponselnya menjadi diam tanpa getar.
Elang yang terus menghubunginya saja tak Nayla hiraukan karena memang panggilan dari lelaki itu tak terdengar.
Nayla memeriksa ponselnya setelah Elang pulang dari apartemennya dan waktu itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ada nama kontak ayahnya tertera di sana. Nayla ingin melakukan panggilan telepon tapi ia tak mau mengganggu sang ayah yang pastinya sudah beristirahat.
Yang Nayla lakukan adalah mengirim pesan singkat pada ayahnya itu. Mengatakan jika ia tak mendengar panggilannya dan juga mengabarkan jika dirinya baik-baik saja agar sang ayah tak merasa khawatir. Hal itu juga Nayla lakukan pada Nadia sang kaka yang juga mencoba untuk menghubunginya.
Memang salah Nayla.
Semalam ia terlalu fokus pada kedatangan Elang yang kemudian saling mengungkapkan perasaan mereka yang sudah terpendam lama.
Pikiran Nayla melayang pada masa remajanya dulu. Usianya baru menginjak 13 tahun saat pertama kali bertemu Elang di bioskop. Dirinya berlindung di balik tubuh Nadia karena sifat pemalu nya. Kala itu adalah pertama kalinya pacar sang kakak mengenalkan adik-adiknya pada Nayla.
Mata Nayla langsung tertuju pada Elang yang terlihat berbeda dengan laki-laki remaja pada umumnya. Dengan sedikit keberanian, Nayla menyembulkan kepalanya untuk melihat pada Elang, dan tak disangka Elang pun ternyata sedang melihat ke arahnya. Mata mereka saling pandang satu sama kain untuk beberapa saat.
Mulai detik itu hidup Nayla berubah. Elang langsung mengisi hatinya dan tak mau pergi.
Padahal hanya sekedar ditatap Elang sebentar saja tapi ternyata memberikan efek yang luar biasa dan bertahun-tahun lamanya. Itupun Nayla tidak tahu apakah Elang sengaja atau tidak sengaja melihat ke padanya.
" Nay ?" Tanya Nadia pada adiknya yang sedang melamun itu. " Kamu gak ada acara kan akhir pekan ini ?" Tanya Nadia lagi.
" Hah ?" Gumam Nayla. " Mmm sepertinya sih nggak," jawab Nayla ragu karena ia belum tahu rencana di akhir pekan ini dengan sang pacar yaitu Elang.
Nayla palingkan wajahnya yang bersemu merah agar Nadia tak melihatnya. Hanya memikirkan Elang yang sudah resmi menjadi kekasihnya saja membuat Nayla salah tingkah.
" Ta-tapi tenang saja, aku akan pulang bersama kakak," jawab Nayla pada akhirnya.
Elang pasti mengerti. Ini menyangkut orang tua yang saat ini masih menjadi prioritas utama Nayla.
" Baguslah kalau begitu," Nadia tersenyum senang mendengarnya.
" Mbak, berkasnya udah ya... Aku mau kembali ke mejaku," ucap Nayla.
Nadia yang tengah sibuk membaca berkas itu menundukkan kepalanya dan hanya mengangguk pelan.
Nayla tahu jika sang kakak sangat sibuk di tambah suaminya yang selalu menempel padanya membuat Nadia harus bekerja ekstra. Nayla pun putuskan untuk pergi.
Tapi, saat Nayla sudah hampir mencapai pintu ia ingat akan sesuatu. Nayla pun hentikan langkahnya dan menolehkan kepala pada Nadia yang masih tertunduk sibuk. " Mbak Nadia...," Kata Nayla.
" Hm ?" Nadia bertanya tanpa melihat pada adiknya itu.
" A-aku udah putus sama Rio,"
Nadia yang mendengar itu menghentikan pekerjaannya dan menegakkan kepala untuk melihat pada Nayla. " Oh ok.. semoga kamu segera menemukan laki-laki yang lebih baik darinya," sahut Nadia tanpa nada terkejut atau apapun.
Ia berbicara dengan wajah datar seolah yang terjadi pada Nayla adalah hal yang biasa-biasa saja.
Nayla sedikit terheran melihatnya. Bahkan Nadia tak bertanya alasan putusnya hubungan mereka yang kurun waktunya lebih cepat dari umur jagung itu.
Tapi Nayla tak mau berpikiran buruk. Ia mengira Nadia pastilah sangat sibuk hingga ia tak ada waktu untuk menginterogasi sang adik. Padahal dulu saat Bimo selalu bertanya tentangnya, Nadia selalu punya waktu untuk bertanya.
" Dia pasti banyak kerjaan," ucap Nayla pada dirinya sendiri. Padahal Nayla ingin bercerita bagaimana ia memergoki Rio berselingkuh di hotel. " Aku pergi ya," ucap Nayla.
Lagi-lagi Nadia hanya bergumam pelan sembari menenggelamkan diri pada pekerjaannya.
***
Tepat seperti janji Elang, laki-laki jangkung itu menjemput Nayla sepulang kerja. Karena jalanan yang padat oleh kendaraan, membuat Elang datang sedikit terlambat. Nayla sudah menunggunya di lobi kantor.
Nayla menunggunya dengan dada berdebar cemas. Ia takut hal buruk terjadi dan membuat Elang tak jadi datang menjemputnya.
Bukan tanpa alasan Nayla berpikiran seperti itu. Dulu, saat pertama kali Elang mencium bibirnya di bawah rintikan air hujan membuat Nayla bahagia luar biasa.
Namun keesokan harinya, sesuatu yang menyakitkan terjadi yaitu Elang jadian dengan Vony. Keduanya berjalan bergandengan tangan tepat di depan Nayla. Rasa cinta Nayla yang tengah bermekaran langsung layu dan dipenuhi rasa sedih yang luar biasa.
Lalu kejadian manis yang kedua saat Elang kembali berusaha untuk menciumnya di pesta ulangtahun Amelia. Nayla menutup bibirnya dengan telapak tangan tapi tetap saja Elang melabuhkan bibirnya tepat di atas telapak tangan Nayla dan berkata "Hanya Aku yang akan selalu menjadi ciuman pertamamu dan ciuman mu yang selanjutnya. Karena kamu gadis yang aku suka dan selamanya akan seperti itu. Aku akan kembali untuk kamu, jadi tunggu aku," ucap Elang waktu itu.
Dan semalam mereka kembali berciuman setelah meresmikan diri sebagai pasangan kekasih. Nayla takut hal buruk terjadi lagi padanya.
Ketakutan Nayla sirna saat ia melihat mobil putih Elang memasuki pelataran parkir kantornya. Gadis itu berdiri dengan tersenyum lebar. Ia merasa bahagia apa yang ditakutkannya tak terjadi.
" Maaf terlambat, jalanan macet," ucap Elang. laki-laki itu sempatkan diri untuk turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobilnya untuk Nayla naiki.
" Gak apa-apa," ucap Nayla tanpa rasa marah sedikitpun. Melihat kemunculan Elang saja Nayla sudah sangat bersyukur.
Elang berlari kecil menuju pintunya sendiri. Ia tersenyum dan menarik tubuh Nayla dengan lembut agar mendekat padanya. "Pengertian banget sih punya pacar, kan jadinya makin cinta aja," ucap Elang seraya mengecup pipi Nayla dengan lembut.
Nayla tersenyum tipis. Apa yang Elang lakukan, juga apa yang Elang ucapkan selalu mampu membuatnya melayang tinggi di awan.
" Kita makan dulu ya?" ajak Elang dan Nayla pun menyetujuinya. Hampir sepanjang perjalanan Elang meraih tangan Nayla dalam genggamannya, seolah-olah tak ingin kehilangan gadis itu.
Dan Nayla pun merasakan hal yang sama hingga ia membalas genggaman tangan Elang dengan sama mesranya.
***
Disinilah sekarang keduanya, duduk saling berhadapan di sebuah food court yang berada di pusat perbelanjaan ternama.
Sedari tadi Nayla selalu mengulum senyumnya. Ia masih merasa tak percaya jika dirinya dan Elang kini telah bersatu dalam rasa cinta. Yang Nayla lakukan adalah mencuri pandang pada lelaki itu untuk memastikan jika Elang nyata adanya.
Begitu juga Elang yang tak bisa mengalihkan pandangannya lama-lama dari Nayla. Ia akan selalu melihat pada gadis itu, memastikan jika Nayla ada di dekatnya.
Keduanya saling bercerita tentang kejadian di hari ini. Tentang kesibukan mereka dalam pekerjaan.
" Aku harus memberikan presentasi secara online. Telekonferensi bersama para petinggi perusahaan. Padahal aku bilang sedang tak ingin diganggu dan mungkin akan mengundurkan diri dari perusahaan mereka," jelas Elang.
" Kak El kerja di perusahaan minyak ternama kan ?" Tanya Nayla dan Elang menganggukkan kepalanya membenarkan.
" Mereka terus berusaha menahan pengunduran diriku. Malah aku ditawarkan kenaikan gaji sebanyak 3 kali lipat dan juga posisi baru yang lebih bergengsi," jelas Elang.
Nayla yang mendengar itu merasakan ngilu di dalam hatinya. Apakah ini semacam sinyal yang diberikan Elang bahwa ia akan pergi lagi meninggalkan dirinya. " Apa kamu tertarik dengan tawaran mereka ?" Nayla memberanikan diri untuk bertanya.
Elang menatap Nayla penuh arti sebelum menjawab pertanyaan gadis itu. " Tentu saja tertarik. Laki-laki mana yang tak tertarik dengan jenjang karir yang melesat dan pendapatan yang amat sangat banyak. Ini bisa menjamin hingga hari tua," jawab Elang.
Ingin Nayla bertanya apakah Elang akan pergi untuk ke dua kalinya lagi ? Tapi ia tak punya nyali untuk melakukannya. Nayla sangat takut dengan jawaban yang akan Elang berikan padanya. Ia lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mm... Akhir pekan ini aku harus pergi ke Bogor. Ayah menyuruh aku untuk pulang," ucap Nayla.
Tak ada rasa terkejut ataupun keberatan akan kepergian Nayla dari wajah Elang. Laki-laki itu hanya mengangguk pelan dan berkata "ok."
Nayla yang melihat itu merasa terheran..
" Apa kamu gak marah karena kita tak bisa menghabiskan waktu bersama di akhir pekan ini ?" Tanya Nayla.
" Kenapa harus marah ?" Elang balik bertanya dengan berkerut alis tak paham.
" Aku kira, kamu ingin menghabiskan waktu di akhir pekan ini denganku. Bukankah itu yang dilakukan oleh para pasangan pada umumnya? Apalagi kita baru saja resmi berpacaran," jawab Nayla. Ia sedikit merasa kesal pada Elang yang sepertinya tak begitu peduli akan kepergian Nayla.
" Aku tak ingin menghabiskan waktu dengan marah-marah. Aku ingin melewati hari-hari ini dengan bahagia, Nayla. Dan aku pun rasanya tak pantas untuk marah atau merasa kecewa padamu, karena sudah jelas alasanmu pergi di akhir pekan adalah untuk bertemu dengan ke dua orang tuamu. Kecuali... Jika kamu pergi dengan teman-temanmu, pasti aku akan protes," jawab Elang dengan begitu jelasnya.
Apa yang Elang katakan memang benar adanya tapi tetap saja Nayla merasa sedikit kesal. Apa Elang tak ingin bersama dengannya?
" Apa kamu ingin aku ikut ?" Tanya Elang seolah-olah bisa membaca pikiran Nayla.
Nayla menggelengkan kepalanya pelan. " Tak usah," jawab Nayla.
Jika Elang benar-benar ingin menemaninya pasti lelaki itu langsung menawarkan dirinya tapi Elang tak lakukan itu. Elang malah bertanya apakah kehadirannya dibutuhkan oleh Nayla.
" Tentu saja aku ingin denganmu, tapi sepertinya kamu tak merasakan hal yang sama dengan aku," pikir Nayla dalam hatinya.
Setelah itu keduanya tak lagi membicarakan tentang rencana di akhir pekan. Elang membahas tentang apa yang terjadi di rumahnya. Bagaimana sang adik yang membenci pekerjaannya sendiri. Sedangkan Nayla bercerita tentang makan siangnya tadi bersama teman-teman kantornya. Mereka mencoba tempat makan yang sedang hits di kota Jakarta.
Keduanya berusaha untuk menghindari konflik dan berusaha untuk tetap mesra walaupun di hati masih ada sesuatu yang menggangu.
To be continued ♥️
thanks for reading 🥰
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa