
Nayla duduk di kursi kerjanya masih dengan perasaan resah yang melanda. Dirinya takut menjadi penyebab pertikaian antara sang kakak dan suaminya. Bisa Nayla lihat dengan jelas bagaimana raut wajah Alex yang tak se-ramah biasanya. Itu semua pasti karena Alex sedang dilanda rasa cemburu.
Jika setiap harinya Alex yang selalu mendatangi ruangan Nadia, maka yang terjadi pagi ini adalah sebaliknya. Nayla yakin jika masalahnya cukup besar hingga menyebabkan Nadia sendiri yang mendatangi ruangan Alex.
Setelah beberapa waktu berlalu Nayla tak bisa berkonsentrasi dalam melakukan semua pekerjaannya. Dengan terpaksa ia tunda seluruh tugasnya dan berjalan keluar dari bilik kerjanya menuju ruangan sang kakak, Nadia.
Mengetuk pintu ruang kerja Nadia beberapa kali, tapi tak ada jawaban sama sekali. Dengan memberanikan diri Nayla pun membuka pintu ruang kerja sang kakak dan ternyata tak ada siapapun di dalamnya.
Nayla pun meninggalkan tempat itu dan segera menemui Joy sekretaris Alex yang letak mejanya tepat di luar ruangan bossnya itu.
"Mbak Nadia masih di dalam ?" Tanya Nayla tanpa basa-basi.
Joy yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya pun menghentikan pekerjaannya untuk beberapa saat. " Iya, ibu masih di dalam, sudah hampir satu jam di sana dan Pak Henry juga meminta untuk tidak diganggu oleh siapa pun karena ada hal yang sangat penting yang harus diselesaikan dengan istrinya," jawab Joy
Otak polos Nayla pun bekerja. Ia pikir Alex dan Nadia benar-benar sedang menyelesaikan masalah mereka dengan beradu argumentasi dan tentunya ia lah sebagai penyebabnya.
" Sampai kapan mereka tak bisa di ganggu?" Tanya Nayla cemas.
" Sampai batas waktu yang tak ditentukan. Tadi pak Henry hanya mengatakan jika dirinya dan bu Nadia tak ingin di ganggu oleh siapapun sampai pak Henry sendiri yang akan memberitahukannya kapan ia selesai berurusan dengan istrinya," Jelas Joy.
Apa yang Joy katakan membuat Nayla semakin khawatir. Ia semakin menyalahkan dirinya sendiri karena menyebabkan sang kakak berseteru dengan suaminya. Nayla tak tahu yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan bossnya itu. Ia menatap nanar pintu ruangan Alex yang tertutup rapat.
" Oh ok, kalau mereka udah selesai rapatnya kabarin aku ya, Mbak," ucap Nayla pada sekretaris Alex itu. Joy pun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban.
Nayla pun kembali ke bilik kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang telah tertunda. Setelah 1 jam berlalu ponsel Nayla bergetar menandakan seseorang mengirimkan pesan. Cepat-cepat Nayla periksa ponselnya dan berharap sekretaris Alex atau sang kakak yang mengirimkan pesan. Tapi dugaan Nayla meleset, bukan keduanya yang mengirim pesan singkat untuknya tapi lelaki yang tadi malam memintanya untuk menjadi seorang kekasih. Siapa lagi jika bukan Rio.
Sudah satu bulan ini mereka berteman dekat, sudah beberapa kali juga Rio berusaha untuk menggenggam tangannya tapi kenapa Nayla sama sekali tak merasakan getaran itu.
Hatinya tak berdebar cepat jika bertemu, malahan Nayla selalu menepis halus saat laki-laki itu berusaha menyentuhnya. Tak seperti pada Elang.
Nayla biarkan pemuda jangkung itu untuk menyentuhkan bibirnya di atas bibir Nayla padahal mereka belum resmi berpacaran.
Mata tajam Elang memang mampu menghipnotis Nayla.
Nayla memejamkan matanya. Lagi-lagi ia memikirkan Elang padahal yang menghubunginya saat ini adalah laki-laki lain.
" Lunch ?" Tanya Rio singkat pada pesan yang ditulisnya untuk Nayla.
Nayla membaca pesan itu berulang-ulang, ia tak tahu harus menjawab apa. Pikiran Nayla tengah melayang kemana-mana. Dirinya tahu tujuan Rio mengajaknya makan siang.
Laki-laki itu pastinya akan menagih jawaban atas pernyataan cintanya tadi malam. Dan Nayla tak tahu jawaban apa yang harus diberikannya. Di sisi lain Nayla juga berpikir tentang sang kakak.
" Jika aku menerima pernyataan cinta Rio, mungkin kak Bimo tak akan bertanya tentangku lagi," pikir Nayla dalam hatinya.
Walaupun Nayla tak memiliki perasaan apapun pada Rio, tapi menerima pernyataan cinta laki-laki itu sepertinya bisa menjadi pelarian Nayla. Dan bukankah cinta akan datang karena terbiasa ?
Nayla menarik nafas dalam sebelum ia mengirimkan pesan. " Ok," hanya dua huruf yang Nayla ketik dengan sangat susah payah. Karena sebenarnya hatinya menolak untuk melakukannya.
***
Pukul dua belas kurang sepuluh menit Nadia belum juga keluar dari ruangan Alex, padahal ia sudah hampir 3 jam berada di sana. Nayla berdebar cemas membayangkan keduanya beradu argumen dengan hebatnya. Membuat Nayla semakin yakin dengan keputusannya menerima pernyataan cinta Rio walaupun ia tak menginginkannya.
"Mbak Joy, aku pergi makan siang dengan teman ya. Tolong sampaikan pada kakak ku,"
" Oke, nanti aku sampaikan," sahut Joy. Ia masih setia duduk di kursi kerjanya takut si boss membutuhkannya dengan tiba-tiba.
" Eh... Nay," ucap Joy menahan langkah gadis itu.
Nayla hentikan langkahnya dan melihat pada wanita yang duduk di balik layar laptopnya.
" Pak boss lagi ada masalah kah sama bu Nadia ?" Tanya joy takut-takut.
Nayla pun mengangguk pelan.
" Marahan ?" Tanya Joy lagi.
Untuk kedua kalinya Nayla pun menganggukkan kepalanya pelan.
Joy pun tersenyum masam karenanya. Jika dalam keadaan mood yang buruk Alex akan uring-uringan marah dan ia harus banyak bersabar untuk menghadapinya.
Joy menarik nafas lega saat apa yang ditakutkannya tak terjadi.
" Bu Nadia, tadi Nayla titip pesan katanya ia makan siang di luar dengan temannya," ucap Joy sebelum Nadia pergi.
" Oh ok, thanks Joy," sahut Nadia.
" Joy, hari ini kosongkan semua jadwalku. Reschedule lagi untuk besok atau lusa," kali ini Alex yang berbicara.
Joy pun tersenyum sambil mengiyakan. Ia paham sekali jika bossnya itu hanya ingin menghabiskan waktu dengan istrinya saja di hari ini.
***
Nayla duduk cemas di sebuah cafe yang menjadi tempat bertemunya dengan Rio siang ini. Seharusnya Rio tiba lebih dulu karena laki-laki itu berangkat dari kantornya lebih awal tapi nyatanya Nayla lah yang lebih dulu datang.
Ia pun memesan minuman sembari menghabiskan waktu menunggu pemuda yang keberadaannya entah di mana.
Waktu pun terus berlalu, minuman Nayla sudah hampir habis tapi Rio belum muncul juga. Akhirnya Nayla memutuskan untuk pergi karena ponsel Rio pun tak bisa dihubungi.
Nayla baru saja berdiri untuk beranjak pergi tapi tiba-tiba Rio tiba dan menahan lengannya. " Sorry," ucap laki-laki itu dengan nafas menderu terengah-engah. Sepertinya ia baru saja berlari untuk bisa mencapai tempat Nayla berada.
" So-Sorry aku datang telat, ada sesuatu yang harus aku kerjakan dulu, " ucap Rio beralasan.
Nayla pun tersenyum memaklumi dan ia pun dudukkan kembali tubuhnya di kursi tadi. Sedangkan Rio di hadapannya.
" Sudah pesan?" Tanya Rio sembari melonggarkan dasinya yang memang sudah... Longgar ?
Nayla memperhatikan tampilan pemuda di depannya yang terlihat sedikit kusut juga kelelahan.
" Pasti dia capek karena lari-lari tadi," ucap Nayla dalam hatinya. Berusaha berpikiran positif walaupun ia melihat tanda merah keunguan yang samar-samar di leher laki-laki itu. Tanda merah itu tak terlihat jelas karena tertutup kerah kemeja.
Keduanya memesan makan siang yang sekiranya dapat disajikan dengan cepat. Bahkan Rio mewanti-wanti pada pelayannya agar mereka bisa dengan cepat mempersiapkan pesanannya. Ia lakukan itu karena waktu istirahat Nayla yang hanya tinggal beberapa menit lagi. Walaupun Nayla bekerja di perusahaan kakak iparnya tapi ia melakukan segala pekerjaannya dengan profesional.
Rio menarik nafas dalam dan meraih telapak tangan Nayla yang ada di atas meja untuk digenggamnya.
Secara refleks Nayla menariknya, tapi kali ini Rio tak ingin melepaskannya. " Nay, jangan lepasin... Please....," ucapnya penuh mohon.
" Sebelum kita makan siang, aku ingin mendengar jawabanmu dulu dan please... Jangan kecewakan aku," lanjut Rio. Matanya menatap sayu gadis cantik di depannya.
Wajah Nayla terasa panas, matanya memburam karena air bening telah menggenang di pelupuk mata. Bukan karena ia terharu dengan ucapan Rio, tapi karena tiba-tiba saja wajah Elang yang terbayang duduk di hadapannya.
Nayla membayangkan Elang lah yang melakukan hal itu padanya sekarang. Menggenggam tangannya juga meminta Nayla untuk menjadi kekasihnya.
" Nay....," Rio menunggu dalam cemas.
Susah payah Nayla mengatur nafasnya, berusaha untuk berbicara. " I-iya," jawab Nayla dengan suaranya yang terdengar kecil dan aneh seolah kata itu tercekat di tenggorokannya.
" Iya ?" Tanya Rio.
Nayla menganggukkan kepalanya pelan.
" Maksudnya iya menerima aku ?" Tanya Rio yang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Dengan berat hati Nayla pun membenarkan. Ia berharap dengan menerima cinta Rio ia akan bisa melupakan Elang juga menjauhkan sang kakak dari masalah. Mungkin dengan begini Bimo tak akan lagi bertanya-tanya tentangnya.
" Aku senang banget bisa jadi pacar kamu," ucap Rio sambil tersenyum lebar.
" Pacar ?" Tanya dalam hati. Pada akhirnya Nayla memiliki seorang kekasih. Walaupun ia tak mencintainya.
Nayla pun membalas senyuman Rio dengan terpaksa. Ia menatap nanar wajah pemuda yang kini menjadi kekasihnya. Karena wajah Elang kembali terlihat di matanya.
" Selamat tinggal cinta pertamaku," ucap Nayla dalam hatinya.
ingat... cuma Rehan yang baik 🥲
to be continued ♥️
thanks for reading 🥰