
Hari ini aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah lebih bersemangat dari hari-hari sebelumnya. Dengan hati riang mencari seragam sekolah yang paling bagus dari dalam lemari sambil mencoba menghubungi sahabatku Amelia, tapi selalu gagal karena nomornya yang tidak aktif.
Aku sedikit merasa khawatir tapi berusaha untuk berpikiran positif. Mungkin gadis itu lupa letak menyimpan ponselnya. Itulah yang aku pikirkan walaupun sebenarnya aku yakin itu tak mungkin karena Amelia tak bisa berjauhan dengan ponselnya.
Aku akan langsung bercerita tentang kejadian kemarin. Tentang Elang yang mencium bibirku untuk pertama kalinya, saat bertemu Amelia nanti.
"Nay, kamu mau masuk sekolah gak ?" Terdengar suara ibu yang diikuti oleh ketukan di pintu.
"Mau, Bu. Tunggu aku lagi siap-siap," jawabku.
Bukan tanpa alasan kenapa ibu bertanya seperti itu. Tadi pagi saat aku hendak melaksanakan ibadah sholat subuh, ibu mendengarku bersin-bersin. Sepertinya aku akan terserang flu karena aksi hujan-hujanan kemarin.
"Kemarin...." Gumamku sambil tersenyum pada bayangan diriku sendiri yang berada dalam cermin. Membayangkan kenangan manis yang terjadi di hari kemarin. Di mana Kak Elang memberiku ciuman pertama.
"Nay... Cepet kakakmu udah nunggu," lanjut ibu yang ternyata belum meninggalkan pintu kamarku.
"Ah ya, maaf !" Jawabku sembari menggunakan minyak wangi khusus bayi di setiap titik nadiku. Sebenarnya ibuku memberikan saran agar aku tidak masuk sekolah dan beristirahat di rumah saja. Tapi aku langsung mengatakan pada beliau jika aku baik-baik saja. Tak mungkin aku tak masuk sekolah setelah apa yang terjadi kemarin.
Aku memperhatikan tampilan diriku di dalam cermin sekali lagi sebelum aku pergi. Ku sisir rambut panjangku dengan rapi sambil beberapakali membenarkan model poni. Pokoknya hari ini aku harus terlihat sempurna di mata Kak Elang.
Setelah menyalami kedua orang tuaku, aku pun pergi ke sekolah diantar kakak laki-laki ku. Dadaku berdebar hebat saat aku melalui trotoar tempat aku dan Elang berdiri kemarin sore. Sungguh masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Setiap mengingat hal itu aku selalu senyum-senyum sendiri.
Setelah lima belas menit berkendara, akhirnya aku pun tiba di sekolah. Bel tanda masuk belum berbunyi karena masih ada waktu sekitar 20 menit lagi hingga waktu belajar di mulai.
Aku berjalan dengan riang menuju kelas, bahkan tanpa sadar aku melompat-lompat kecil seperti kelinci sambil menyanyikan lagu lawas berjudul First Love karena liriknya yang sangat sesuai dengan keadaanku sekarang.
Beberapa orang memandangku dengan tatapan aneh, tapi aku tak perduli. Yang aku tahu, aku sedang merasa sangat bahagia dan tak sabar untuk bertemu Kak Elang, laki-laki yang aku cinta.
Di depan pintu kelas ku lihat sahabatku Amelia sudah tiba lebih dulu dariku. Senyumku semakin lebar saat melihat kehadirannya. Rasa khawatirku lenyap sudah. "Meelllll !!" Teriakku sambil melambaikan tangan karena jarak ku saat ini dan tempat Amelia berdiri terpaut cukup jauh.
Gadis bertubuh tinggi dan berparas cantik itu membalas lambaian tanganku sambil tersenyum dari kejauhan. Dengan penuh semangat Aku berlari kecil menuju ke arahnya.
Amelia langsung berhambur memelukku saat aku tiba. Bagai seseorang yang melepas rasa rindu setelah sekian lama tak bertemu. Ku lihat matanya sedikit sayu. "Kamu kenapa ?" Tanyaku dengan rasa khawatir karena sepertinya Amelia habis menangis. Tapi gadis itu hanya menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.
"Apa karena kak Rafa ?" Tanyaku sambil berbisik agar tak ada seorangpun yang mendengar pembicaraan kami.
Raut wajah Amelia langsung berubah sendu. Seperti yang kuduga sebelumnya, aku yakin Amelia sebenarnya menyukai Kak Rafa walaupun gadis itu selalu menyangkalnya dan sepertinya dugaanku benar adanya.
"Do'a kan saja biar kak Rafa cepat sembuh," bisikku lagi.
"Idih siapa juga yang mikirin dia," sangkal Amelia. Tapi matanya yang terlihat mengembun tak bisa menyembunyikan perasaan gadis itu yang sebenarnya.
"Meelllll...," rengekku. Aku tak suka jika sahabatku menyembunyikan sesuatu dariku.
"Iih Nay... Kenapa sih kamu selalu tahu tentang aku ?" Tanya Amelia yang menarik tubuhku lagi untuk dipeluknya.
Aku tak berkata apa-apa lagi. Yang aku lakukan hanya membelai punggung sahabatku itu dengan lembut. Aku berusaha menenangkan juga memberikan semangat agar Amelia bisa lebih kuat.
"sekarang giliran kamu, Nay ! Kamu mau cerita apa ? Katanya ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan sama aku ? Apa sih ? Penasaran tahu !!" Tanya Amelia beruntun saat pelukan kami terurai.
"Maaf, kemarin HP aku mati dan baru aku nyalakan tadi pas datang ke sekolah," lanjutnya lagi seraya menjelaskan kenapa kemarin aku tak bisa menghubunginya.
"Mmm itu..," aku menggigit bibir bawahku karena merasa bingung harus mulai bercerita dari mana.
Amelia menungguku untuk bercerita dengan mata berbinar antusias. "Apaan sih Nay? Aku janji gak akan bilang-bilang," ucap sahabatku itu sembari mengacungkan jari kelingkingnya untuk ku tautkan dengan jari kelingkingku sebagai pertanda jika apa yang akan aku katakan ini akan menjadi rahasia kami berdua selamanya.
"Janji ya, Mel ?" Tanyaku dan Amelia menganggukkan kepalanya kuat-kuat.
"Sebenarnya El....,"
"Kak Elang udah jadian ya ??" Temanku Zia menyela pembicaraan kami dengan tiba-tiba. Aku membelalakkan mata karena tak percaya jika Zia sudah tahu lebih dulu.
"Apa Elang sudah mengumumkan tentang hubungan kami pada semua orang ?" Tanyaku dalam hati.
"Lihat aja ke belakang..." Bisik Zia.
Aku menggigit bibir bawahku dengan dada berdebar kencang tak karuan. Membayangkan Elang datang ke arahku dengan setangkai bunga mawar atau sekotak coklat berbentuk hati. Tak terbayangkan bagaimana reaksi siswa-siswi di sekolah ini nanti.
Perlahan tapi pasti ku putar tubuhku menyambut kedatangan sang pujaan hati yang terus memenuhi pikiranku.
Tubuhku langsung membeku saat melihat kehadiran kekasih hatiku di ujung lorong sekolah. Pandangan kami pun bertemu dan saling terkunci untuk beberapa saat. Lidahku terasa kelu, dan nafasku mulai memburu melihatnya berjalan ke arahku.
Elang tak sendirian, ia bergandengan tangan dengan seorang gadis yang saat ini mengenakan hoodie hitam kesayangannya. Hoodie hitam yang biasanya aku kenakan. Mereka berpegangan tangan dengan jemari saling bertautan.
Gadis itu mengumbar senyum saat banyak mata melihatnya dengan tatapan mata kagum. Pesona pasangan baru itu lebih menyilaukan mata daripada cerahnya sinar mentari di pagi ini.
Semua siswa melihatnya dengan tak percaya dan tak sedikit yang mengucapkan kata-kata selamat pada keduanya. Elang hanya terdiam, sedangkan gadis itu menanggapinya dengan senyuman terbaiknya.
Rasanya aku ingin mati saja saat melihat gadis itu menggenggam tangan Elang dan melingkarkan lengannya di bahu seolah si gadis merasa kedinginan. Elang pun menurutinya, ia merangkul mesra pundak gadis itu agar lebih mendekat ke arahnya.
Elang alihkan pandangan matanya saat ia akan melintas di hadapanku. Seolah-olah dia tak mengenaliku atau mungkin aku tak dianggapnya ada.
Vony si gadis beruntung itu lingkarkan tangannya di pinggang Elang saat ia tepat melintas di depanku. Ia tersenyum manis dan hangat padaku dan juga pada teman-temanku.
Tapi senyuman hangat gadis itu membuat tubuhku menggigil dan membuat aku menelan salivaku sendiri dengan susah payah. Aku juga mati-matian menahan air bening yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Lalu tiba-tiba saja ulu hatiku terasa ngilu luar biasa. Sungguh aku tak ingin percaya dengan apa yang aku lihat, tapi sialnya semua ini nyata.
Bel tanda masuk pun berbunyi dan para siswa pun mulai memasukki kelas mereka masing-masing, tapi tidak denganku.
Aku berlari sekuat tenaga menuju toilet khusus siswa dengan air mata bercucuran di pipiku karena lajunya sudah tak bisa ku tahan lagi.
"Naaayyy mau ke mana ? Masuk woooiiiii !!"
Entah siapa yah berteriak tapi aku tak sanggup untuk menolehkan kepala. Aku terus berlari menuju toilet dan dengan tergesa memasuki salah satu biliknya, lalu kemudian menguncinya dari dalam.
Aku dudukkan tubuhku di atas toilet sambil menangis tersedu memeluk tasku. Tubuhku bergetar dengan sendirinya.
"Kenapa kamu menciumku ? Jika kamu lebih memilih dia untuk menjadi kekasihmu,"
"Aku tahu jika aku tidak cantik, tapi bukan berarti kamu bisa mempermainkan hatiku,"
"Kenapa kamu biarkan aku memakai hoodie hitammu jika pada akhirnya kamu memberikannya pada gadis lain yang menurutmu lebih pantas,"
"Tak tahukah kamu ? Aku sangat suka kamu... Aku suka kamu... Aku suka kamu..., tapi kini kamu mematahkan hatiku"
Aku merasakan pergulatan batin yang luar biasa dengan tangis ku yang tak kunjung reda.
Sakit....
Itulah yang aku rasakan saat ini di dalam hatiku Tanpa berpikir lagi aku segera membuka tas sekolah untuk mencari ponselku. Aku langsung menghubungi nomor ibuku begitu aku menemukannya.
"Bu, Nayla sakit....," Ucapku dengan arti kalimat yang terdengar ambigu.
To be continued ♥️
Thanks for reading 🥰
Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚
Aku kabur dulu.....