
"Sedih aku... Ditinggal mulu... Kapan aku bisa punya anak kalau begini terus," ucap Nayla terdengar nelangsa.
"Lah aku... Aku lebih parah Nay... Aku sudah menikah tapi ditinggal-tinggal Rafa masih dalam keadaan GADIS !!" Sahut Amelia tak ingin kalah.
Mendengar ucapan Amelia membuat tawa Nayla pecah seketika. Padahal biasanya gadis pemalu itu bisa mengendalikan dirinya.
"Isshhhh malah diketawain," bibir Amelia mencebik kesal. Matanya mendelik tajam pada sang sahabat.
"Sorry- sorry," sahut Nayla sembari mengusap ujung matanya yang basah dengan jempol. Ia tatapi wajah Amelia yang kini sedang fokus pada minumannya.
"Kamu bahagia, Mel ?" Tanya Nayla pada sahabatnya itu.
Amelia tolehkan kepalanya pada Nayla. Wajahnya yang tadi sempat cemberut kini melengkungkan senyuman. "Ya, aku bahagia," jawabanya sembari menganggukkan kepala.
Melihat reaksi Amelia terhadap pertanyaannya membuat Nayla ikut tersenyum. " Syukurlah jika kamu merasa bahagia. Karena itulah do'a yang selalu aku panjatkan untukmu," sahut Nayla.
Dan apa yang Nayla ucapkan adalah benar adanya. Ia selalu mendoakan agar Amelia bahagia karena pernikahan gadis itu yang terbilang mendadak. Tapi Nayla pun yakin jika Rafa adalah jodoh terbaik untuk sahabatnya itu.
Lalu hening menyelimuti keduanya. Yang mereka lakukan hanya mengaduk-aduk minuman mereka. "Kangen ya ?" Celetuk Amelia. Ia tengah merasakan rindu pada lelaki konyol yang akhir-akhir ini selalu sukses membuatnya baper.
"Bangeeetttt," sahut Nayla membenarkan. Lalu keduanya tertawa bersama-sama.
Menertawakan rasa rindu yang keduanya rasakan secara bersamaan pada suami mereka.
"Kalau ada bikin kesel karena aku akan merasa terpenjara. Elang selalu melarang aku untuk pergi kemana-mana. Tapi kalau gak ada malah bikin kangen," desah Nayla yang menahan rasa rindunya yang semakin terasa berat saja.
"Sama... Kalau ada bikin kesel karena ngegombal terus tapi jauhan kaya gini buat aku kangen gombalannya," Sahut Amelia seraya menutup wajahnya yang merah dengan kedua tangan. Amelia tak mau Nayla melihat bagaimana malunya ia karena telah mengakui sesuatu yang sangat memalukan.
Dulu... Amelia selalu kesal jika Rafa mengeluarkan kata-kata gombal tapi kini ia merindukan suaminya itu karena gombalannya.
Nayla terkekeh geli di tempatnya. "Tapi emang sih gombalan kak Rafa gak ada tandingannya," Sahut Nayla membenarkan.
"Aaarghh... Hanya kamu yang tahu, Nay ! Awas jangan bilang-bilang Elang apalagi sama Rafa !" Ucap Amelia sembari terus menutup wajahnya dengan kedua tangan. Menyembunyikan semburat merah yang masih saja menghiasinya.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah berjalan hampir dua Minggu semenjak Elang dan Rafa pergi. Untuk membunuh rasa rindu mereka, baik Elang maupun Rafa selalu melakukan panggilan Video pada istri mereka di setiap malamnya.
Setiap malam Elang akan menemani Nayla hingga istrinya itu tertidur dan barulah Elang mengakhiri panggilannya. Hidup berjauhan seperti ini membuat keduanya merasakan rindu yang tak terkira.
Amelia dan Nayla seringkali menghabiskan waktu bersama. Bahkan dua hari lalu Amelia menginap di apartemen Nayla untuk menghabiskan akhir pekan bersama.
Tapi tadi pagi Amelia kembali ke apartemennya sendiri yang ditempati oleh-nya dan sang suami. Amelia membersihkan apartemennya itu karena tak lama lagi Rafa akan pulang. Gadis itu sangat bersemangat menyambut kepulangan Rafa.
Bahkan ia sempatkan diri untuk belajar memasak makanan kesukaan suaminya itu langsung dari sang bunda yang merupakan ibu mertua Amelia.
"Cepat pulang," ucap Amelia sembari merapikan apartemennya. Tanpa Rafa, apartmennya terasa sangat sepi dan luas. Amelia tak menyukai itu, ia tak suka sendirian.
Padahal dulu dirinya adalah seseorang yang suka kesunyian dan sangat menikmati kesendirian nya. Tapi kini setelah ada Rafa, Amelia tak ingin lagi meresa sendiri.
Setelah selesai berbenah, Amelia membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia mendapatkan tugas menjadi dokter jaga di shift malam.
***
Amelia tengah duduk bersama para tenaga medis yang lain di sebuah ruangan. Mengobrol ringan tentang banyak topik random.
Beruntung bagi Amelia karena malam ini ia belum mendapatkan satu pasien pun.
Tapi rasa senangnya harus berakhir karena ia baru saja mendapatkan panggilan tugas dari ruangan gawat darurat. Malas-malas ia bangkit dan berjalan menuju ruangan itu.
"Di ranjang no 2 dok," ucap salah satu perawat sembari menunjuk sebuah ranjang yang tertutup tirai hingga ia tak bisa melihat siapa yang berada di sana.
"Ok," ucapnya sembari melangkahkan kakinya kesana.
"Selamat malam," ucap Amelia seraya membuka tirai itu.
Mata Amelia membulat sempurna saat ia melihat Siapa yang berdiri di sana. Lelaki yang tengah berdiri dengan buket bunga mawar itu terlihat segar bugar tanpa luka ataupun sakit.
"Aku pulang istriku...," Ucap Rafa sambil tersenyum lebar.
Amelia tak menjawabnya yang ia lakukan adalah berhambur pada pelukan suaminya itu dan tanpa aba-aba, Amelia jinjitkan kakinya lalu meraih bibir Rafa dengan bibirnya dan menyesapnya perlahan. " I miss you," ucap Amelia dengan matanya yang berkaca-kaca.
to be continued
thanks for reading