The Unexpected Love

The Unexpected Love
Bagi Tugas



"Semoga ini beneran penting ya !" Lanjut Elang sembari menerobos masuk diikuti Nayla di belakangnya.


"Tentu penting, Kakak ipar," sahut Rafa.


"Penting apaan ?" Tanya Elang tak sabaran.


"Bantu kita beres-beres !!" Jawab Rafa sambil tersenyum lebar.


Mendengar ucapan Rafa membuat Elang langsung melihat padanya. "apa ?" Tanya Elang tak percaya. Sedangkan Nayla, ia sudah menghampiri Amelia dan saling berbicara tentang banyak hal salah satunya membicarakan apa saja yang perlu dibeli karena ini adalah kali pertama Amelia tak tinggal dengan orangtuanya.


"Bantu kita beres-beres ! Sebagai kakak ipar siaga lo harus mau bantuin kita, El," jawab Rafa.


Elang mencebikkan bibirnya kesal dan melihat Rafa dengan ujung matanya. "Lo, ganggu aja sih, Fa ! Padahal gue sama Nayla mau...,"Elang menjeda ucapannya dengan mimik wajah penuh arti.


"Ya ampun, El. Masih siang ini" sahut Rafa tak percaya.


"Kalau sudah halal boleh kapan aja !" Kata Elang beralasan. Lalu ia tersenyum penuh ledekan pada Rafa yang masih menjadi perjaka ting-ting walaupun sahabatnya itu sudah menikah dengan adiknya.


"Ape Lo ?" Tanya Rafa sambil memicingkan matanya, melihat tak suka pada Elang.


Bukannya marah, tapi Elang malah tertawa dengan kencangnya. Ia sungguh merasa puas karena bisa meledek adik iparnya yang telah menganggu jadwal kegiatan nananinu Elang.


"Puas banget Lo, El !" Kesal Rafa. Ingin rasanya Rafa menghajar kakak ipar sekaligus sahabatnya itu tapi saat ini ia sedang memerlukan bantuannya.


"Gue bantuin deh," sahut Elang sembari mengusap ujung matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa.


Mendengar itu, Rafa tak lagi menekuk wajahnya. "Gitu dong, Kakak ipar !" Sahut Rafa lagi-lagi ia tersenyum lebar.


Sedangkan Amelia dan Nayla melihat terheran pada keduanya. Amelia perhatikan sang kakak yang kini banyak berubah. Elang nampak lebih hidup dan lebih bersemangat setelah ia menikah. Kulkas dua belas pintu itu mulai menghangat setelah menikahi pawangnya yaitu Nayla. Amelia tertawa karena memikirkannya.


Amelia tolehkan kepalanya pada Nayla sembari tersenyum. "Elang banyak berubah ya. Dia lebih bersemangat sekarang. Gak lagi seperti kulkas 12 pintu," jawab Amelia tanoa menyembunyikan apa yang ada dipikirannya.


"Elang udah ketemu pawangnya," lanjut Amelia sembari tertawa.


Nayla yang mendengar itu ikut tertawa. "Kamu juga, Mel. Gak segalak dulu karena udah nikah sama pawangnya," balas Nayla.


"Issshhh," Amelia mencebikkan bibirnya kesal dan itu membuat Nayla semakin tertawa.


"Kalian bikin daftar barang-barang yang perlu di beli. Sayangnya Rafa bisa tanya sama Nayla apa saja yang dibutuhkan karena Nayla udah pengalaman tinggal sendirian. Aku sama kakak ipar mau beres-beres dulu," Rafa membagi tugas mereka.


Amelia pun menuruti perkataan suaminya itu. Keduanya berdiri di dapur dan menuliskan apa saja yang sekiranya sangat dibutuhkan. Mereka menerapkan sistem prioritas dalam hal berbelanja untuk kebutuhan apartemen baru itu. Amelia akan membeli segala sesuatu yang dibutuhkan bukan yang diinginkannya. Keduanya berdiskusi dan sembari berdiri dan menuliskannya di atas meja kitchen set sederhana yang merupakan fasilitas yang diberikan pihak pengelola apartemen.


Sedangkan Elang dan Rafa membuka kain-kain putih yang menutupi beberapa benda yang ada di sana. Lalu membersihkan banyak debu yang menempel dengan alat-alat seadanya.


Amelia dan Nayla masih berdiskusi saat Elang datang dengan sapu di tangannya. Lelaki itu menyapu lantai yang ditempati Nayla. "Angkat kakinya, Yang," pinta Elang pada istrinya itu.


Nayla pun menurutinya dengan mengangkat satu kakinya dan kaki yang lain menjaga keseimbangan tubuhmhya.


Nayla terus lakukan itu dengan kaki yang bergantian. Sedangkan Elang masih menyapu di bawahnya.


Merasa gemas pada Nayla yang seperti menggodanya, Elang pun menyimpan sapu yang digunakannya. Tanpa aba-aba, Elang pun mengangkat tubuh Nayla dalam satu hentakan dan mendudukkannya si atas meja kitchen set yang ada di dapur itu.


"Jangan goda aku, Sayang," ucap Elang pada Nayla yang pipinya sudan merona merah sedari tadi dan itu membuat Elang gemas pada istrinya. Seandainya saja di sana tak ada Rafa dan Amelia sudah dipastikan jika Elang akan memakan istrinya itu sekarang juga.


Kemesraan Elang pada Nayla ternyata mencuri perhatian Rafa. "Panasiiin terus, El !!" Sahutnya kesal karena ia tak bisa lakukan itu pada sang istri yang masih datang bulan.


to be continued ♥️