The Unexpected Love

The Unexpected Love
Mewujudkan Mimpi



" Jika aku hanya menganggapmu seorang adik saja kenapa aku selalu ingin melakukan ini kepadamu ?" Tanya Elang seraya menarik dagu Nayla dengan jempolnya, lalu ia membenamkan bibirnya di atas bibir Nayla dengan sempurna.


Nayla membulatkan matanya tak percaya. Ciuman Elang sangat berbeda dari delapan tahun yang lalu. Bibir kenyal Elang melu-mat dan menyesap bibir Nayla secara bergantian. Elang miringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman. Bahkan kedua tangannya menahan tengkuk Nayla agar gadis itu tak menjauh darinya.


Nayla tak membalas ciuman itu tapi ia juga tak menolaknya. Kedua lututnya telah lemas bagaikan jelly. Untungnya Nayla duduk di atas kursi hingga ia tak meluruhkan diri.


" Mmmhhh," erang Nayla saat lidah Elang berusaha menerobos masuk ke dalam bibirnya yang sedikit terbuka. Ia hendak menjauh tapi Elang tak melepaskannya sedikit pun. Elang berdiri dan mengangkat tubuh Nayla dalam pangkuannya. Masih dengan bibir yang saling bertautan keduanya berpindah ke atas sofa.


Elang baringkan tubuh Nayla di atas sofa, dan menindihnya rasa-rasa ( penuh perasaan). Elang tak ingin menyakiti gadis yang sangat dicintainya itu dengan bobot tubuhnya yang berat.


"Elaang.. ngh.." lenguh Nayla saat ia rasakan tubuh Elang menguasai dirinya. Dapat Nayla rasakan liatnya perut Elang yang masih terbalut kemeja.


Lenguhan Nayla membuat Elang semakin menggila. Lidahnya kembali melesak masuk ke dalam mulut Nayla dan membelai lidah Nayla dengan penuh tuntutan.


Nafas Elang menderu tak karuan, hasrat primitifnya sebagai pria dewasa kian tersulut. Sedangkan Nayla, ia membalas ciuman Elang dengan susah payah. Matanya terpejam dan kepalanya terasa pening luar biasa. Rasa nikmat dan juga tak percaya bercampur aduk dalam dirinya.


Tangan kekar Elang mulai bergerilya. Tangan itu membelai lengan, pinggang, dan merambat naik ke dua benda kenyal Nayla yang tak pernah terjamah siapa pun.


" Arghhh...,"


Nayla dan Elang mengerang bersamaan saat Elang meremas gemas salah satu benda kenyal milik Nayla. Kegiatan ini adalah yang pertama kali bagi keduanya.


Hanya meremasnya saja membuat Elang semakin tersulut hasrat. Inti tubuh Elang yang menggeliat hidup bisa Nayla rasakan di atas perutnya.


Sontak mata Nayla langsung terbuka. " Ja-jangan Elanghh," rintih Nayla saat kesadarannya kembali.


Elang yang mendengar itu langsung menghentikan cumbuannya. Ia menarik tubuhnya dengan tergesa dari atas tubuh Nayla.


Elang dudukkan tubuhnya tepat di sebelah Nayla yang masih terbaring dengan wajah merona merah dan bibir bengkak juga basah karena ulahnya.


" Ma-maafin aku Nay," ucap Elang dengan nafas menderu tak teratur. Matanya yang coklat karamel itu masih berkabut hasrat. Susah payah Elang mengatur nafasnya sendiri.


Nayla pun segera tegakkan tubuhnya di atas sofa. Ia benarkan kain kemejanya yang sempat tersingkap karena ulah Elang. Rambut panjangnya terlihat berantakan tapi itu tak mengurangi kecantikannya di mata Elang. Dengan susah payah Nayla menelan ludahnya, dan berusaha untuk mengatur nafasnya yang masih memburu tak karuan. Nayla merasa bingung setelah ini ia harus bagaimana berhadapan dengan Elang.


Hening...


Keduanya tak saling bicara karena masih terkejut dengan kejadian yang baru saja mereka lewati bersama. Berciuman dengan begitu panasnya.


Kali ini ciuman Elang tak hanya saling menyentuhkan bibir saja, ciuman kedua Elang sama persis dengan adegan film romantis yang pernah Elang tonton, malah lebih dari itu. Adegan tadi menjurus ke kegiatan panas orang dewasa.


Diam-diam Elang mengulum senyumnya karena ia wujudkan mimpinya untuk menjadi ciuman kedua bagi Nayla dan kali ini dengan sangat panas melampiaskan rasa cinta dan rindunya yang membuncah.


Elang melirik Nayla dengan ujung mata. Gadis itu duduk dengan kedua tangan saling meremas di pangkuannya. Elang tahu jika Nayla tengah merasa gugup setelah apa yang Elang lakukan padanya.


Elang pun kembali bangkit dari duduknya dan seperti tadi, Elang berlutut di hadapan Nayla. " Nay... Maafin aku.. please..," ucap Elang seraya membawa kedua tangan Nayla dalam genggamannya.


Nayla mengigit bibir bawahnya dengan gugup, ia balas tatapan Elang dengan matanya yang sayu.


" Maafin aku yang tak bisa menahan diri. Bayangkan saja, 8 tahun aku menahan ini semua. Dan percayalah... Ini adalah yang pertama kali aku melakukannya. Hanya sama kamu Nay...," Lanjut Elang penuh mohon.


Nayla masih terdiam, ia tak tahu harus mengatakan apa pada Elang.


Melihat Nayla hanya terdiam saja membuat Elang merasa tak enak hati. " Kamu marah sama aku ,Nay ?" Tanya Elang cemas.


Nayla menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


" Terus kenapa diam saja ? Kamu kecewa dengan apa yang aku lakukan padamu ?" Tanya Elang lagi.


" Maaf Nay... Aku benar-benar tak bisa menahan diri. Aku benar-benar menantikan ini bertahun-tahun lamanya. Menciummu dengan menunjukkan semua perasaanku," ucap Elang.


Bagaimana bisa Elang menahan dirinya. Selama ini Nayla selalu menjadi imajinasinya sebagai pria dewasa. Elang kini sudah berusia 25 tahun. Ia bisa bertahan dari godaan banyak wanita cantik saat dirinya berada di luar negeri.


Tapi saat bertemu dengan gadis yang selalu menjadi khayalannya membuat Elang tak sanggup lagi menahannya.


Elang bersyukur Nayla menghentikan aksinya. Jika tidak Elang pasti akan menyesal karena telah merusak gadis yang sangat berharga untuknya itu.


Elang menciumi punggung tangan Nayla sebagai tanda penyesalan. Rambutnya yang se-coklat madu bergerak-gerak ketika Elang melakukannya. Membuat Nayla menjadi gemas.


Nayla mengulum senyumnya, ia masih tak percaya jika Elang menjadi ciuman keduanya. Dan lihatlah sekarang laki-laki yang biasanya bersikap dingin itu, kini bermanja-manja dengannya.


" Maafin aku ya, Nay," ucap Elang seraya menatap dalam mata Nayla. Ia meminta maaf entah untuk yang ke berapa kalinya. Laki-laki jangkung itu benar-benar nenyesali perbuatannya.


Nayla pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


" Aku suka kamu, Nay. Aku sayang kamu, aku cinta kamu," ucap Elang dengan jelasnya.


Membuat Nayla menitikkan air matanya.


Bagaikan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan, pada akhirnya Nayla bisa mendengar kata-kata sakral itu dari mulut Elang sendiri. Kini ia yakin jika yang terjadi di masa remajanya adalah sebuah kenyataan.


Baru saja Nayla akan membalas pernyataan cinta Elang, tapi ponselnya yang berada dalam tas Nayla berbunyi dengan kerasnya.


Keduanya sama-sama menoleh ke arah suara. Dana ponsel itu terus berbunyi walaupun Nayla tak menjawab panggilannya.


" Sepertinya penting," ucap Elang sembari berdiri dan berjalan ke arah meja di mana tas Nayla berada. Ia membawakan tas itu pada Nayla.


Nayla merogoh ponselnya yang berada di dalam tas. Ia melihat nama Rio terdapat dalam layarnya.


Tak hanya Nayla tapi Elang juga melihatnya. Raut wajah Elang berubah dingin dengan tatapan mata tajam seperti pemburu pada buruannya.


Nayla melihat pada Elang sebelum ia menjawab panggilan yang tak kunjung berhenti itu.


Pada akhirnya Nayla pun menjawabnya dengan takut-takut. " Ha-halo," ucap Nayla terbata-bata.


" Halo sayang, aku di bawah di lobi apartemen kamu. Kita makan malam bersama. Aku boleh naik ya ?" Kata Rio di ujung telepon.


to be continued ♥️


terimakasih untuk yang sudah memberikan vote


loph yuuuu