
Selamat membaca
" setuju ! setuju sama Adin !! Nayla emang udah berusia 23 tahun tapi dia gak boleh berhubungan dengan pria lain !" ucap Bimo dan itu membuat nadia dan meta terheran mendengar ucapan bimo.
" sejak kapan Bimo menjadi peduli pada Nayla ?" tanya keduanya dalam hati. Meta dan Nadia saling beradu pandang.
" Lo sehat, Bim ? Bentar lagi lo mau kawin, masa iya mau ma adeknya Nadia" Tanya Meta yang kini melihat Bimo dengan terheran dan bertanya tanpa basa-basi.
" Gak gitu," sahut Bimo sembari menelan ludahnya paksa. " Maksud gue, Nayla harus hati-hati dalam memilih lelaki. Secara dia masih lugu sedangkan di Jakarta tuh cowok brengseek bertebaran," lanjut Bimo sembari menampakkan alasannya dan memang masuk diakal.
"Jangan nakutin deh Bim," ucap Nadia. Raut wajah khawatir tak bisa ia sembunyikan.
" Tapi gue rasa Nayla pasti bisa jaga diri." Meta berusaha untuk menenangkan sahabatnya itu.
" Emang ama siapa, Din ?" Tanya Bimo.
" Sama ponakannya klien Alex. Katanya Alex sih orangnya ' bersih '. Tapi kan gak tau juga ," jawab Nadia sambil mengaduk-aduk makanannya tanpa menyentuhnya sama sekali. Tiba-tiba saja ia merasa begitu khawatir pada Nayla.
***
Di tempat lain, Nayla duduk berhadapan dengan laki-laki yang kemarin menghabiskan waktu bersama dengannya. Rio tampak berbeda dengan pakaian kerjanya. Laki-laki itu mengenakan setelan jas berwarna gelap sangat kontras dengan kulitnya yang terang.
Rambut tersisir rapi dan wangi maskulin khas laki-laki dewasa menguar dari tubuhnya yang tinggi tegap walaupun tak setinggi Elang.
Penampilan Rio terlihat mempesona seperti seorang CEO muda. Setiap perempuan yang berpapasan dengannya pasti akan melihat 2 kali saking menarik perhatiannya Rio di mata mereka.
Nayla pun terlihat sangat anggun walaupun hanya mengenakan kemeja putih yang membelit tubuh rampingnya dengan sempurna di tambah rok pensil berwarna coklat kopi membuat kakinya yang jenjang terlihat begitu menggoda.
" Kamu cantik banget, Nay," puji Rio.
" Terimakasih," Nayla tersenyum menanggapinya.
Mereka pun memesan makan siang dan saling bercerita sembari menunggu pesanan tiba.
Rio bercerita tentang pekerjaannya sepanjang pagi hingga siang ini. Begitu juga Nayla. Laki-laki itu menatap Nayla dengan dalam setiap mereka berbicara membuat Nayla salah tingkah.
Tak lama pesanan keduanya pun tiba. Pelayan menatanya dengan hati-hati karena makanan yang disajikan masih sangat panas.
Nayla menarik nafas dalam dan berucap syukur dalam hatinya karena merasa terselamatkan oleh datangnya pesanan mereka. Akhirnya Nayla bisa menyelamatkan diri dari tatapan mata Rio yang dalam dan penuh maksud itu.
" Kamu suka ?" Tanya Rio.
" Hu'um suka,"
" Syukurlah kalau suka. Aku tahu tempat makan yang enak dan tempatnya nyaman. Kita bisa makan siang bersama lagi besok," kata Rio.
Nayla menelan makanannya dengan paksa. " Besok ?" Tanya nya sedikit ragu.
" Kenapa ? Besok kamu sibuk?" Tanya Rio.
" Mmmhhh belum tahu," ucap Nayla polos. Padahal ia berbohong pun Rio tak akan tahu.
Bukannya Nayla tak ingin pergi tapi rasanya terlalu cepat untuk bisa sedekat ini dengan laki-laki yang baru saja dikenalnya.
" Lalu kapan biasanya ?" Desak Rio.
" Nanti aku kabarin ya," ucap Nayla yang kini menundukkan kepalanya, kembali fokus pada makan siangnya,"
Wanita yang juga sama-sama sedang menikmati makan siangnya. Ia tersenyum penuh maksud pada Rio dan Rio pun membalas dengan cara yang sama.
Wanita itu membasahi bibirnya dengan seduktif, menggoda Rio.
Rio pun tersenyum simpul.
Tiba-tiba Rio alihkan kembali pandangannya pada Nayla karena gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Rio yang Nayla kira masih memperhatikan dirinya.
" Kamu gak makan ?" Tanya Nayla karena sedari tadi Rio belum juga menyentuh makan siangnya.
" Belum, aku asik liatin kamu makan," ucap Rio dan tentunya laki-laki itu berbohong.
Entah apa yang terjadi pada hati Nayla. Bukannya merasa terbawa perasaan, Nayla malah merasa jika ia mengkhianati laki-laki yang berjanji akan pulang untuknya.
Nayla hanya tersenyum kecil menanggapinya. Dan ia pun kembali menundukkan kepala, fokus pada makan siangnya.
Rio melihat dulu pada wanita yang duduk di belakang Nayla dengan tatapan mata penuh maksud. Lalu ia pun menikmati makan siangnya.
Setelah beberapa menit berlalu keduanya pun telah menghabiskan hampir seluruh makanan yang tersaji. Rio dan Nayla kembali mengobrol.
Nayla terkejut luar biasa saat tangannya yang berada di atas meja Rio raih ke dalam menggenggam tangannya
Secara refleks Nayla menariknya paksa tangannya. " Maaf," lirih Nayla nyaris tak terdengar.
" Ah.. aku seharusnya yang meminta maaf," sahut Rio.
" Maafin aku yang terlalu cepat bertindak karena kamu begitu menggemaskan, Nay. Sampai-sampai aku gak bisa alihkan mataku dari kamu," lanjut Rio.
Mendengar itu Nayla pun hanya tersenyum. Ia bingung harus melakukan apa dan sungguh ia merasa jika Rio berlebihan.
" Sebaiknya kita segera pergi, sudah jam setengah 2," ajak Rio.
" Ah iya, waktu istirahat sebentar lagi habis," Nayla pun memanggil pelayan guna membayar pesanannya.
" Mau split bill ( patungan) atau gimana ?" Tanya Rio.
" Biar aku saja yang bayar," Nayla segera mengeluarkan kartu debit miliknya.
" Oke, lain kali giliran aku ya," ucap Rio.
" Gak apa-apa. Kamu tak berhutang apapun padaku," sahut Nayla.
" gak mau !! pokoknya makan siang berikutnya giliran aku dan semoga saja kita bertemu secepatnya. aku seneng banget bisa habisin waktu sama kamu, Nay,"
lagi-lagi Nayla hanya tersenyum canggung menanggapinya.
Setelah menyelesaikan pembayaran. keduanya pun keluar dari restoran itu. Tapi saat akan mencapai pintu keluar Rio pun berpamitan sebentar karena kunci mobilnya ketinggalan.
Nayla menunggunya tepat di pintu keluar sembari memainkan ponselnya. Sedangkan Rio kembali ke mejanya yang tadi digunakan untuk makan siang atau lebih tepatnya ke meja sebelahnya di mana sang wanita yang tadi main mata dengannya berada.
" Hotel xxx jam 3 sore. Rio Adiguna," ucapnya singkat jelas dan padat
to be continued ♥️