The Unexpected Love

The Unexpected Love
Mabuk Kepayang



"Yaang...," rengek Rafa.


"pikir aja sendiri !!" jawab Amelia lagi dengan ketusnya. Ia semakin menenggelamkan tubuhnya di balik kain bedcover tebal.


Di dalam selimut itu Amelia merutuki dirinya sendiri yang tak mengepak barang keperluannya selama di hotel. Yang melakukan itu adalah Nayla dan Maminya. Hingga kini ia harus tidur dalam balutan gaun malam satin berhiaskan renda yang pastinya sangat menggoda.


"Yaa Allah... Rafa salah apa lagi ?" Ucapnya sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.


Ucapan Rafa membuat Amelia mengintip suaminya itu dari balik kain bedcover tebalnya. Lalu Amelia mencebikkan bibirnya karena kesal.


Padahal tadi dirinya sempat terbuai kata-kata cinta yang keluar dari mulut suaminya itu sampai kata ambulan dan Dora yang mengacaukan semuanya.


"Hiiihhh," kesal Amelia sembari menendang-nendang kakinya di atas ranjang. Bisa-bisanya ia terbuai rayuan cinta Rafa. Seharusnya ia tak usah berekspektasi tinggi bahwa sang suami akan serius mengeluarkan kata-kata cinta romantis. Rafa tetaplah Rafa, seorang pemuda yang seringkali bertingkah konyol.


Melihat sang istri yang masih kesal di dalam selimut membuat Rafa menyusulnya ke atas ranjang. Tapi sebelumnya ia mengambil kaos putih polos miliknya dari dalam koper.


"Sayangnya Rafa... Marah ya ? Maafin Rafa," ucap Rafa tulus pada istrinya itu.


Amelia tak bergeming, ia tak menjawab sama sekali. Dirinya masih bertahan di dalam belitan bedcover tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.


"Yang... Maafin Rafa... Kita baru aja nikah masa udah marahan lagi ?" Rengek Rafa.


"Lagian.... Ambulan sama Dora dibawa-bawa segala !!" Amelia tak bisa lagi menahan kekesalannya.


Setelah dipikir-pikir oleh Amelia sebenarnya apa yang dikatakan Rafa itu sangatlah lucu. Dan mungkin itulah ciri khas sang suami yang selalu bisa membuatnya tertawa.


Tuhan sudah memberikan pasangan terbaik untuknya. Si gadis judes dan lelaki konyol. Keduanya saling melengkapi kekurangan masing-masing dan menyempurnakan kelebihan yang mereka miliki. Amelia sadar reaksinya berlebihan dan ini pasti karena pengaruh dari masa PMS nya.


"Maksud Rafa, hidup Rafa tanpa Amelia tuh tak lengkap dan akan tersesat jika Amelia tak ada di sisi Rafa," jelas lelaki itu pada istrinya yang saat ini sedang merajuk marah.


"Bukan nyamain Ayang sama Dora apalagi sama ambulan," lanjut Rafa lagi seraya mengusap halus kepala Amelia sang istri.


"Iya aku tahu !" Sahut Amelia.


"Sayang, bangun dulu yu," bujuk Rafa.


Seketika Amelia menjadi was-was, Rafa menyuruhnya untuk bangun padahal ia tengah mengenakan baju minim bahan dan sedang datang bulan. Walaupun memang belum banyak mengeluarkan darah tapi tetap haram untuk melakukannya. Amelia pun menelan ludahnya dengan susah payah.


Amelia merubah posisi tidurnya menjadi menghadap pada suami itu tapi masih dengan kain bedcover yang menutupi tubuhnya. "aku udah bilang kan kalau aku datang bulan ?" Tanya Amelia sembari mengigit bibir bawahnya. Ia takut Rafa menginginkan haknya.


Rafa mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Mmmhh... Maaf... Ki- kita tak bisa melakukannya," ucap Amelia terbata-bata.


Rafa yang mendengar itu mengulum senyumnya. "Emangnya mau melakukan apa ?" Tanya Rafa dengan wajah jahilnya.


"Hah ? Mmmhhh nggak tahu," jawab Amelia dengan wajah semerah tomat.


"Kok gak tahu ?" Goda Rafa lagi.


"Awas ya ! Aku gak akan kasih nanti !" Ancam Amelia seraya memelototkan matanya. Menutupi rasa gugup yang menghampiri dirinya.


"Ampun Yang...," Rengek Rafa dan Amelia hanya mencebikkan bibirnya saja.


"Bangun dulu,"


"Nggak mau !!" Amelia semakin mengeratkan belitan kain tebal itu di tubuhnya. "A- aku malu," lanjutnya lagi dan tentunya Rafa paham mengapa istrinya itu merasa malu. Pasti karena gaun malamnya yang minim bahan hingga bagian tubuhnya yang biasa tertutup kini bisa terlihat dengan jelasnya.


Wajahnya cemberut dengan rambut panjangnya yang tak beraturan. Tapi itu tak mengurangi kecantikannya sedikitpun di mata Rafa sang suami.


Potongan baju malamnya yang rendah di bagian dada membuat dua bongkahan kenyal yang tak pernah terjamah itu menyembul seksii, memanjakan indra penglihatan suaminya. "Emang paling cantik jodohnya, Rafa," ucap Rafa sembari mencium pipi Amelia dengan gemas.


Si istri tak marah, ia hanya tundukkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum salah tingkah dan pipinya yang sudah kembali merona merah.


"Pakai ini dulu ya ?" Tanya Rafa.


Amelia pun mengangkat wajahnya dan melihat pada kaos putih polos yang hendak Rafa pakaikan padanya.


"Rafa gak mau kamu masuk angin dan juga kasian adik besarnya Rafa tersiksa semalaman lihat Ayang seksii begini,"


Amelia pun paham. Ia mengangguk menuruti perkataan suaminya itu.


Rafa pun memakaikan kaos polos miliknya pada sang istri. Ia memasukkannya melalui kepala dan Amelia menuruti saja saat Rafa memberikan instruksi.


Sebenarnya Amelia bisa memakainya sendiri tapi entah mengapa ia sangat senang karena Rafa yang melakukannya. Begitu juga Rafa yang sangat senang karena Amelia bermanja-manja padanya. Hal yang sangat jarang terjadi karena gadis judes itu biasanya selalu bersikap galak.


"Su-dah !" Ucap Rafa seraya mengeluarkan rambut panjang istrinya itu dari dalam kaos. "Sekarang sayangnya Rafa gak akan kedinginan lagi,"ucapnya sambil tersenyum.


"Terimakasih banyak," sahut Amelia dengan senyuman semanis madu dan membuat Rafa yang melihatnya mabuk kepayang.


"Ada imbalannya. Itu gak gratis !"


Amelia memajukan tubuhnya dan memberikan Rafa sebuah kecupan mesra di pipinya.


"Cup !"


Kecupan itu menimbulkan bunyi dan meninggalkan sedikit basah di pipi Rafa. Membuat Rafa membeku di tempatnya duduk sembari menyentuh pelan jejak ciuman Amelia. Dunia Rafa berhenti berputar untuk sesaat. Ia merasa tengah melayang-layang di antara awan putih. Kecupan singkat Amelia terlalu memabukkan untuknya.


Ini pertama kalinya Amelia mencium Rafa lebih dulu. Membuat Rafa merasa tak percaya. Gadis yang selama ini dicintainya, memberikan sebuah ciuman mesra. Rafa senyum-senyum sendiri dengan tatapan mata kosong.


"Ra-fa ?" Tanya Amelia seraya mengipas- ngipaskan tangannya di wajah suaminya itu agar ia kembali ke alam sadarnya.


"Sayang.... Jangan bikin aku takut !!" Ucap Amelia lagi.


Belum juga Rafa kembali ke dunia nyata, Amelia kembali membuatnya mabuk kepayang dengan memanggilnya dengan kata-kata 'sayang'. Ini pertama kalinya gadis itu memanggil dengan mesra pada Rafa membuat lelaki itu semakin tenggelam dalam eufori bahagia.


Bukannya tersadar, Rafa malah menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang hingga kini posisinya menjadi terlentang dengan senyuman yang tak surut dari bibirnya.


Hal mesra yang Amelia lakukan padanya membuat Rafa bahagia luar biasa. Ia masih merasa mabuk dalam euforia rasa cinta.


Sedangkan Amelia berusaha untuk menyadarkan suaminya itu sambil menepuk-nepuk pipi Rafa agar tersadar.


"Rafa... Sayang... Sadar... Kamu ini kenapa ???" Rengek Amelia terdengar cemas.


"Masa malam pertama ini, kita lalui dengan kamu yang kesurupan ?? Aku gak mau !!!" Lanjut Amelia sembari terus berusaha untuk menyadarkan suaminya yang sedang mabuk kepayang.


To be continued ♥️


Thanks for reading 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa