
"Uummm, mungkin karena digigit serangga," sahut Nayla sekenanya dan itu semakin membuat Elang terkekeh geli di belakang mereka.
" Masa sih, Nay ?" Tanya Rio berkerut alis tak percaya.
" Hu'um, serangga yang akan segera aku basmi," lanjut Nayla.
Apa yang Nayla ucapkan membuat Elang menghentikan tawanya dan melihat dingin pada gadis itu. Ia tak terima dianggap sebagai serangga yang perlu di basmi.
Nayla sadar jika Elang tengah menatapnya tajam. Laki-laki jangkung itu marah padanya. " Bohong deng ! Sebenarnya aku alergi dingin dan kadang jadi bengkak gini. Atau timbul ruam-ruam merah di kulit," jelas Nayla.
Rio masih setengah percaya pada penjelasan Nayla. Sebagai pro player tentunya dia curiga jika bibir bengkak Nayla diakibatkan ciuman yang intens tapi mengingat jika Nayla adalah gadis yang belum pernah berpacaran membuat Rio tak curiga ke arah sana.
Sebelum resmi berpacaran, Rio sudah mencari tahu latar belakang Nayla dan cerita masa lalunya. Karena cerita cinta Nayla yang selalu mengalami kegagalan membuat gadis itu tak memiliki track record soal pria.
Dan selama satu bulan terakhir ini pun hanya dirinya yang dekat dengan Nayla membuat laki-laki itu menjadi tak curiga.
" Mau ke apotik dulu ?" Tanya Rio.
" Nagapain?" Nayla balik bertanya. Rupanya ia lupa telah menceritakan alergi palsunya tadi.
Rio berkerut dahi, " beli obat buat alergi kamu," ucapnya.
" Oooh itu... Gak usah, aku punya kok obatnya. Mending cepat pergi yu, aku gak bisa lama-lama," ucap Nayla.
Rio berusaha untuk merengkuh pinggang Nayla. Tapi seperti tadi, Nayla akan menjauh dari tubuhnya. Menciptakan jarak di antara keduanya.
Akhirnya Nayla memilih untuk membeli makan malam di warung tenda yang tak jauh letaknya dari apartemen.
Nayla duduk berhadapan dengan Rio. " Gak apa-apa makan di tempat seperti ini ?" Tanya Rio. Karena biasanya ia akan membawa para kekasihnya ke tempat makan mewah.
" Gak apa-apa, ini salah satu tempat makan favorit aku. Nasi goreng seafood nya juara loh," ucap Nayla.
Mata Nayla beradu pandang dengan seorang laki-laki bermata coklat karamel. Ia pun menelan ludahnya paksa saat melihat Elang memasuki warung tenda yang sama dengannya.
Elang memilih duduk tepat di belakang Nayla hinga punggung mereka saling bertolak belakang. Hal yang selalu Elang lakukan dulu jika ia ingin mencuri dengar pembicaraan Nayla di kantin.
" Sayang, kamu mau pesan apa ?" Tanya Rio dan itu membuat Elang yang mendengarnya meradang. Ia kepalkan tangannya menahan rasa cemburu yang siap meledak.
" Aku pengen nasi goreng seafood dan teh tawar hangat aja," jawab Nayla cepat. Bahkan ia tak membaca buku menu terlebih dahulu. Nayla ingin segera menyudahi makan malam mencekam ini.
Bagaimana tidak mencekam. Di bawah meja jemari Nayla, Elang genggam. Semakin Nayla berusaha melepaskan semakin erat Elang menautkan.
" Sebaiknya kamu langsung pesan ke abangnya, biar gak nunggu lama,"
" Oh oke," Rio pun berdiri dan berjalan menuju penjual nasi goreng itu. Tenda yang dimilikinya memang cukup besar dengan banyak meja kursi di dalamnya.
" Sekali lagi dia manggil kamu 'sayang' , akan aku tarik lidahnya keluar, Nay !" Ucap Elang geram sembari menolehkan kepalanya dan berbisik pelan pada Nayla.
Nayla memutar bola matanya malas, ia tak bisa melakukan apa-apa karena di depan sana Rio beberapa kali melihat ke arahnya.
" Lepasin tangan aku," desis Nayla dan ia akan tersenyum canggung saat Rio melihat ke arahnya.
" Boleh, tapi kita langsung pulang," Sahut Elang.
Nayla menghempas tangan Elang dengan sekuat tenaga hingga tautan jemari mereka terlepas. Nayla tak ingin Rio melihatnya dan terjadilah keributan.
" Hebat ya Nay ! Baru sehari punya pacar tapi udah selingkuh lagi," batin Nayla dalam hatinya.
Dan lucunya lagi yang menjadi selingkuhan Nayla adalah lelaki yang sebenarnya ia cintai di seluruh hidupnya.
Sedangkan Elang, ia duduk terdiam dengan dada sesak tak karuan. Ia tengah dilanda rasa cemburu yang luar biasa. Dalam benaknya, Elang berpikir. " Beginikah perasaan Nayla saat aku dengan Vony dulu ?"
" Aku sakit, Nay ! Apa dulu kamu juga merasakan sakit hati ?" Tanya Elang dalam hati.
Elang turunkan tangannya, mencobanya untuk meraih jemari Nayla tapi ternyata gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas meja.
" Siaalll," maki Elang kesal.
Nayla kini berani memberontak tak lagi diam pemalu seperti dulu.
Tak lama Rio pun datang, ia dudukkan tubuhnya tepat di hadapan Nayla. Matanya memperhatikan seseorang yang duduk tepat di belakang gadisnya itu.
" Kenapa ?" Tanya Nayla takut-takut.
" Gak apa-apa, tapi kayanya kita kebetulan barengan terus sama cowok yang ada di belakang kamu," jawab Rio dan itu membuat Nayla semakin gugup saja.
" Tetangga kamu, Yang ?" Tanya Rio.
Elang menarik nafas dalam saat mendengar Rio memangil Nayla dengan kata sayang. Ia pun segera bergerak untuk berdiri namun Nayla lebih dulu menyadarinya.
" Rio, aku... Aku geli banget dipanggil sayang-sayang.. mungkin karena gak biasa," ucap Nayla berusaha meredam kemarahan Elang.
" Terus mau aku panggil apa ? Baby ? Love ? Cinta atau apa ?"
Rio tersenyum kecut. Ia merasa sangat sulit untuk mendekati Nayla padahal kini mereka telah resmi berpacaran.
" Tapi nanti boleh berubah kan panggilannya ?" Tanya Rio.
Nayla hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
Makan malam pun tersaji, keduanya menikmati makanan itu sambil mengobrol ringan tentang pekerjaan dan selama itu berlangsung Elang tak sekalipun mengalihkan perhatiannya. Ia terus berjaga-jaga waspada. Elang takut laki-laki itu berbuat sesuatu yang buruk pada gadisnya.
30 menit kemudian, makan malam Nayla pun telah selesai. Setelah mengobrol sebentar dengan Rio, mereka pun memutuskan untuk pulang.
Begitu juga Elang yang berjalan di belakang mereka. Mata tajam Elang tertuju pada Rio. Ia akan langsung menarik tubuh Nayla jika laki-laki itu berani macam-macam.
" Beneran gak usah aku bantuin?" Tanya Rio saat mereka telah tiba di lobi apartemen. Sedangkan Elang berdiri sedikit jauh dari keduanya. Elang tengah berbicara dengan pekerja yang berada di apartemen itu. Tapi meskipun begitu Elang tak mengalihkan perhatiannya dari Nayla.
" Iya, karena aku lebih suka mengerjakannya sendiri," jawab Nayla.
Beberapa kali Rio berusaha membujuk Nayla agar ia bisa berkunjung ke apartemennya, tapi sebanyak itu pula Nayla menolaknya dengan halus. Pada akhirnya Rio pun menyerah yang membiarkan Nayla untuk pulang ke unit apartemennya sendirian sedangkan ia berjalan gontai menuju parkiran.
Tanpa Rio ketahui, Elang menyusul Nayla masuk ke dalam lift dan mereka pun naik bersamaan menuju apartemen Nayla.
Seperti sebelumnya, Elang yang membuka pintu unit apartemen Nayla dengan memasukkan 6 kode digit kombinasi angka yang merupakan tanggal pertama kali mereka berciuman 8 tahun yang lalu.
Elang membukakan pintu untuk Nayla masuki. " Jadi aku ini serangga, huh ?" tanya Elang seraya merengkuh pinggang Nayla dengan begitu posesif hingga merekat padu tubuh mereka.
" Se-serangga ?" Tanya nayla terbata-bata karena kini jarak keduanya teramat sangat dekat yang memisahkan mereka hanya pakaian saja.
" Kamu bilang sama dia bibirmu bengkak karena serangga," jawab Elang sembari mencium bibir Nayla dengan sekilas.
Walaupun hanya sebentar saja tapi mampu membuat tubuh Nayla menggigil seketika.
" Nay... Aku gak suka melihat kamu sama dia, masa kamu terang-terangan selingkuh depan aku," ucap Elang.
" Hah ?"
" Nay... I love you, so.. much... Jadi please... Jauhin dia dan kita mulai hubungan ini dengan benar,"
" Ta-tapi," ucap Nayla terbata-bata.
" Apa aku harus jauhin dia dari kamu kaya yang lainnya ?" Tanya Elang yang tak sadar dengan ucapannya.
" Yang lainnya ?" Nayla berkerut alis tak paham. " Apa maksud kamu yang lainnya?" Tanya Nayla.
Tiba-tiba saja Elang berubah gugup, lidahnya kelu tak bisa berkata-kata.
" Apa selama ini ada campur tangan kamu di setiap laki-laki yang menjauh dariku?" Tanya Nayla dengan nada suara sedikit meninggi.
" Aku lakukan semua karena aku gak mau kamu jadi milik laki-laki lain, Nay," jawab Elang padahal tadinya dia ingin mengelak tapi entah kenapa dirinya tak bisa berbohong.
" Jahat banget kamu, El...," Ucap Nayla sembari berontak melepaskan diri dari dekapan Elang.
" Selama ini aku selalu merasa tidak percaya diri karena setiap lelaki yang mendekatiku akan pergi menjauh tanpa alasan yang pasti. Aku merasa diriku tak pantas untuk dicintai dan itu membuatku sangat tersiksa,"
" Arya, Maxi, Dani, Arga, apa semua menjauhi aku karena mu ?" Tanya Nayla sembari menyebutkan nama-nama pria yang pernah dekat dengannya di waktu sekolah dan kuliahnya dulu.
Elang diam tak menjawab, ia tahu Nayla tengah marah padanya.
" Jawab aku ! Apa semua menjauhi aku karena kamu ?" Tanya Nayla lagi.
" Aku lakukan itu semua agar kamu tidak dimiliki laki-laki lain, Nay. Sudah kukatakan aku akan pulang padamu,"
" Tapi bukan seperti itu caranya!"
" Aku cinta kamu dari dulu Nay, apa kamu gak ngerti alasan aku ?" Tanya Elang.
Nayla menangis, ia kecewa dengan apa yang Elang lakukan padanya.
" Sebaiknya kamu pulang," ucap Nayla.
" Tapi kita akan bicara, aku tahu kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku,"
" Itu dulu!" Potong Nayla.
" Dan asal kamu tahu, Elang. Aku bukan berselingkuh di depanmu. Aku dan Rio telah resmi berpacaran. Jadi sebenarnya kamulah orang ketiga diantara kita," kata Nayla dengan penuh emosi. Ia masih merasa kecewa dengan apa yang Elang lakukan padanya.
to be continued ♥️
thanks for reading
satu lagi otw yaa smoga review-nya gak lama