The Unexpected Love

The Unexpected Love
Jawaban Amelia



" Dan mengenai Rafa, sejauh ini ia adalah lelaki terbaik yang bisa Papi pilihkan untuk menjadi suami kamu. Menurut Papi, Rafa hampir sempurna dalam syarat-syaratnya sebagai calon suami. Oleh karena itu, Papi nyatakan untuk menerima lamarannya padamu," ucap Papi Amelia tanpa ragu.


"Apa ?" Amelia bergumam pelan tak percaya, sedangkan tak jauh darinya Rafa tengah tersenyum lebar dengan wajah sumringah bahagia. Lelaki itu menatap Amelia dengan matanya yang berbinar penuh cinta.


"Papi terima lamaran Rafa untuk menikahimu. Bagaimana ? Kamu juga bersedia untuk menerimanya bukan ?" ulang sang Papi dan itu membuat Amelia harus menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.


Amelia edarkan pandangannya dengan rasa cemas, menatap semua orang yang kini sedang memandang dirinya dengan penuh harap. Mereka berharap Amelia mau menerima lamaran Rafa.


Ia melihat pada ibunya yang terlihat bahagia karena lamaran Rafa. Lalu Amelia juga melihat pada Nayla yang memberi dukungannya dari kejauhan. Gadis itu tersenyum penuh arti dengan lengan Elang yang merangkul mesra pundaknya.


Lalu mata Amelia beradu pandang dengan sang kakak, Elang. Ia teringat sumpahnya tadi malam untuk menerima siapapun yang melamarnya agar ia tak lagi mengganggu kehidupan pernikahan Nayla dan Elang yang baru berjalan 3 hari itu.


Itu semua ia lakukan dalam keadaan emosi tapi sepertinya Tuhan langsung mengabulkan permintaannya.


Mata Amelia kini beralih pada Rafa. Lelaki yang telah mencuri rasa cintanya disaat-saat remaja itu dan kini datang untuk melamarnya.


Rafa menatap teduh penuh mohon pada Amelia, begitu juga sang bunda yang duduk di sebelahnya. Ia sangat tahu jika anak lelaki semata wayangnya itu sangat mencintai Amelia sejak ia remaja. Beliau berharap Amelia mau menerima pinangan anak lelaki satu-satunya itu


"Amelia ?" Tanya Papi Alan pada anak gadisnya itu. Ia membutuhkan jawaban Amelia secepatnya.


Amelia menarik nafas dalam. Dadanya berdebar kencang tak karuan, dengan bibir bergetar ia berkata. "A-aku terima la-lamaran, Kak Rafa," ucapnya pelan hampir tak terdengar.


Ia mengatakan itu dengan kepala tertunduk sembari menatapi dua telapak tangannya yang saling meremas satu sama lain karena saking gugupnya


"Apa Mel ? Bisa ulangi ?" Tanya Sang Papi. Ia tak begitu yakin dengan apa yang didengarnya.


Amelia mengangkat wajahnya dan menatap lurus pada ayahnya itu. "A-aku terima pinangan, Kak Rafa," jawabnya dengan sangat jelas membuat semua orang yang berada di sana bisa bernafas dengan lega terutama Rafa.


"Alhamdulillah yaa Allah... Terimakasih sudah mengabulkan segala do'a Rafa," ucap Rafa seraya menengadahkan tangannya lalu mengusapnya pada wajah membuat yang melihatnya tertawa.


Sedangkan tepat di seberangnya Amelia hanya tersenyum canggung saat ia melihat tingkah laku lelaki yang akan menjadi suaminya. Ia memandang Raffa yang tersenyum-senyum dengan mata berbinar bahagia.


Lalu Papi Amelia pun meneruskan pembicaraannya bersama kedua orang tua Rafa mengenai rencana pernikahan anak-anak mereka.


Kedua belah pihak setuju jika pernikahan itu diadakan dalam 6 bulan mendatang tapi Rafa ingin mempercepatnya. Bukan karena ia sudah tak bisa menahan hasratnya, tapi ia takut jika Amelia berubah pikiran.


Mood atau suasana hati gadis judes itu bisa dengan mudahnya berubah dan Rafa tak ingin itu terjadi. Oleh karena itulah Rafa menginginkan pernikahannya dengan Amelia untuk dipercepat menjadi 3 bulan mendatang.


Amelia ingin protes tapi Rafa dengan keahliannya berbicara bisa meyakinkan kedua orang tua Amelia dan juga orangtuanya sendiri untuk menyetujui usulannya.


Pada akhirnya kedua belah pihak setuju jika pernikahan Rafa dan Amelia akan berlangsung dalam 3 bulan mendatang dan akan diadakan di kota Jakarta.


Setelah keputusan besar di ambil. Kedua belah pihak keluarga pun beramah tamah dengan menikmati aneka macam kue dan minuman yang telah disediakan.


"Selamat Amelia sayang," ucap Nayla yang langsung menarik tubuh sang sahabat dalam pelukannya.


"Nay, kamu tahu tentang rencana ini gak sih ?" Tanya Amelia penuh dengan rasa curiga.


"Nghh..," Nayla bergumam cemas.


"Naaaaay," desak Amelia sembari memelototkan matanya.


"Awalnya aku tidak tahu, sumpah ! Tapi tadi pagi saat kamu mandi aku baru di kasih tahu jika kak Rafa akan datang untuk melamarmu,"


"Tahu dari Elang ?" Potong Amelia.


"Tahu dari Mami. Sebenarnya Rafa sudah mendatangi Mami dan Papi kamu sebanyak dua kali. Ia benar-benar serius ingin menikahimu, Mel. Dan Papi kamu mengatakan pada Rafa untuk datang secara formal dengan kedua orangtuanya setelah aku dan Elang resmi menikah," jawab Nayla.


"Ah pantas saja saudara-saudara ku masih tinggal di rumah dan Mami begitu bersikeras agar Elang dan kamu untuk segera pulang ke rumah. Dan pantas saja Omah memberiku gaun satin ini," ucap Amelia seraya membayangkan apa saja yang dilaluinya beberapa hari terakhir ini.


"Aku ikut bahagia, Mel. Aku yakin kak Rafa sangat mencintaimu. Dia akan menjagamu dengan sungguh-sungguh," sahut Nayla tulus.


"Doakan saja agar Rafa memang jodoh yang terbaik untukku," ucap Amelia seraya menatap pada lelaki yang sedang tersenyum lebar bersama Elang. Ia tak sadar jika Amelia tengah memperhatikannya.


"Selamat,Fa !" Ucap Elang seraya bersalaman dengan gaya yang khas dengan Rafa. Gaya yang mereka lakukan sejak SMA. Dan tanpa ragu, Elang menarik tubuh sahabat yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya itu kedalam pelukannya.


"Terimakasih Kakak ipar," balas Rafa seraya membalas pelukan Elang dan menepuk-nepuk punggung lelaki jangkung itu.


"Gak sia-sia ya hasil babak belur, gue," bisik Rafa saat ia teringat bagaimana perjuangannya untuk menemui Amelia setelah 8 tahun lamanya mereka terpisah. Waktu itu, gadis pujaannya sedang bekerja sebagai dokter jaga di instalasi gawat darurat pada malam hari.


Elang pun tertawa mendengarnya. Tapi tawa Elang hilang saat ia berbisik pada sahabatnya itu. "Jagain adek gue baik-baik. Kalau lo nyakitin dia sedikit saja, Lo berhadapan dengan gue," ucap Elang dengan sangat jelasnya.


"Gue sayang banget sama adek lu, El. Lo jangan khawatir... Gue akan jaga dia dengan sekuat tenaga," balas Rafa.


Elang pun tersenyum lega saat mendengarnya dan ia yakin jika Rafa adalah pasangan yang paling pas untuk sang adik.


Rafa pun berjalan dan menghampiri Amelia yang sedang mengobrol dengan Nayla dan salah satu sepupu Rafa. "Mel, bisa bicara sebentar?" Tanya Rafa.


Amelia pun tolehkan kepalanya ke arah Rafa. "Tentu, kita bisa bicara di-"


"Berdua saja," potong Rafa cepat.


"Oh, baiklah kita bisa bicara di taman belakang," Amelia pun berdiri dan mengajak Rafa untuk mengikuti langkah kakinya.


"Awas jangan macem-macem dulu,Fa," ucap sang sepupu mengingatkan.


"Elah mau ngobrol doang kok," sahut Rafa malas.


Rafa pun berjalan tergesa, mencoba mengimbangi langkah Amelia yang telah lebih dulu melangkahkan kakinya menuju taman belakang.


Amelia membuka pintu kaca yang memisahkan taman dan bagian dalam rumahnya. Di sana terdapat berbagai macam jenis tanaman hias yang tumbuh dalam pot dan sebuah kolam renang yang cukup besar. Lalu ada dua bangku dan satu meja yang bisa digunakan untuk bersantai.


Amelia pun duduk di salah satu kursi dan disusul oleh Rafa di kursi yang lain hingga kini keduanya duduk dengan saling berhadapan.


"Ini untukmu," tanpa basa-basi Rafa mengeluarkan sebuah kota beludru berwarna biru tua yang di dalamnya terdapat sebuah kalung di dengan liontin yang bermatakan berlian.


Batu berlian itu memancarkan kilaunya yang indah dan membuat Amelia terpesona untuk beberapa saat. "A-apa ini ?" Tanya Amelia terbata-bata. Hari ini Rafa selalu membuat Amelia mudah gugup.


"Ini kalung dan juga liontinnya," jawab Rafa.


"Iya ! Aku tahu ini sebuah kalung! Maksud aku tuh, ini buat apa ?" Sahut Amelia dengan nada sedikit kesal. Tentu saja ia tahu jika itu adalah sebuah kalung dengan liontin berlian. Amelia hanya ingin tahu maksud Rafa memberikan kalung itu padanya.


"Ohh..," gumam Rafa sambil nyengir kuda. Tiba-tiba saja ia selalu bertingkah konyol jika berada di hadapan gadis yang disukainya itu.


"Kalung ini aku beli saat pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota cinta yaitu Paris. Hal pertama yang terlintas di kepalaku saat berada di sana adalah kamu," jelas Rafa. Dan Amelia mendengarkannya dengan seksama.


"Saat teman-temanku yang lain bersantai di cafe-cafe pinggir jalan yang menjadi icon kota tersebut. Aku melangkahkan kakiku ke dalam toko perhiasan dengan uang pas-pasan. Mataku langsung tertuju pada kalung ini dan terbayang wajahmu yang sedang mengenakannya,"


"Apa ?" Gumam Amelia tak percaya.


"Dengan sangat percaya diri aku mengatakan pada pelayannya bahwa kalung ini akan aku berikan pada gadis bernama Amelia saat kami akan menikah nanti," jelas Rafa.


"Si pelayan itu bertanya 'kenapa harus nanti ?"


"Karena aku belum menemukannya lagi setelah berpisah 5 tahun lamanya. Ya.. kalung berlian ini aku beli 3 tahun lalu saat aku mencarimu, Amelia,"


Amelia yang mendengar itu menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.


"Sang pelayan sangat terharu dengan apa yang aku katakan hingga ia memberikan harga khusus yang jumlahnya sama dengan uang tabungan yang aku punya," lanjutnya Rafa lagi.


"Aku membelinya tanpa rasa ragu sedikitpun, aku yakin hari ini akan tiba dan aku sangat bersyukur karena Tuhan mengabulkannya,"


Mata Amelia menjadi basah saat ia mendengar kata-kata dari calon suaminya itu.


"Amelia, aku cinta kamu... Sangat cinta sama kamu... Terimakasih sudah mau menerima pinangan ku," ucap Rafa seraya menatap teduh pada gadis yang duduk di hadapannya.


Amelia tak bisa berkata-kata, ia hanya terdiam seraya mengatur nafasnya yang tiba-tiba saja memburu karena debaran jantungnya yang kian menggila.


"Aku pasangin, boleh ya ?" Tanya Rafa. Dan Amelia pun mengangguk pelan.


Rafa berdiri dan berjalan mendekati Amelia. Ia mengeluarkan kalung berlian itu dari kotaknya dan memasangkannya di leher jenjang Amelia.


Rafa meraih tangan Amelia untuk berdiri menghadapnya. Ia ingin melihat gadisnya itu saat mengenakan kalung pemberiannya. "Cantik... Malah lebih cantik dari yang pernah aku bayangkan," puji Rafa tanpa bisa menyembunyikan rasa kagumnya.


"Satu lagi sumpahku di hari itu yang belum menjadi kenyataan tapi sebentar lagi akan tercapai,"


"Apa ?" Tanya Amelia takut-takut.


"Aku bersumpah akan datang ke kota cinta itu dengan kamu sebagai isteri ku,"


to be continued...


Thanks for reading


jangan lupa tinggalkan jejak yaaa


terimakasih