
Elang terbangun dengan Nayla dalam pelukannya. Ia tersenyum penuh bahagia saat melihatnya. Ini adalah pagi terbaik bagi Elang, yaitu mendapati wanita yang paling dicintainya berada dalam pelukan saat ia membuka mata untuk pertama kalinya di hari itu.
Elang rapikan rambut Nayla yang sedikit menutupi wajah. Elang ingin melihat wajah Nayla dengan lebih jelas lagi dan berlama-lama menatapnya.
Rasa rindunya belum juga hilang padahal semalam ia pun telah berbagi peluh bersama dalam rasa cinta namun rasanya tak pernah cukup bagi Elang.
Ia tersenyum saat ia ingat dengan jelas masa-masa remajanya dulu. Saat ia jatuh cinta pertama kalinya pada Nayla dan perasaan itu tak pernah berubah sama sekali. Bahkan rasa cinta Elang semakin dalam dan kuat pada wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.
Elang ingat bagaimana senyuman Nayla terlihat lebih cerah dari sinar mentari pagi hingga membuat dirinya sangat terpesona. Nayla tak pernah tahu jika Elang akan ikut melengkungkan bibirnya saat melihat Nayla tersenyum dari kejauhan.
"Makin cinta kamu, Nay," bisik Elang seraya mendaratkan bibirnya di dahi Nayla dan menciumnya penuh rasa cint. Membuat istrinya itu menggerakkan tubuhnya pelan.
"Sssttt, tidurlah...," Ucap Elang yang tak mau membuat Nayla terbangun karena ia yakin jika istrinya itu sangat lelah karena ulahnya.
Belaian lembut tangan Elang di tubuh Nayla sepertinya percuma saja karena kini Nayla telah membuka matanya.
"Jam berapa ?" Tanya Nayla dengan suaranya yang serak khas bangun tidur.
"Masih pukul setengah 5 pagi. Maaf membuatmu bangun. Habis gemes gak bisa nahan buat cium kamu," jelas Elang.
"Gak apa-apa, aku juga harus bangun dan mandi," Sahut Nayla dan tentunya Elang paham maksud dari istrinya itu. Mereka harus bersuci sebelum menunaikan ibadah subuhnya.
Nayla hendak bangkit tapi Elang menahannya. "Tidurlah lagi, biar aku yang siapkan air hangatnya," ucap Elang.
"Nggak apa-apa,"
"Nurut, Nay ! Biar aku saja," potong Elang.
"Ta-tapi,"
"Sayaaang....," Ancam Elang dengan matanya membuat Nayla pun menurutinya.
Elang bangkit sedangkan Nayla kembali terbaring di atas kasur yang berada di ruang tv mereka. Elang tundukkan kepalanya dan kembali mencium dahi Nayla. "Cinta banget sama kamu, Nay," ucap Elang tanpa bisa menyembunyikan perasaannya.
"Aku juga... Sangat cinta sama kamu," sahut Nayla sembari tersenyum dan menatap mata Elang sama lembutnya.
***
Elang duduk di kursi yang berada di dapur kecil mereka. Sedangkan Nayla berdiri di dekat kompor sembari menyiapkan sarapan untuk Elang dan juga dirinya. Rambut keduanya sama-sama masih basah, se basah keadaan di luar karena hujan tengah turun dengan derasnya.
"Cuma ini gak apa-apa ya ?" Tanya Nayla saat ia menyajikan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai pelengkapnya.
"Aku belum belanja karena gak tahu kamu pulang lebih cepat," lanjut Nayla.
"Ini lebih dari cukup asal bersamamu," sahut Elang sungguh-sungguh. Ia tak sedang merayu. Yang Elang katakan adalah hal sebenarnya. Asal berada dekat dengan Nayla maka apapun lebih dari cukup untuknya.
Hanya Nayla yang bisa membuat Elang bahagia dalam kondisi apapun dan ia pun sadar jika dirinya tak bisa lagi berjauhan dengan istrinya itu.
"Nay...," Ucap Elang seraya meraih tangan Nayla dalam genggamannya dan menatap dalam mata istrinya itu.
"Hu'um ?" Tannya Nayla sembari menautkan kedua alisnya tak paham.
"Aku gak sanggup lagi hidup berjauhan dengan kamu," jawab Elang.
" Yang aku pikirkan hanya kamu seorang dan rasanya sangat sakit menahan rasa kangen yang semakin menjadi-jadi di setiap harinya," lanjut Elang.
"Lalu kita harus bagaimana ?" Tanya Nayla.
"Ikutlah denganku," ajak Elang.
" A- apa ?" Tanya Nayla tak percaya.
"Ikutlah denganku ! Aku akan menjagamu dengan sungguh-sungguh. Yang kulakukan semua ini hanya tentangmu. Kamu yang menjadi sumber semangatku. Dan untuk mu-lah aku bermimpi sukses di sepanjang hari. Jadi temani aku untuk meraihnya," jelas Elang penuh semangat dan Nayla mendengarkan dengan mata berbinar.
" Kamu boleh bekerja atau melanjutkan kuliah atau menjadi istriku saja tak masalah. Aku yang akan bekerja keras untukmu dan anak-anak kita nanti. Kita akan berpetualang bersama di hidup kita yang baru. Asal itu bersamamu, aku yakin aku bisa taklukan dunia," lanjut Elang masih dengan semangat yang berkobar-kobar.
"Nay.. maukah kamu ikut denganku ? Kita akan berpetualang bersama dalam suka dan duka. A- aku sangat membutuhkan kamu untuk selalu dekat dengan aku. Nay, aku-"
Nayla langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Elang. "Mau ! Aku mau !" Jawab Nayla sebelum Elang menyelesaikan kalimatnya.
"Aku akan ikut denganmu kemanapun kamu pergi karena aku pun sangat kesakitan menahan rasa rindu. Aku akan ikut kemana pun kamu terbang karena kamu adalah Elangku.. suamiku... Cinta mati ku," lanjut Nayla seraya mendudukkan tubuhnya di atas pangkuan Elang.
Mata Elang berbinar bahagia dan ia pun tersenyum lebar mendengarnya. "Aku lebih cinta kamu," sahut Elang. Lalu ia dekatkan wajahnya dan meraih bibir Nayla dengan bibirnya. Ia pagut bibir Nayla dengan penuh rasa cinta.
"Kita akan selalu bersama...," Ucap keduanya secara bersamaan dengan dahi saling menempel dan ujung hidung mereka yang bersentuhan pelan. Mata Elang menatap penuh rasa cinta begitu juga Nayla.
to be continue