
Nayla yang mendengar itu dengan refleks melepaskan bolpoin dari tangannya dan melihat pada Amelia dengan tatapan mata tak percaya.
Nayla ingin tak percaya dengan apa yang Amelia ucapkan, tapi nyatanya gadis berambut coklat itu mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. "Aku mau pindah Minggu depan, Nay. Sama Mami dan Elang juga. Hanya Papi yang akan tinggal di sini karena beliau tak bisa meninggalkan pasiennya begitu saja," jelas Amelia terus diikuti isakkan tangisnya.
Nayla menggelengkan kepalanya berulangkali, menolak kenyataan bahwa Amelia akan pergi. Bukan hanya Amelia, tapi Elang juga ?
"Aarrrggggghhhh... Jangan Tuhan....," Jerit Nayla dalam hati. Gadis itu tak mampu untuk menanggapi apa yang baru saja sahabatnya ungkapkan. Nayla hanya bisa terisak-isak menangis lebih kencang dari pada Amelia.
Zia dan Naura langsung tolehkan kepala pada mereka. Begitu juga Raisha dan teman Nayla yang lainnya. Mereka segera berkumpul di meja Amelia.
"Kalian kenapa ? Berantem ?" Tanya Raisha terheran. Karena ia tak pernah melihat Nayla dan Amelia berselisih paham sebelumnya.
"A- Amel ma-mau pindah sekolah... Hiks hiks...," Jawab Nayla sambil terisak-isak dengan kedua pipinya yang telah basah oleh air mata.
"Hah seriusan ? Kapan ?" Tanya teman-teman Amelia dengan hebohnya hingga si ketua kelas harus menghentikan kegiatannya dalam mendikte pelajaran.
"Mel kapan ?" Tanya Zia yang juga tak bisa menahan laju air matanya.
"Minggu depan kayanya, tapi please jangan banyak omong dulu soalnya belum ada yang tahu selain kalian,"
Teman-teman Amelia pun menganggukkan kepala mereka sebagai tanda paham. Mereka terus bertanya pada Amelia perihal tentang kepindahannya.
Hanya Nayla yang bungkam sambil terus mengusapi pipinya yang tak kunjung kering. Belum apa-apa dirinya sudah sangat merasa kehilangan sahabatnya itu.
"Nay... Jangan gini dong... Ntar juga kita bisa ketemu lagi," bujuk Amelia.
"Emang mau pindah ke mana sih Mel?" Tanya Naura.
"Belum tahu Papi pindahin kita kemana, semoga gak jauh dari kalian ya..," jawab Amelia.
Hingga waktu istirahat siang tiba pun mata Nayla masih tak mau menghentikan tangisnya. Wajah gadis itu terlihat sembab, dengan hidung memerah.
"Tuh kan !! makanya aku tuh gak mau bilang sama kamu, Nay. Tapi gak mungkin juga aku pergi tanpa berpamitan," ucap Amelia yang sama-sama menitikkan air mata.
"Te-tega banget sih, Mel," isak Nayla.
"Aku janji, kita akan selalu berhubungan Nay. Aku akan kabarin kamu setiap aku pulang ke sini dan kita akan bertemu," janji Amelia pada sahabatnya itu.
"Ta-tapi ka-kan tetep aja kita bakalan pisah lama, aku harus gimana ?"
"Masih ada Zia dan yang lainnya. Aku yakin kamu akan baik-baik saja," jawab Amelia.
"Mel, disekolah baru jangan judes-judes ya," isak Nayla. " Aku gak bisa ngebuack-up kamu di sana,"
Amelia yang mendengar itu tersenyum walaupun ia menangis. Dirinya sadar betul jika selama ini Nayla selalu ada menjadi pendampingnya. Sikap Nayla yang lembut menjadi penetralisir sifat Amelia yang galak dan juga judes.
"Udah yuk nangisnya ? kita jajan dulu," ajak Naura dan mereka pun mengiyakan.
Di kantin, tak seperti biasanya Vony duduk bersama teman-temannya. Tak ada Elang di sana. Dengan begitu Nayla bisa bernafas lega karena tak usah melihat pemandangan yang menyakitkan mata juga hatinya.
Mereka juga melihat Vony yang sepertinya dikucilkan karena gadis itu hanya terdiam saat temannya yang lain mengobrol dengan hebohnya.
Sedangkan di meja Nayla, rasa sedih karena akan berpisah dengan Amelia belum juga hilang. Zia dan yang lainnya masih membahas tentang kepergian Amelia.
Amelia sendiri menceritakan bahwa ia akan mengadakan pesta ulang tahun sebagai tanda perpisahannya dan itu akan dilakukan minggu depan.
Raga Nayla berada di sana tapi jiwanya melayang entah ke mana. Sungguh terasa berat baginya karena akan berpisah dengan sang sahabat Amelia dan juga lelaki pujaannya, Elang.
Elang... Masih saja menjadi raja dalam hati dan pikiran Nayla.
"Kenapa semua terasa begitu menyakitkan dan kenapa semuanya terasa begitu sangat menyedihkan ? Ku pikir aku sudah melupakanmu, tapi kenapa rasanya masih saja menyakitkan saat tahu kamu akan pergi. Bahkan aku masih menangisimu saat aku katakan bahwa aku tak lagi menyukaimu," batin Nayla sembari membayangkan wajah Elang.
"Bukankah aku sudah melupakanmu ? Tapi kenapa aku masih menangisimu," batinnya lagi sambil mengusap pipinya yang basah. Lalu Nayla melihat pada Vony yang sedari tadi tertunduk lesu dan bertanya-tanya apakah Vony pun sedang merasa sedih karena hal yang sama ?
"Ya Tuhan...," Gumam Nayla tertawa. Mentertawakan dirinya sendiri yang merasa bodoh karena menangisi laki-laki yang bukanlah kekasihnya, tapi laki-laki itu adalah milik orang lain.
Tangan gemetar Nayla memeluk dirinya sendiri, ia merasa takut jika dirinya tak bisa menghilangkan rasa cintanya pada Elang. Bagaimana jika perasaannya itu tetap tinggal hingga ia dewasa nanti ? Buktinya saja, walaupun Elang membuatnya patah hati karena lebih memilih Vony menjadi kekasihnya tapi Nayla tetap tak bisa menghilangkan perasaannya pada laki-laki itu.
"Ya Tuhan...," Guman Nayla pelan.
Tapi kemudian Nayla ingat akan Maxi. Pemuda yang akan menghabiskan waktu dengannya besok. Nayla tak berharap agar dirinya bisa jatuh cinta pada Maxi, ia hanya berharap agar bisa sedikit mengalihkan perhatiannya dari Elang. Nayla pun mendesah pasrah
Setelah istirahat di kantin Amelia Nayla dan teman-temannya pun kembali ke kelas mereka. Di perjalanan, ia melihat Elang Rafa dan beberapa teman lainnya baru saja keluar dari ruangan pelatih basket sekolah. Pantas saja mereka tidak melihat elang dan gerombolannya di kantin tadi. Entah apa yang telah mereka lakukan di sana karena mimik wajah mereka terlihat serius.
Seperti biasa, Elang akan membalas tatapan mata Nayla meskipun dari kejauhan. Entah Nayla salah melihat atau tidak, tapi saat ini ia rasa Elang tengah tersenyum padanya. Cepat-cepat Nayla tolehkan kepalanya agar tak terbawa perasaan lebih jauh lagi.
***
Ini adalah kencan pertama Nayla. Biasanya para gadis akan bersemangat untuk melakukan kencan pertama mereka.
Mereka akan menyiapkan baju terbaik, bahkan bila perlu membeli baju dengan model terbaru hanya untuk pergi berkencan. Tapi tidak dengan Nayla, gadis itu tak mempersiapkan apapun juga. Yang ia lakukan hanyalah tidur-tiduran di atas ranjang sembari berbalas pesan dengan Amelia sang sahabat.
Amelia bertanya apa dia harus datang besok untuk menolong Nayla bersiap-siap ?
Nayla hanya tersenyum saja saat ia mendapatkan pertanyaan seperti itu. Sungguh Nayla merasa biasa saja dengan kencan pertamanya ini. Hatinya lebih ke merasa sedih karena akan segera berpisah dari Amelia juga... Elang...
***
Tadi malam Nayla tak bisa tidur nyenyak karena beberapa kali ia terbangun dengan perasaan sedih juga hampa.
Yang ada dalam pikirannya hanyalah Amelia juga Elang, padahal hari ini ia akan pergi kencan.
Pukul 10.00 pagi Nayla pun mandi dan segera bersiap-siap untuk pergi menemani ibunya ke acara arisan keluarga yang dibarengi acara syukuran atas kelahiran bayi sepupunya.
Nayla mencari baju yang sekiranya bisa dipakai pergi untuk berkencan nanti siang. Walaupun ia tak begitu bersemangat tapi dirinya juga tak ingin terlihat jelek di mata Maxi.
Nayla memilih celana jeans biru tua dengan potongan model "boyfriend" atau model celana laki-laki yang bentuknya tidak ketat di badan. Juga kemeja polos lengan panjang berwarna putih.
Itulah mengapa Nayla sering dikatakan culun oleh Vony. Gadis itu selalu mengenakan baju panjang dan jauh dari kesan seksi walaupun dirinya belum mengenakan hijab.
Disaat para gadis berlomba-lomba untuk memamerkan lekuk tubuh mereka yang mulai terbentuk layaknya tubuh wanita dewasa pada umumnya, maka Nayla malah menutupinya. Meskipun demikian Nayla merasa nyaman-nyaman saja dengan penampilannya.
" Bu, nanti Nayla pulang duluan ya dari rumah Om Farhan. Nayla mau cari buku di mall," ucap Nayla.
"Iya, baiklah hati-hati ya," ibu Nayla memberi izin pada anak gadisnya itu. Mereka pun pergi ketempat acara.
***
Tepat pukul setengah 1 siang Nayla bersiap pergi untuk kencan pertamanya dengan Maxi. Setelah selesai menunaikan ibadah sholat Dzuhur, Nayla memoleskan bedak tabur di pipinya yang sudah lebih dulu diolesi sunblock karena ia pergi di siang hari.
Nayla melirik pada ponselnya, menunggu balasan pesan dari Maxi. Beberapa menit yang lalu Nayla mengirimkan pemuda itu pesan yang mengabarkan jika dirinya akan segera pergi ke mall.
Setelah Nayla selesai bersiap pun pemuda itu tak juga membalas pesannya. Nayla berpikiran jika Maxi telah pergi lebih dulu dengan mengendarai motor hingga pesan yang Nayla kirimkan belum terbaca.
Nayla pun memutuskan untuk pergi walaupun Maxi belum membalas pesannya.
***
Nayla tiba di mall tepat waktu. Ia langsung menuju tempat buku yang dijadikan titik untuk bertemu. Nayla berkeliling ruangan itu untuk mencari Maxi tapi nampaknya pemuda itu belum juga sampai. Lalu gadis itu merogoh ponselnya yang berada dalam tas selempangnya. Berharap Maxi membalas pesannya tapi, harapannya sirna saat tak ada satupun pesan dari pemuda itu.
Sembari menunggu Maxi, Nayla putuskan untuk berkeliling dan mencari buku novel terbaru.
Cukup lama Nayla lakukan itu, berkeliling dan melihat-lihat buku hingga akhirnya ia membeli 2 buku novel remaja karena Nadia sang kakak baru saja mengirimnya uang.
Karena Maxi belum juga sampai, Nayla mengirimkan pesan lagi pada pemuda itu dan mengatakan jika ia menunggunya di cafe yang menyediakan minuman dingin.
Nayla pun memesan segelas minuman dan memilih tempat duduk yang letaknya paling luar hingga ia bisa langsung melihat Maxi saat pemuda itu datang.
Menit demi menit berlalu, minuman dingin milik Nayla pun telah habis tapi Maxi belum juga menampakkan batang hidungnya. Pesan Nayla sudah terbaca tanpa balasan. Nayla putuskan untuk melakukan panggilan pada pemuda itu tapi sayangnya Maxi tak juga menjawab panggilannya.
Nayla melihat jam yang ada di layar ponselnya. Maxi sudah terlambat satu jam dari waktu yang ditentukan. Nayla pun berkeliling, berharap bisa bertemu dengan Maxi tapi setelah sekian lama Nayla lakukan itu Maxi tak juga muncul.
Setelah hampir dua jam menanti akhirnya sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya dan ternyata itu dari Maxi.
"Nay, maaf aku gak bisa ketemu kamu. Dan aku juga gak mau kamu salah paham dengan kedekatan kita yang hanya sebatas pertemanan ini," tulis Maxi di pesan singkatnya.
Nayla membuka mulutnya tak percaya dengan apa yang dibacanya. Apa Maxi sedang mengerjainya ?
"Maxi, kamu bercanda kan ?" Balas Nayla.
"Nggak Nay, aku serius. Aku batalkan pertemuan ini, karena aku takut kamu menganggap pertemuan ini lebih dari sekedar hubungan teman, aku gak mau ngasih kamu harapan,"
Wajah Nayla menjadi panas dan matanya memburam menahan tangisnya saat membaca pesan dari pemuda itu. Tak menyangka jika Maxi melakukan hal yang sangat jahat padanya.
Nayla menangis pilu di kencan pertamanya.
to be continued ♥️
thanks for reading ♥️
Jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚