The Unexpected Love

The Unexpected Love
Untukmu



Rafa mengisyaratkan bahwa buket bunga itu ditujukan untuk Amelia dan mereka lah yang akan menikah selanjutnya.


Mata Amelia membulat sempurna, ia langsung tundukkan kepalanya dan berusaha menyembunyikan diri di antara benda-benda yang ada di atas meja. karena kin mata para gadis single yang tadi berebut buket bunga tertuju padanya.


"Ya Tuhan...," gumam Amelia. Ia tak menyangka jika Rafa akan melakukan itu, berebut bunga dengan para gadis-gadis, demi dirinya.


Pemuda itu kini berada di atas panggung untuk menerima hadiah. Amelia masih bersembunyi, sedangkan Rafa memberikan kata-kata selamat dan juga do'a untuk sang mempelai dari atas panggung.


Rafa langsung menuju Amelia setelah ia menerima hadiah itu. Ia tersenyum samar saat melihat Amelia menelungkup kan kepalanya di atas meja. "buat kamu," Rafa memberikan buket bunga itu juga beserta hadiah yang diraihnya.


"gak mau !" tolak Amelia dengan ketusnya.


"kok gak mau ? padahal Rafa susah payah dapetin ini buat kamu, Mel," ucap Rafa dengan wajah memelas karena rasa kecewa.


"aku gak nyuruh kamu buat lakuin itu ! lagian aku emang gak mau banget dapat buket bunganya. Takut kena sial !" jawab Amelia penuh sindiran.


Rafa amati wajah Amelia yang tengah mengomel marah-marah dengan bahasa nenek moyangnya. Kini lelaki itu hanya tersenyum saja karena ia tahu artinya. "jangan mengumpat, Sayang. Kamu lebih cantik jika tak marah-marah," sahut Rafa dengan bahasa asing yang sama dengan Amelia gunakan saat ini. Rafa mengucapkannya dengan jelas dan benar hingga Amelia tercengang mendengarnya.


"ka-kamu bilang apa ?" tanya Amelia terbata-bata.


"kamu tadi sudah mendengarnya, Sayang," jawab Rafa masih dengan bahasa asing yang sama dengan Amelia. Membuat gadis itu semakin gelagapan dengan wajah semerah tomat.


"kalau kamu memang gak mau buket bunga dan hadiahnya gak apa-apa. Biar aku kasih sama gadis bergaun merah di sebelah sana," Rafa menunjuk pada seorang gadis yang mengenakan gaun merah dan saat ini melihat pada mereka.


Rafa mengambil kembali buket bunga dan hadiah yang tadi Amelia tolak. Lalu ia berjalan menuju gadis bergaun merah itu berada.


Gadis itu tersenyum malu-malu saat Rafa berjalan menghampirinya dengan buket bunga dan hadiah di tangannya.


Hanya tinggal beberapa langkah saja bagi Rafa untuk bisa mencapai gadis itu. "hai," sapa Rafa dengan ramahnya.


"kamu mau...,"


" Punya aku !!" potong Amelia cepat dan ia pun merebut paksa buket bunga beserta hadiah yang akan Rafa berikan pada gadis itu. Untung saja keduanya belum berpindah tangan pada si gadis.


Gadis bergaun merah itu terkejut melihatnya di tambah dengan tatapan membunuh yang diberikan Amelia membuatnya semakin tak berdaya.


"bukannya kamu juga harus membantu Elang untuk melakukan sesuatu ?" Amelia pun menarik paksa lengan Rafa agar pemuda itu menjauh dari gadis bergaun merah tadi.


"ah Sorry, aku harus..,"


"cepat !" potong Amelia. Ia tak memberikan kesempatan pada Rafa untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia menyeret paksa tubuh pemuda itu untuk mengikuti langkahnya.


"Tunggu Mel, jangan cepat-cepat," pinta Rafa tapi Amelia tak menggubrisnya. Ia terus berjalan dengan satu tangan menarik lengan Rafa dan menyeretnya agar mengikuti langkahnya.


Tanpa Amelia sadari, Rafa tersenyum penuh arti melihat cekalan yang gadis itu ditangannya. "gotcha!" (kena kau) batin Rafa dalam hatinya.


"Duduk!" titah Amelia pada Rafa. Ia mendudukkan tubuh lelaki itu tepat di sebelah Elang. "Jagain temen kamu ini !" ucap Amelia pada kakaknya itu.


"aku sama Nayla mau cari makanan," lanjut Amelia seraya menarik Nayla untuk ikut dengannya. Elang tak bisa menolak karena adiknya itu segera pergi dengan calon istrinya.


"kenapa Mel ?" tanya Nayla pada Amelia yang terlihat kesal.


"Orang-orang pada sibuk bantuin eh dia asik kelayapan di antara para gadis !" sungut Amelia terdengar kesal.


"a-apa ?" tanya Amelia karena Nayla menatanya dengan tatapan mata penuh arti.


"kamu cemburu ?" tanya Nayla sambil tersenyum.


blush!


Pipi Amelia yang sudah berpoles make up terlihat lebih merah karena rona nya yang bertambah. "nggak ! oh my God.. tak mungkin aku cemburu, aku hanya tak ingin berbuat sesuatu yang norak dan memalukan," sahut Amelia beralasan.


"Pas kak Rafa lompat tinggi-tinggi tadi kelihatan keren loh, banyak gadis yang tiba-tiba terposona padanya," ucap Nayla dengan setengah menggoda.


"nah itu yang aku maksud ! apa dia tidak tahu tempat untuk melakukan sesuatu ? bersaing dengan gadis-gadis itu, sungguh memalukan !"


"Kak Rafa melakukannya untukmu, Mel" sahut Nayla.


"jangan macem-macem deh ,Nay. Dia kan emang konyol begitu,"


"Seriusan Mel, kayanya dia sengaja ngelakuin itu cuma buat kamu,"


"jangan sampai aku kesel sama kamu juga, Nay !" ucap Amelie sembari mengerucutkan bibirnya.


Nayla tertawa melihatnya. "ya udah, kita cari makan aja dan biarkan mereka berdua. aku juga udah kesel karena Elang nempel terus," keluh Nayla yang tak bisa bergerak bebas karena dirinya akan selalu berada dalam jangkauan mata Elang.


Elang akan selalu melihat padanya meskipun mereka terpisah. Dan lelaki jangkung itu akan langsung mendekatinya saat ia telah selesai berbicara dengan anggota keluarga atau tamu lainnya.


Seperti saat ini, mata Elang tengah memandangnya dari kejauhan. Memperhatikan apa saja yang dilakukan Nayla padahal saat ini Nayla berada dengan adiknya dan Elang pun tengah duduk bersama sahabatnya.


Nayla menjadi salah tingkah, tatapan mata Elang dari kejauhan membuatnya tak berdaya. Dan hingga detik ini Nayla masih sering merasa tak percaya jika lelaki starbak itu kini menjadi miliknya.


***


Acara demi acara pun telah dilalui dengan lancar dan meriah. Sebagian besar para tamu sudah meninggalkan hotel itu untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Yang tersisa di gedung itu hanya beberapa kerabat dekat dan keluarga. Juga ke 5 sahabat Bimo sejak jaman sekolah menengah pertama termasuk Nadia. semuanya tengah asyik berfoto-foto.


Tanpa malu-malu Elang memeluk tubuh Nayla dari arah belakang dengan begitu posesif.


"lihatlah mereka tampak bahagia," ucap Elang menunjuk pada pengantin yang tersenyum lebar pada kamera. Walaupun mereka kelelahan tapi binar rasa bahagia tak surut dari mata keduanya.


"aku ingin segera seperti mereka," lanjut Elang.


"Ingin segera menikah ? Tak lama lagi kita akan seperti itu. berdoalah agar semua berjalan lancar hingga waktunya," ucap Nayla.


"tentu saja aku selalu berdoa untuk kita berdua. Karena aku sudah tak sabar untuk terikat denganmu. Kamu satu-satunya gadis yang aku cinta dari masa remajaku hingga kini aku dewasa. Aku sudah tak sabar untuk hidup denganmu, Nayla," ucap Elang dengan begitu jelasnya.


to be continued


thanks for reading


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya